NovelToon NovelToon
Little Fairy Tale

Little Fairy Tale

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Teen School/College / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Karir / PSK
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Baginda Bram

Luka.

Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.

Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.

Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.

Luka adalah bukti.

Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.

Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.

Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.

*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulasan positif

Renata dan para siswa lainnya merapikan seisi mejanya. Memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas setelah mendengar bunyi bel panjang pertanda berakhirnya jam pelajaran.

Ketika guru meninggalkan ruangan, suasana yang tadinya senyap langsung gaduh.

"Eh Ren, kami mau karaoke nanti, mau ikut?" Ajak seorang temannya.

"Lain kali ya. Aku ada kegiatan."

"Kamu sibuk lagi, Ren? Kamu sibuk ekskul atau bagaimana?" Tanya temannya yang lain.

"Aku tidak ikut ekskul apa-apa. Aku cuma..."

Ia bingung sendiri dengan lanjutan kalimatnya.

"...harus membantu orang tuaku."

"Begitu ya. Ya sudahlah. Tapi, kapan-kapan ikut ya."

"Iya, iya."

Cardigan berwarna hitam ia kenakan. Ranselnya cokelatnya ia panggul; mempercepat ritme langkahnya.

Setelah melalui jalanan berkelok dan gang-gang sempit, barulah ia sampai pada sebuah bangunan yang letaknya cukup menjorok ke dalam. Diapit oleh dua bangunan yang nampak lebih besar ketimbang bangunan itu.

Ia mengambil kumpulan kunci dari tasnya, membuka pagarnya dari luar. Dengan kunci yang berbeda, ia membuka pintu depan berwarna coklat pekat itu.

Begitu pintu terbuka, kakinya langsung terasa berat. Tatapannya justru melembut mendapati dua sosok yang menggelayut di kedua sisi kakinya.

"Kak! Kak! Gea tadi bohong, Kak!" salah seorang anak memekik heboh.

"Bohong? Betul itu, Gea?" tanya Renata, memastikan.

Renata menunduk. Menekuk kakinya. Membuat tinggi mereka sejajar. Kedua tangannya mengusap lembut rambut mereka.

"Iya, Kak. Habisnya kalau aku jujur, Gio pasti akan marah."

"Gea, jadi perempuan itu jangan suka berbohong. Lebih baik kamu jujur apa adanya, karena orang jujur itu akan punya banyak teman dan kamu, Gio, dengarkan dulu alasan Gea, jangan mudah marah, kamu tidak mau jadi manusia yang punya banyak musuh 'kan?"

"Iya, Kak." sahut mereka berbarengan.

"Kalian itu saudara, yang akur ya."

"Habis, Gio duluan, Kak."

"Gio, kan kamu kakaknya? Jangan suka iseng ya!"

"Iya, Kak." sahutnya dengan berkaca-kaca.

Renata kembali mengusap kepala mereka bersamaan.

"Ya sudah, kita masuk yuk!"

Mereka bertiga masuk beriringan. Tangan Renata menarik gagang pintu. Sebelahnya sibuk melepaskan ransel dari punggung.

"Kakak mau mandi dulu ya. Kalian main sana."

"Yah..." Raut mereka berubah kecewa.

"Nanti setelah mandi, kita baru main, oke?"

"Oke, Kak." jawab mereka, kembali ceria.

Mereka berlari kecil meninggalkan Renata. Meninggalkan juga seutas senyum di bibirnya. Menuju ke arah wanita tua yang menerbitkan senyum dari kejauhan. Renata bergegas menuju kamarnya.

Ia langsung menuju ke kamar mandi—ingat dengan jadwalnya hari ini. Mommy-nya memberitahu kalau ada panggilan kerja untuknya siang ini.

Tidak biasanya orang memesan di siang hari begini. Aku jamin pasti orang aneh.

Sembari mengusap kepalanya dengan sampo, ia menghela nafas,

Yah mau bagaimana lagi? Mau orang seaneh apapun, aku tidak punya cara hidup lain. Yang penting bisa membahagiakan kedua adikku, bagiku sudah cukup.

Setelah bebersih, ia membuka lemari. Memilih wrap dress berwarna hitam, lalu cardigan dengan warna senada. Barang yang dirasa perlu juga dibawa.

Ia keluar kamar dengan setengah mengendap agar kedua adiknya tidak tahu. Belum sampai ke luar, dua orang anak kecil berlari sekuat tenaga ke arah sosok yang sangat dinanti-nanti oleh mereka.

"Kakak mau kemana?" ia ditanya tiba-tiba.

"O-oh ini, kakak mau pergi, ada urusan sebentar." kilahnya.

"Terus mainnya?" tanya adiknya yang lain.

"Mainnya sama Tante Lala dulu ya? Nanti kalau kakak pulang, kita main deh."

Mereka berdua terlihat kecewa. Namun, tak bisa berbuat banyak,

"Janji yah?"

"Iya, kakak janji. Kalian mau makan apa? Nanti kakak belikan deh."

"Aku mau donat keju, Kak!" sahut Gea.

"Aku yang cokelatnya banyak!" timpal Gio.

"Oke ya, nanti kakak belikan. Tapi syaratnya jangan ada yang nakal, oke?"

"Oke, kak!" mereka menyahut kompak.

Setelah mengusap rambut mereka bergantian, Renata baru keluar dari rumah.

Langkahnya cepat karena terik matahari langsung menyengatnya. Memang salahnya sendiri, memilih pakaian bernuansa gelap di tengah hari seperti ini.

Itu karena warna gelap sudah menjadi kesukaannya sejak dulu. Ia merasa dengan mengenakannya, bisa membuat hatinya merasa tenang. Terlebih saat malam. Seolah menyatu dengan malam itu sendiri.

Jemputannya telah tiba di depan matanya. Tanpa basa-basi, ia langsung naik ke mobil familiar yang sedang terparkir di tepi jalan raya.

Ia memilih duduk di tengah karena paham dengan orang yang akan mengantarnya itu.

"Eh neng, seperti biasa cantik sekali neng ini."

Renata mendadak pura-pura tuli. Bahkan memandang pun enggan.

"Juteknya juga seperti biasa nih hehe."

Renata hanya diam sepanjang perjalanan. Memandangi jalan raya yang mereka lalui, meski berulang kali ia diajak berbincang.

"Neng, kalau butuh 'lawan', bilang saja ke aku. Kapan pun aku siap kok."

Tanpa peduli lagi, ia turun dari mobil sesaat sampai di tujuannya. Langkahnya melambat. Tangannya membuka ponsel. Melihat nomor kamar yang mommy-nya berikan.

Turun dari lift, berjalan sebentar sampai ke kamar tujuannya. Kamar itulah yang akan menjadi ruang kerjanya.

Barulah ia mengabari pelanggannya. Selang sepuluh menit, terdengar ketukan pintu. Ia buru-buru membukanya.

Seorang pria gemuk berdiri di depan pintu, berpakaian rapi khas seorang pegawai dengan name tag bertuliskan "Alfred" masih tergantung di lehernya, menyeringai bahagia.

"Wah mungil seperti yang ada di foto ya." ucapnya dengan mata yang berbinar.

"Perkenalkan saya Rena, Om. Mari masuk."

"Oh ya, kebetulan aku memang kebelet sekali."

Rena hanya tersenyum hambar. Pria itu buru-buru masuk. Pandangannya pada Renata sudah seperti singa kelaparan yang memandang buruannya setelah beberapa hari tidak makan.

"Wah gila sih ini. Sudah seperti melihat muridku sendiri. Betulan umurmu sudah 22 tahun? Jangan-jangan masih SMA?"

"Aku 22 tahun, Om. Kalau tidak percaya, aku bawa KTP kok."

"Tapi tubuhmu itu... dibilang anak SMP pun, aku percaya lho. Aku jadi takut moralku hilang deh."

"Om mau ceramah atau bagaimana ini? Katanya sudah kebelet?"

"O-oke deh, kalau begitu, langsung saja kita."

...****************...

Renata melangkah, sementara hari telah gelap. Pekerjaannya memang tidak berlangsung lama, namun karena terlalu banyaknya mengambil klien, kelelahannya lebih dari biasanya.

Empat orang habis ia layani, membuat jadwal pulangnya mundur cukup larut.

Kakinya tetiba merasa lelah, terlebih ada nyeri di beberapa bagian tubuhnya karena beberapa pelanggannya tak bisa menahan diri.

Lain kali, tidak lagi deh.

Langkahnya lewat pada sebuah kawasan pertokoan. Memandangi toko kue yang sering ia lalui. Gara-gara itu, ia baru ingat permintaan kedua adiknya. Sayangnya toko itu sudah tutup.

Renata menghela nafas. Tidak ada pilihan lain selain menunggu esok.

Suara terdengar dari ponselnya. Sebuah notifikasi dari aplikasi Love Seeker miliknya. Tangannya gesit menekan notifikasi itu. Membawanya pada sebuah kolom pada akun pribadinya.

Ternyata ada sebuah komentar testimoni terbaru yang masuk.

Seperti anak kecil, tidak mengecewakan. Aku suka sekali.

Ulasan positif lainnya.

Ia menutup ponsel, kini kembali fokus menyeret kakinya. Sampai pada rumahnya yang telah menggelap.

Pintu ia geser perlahan. Masuk dengan mengendap penuh. Mendapati kedua adiknya tertidur di ranjang bersama Tante Lala yang menemani mereka.

Jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, namun ia tidak bisa langsung tidur begitu saja meski tubuhnya sudah lemas.

Sudah menjadi kewajiban hariannya untuk membersikan diri setelah bekerja. Ia paham betul seberapa kotor pekerjaannya; tak lupa juga untuk meminum obat agar tak "kebobolan".

Karena itu, ia baru bisa terlelap satu jam kemudian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!