"Aku yang menghancurkan keluargaku sendiri."
"Aku yang membuat semua orang mengetahui tentang hubungan gelap kalian."
"Aku yang membuatmu berlutut meminta ampun saat ini."
Fransisca menikahi seorang milyarder yang mengalami cacat mental hanya untuk membalaskan dendam kematian ibunya. Menganggap lebih baik hidup sebagai pengasuh pria cacat, tapi mendapatkan kekuasaan mutlak.
Karena cinta baginya hanya... Bullshit!
Tapi mungkin tanpa disadarinya mata pria yang dianggapnya mengalami cacat mental itu hanya tertuju padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan Sembuh
"Arkan...kamu itu adik kakak, kita adalah keluarga yang saling menjaga. Jangan mudah terhasut oleh orang luar. Katakan pada butler untuk membayar pengeluaran." Perintah Naya merasa akan menang. Arkan Zoya yang mengalami kerusakan otak? Tentu saja seperti biasanya akan begitu penurut padanya.
"Arkan sayang...siapa yang memberimu lolypop raksasa?" Tanya Fransisca.
"Kak Fransisca!" Jawab Arkan.
"Siapa yang tau kalau kamu suka ayam panggang. Kemudian membelikan ayam panggang hampir setiap hari?" Lagi-lagi Fransisca bertanya.
"Yang mulia istri!" Kembali Arkan Zoya menjawab dengan nada ceria.
"Siapa yang membelikan ice cream raksasa?" Fransisca menatap sombong merasa telah memang.
"Aku sayang kak Fransisca!" Arkan tiba-tiba mengecup bibirnya.
Sebuah gerakan tidak terduga di hadapan semua orang. Membuat Fransisca antara merasa aneh? Memalukan? Tidak! Dirinya telah menjadi wanita tidak tahu malu yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Menikahi paman dari mantan calon suaminya, yang mengalami cacat mental. Memang dirinya masih punya urat malu? Urat malunya sudah putus.
"Paman!" Bentak Doni menarik kerah pakaian Arkan Zoya.
Arkan perlahan mulai menangis cukup kencang. Fransisca mendekat dengan cepat, menendang tubuh Doni hingga tersungkur di lantai."Apa yang kamu lakukan pada suamiku!?" Bentak Fransisca memeluk Arkan Zoya yang terisak-isak ketakutan.
Tapi...samar Doni melihat dengan mata kepalanya sendiri Arkan Zoya tersenyum dalam pelukan Fransisca. Hanya sepersekian detik, apa mungkin Doni salah lihat?
"Dia berani menciummu!" Doni bangkit meninggikan nada bicaranya. Entah kenapa ada yang bergemuruh tapi bukan petir, ada yang panas tapi bukan api, ada yang sakit tapi bukan gigi, ada yang tertusuk tapi bukan daging. Entah apa nama perasaan ini, buaya buntung sama sekali tidak paham, otaknya masih belum begitu berkembang.
"Dia suamiku!" Fransisca membentak balik.
"Aku tau kamu cemburu karena hubunganku dan Mira. Tapi sudah aku katakan---" Kalimat Doni disela.
"Mira tidak akan mati. Kamu tidak dengar dia masih memiliki kesempatan untuk hidup. Apa kamu cukup kejam untuk menyumpahi kematian istrimu sendiri... keponakan..." Kalimat penuh penekanan dari Fransisca.
"A...aku tidak begitu..." Doni mengepalkan tangannya.
"Doni, aku tau aku hanya penghalang... lebih baik aku pergi." Ucap Mira hendak melangkah
"Tidak! Kamu bukan penghalang, aku mencintaimu. Anakku ada dalam perutmu. Buah cinta kita, kita akan tetap bersama ya?" Ucap Doni pelan, memeluk Mira yang menangis terisak, memainkan dramanya yang indah. Membuat Fransisca begitu mual karenanya.
"Dasar buaya buntung. Semuanya hitung-hitungan, tidak sadar wajah sudah seperti tung-tung, tetap saja membuat banyak wanita tekdung (hamil)." Gumam Fransisca, hendak melangkah pergi menenangkan suaminya tercinta. Suaminya yang paling kaya.
"Ini siapa yang bayar!?" Bentak Naya.
"Emas hasil korupsi suamimu banyak kan? Pakai itu saja untuk makan. Jangan mengandalkan adikmu yang sedang sakit... kakak ipar." Fransisca menatap tajam penuh kebencian.
Semua orang ingin memeras suaminya, Arkan Zoya. Hingga kering seperti seragam upacara bendera hari senin. Dirinya tidak tau harus bagaimana, tapi mengahadapi para benalu... dirinya harus berhati-hati membongkar satu persatu kabel kebohongan mereka. Agar mereka dapat hancur bersamaan. Tanpa ada kesempatan bersatu untuk bangkit.
"Bu... bagaimana pembayarannya?" Tanya supplier.
"Daging ayam untuk jatah pelayan diganti dengan tahu. Berasnya gunakan kualitas rendah. Juga sayuran...pakai sayuran sisa potongan saja." Perintah Naya pada koki."Sesuaikan dengan jumlah pesanan. Atur agar satu pekerja hanya makan dua kali, bukan tiga kali. Semuanya cuma dijatah lauk satu potong tahu atau tempe per sekali makan."
Tegas Naya memberikan uang pada supplier, agar mengatur pengurangan jumlah pengeluaran setiap karyawan. Menghela napas menatap penuh kebencian pada Fransisca yang melangkah menuju lantai dua, bersama butler dan Arkan.
"Nyonya... mereka akan semakin membenci nyonya." Ucap sang butler pada Fransisca.
"Tidak apa-apa, itu memang tujuanku. Mulai hari ini makanan untuk karyawan yang setia pada kita akan disamakan dengan makanan untukku dan Arkan. Beri juga perintah untuk memprovokasi karyawan yang setia bekerja pada Naya." Fransisca tersenyum, masih berusaha menenangkan Arkan yang menangis akibat terkejut, dengan tindakan Doni yang mengancamnya.
"Provokasi seperti apa?" Tanya sang butler.
"Misal...untung saja aku punya majikan baik seperti nyonya Fransisca. Jika aku punya majikan seperti nyonya Naya, sudah aku bunuh...culik... rampok..." Itulah yang diucapkan oleh Fransisca. Tentu saja dirinya tidak akan membiarkan tangannya sendiri yang kotor.
Satu bulan? Tidak! Perlu waktu beberapa bulan untuk menyakiti hati para pelayan dan koki agar berbuat kriminal. Dengan sengaja... semuanya akan hancur berantakan pada akhirnya.
Sang butler menahan senyumnya. Sepersekian detik raut wajahnya kembali datar kemudian berucap."Baik... nyonya..."
Mungkin merasa istri dari Arkan Zoya begitu menarik. Memiliki pikiran yang sejalan dengan dirinya. Menghela napas ini menyebalkan, dirinya memiliki satu tujuan, karena itu berada di tempat ini. Mencari satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa...
***
Sementara itu, hari ini Mira harus menjalankan rencananya. Sudah cukup banyak uang yang dikeluarkannya untuk menyuap petugas medis, bahkan dokter keluarga.
Mengenakan pakaian rapi, menunjukkan wajah pucatnya di hadapan suaminya tercinta.
"Mira, kamu yakin ingin mencoba pengobatan tradisional?" Tanya Doni lagi.
"Temanku sudah ada yang sembuh karenanya. Kanker hati stadium akhir, sembuh tanpa operasi." Jawab Mira berusaha keras untuk tersenyum. Bagaikan nyawanya dapat diambil kapan saja oleh malaikat kematian.
"Baik...aku percaya pada apapun keputusan Mira." Doni menghela napas kasar.
Mira menghela napas masih menunjukkan raut wajah memelas bagaikan pengemis pinggir jalan. Nasibnya memang begitu sial, ingin menggantikan Fransisca sebagai penerima beasiswa di universitas Harvard. Tapi sampai disana siasatnya ketahuan.
Karena malu harus pulang, dirinya meminta Wijaya mengirimkan uang berkala padanya. Seolah-olah dirinya berhasil menggantikan Fransisca untuk kuliah di universitas Harvard.
Padahal aslinya... dirinya hidup penuh kesenangan. Uangnya segera habis menyisakan hutang, hingga pada akhirnya bekerja di kasino sebagai gadis pendamping.
Gadis pendamping, yang kadang menjadi tempat bersenang-senang bos kaya. Jika saja dirinya tidak menjadi incaran polisi akibat menipu beberapa sosialita dan pria kaya, dirinya tidak akan memilih untuk kembali.
Mira mengelus pelan perutnya. Anak ini adalah senjatanya untuk memiliki segalanya. Semua kekayaan Arkan Zoya akan jatuh ke tangan anak dalam kandungannya mengingat keadaan orang tersebut.
Memasuki mobil perlahan. Dirinya menunjukkan arah pada Doni. Disana sudah terdapat beberapa orang yang dibayar olehnya untuk berpura-pura menjadi, orang yang dapat mengobati kanker secara professional dan beberapa orang yang berpura-pura mengantri sebagai pasien.
Sungguh Doni bodoh! Itulah yang ada dalam otaknya.
Hingga mobil berhenti di area parkir. Rumah yang terlihat terbengkalai. Tapi memang ada beberapa pasien yang duduk mengantri.
Bagaikan secara alami, dua orang pasien keluar dari tempat praktek, bergumam.
"Koh.. Atong memang hebat. Kemarin laporan kesehatanku mengatakan kanker sudah menghilang dari lambungku. Sembuh total 100%." Kalimat dari salah satu orang sewaan Mira membuat Doni semakin yakin dan percaya.
Buaya buntung yang suka hitung-hitung, ternyata dapat tertipu oleh Mira yang paling cantik di dunia.