NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:671
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTAMA KALI TERKENA SANKSI

Setelah menyelesaikan modul pelatihan tempur dasar dengan hasil yang membanggakan, Kelompok 3 memasuki fase pelatihan yang lebih intensif dengan jadwal yang semakin ketat. Setiap hari dimulai dari pukul 04.00 dengan latihan pagi yang berat, diikuti oleh sesi pembelajaran dan latihan praktik hingga larut malam. Bagi sebagian calon prajurit, beban fisik dan mental yang semakin besar mulai terasa cukup menantang – termasuk salah satu anggota kelompok bernama Adi dari Palembang.

Adi adalah seorang pemuda yang baik hati namun memiliki kondisi fisik yang lebih lemah dibanding teman-temannya. Setelah mengalami cedera ringan pada lutut saat latihan lintasan rintangan, ia semakin kesulitan mengikuti jadwal latihan yang padat. Pada pagi hari yang dingin itu, ketika seluruh kelompok harus menyelesaikan lari jarak jauh sejauh 10 kilometer sebagai bagian dari latihan kebugaran yang diperketat, Adi tidak mampu menyelesaikannya bersamaan dengan teman-temannya dan terpaksa berhenti di tengah jalan dengan wajah pucat dan berkeringat deras.

Melihat kondisi Adi yang lemah, Evan yang telah menyelesaikan lari lebih awal dan sedang menunggu teman-temannya di garis finish tidak bisa tinggal diam. Tanpa berpikir dua kali, ia berlari kembali menuju arah Adi dan menawarkan bantuan.

"Kamu tidak bisa terus berjalan seperti ini, Adi," ujar Evan dengan suara penuh perhatian saat mendekatinya. "Kita harus beristirahat sebentar atau saya bantu kamu sampai garis finish."

Adi menggeleng dengan susah payah, tangannya masih memegang lutut yang membengkak. "Tidak usah, Evan. Saya tidak mau mengganggu jadwal kelompok atau membuat kamu terkena masalah karena membantu saya. Kamu sudah menyelesaikan latihan dengan baik – biarkan saya saja melanjutkan dengan kecepatan saya sendiri."

Namun Evan tidak bisa meninggalkannya sendirian. Ia membantu Adi untuk duduk di atas batu yang rata dan memberikan air minum dari botolnya. Setelah melihat bahwa kondisi Adi tidak memungkinkan untuk melanjutkan lari, Evan memutuskan untuk membantu dia berjalan perlahan menuju garis finish, meskipun mereka jelas akan terlambat jauh dari jadwal yang telah ditentukan.

"Saya tidak bisa membiarkanmu sendirian di sini, Adi," kata Evan dengan tegas sambil membantu teman sekampungnya berdiri. "Kita adalah satu tim – tidak ada yang boleh ditinggalkan atau dibiarkan sendirian dalam kesulitan."

Dengan penuh kesabaran, Evan membantu Adi berjalan perlahan-lahan menuju garis finish. Mereka tiba hampir 45 menit setelah seluruh kelompok lainnya menyelesaikan latihan, dengan wajah Adi yang menunjukkan rasa sakit dan kelelahan yang luar biasa. Namun sebelum mereka bisa masuk ke area istirahat, Letnan Arif yang telah menunggu dengan wajah serius menghampiri mereka.

"Evan Saputra! Adi Wijaya! Berdirilah dengan tegak!" perintahnya dengan suara yang lantang. Kedua pemuda segera memenuhi perintahnya meskipun tubuh mereka masih gemetar karena kelelahan. "Kalian tahu bahwa latihan hari ini harus diselesaikan dalam waktu maksimal 45 menit! Namun kalian terlambat hampir dua kali lipat dari batas waktu yang ditentukan!"

Adi segera ingin menjelaskan bahwa kesalahan ada pada dirinya saja. "Pak Letnan, ini bukan kesalahan Evan. Saya yang tidak mampu mengikuti jadwal dan Evan hanya ingin membantu saya –"

"Tutup mulutmu, Adi!" teriak Letnan Arif dengan suara yang membuat seluruh kelompok yang sedang beristirahat langsung memperhatikan mereka. "Di sini, kita tidak melihat siapa yang salah atau benar dalam hal ini. Kalian adalah satu kelompok, dan setiap anggota kelompok harus bertanggung jawab atas tindakan dan kondisi satu sama lain. Namun yang tidak bisa saya maafkan adalah ketika ada orang yang sengaja melanggar aturan dengan alasan apapun!"

Ia kemudian menoleh ke arah Evan dengan tatapan yang penuh kekesalan. "Evan, kamu adalah salah satu calon prajurit terbaik di angkatan ini. Kamu tahu betul bahwa setiap latihan harus diselesaikan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, dan tidak ada keleluasaan untuk membantu orang lain jika itu akan membuat kalian terlambat. Aturan adalah aturan – dan setiap pelanggaran harus mendapatkan konsekuensi yang sesuai!"

Tanpa memberikan kesempatan bagi Evan untuk menjelaskan diri, Letnan Arif mengumumkan sanksi yang harus mereka terima. "Untuk pelanggaran jadwal dan pelanggaran aturan yang telah ditetapkan, kamu berdua akan dikenai sanksi: menjalankan latihan tambahan sebanyak 500 push-up dan 500 sit-up, serta membersihkan seluruh area lapangan latihan hingga bersih tanpa bantuan dari orang lain. Sanksi ini harus diselesaikan sebelum kamu berdua diperbolehkan makan atau istirahat!"

Mendengar sanksi tersebut, beberapa anggota kelompok termasuk Rio, Siti, dan Bima ingin meminta maaf atau membantu mereka. Namun dengan satu tatapan dari Letnan Arif, mereka segera memahami bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubah keputusannya. Evan hanya mengangguk dengan sopan dan mulai melakukan push-up sesuai dengan sanksi yang diberikan, diikuti oleh Adi yang meskipun tidak mampu tetap berusaha dengan sekuat tenaga.

Setelah menyelesaikan sebagian dari sanksi, Adi akhirnya tidak mampu lagi dan jatuh ke tanah dengan napas yang terengah-engah. Evan segera berhenti dan ingin membantunya, namun suara peringatan dari Letnan Arif membuatnya tetap berada di tempatnya.

"Tidak ada bantuan yang diperbolehkan, Evan! Jika kamu ingin membantu, maka kamu harus menyelesaikan sanksinya juga!" ujar Letnan Arif dengan suara yang tidak bisa ditentang. Tanpa banyak bicara, Evan berdiri dan mengatakan dengan tegas, "Baik, Pak Letnan. Saya akan menyelesaikan sanksi untuk saya dan juga untuk Adi."

Meskipun tubuhnya sudah merasa sangat lelah setelah lari jarak jauh dan push-up yang telah dilakukan, Evan kembali melakukan gerakan push-up dengan tekad yang kuat. Rio, Siti, dan Bima melihatnya dengan rasa sakit hati namun tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan dukungan dengan tatapan mereka. Bahkan beberapa anggota kelompok lain juga mulai merasa prihatin melihat kondisi Evan yang semakin lemah namun tetap tidak menyerah.

Setelah hampir satu jam lamanya menyelesaikan sanksi fisik, Evan dan Adi mulai membersihkan area lapangan latihan. Mereka membersihkan sampah, menyapu tanah, dan membersihkan peralatan latihan dengan hati-hati. Meskipun tubuh mereka sudah sangat lelah dan perut mereka mulai mengeluarkan suara karena lapar, mereka tetap bekerja dengan tekun tanpa mengeluh sedikit pun.

Pada sore hari, setelah mereka selesai menyelesaikan seluruh sanksi yang diberikan, Letnan Arif menghampiri mereka yang sedang duduk di sudut lapangan dengan wajah yang sudah tidak lagi marah namun tetap sangat serius.

"Kalian bisa berdiri sekarang," ujarnya dengan suara yang lebih lembut. Evan dan Adi segera berdiri dengan tegak meskipun tubuh mereka masih gemetar. Letnan Arif kemudian melihat ke arah Evan dengan tatapan yang penuh makna. "Evan, saya tahu bahwa niat baikmu untuk membantu teman sekampungmu. Sebenarnya, itu adalah salah satu nilai yang sangat penting bagi seorang prajurit – kesetiaan dan kemauan untuk membantu orang lain dalam kesulitan."

Ia kemudian menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Namun apa yang kamu lakukan hari ini adalah salah. Di dunia militer, aturan dibuat bukan untuk menyiksa atau membatasi kita, namun untuk menjamin keselamatan dan efisiensi dari setiap tugas yang kita lakukan. Jika setiap orang melakukan apa yang mereka inginkan dengan alasan niat baik, maka tidak akan ada ketertiban dan setiap operasi bisa menjadi gagal karena salah satu anggota yang terlambat atau tidak siap."

Letnan Arif kemudian menjelaskan dengan lebih rinci. "Bayangkan jika ini adalah situasi operasi nyata dan kamu harus membantu teman sekampungmu yang terluka. Tentu saja kamu harus membantunya, namun kamu juga harus memastikan bahwa tindakanmu tidak akan membahayakan keseluruhan misi atau keselamatan anggota tim lainnya. Ada cara yang benar untuk membantu orang lain tanpa melanggar aturan atau mengorbankan tugas yang telah diberikan kepadamu."

Ia kemudian memberikan contoh konkret tentang bagaimana Evan seharusnya menangani situasi seperti itu. "Kamu seharusnya segera melaporkan kondisi Adi kepada instruktur atau petugas medis sehingga mereka bisa memberikan bantuan yang tepat. Dengan cara itu, Adi akan mendapatkan perawatan yang dibutuhkannya dan kamu tidak akan terlambat atau dikenai sanksi karena melanggar aturan."

Evan mengangguk dengan penuh pemahaman. "Maaf, Pak Letnan. Saya tidak berpikir jauh tentang konsekuensi dari tindakan saya. Saya hanya melihat bahwa teman saya sedang kesusahan dan ingin membantunya secepat mungkin."

"Iya, saya tahu itu, Evan," jawab Letnan Arif dengan suara yang lebih hangat. "Dan itu adalah sifat yang baik yang harus kamu jaga. Namun kamu harus belajar untuk menggabungkan niat baikmu dengan kedisiplinan dan pemahaman tentang aturan serta prosedur yang telah ditetapkan. Itu adalah kombinasi yang akan membuatmu menjadi prajurit yang benar-benar hebat."

Untuk Adi, Letnan Arif memberikan nasihat yang sama pentingnya. "Adi, kamu juga harus belajar untuk mengenali batasanmu dan tidak terlalu memaksakan diri. Jika kamu merasa tidak mampu mengikuti latihan atau mengalami cedera, segera laporkan kepada instruktur atau petugas medis. Tidak ada yang akan menyalahkanmu karena kondisi fisikmu, namun kamu akan dikenai sanksi jika kamu tidak jujur tentang kondisimu dan akhirnya menyebabkan masalah bagi dirimu sendiri maupun orang lain."

Setelah memberikan nasihat tersebut, Letnan Arif mengizinkan mereka untuk istirahat dan makan. Rio, Siti, dan Bima segera menghampiri mereka dengan membawa makanan dan air minum. Mereka membantu Evan dan Adi untuk duduk dengan nyaman dan memberikan dukungan dengan kata-kata hangat.

"Kamu benar-benar hebat, Evan," ujar Siti dengan suara penuh kagum. "Meskipun kamu dikenai sanksi yang berat, kamu tetap tidak mengeluh dan bahkan membantu Adi menyelesaikan sanksinya juga."

Rio juga menambahkan, "Kita semua tahu bahwa niat baikmu untuk membantu Adi. Namun seperti yang dikatakan Pak Letnan, ada cara yang benar untuk melakukan hal itu tanpa melanggar aturan."

Adi sendiri merasa sangat bersalah karena menyebabkan Evan terkena sanksi. "Maafkan saya, Evan. Saya tidak sengaja membuatmu terkena masalah karena saya yang tidak mampu," ujarnya dengan suara yang penuh rasa bersalah.

Evan segera menepuk bahunya dengan lembut. "Jangan seperti itu, Adi. Kita adalah teman sekampung dan harus saling membantu satu sama lain. Meskipun saya dikenai sanksi, saya tidak menyesal apa yang saya lakukan. Hanya saja saya harus belajar untuk melakukan hal yang benar dengan cara yang benar seperti yang diajarkan Pak Letnan."

Mereka kemudian berbicara tentang cara membantu Adi meningkatkan kondisi fisiknya dan bagaimana mereka bisa bekerja sama sebagai kelompok untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun anggota yang tertinggal atau mengalami kesulitan sendirian. Mereka membuat rencana untuk membantu Adi berlatih secara teratur dengan intensitas yang sesuai dengan kondisinya dan memberikan dukungan serta motivasi agar dia tidak merasa sendiri dalam menghadapi tantangan pelatihan.

Pada malam hari, Evan masih merasakan rasa sakit pada otot-otot tubuhnya akibat sanksi yang telah dia terima. Namun dia tidak merasa menyesal dengan apa yang dia lakukan – dia melihat bahwa ini adalah pelajaran berharga yang akan membantunya tumbuh menjadi prajurit yang lebih baik dan lebih matang. Ia mengambil kotak kayu kecil dari ayahnya dan melihat foto keluarga yang ada di dalamnya, kemudian menyentuh kedua kalung di lehernya dengan hati yang penuh pemahaman.

"Kakek, hari ini saya belajar pelajaran yang sangat berharga," bisiknya dengan lembut sebelum tidur. "Saya belajar bahwa niat baik saja tidak cukup – kita juga harus tahu cara yang benar untuk menjalankannya tanpa melanggar aturan atau membahayakan orang lain. Saya akan mengingat pelajaran ini sepanjang hidup saya dan menerapkannya dalam setiap tindakan saya sebagai prajurit."

Dengan tekad yang semakin kuat dan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai militer, Evan tertidur dengan harapan bahwa dia akan menjadi orang yang lebih baik besok hari. Meskipun tubuhnya merasa sangat lelah, hatinya penuh dengan rasa syukur karena mendapatkan pelajaran penting yang akan membantunya dalam perjalanan menjadi prajurit yang benar-benar bermanfaat bagi negara dan masyarakat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!