Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Romeo fokus memeriksa berkas-berkas terbaru yang dikirimkan Satria. Agenda selanjutnya adalah meeting pukul sebelas dengan mitra bisnis dari Makassar, sebuah mega proyek yang diyakini akan memberinya keuntungan luar biasa.
Ketukan pelan terdengar di pintu ruang kerja Romeo. Tak perlu menebak lama, Yona lah orangnya. Wanita itu baru saja menyelesaikan materi untuk rapat pagi ini dan langsung masuk setelah mendapat jawaban darinya.
Dengan tatapan serius, Romeo berkutat pada pekerjaannya. Lengan baju terlipat hingga siku, pulpen tergigit di bibir, serta kacamata yang ia pakai berpadu sempurna, menjadikannya tampak lebih tampan sekaligus berwibawa.
“Semua materi meeting sudah siap, Tuan.” kata Yona pelan, nadanya terdengar lebih halus dari biasanya.
“Hm.” Romeo melambaikan tangan malas, isyarat jelas agar Yona segera pergi.
Namun Yona memilih berpura-pura tak memahami isyarat itu. Tubuhnya tetap tegak, berdiri kukuh di hadapan meja sang tuan.
“Kenapa kamu belum pergi?” ujar Romeo dingin, matanya tetap lurus ke depan tanpa menoleh pada Yona.
“Ma-maaf, Tuan.” ucap Yona gugup. “Apa Tuan ingin saya siapkan kopi?”
Jantung Yona berdegup tak beraturan. Aura Romeo yang begitu mendominasi membuatnya gugup sekaligus tertarik dalam waktu bersamaan.
“Sejak kapan tugasmu bertambah jadi OB?” ucap Romeo dengan nada meremehkan.
“Bu-bukan begitu, Tuan.” Dengan kepala tertunduk, Yona berucap pelan.
“Selama tidak dipanggil, jangan melangkah masuk. Paham?” Romeo menegaskan tanpa kompromi.
Dari awal hingga kini, pandangan Romeo tak pernah jatuh padanya, membuat Yona merasa diabaikan.
“I-iya… aku mengerti.” katanya tertahan, seolah menelan perasaan sendiri.
Yona melangkah mundur perlahan, raut wajahnya dipaksa tenang meski amarah menekan dada. Ia tak pernah membayangkan bahwa menaklukkan Romeo akan sesulit ini. Dulu, di perusahaan lamanya, ia dengan mudah membuat para pimpinan jatuh ke dalam pesonanya, lalu pergi setelah memperoleh semua yang diinginkan.
Setelah memastikan Yona sudah pergi, Romeo baru bisa menarik napas panjang. Masih pagi, namun tubuhnya terasa lelah karena tenaga yang terkuras. Di kamar pribadinya, si kembar itu asyik menonton serial kartun, tak menyadari Yona yang sempat berada di ruangan dengan pakaian yang cukup seksi.
"Aku penasaran, Alya lagi ngapain, ya…" bisiknya sambil menatap layar ponselnya.
Tanpa menunggu lama, Romeo mengirim pesan ke Alya. Tanda centang dua muncul, tapi Alya belum membacanya.
"Apakah dia sedang belajar?" pikir Romeo.
Romeo tak ingin mengganggu istrinya, jadi ia cepat-cepat menyimpan ponselnya ke saku.
Setengah jam lagi rapatnya dimulai, dan pikirannya tak lepas dari si kembar, memastikan mereka aman selama ia sibuk hingga pukul satu siang.
“Pa… Ibu, lama banget, ya?” gumam Selina, suaranya menandakan rasa jenuh yang semakin besar.
“Kenapa sih… rindu?” gerutu Romeo kesal. Bukannya untuk dirinya, tapi justru anaknya yang rindu berat padanya.
“Aku rindu banget… sama ibu.” rengek Selina.
Serena terlihat lebih tenang, asyik bermain dengan mainan yang diberikan Romeo dari Paris. Dia jarang bicara, begitu berbeda dengan Selina yang selalu bergerak lincah dan tak betah dengan keheningan.
"Ibu baru bisa datang jam dua siang, lagi sibuk belajar. Jadi sekarang nggak bisa ditemani. Main sendiri aja dulu, kalau lapar, bilang sama Om Satria, dia bisa pesan makanan buat kamu." jelas Romeo dengan nada lembut, matanya menatap iba.
"Boleh, pesan kebab."
"Ya, boleh."
"Spageti juga boleh."
"Tentu, boleh."
"Boleh nggak kalau aku pesan kebab, spageti, cokelat, sama es cokelat?" Selina bertanya dengan suara manja.
Romeo tahu putrinya sedang memanfaatkan situasi, tapi apa mau dikata. Kedua anaknya pasti akan cepat bosan menunggu, jadi ia pun tak punya pilihan selain mengabulkan semua permintaan si kembar, meski dalam porsi kecil.
"Oke, asal semua dimakan ya. Dimsum ibu juga ada, jangan dihabiskan semuanya buat Papa separo."
"Eh, kok bisa gitu? Kan ibu yang bilang buat kita." Serena menyela, protes setelah diam memperhatikan sejak tadi.
"Mau ambil semua makanan yang tadi atau cuma dimsum?"
"Dimsum!" teriak mereka serentak, tawa kecil terdengar di antara mereka.
Dengan decak kesal, Romeo menatap kedua putrinya yang sama-sama menatapnya penuh tantangan. Satu-satunya cara hanyalah melakukan sesuatu agar dimsum tetap tersisa.
"Ya udah, makan saja dimsumnya. Selasa depan Papa bawa Ibu ke luar negeri empat hari. Papa bisa makan sepuasnya dimsum buatan Ibu tanpa harus berbagi sama kalian." kata Romeo sambil menyeringai licik.
"Tidak, Ibu nggak boleh pergi." kata mereka sambil menatap dengan mata memelas.
"Kan Papa mau kasih kalian adik, yakin Ibu nggak boleh pergi?" Romeo menawar sambil mengangkat satu alis nakal.
"Oke, papa boleh makan dimsum-nya… tapi ibu jangan pergi, ya. Tapi tetap kasih kita adik, kan? Jadi, deal?" Serena menyodorkan tangannya ke arah Romeo, menunggu sang papa menjabat sebagai tanda persetujuan atas kesepakatan yang dia ajukan.
“Baiklah, deal.” Romeo tersenyum penuh kemenangan.
Sebenarnya, ia sudah menyerahkan tugas itu pada Satria, supaya dirinya tetap bisa dekat dengan istrinya.
“Hahaha, bocah ini gampang banget dikibulin.” gumam Romeo dalam hati sambil menahan tawa.
Sesuai permintaan, Satria telah memesan semua hidangan yang diinginkan si kembar. Makanan akan sampai kurang dari setengah jam, dan nanti Ob lah yang akan membawanya ke ruangan Romeo.
Saat ini, Romeo sudah memasuki ruang meeting. Di sebelah kanannya, Satria siap memberikan dukungan agar jalannya pertemuan berjalan lancar. Sementara itu, di sisi kirinya, Yona menata diri dengan anggun. Ini adalah pertemuan pertamanya sebagai sekretaris Romeo, dan dia tahu harus menampilkan kepercayaan diri penuh agar kecerdasannya mampu menarik perhatian Romeo.
“Selamat pagi, Tuan Aditama Defin Kafael. Perkenalkan, saya Satria, asisten sistem Tuan Romeo Andreas. Di sisi kiri beliau, ada Yona Permeswari, sekretaris pribadi Tuan Romeo,” ujar Satria sambil menunduk sedikit dan menunjuk satu per satu. “Dan ini, Tuan Romeo Andreas, Komisaris Utama Kelaxa Corporation.”
“Selamat pagi juga, Satria. Terima kasih sudah mengenalkan semuanya padaku.” ucapnya dengan suara lembut namun penuh perhatian.
“Tuan Aditama, bolehkah kita mulai? Saya ingin menjelaskan beberapa poin penting mengenai keuntungan yang akan Anda dapatkan jika menerima penawaran kami.” Romeo menatap Aditama dengan serius.
“Silahkan, Tuan Romeo.” Senyum tipis menghiasi wajahnya.
Romeo mulai menjelaskan tenteng perusahaan nya,namun dengan cara yang tak biasa. Alih-alih langsung menyoroti keuntungan, ia justru memaparkan kekurangan dan tantangan yang tengah dihadapi perusahaannya. Cara itu membuat klien terdiam sejenak, memaksa mereka memahami realistis di di balik kesuksesan sebelum memutuskan untuk bekerja sama.
Kejujuran dan ketegasan Romeo justru menimbulkan rasa hormat, sekaligus menimbulkan rasa penasaran yang tak bisa diabaikan.
Hal inilah yang membuat Aditama terpesona,hingga tanpa ragu ia langsung menyetujui proyek kerja sama tersebut. Kali ini, Romeo akan mewujudkan ambisinya dengan membangun sebuah hotel megah di makasar, menandai langkah besar berikutnya dalam perusahaan nya.
"Terima kasih atas kepercayaan anda, tuan Aditama. Saya berharap setiap yang kami hadirkan nanti selalu sesuai dengan harapan Anda."
"Aku yakin akan menyukai semuanya, tuan Romeo... Malam nanti, bolehkah kita minum bersama?" Ajak Aditama sambil menatap nya penuh harap.
Sesaat, Romeo terhenti, menimbang-nimbang apa yang dikatakan istrinya nanti jika dia pulang dalam keadaan mabuk.
"Maaf, tuan Aditama. Anak-anak saya sedang kurang sehat, jadi saya harus tetap di rumah menemani mereka. Kasihan istri saya kalau harus mengurus si kembar sendirian." Ucap Romeo menolak dengan nada lembut.
"Pertahankan ini, tuan... Anda memang pria yang bertanggung jawab." Ucapnya lembut sambil menepuk pundak Romeo dengan pelan.
Yona yang menyimak seluruh percakapan itu diliputi rasa perih di dadanya. Bagaimana tidak, Romeo tampak dan terdengar begitu mencintai istrinya. Dalam hati Yona pun bertanya, mungkinkah ia mampu bersaing, apalagi merebut hati Romeo.
Alya telah menuntaskan seluruh jadwal perkuliahannya hari ini. Usai keluar dari gedung fakultas, Pak Bima sudah menunggunya untuk menjemput. Pemandangan itu membuat beberapa pasang mata memandangnya dengan iri, Alya tampak hidup bak seorang ratu. Siapa sangka, dulu ia dikenal sebagai gadis sederhana yang harus bekerja paruh waktu di toko milik sahabatnya. Kini, dalam waktu yang begitu singkat, nasibnya berbalik drastis, menjelma menjadi seorang wanita dengan kemewahan yang nyaris tak tersentuh.
“Pak, bisa mampir ke kedai kakao sebentar?” tanya Alya sambil sedikit mencondongkan badan ke depan.
“Non ingin membeli cokelat, ya? Tadi Tuan sudah membelikannya untuk Tuan Muda.” ujar Pak Bima dengan nada memastikan.
“Kalau begitu. Kita langsung menuju perusahaan Bapak saja.” ujarnya sambil mengangguk ringan.
“Siap, Nona Muda,” jawab Pak Bima penuh antusias. Senyum semringah tak lepas dari wajahnya sejak kehadiran Alya, gadis itu seolah membawa angin segar dan perubahan positif bagi Tuan Romeo, sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat.
Mobil hitam itu perlahan meninggalkan area parkir kampus Alya, meluncur pergi tanpa sedikit pun menarik perhatiannya. Sejak beberapa waktu lalu, ada sepasang mata yang terus mengamati dari kejauhan,menyaksikan segalanya dengan perasaan perih yang menggerogoti hati, menahan luka yang tak mampu diucapkan.
Setibanya di gedung perusahaan, Alya melangkah memasuki area lobi dengan sikap yang penuh percaya diri dan elegan. Usianya yang masih belia, dipadu dengan paras menawan serta postur tubuh yang proporsional layaknya seorang model profesional, sukses mencuri perhatian banyak karyawan yang berlalu-lalang. Tak sedikit dari mereka yang diam-diam melirik, sebab belum banyak yang mengetahui wajah istri sang pimpinan perusahaan. Namun, hanya dengan melihat penampilan dan auranya, sebagian besar orang bisa langsung menebak bahwa perempuan itu bukanlah sosok biasa, melainkan wanita istimewa yang berdiri di sisi pemimpin mereka.
“Wajahnya menawan, usianya pun masih muda. Tak heran jika pak Romeo terpikat.”
“Bukankah aneh? Masih muda, tapi bersedia jadi ibu tiri.”
“Paling juga mengincar hartanya.” bisik suara itu, cukup pelan namun tetap sampai ke telinga Alya.
“Sepertinya sih bukan begitu. Soalnya keputusan itu datang langsung dari anak-anaknya bapak, si kembar itu. Aku dengar sendiri waktu Pak Satria sempat menelepon seseorang dan membicarakan hal tersebut. Katanya, si kembar hanya mau menerima perempuan yang benar-benar mereka pilih untuk jadi ibu mereka.” jelas salah satu karyawan di tengah hangatnya gosip yang beredar.
Alya masih bisa menangkap bisikan-bisikan itu dengan samar. Wajar saja, lobi yang luas, lapang, dan cenderung sunyi membuat suara sekecil apa pun mudah terdengar, termasuk bisik manja yang tanpa sadar bisa mengusik pendengaran siapa saja.
Ia tetap melangkah dengan senyum manis yang hangat terukir di wajahnya. Penampilannya kali ini sama sekali tidak berlebihan, justru terlihat anggun karena seluruh gaun yang dikenakannya adalah pilihan Romeo di butik hari itu. Rambutnya yang kini ditata bergelombang menambah pesonanya, membuat Alya tampak berkali-kali lipat lebih memikat.
Sesampainya di lantai delapan belas, Alya melangkah dengan penuh kehati-hatian. Satria sebenarnya sudah berniat menjemputnya sejak di bawah, tetapi rasa sakit mendadak di perutnya membuat rencana itu tertunda, hingga ia meminta Alya menunggu. Namun, istri dari sahabatnya itu justru memilih berjalan lebih dulu.
Setibanya di depan ruang kerja Romeo, Alya refleks tertegun. Pandangannya tertancap pada seorang wanita dengan penampilan yang sangat menggoda, besar kemungkinan dialah sekretaris suaminya. Seketika rasa panas menjalar di dada Alya. Bagaimana mungkin Romeo memilih sekretaris dengan gaya berpakaian yang begitu minim, seolah sengaja memamerkan lekuk tubuhnya hingga tampak nyaris meluap keluar.
Yona yang mendapat tatapan seperti itu tentu merasa jengkel. Apalagi ia belum pernah melihat wajah Alya sebelumnya, sehingga sama sekali tidak menyadari bahwa wanita itu adalah calon rivalnya.
“Mau cari siapa?” tanya Yona dengan nada dingin.
Alya mengernyitkan dahi dengan perasaan heran. Ia tak mengerti mengapa sekretaris suaminya bersikap sedingin dan sejudes itu.
“Apa Tuan Romeo ada?” tanya Alya kembali dengan nada sopan.
“Buat apa kamu mencari calon suami saya?” jawab Yona tanpa rasa malu.
“Calon suami?” Alya nyaris terkekeh, susah payah menahan tawanya setelah mendengar ucapan
Yona yang terdengar konyol.
“Eh, jaga sikap kamu. Jangan mentertawakan orang sembarangan.” hardik Yona dengan dagu terangkat. “Dasar perempuan tak tahu diri. Jangan ganggu calon suami saya. Dia sedang beristirahat, dan nanti kami sudah punya janji makan siang bersama.” Ucapannya meluncur penuh keyakinan, bahkan jauh lebih percaya diri dari sebelumnya.
“Cepat panggilkan Romeo sekarang, atau kamu sendiri yang membuka pintu ini. Saya mau masuk.” tegas Alya dengan nada dingin. Kesabarannya sudah berada di batas akhir, ia tak berniat lagi meladeni ulah sekretaris suaminya yang, menurutnya, mulai bertingkah tak masuk akal.
“Kamu paham nggak sih apa yang saya bilang? Jangan sok genit dan coba-coba menggoda suami saya.” sindir Yona tajam. “Kelakuanmu itu bikin risih,seperti ulat bulu.” ejeknya lagi dengan nada meremehkan.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang berdiri di hadapannya adalah Alya. Karena ketidaktahuan itu, Yona melangkah dengan penuh percaya diri, menampilkan sikap angkuh yang terasa semakin menyebalkan.
Tak ingin membuang waktu, Alya segera menghubungi suaminya. Pandangannya sempat tertuju pada Yona dengan raut kesal, meski senyum tipis seolah tertahan di sudut bibirnya. Padahal, jika ia mau, Alya bisa saja langsung membuka pintu dan bertemu dengan Romeo.
Namun entah mengapa, ada keinginan kecil dalam hatinya untuk mengerjai sekretaris suaminya itu. Enak saja merasa diri sebagai calon istri, pikir Alya geli. Akal licik pun mulai melintas di benaknya.
“Hallo sayang, kamu sudah sampai, kan?” tanya Romeo lembut, seolah memastikan dengan penuh perhatian.
“Sudah sih, tapi aku belum bisa masuk. Ribet banget, banyak pertanyaan dan pemeriksaan.” keluh Alya sambil memasang wajah sebal yang dibuat-buat.
Yona sontak membelalakkan mata saat mendengar tudingan yang sebagian memang mengarah pada kebenaran itu ditujukan kepada Alya.
Mendengar pengaduan itu, Romeo tak membuang waktu dan segera bangkit untuk melangkah keluar.
Ceklek!
Pintu itu terbuka lebar, memperlihatkan Alya yang menampilkan raut kesedihan di wajahnya. Sementara itu, Yona pun terpaku, terkejut luar biasa hingga tak mampu menyembunyikan keterpanaannya.
“Kenapa nggak langsung masuk, hm?” bisik Romeo lembut. Tanpa ragu, bibirnya mendarat singkat di dahi Alya, seolah dunia di sekitar mereka, termasuk Yona. Lenyap begitu saja.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya erat, hingga urat di buku tangannya tampak menonjol jelas.
“Honey… jangan di sini.” bisik Alya lirih, bibirnya menolak, namun matanya justru mengundang.
Ia tak peduli siapa pun yang ada di sana, tetapi untuk pertama kalinya Romeo menatap Yona dengan sorot mata tajam yang membuat suasana menegang.
“Dengarkan baik-baik. Dia adalah istriku dan punya hak penuh untuk masuk ke ruangan ini kapan saja. Aku tidak mau dengar ada larangan atau penghalangan lagi. Jika kamu nekat mengulanginya, aku pastikan kamu tak akan punya tempat di mana pun.” ancam Romeo tanpa menurunkan suaranya.
Yona menelan ludah, rasa merinding menjalar di tengkuknya, tak menyangka pria itu akan berbicara sejauh itu kepadanya.
“Saya minta maaf, Tuan.” katanya pelan, meski nada jengkelnya tak sepenuhnya bisa disembunyikan.
Romeo segera menarik Alya ke dalam pelukannya dan berlalu begitu saja, membiarkan Yona terdiam dengan amarah yang tak tersalurkan.
“Sayang, anak-anak lagi dimana?”
“Ada di kamar dalam. Memangnya kenapa?” tanya Romeo heran.
“Kamar? Maksudnya kamar apa?” Alya mengernyit, jelas tak menyangka ada ruang tidur di dalam kantor.
“Ada kamar khusus di sini. Kalau dulu sedang banyak kerjaan, aku biasanya tidur di kantor.”
Alya hanya bisa beroh ria, matanya membelalak saat melihat aneka makanan cepat saji tersaji rapi di atas meja.
“Kamu pasti belum sempat makan. Ayo, kita makan bersama.”
"Di sini aja, aku pengen punya waktu berdua sama kamu."
"Anak-anak ada, jadi kita nggak bisa berduaan, kan?"
"Terserah, tapi ada satu hal yang pengin aku tanyakan."
"Mau nanya apa, sayang?"
"Gimana, mau nggak nambahin adik buat si kembar?"