"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Perjamuan di Atas Bara Api
Malam itu, kediaman mewah keluarga Wijaya tampak seperti istana cahaya yang berdiri angkuh di tengah kegelapan. Bagi orang luar, rumah ini adalah simbol kesuksesan. Namun bagi Clarissa—yang kini bernapas dalam raga Lestari—rumah ini hanyalah sebuah makam megah yang dipenuhi oleh para pengkhianat.
Mobil Rolls-Royce milik Devan berhenti tepat di depan teras utama. Devan turun terlebih dahulu, gerakannya elegan dan penuh wibawa. Saat ia membukakan pintu untuk Clarissa, semua pelayan yang berbaris di depan pintu ternganga. Mereka mengenal sosok itu; itu adalah Lestari, rekan mereka yang dulu sering dihina karena bau sabun pel, kini tampil bak dewi dalam balutan gaun sutra yang harganya mungkin setara dengan gaji mereka selama sepuluh tahun.
"Tetaplah di dekatku," bisik Devan sambil menawarkan lengannya. "Biarkan mereka melihat bahwa kau bukan lagi mangsa yang bisa mereka injak."
Clarissa menyambut lengan itu. "Aku bukan mangsa, Devan. Aku adalah pemburu yang sedang pulang ke rumah."
Saat mereka melangkah masuk ke ruang makan, suasana seketika membeku. Di meja panjang itu, duduk Hendrawan dengan wajah bijaksananya yang palsu, Kenzo yang tampak gelisah, dan Angelica yang mengenakan kalung berlian milik Clarissa.
Denting.
Suara garpu Angelica terjatuh ke lantai saat melihat siapa yang datang. "Kau... beraninya kau datang ke sini dengan pakaian itu!"
"Kenapa tidak, Nona Angelica? Tuan Devan yang memintaku untuk tampil pantas di depan para 'tuan rumah' yang terhormat," balas Clarissa dengan senyum tipis yang meremehkan.
Hendrawan berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Silakan duduk, Tuan Devan. Dan kau, Nona Lestari... aku terkesan dengan transformasimu. Ternyata benar kata orang, pakaian bisa mengubah kera menjadi manusia."
Mata Devan berkilat dingin mendengar penghinaan itu. Ia menarik kursi untuk Clarissa dengan gerakan yang sangat posesif. "Hati-hati dengan ucapanmu, Hendrawan. Gadis ini adalah asisten pribadiku. Menghinanya berarti menghina Mahendra Group."
Makan malam dimulai dengan ketegangan yang menyesakkan. Kenzo terus mencuri pandang ke arah Clarissa. Ia merasa ada yang salah. Cara gadis itu memegang pisau, cara dia duduk, bahkan cara dia menatap... semuanya mengingatkannya pada satu orang yang seharusnya sudah membusuk di dasar jurang.
"Kenapa kau terus menatapku, Tuan Kenzo?" tanya Clarissa sambil memotong daging steak-nya dengan presisi yang sempurna. "Apakah ada noda di wajahku, atau kau sedang melihat hantu?"
Kenzo tersedak. "Kau... kau hanya pelayan! Jangan bersikap seolah kau selevel dengan kami!"
"Level?" Clarissa meletakkan pisaunya dengan bunyi denting yang nyaring. "Jika level ditentukan oleh kejujuran, maka kalian semua berada di bawah lantai yang biasa kupel setiap pagi."
"Cukup!" Hendrawan menggebrak meja. "Aku mengundang kalian ke sini bukan untuk berdebat. Aku ingin membicarakan tentang masa depan K-Corp. Setelah kematian Clarissa, aset-asetnya menjadi tidak jelas. Sebagai pamannya, aku berencana menyatukan aset itu di bawah yayasanku. Aku hanya ingin Mahendra Group tidak ikut campur."
Clarissa tertawa pelan, tawa yang terdengar sangat menyeramkan di ruangan yang sunyi itu. "Menyatukan aset? Atau merampoknya sebelum polisi menemukan bukti penggelapan pajakmu, Paman?"
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Wajah Hendrawan berubah menjadi merah padam. "Apa katamu?!"
"Aku bilang," Clarissa berdiri, menumpukan kedua tangannya di atas meja makan yang mahal itu. "Bahwa 'Angel Cloud' adalah perusahaan cangkang yang kau gunakan untuk mencuci uang. Dan dokumen aslinya... tidak ada di kantor K-Corp. Dokumen itu disimpan di sebuah brankas rahasia yang hanya bisa dibuka dengan Kunci Perak."
Mendengar kata "Kunci Perak", Kenzo dan Angelica tersentak kaget. Itu adalah rahasia keluarga Wijaya yang paling dalam.
"Dari mana kau tahu soal Kunci Perak?!" teriak Angelica histeris. "Hanya Kak Clarissa yang tahu soal itu!"
"Mungkin Kakakmu datang ke mimpiku dan menceritakan betapa malangnya dia memiliki adik sepertimu," desis Clarissa.
Tiba-tiba, lampu di ruang makan padam. Kegelapan total.
"Apa yang terjadi?! Pelayan! Nyalakan lampunya!" teriak Kenzo panik.
Di tengah kegelapan, sebuah layar proyektor turun secara otomatis dari langit-langit ruang makan. Sebuah video mulai terputar. Video itu menampilkan rekaman CCTV rahasia di sebuah gudang lima tahun lalu. Terlihat sosok Kenzo muda sedang berbicara dengan seorang pria bermuka terbakar. Mereka sedang menukar sebuah koper berisi uang dengan dokumen-dokumen penting.
Di latar belakang video itu, terlihat seorang pria berseragam satpam—ayah Lestari—sedang mencoba memotret kejadian itu sebelum akhirnya dipukul hingga jatuh.
"Tidak! Matikan! Matikan videonya!" Hendrawan berteriak kalap.
Lampu menyala kembali secepat saat ia padam. Namun, kini suasana sudah berubah. Devan berdiri dengan pistol yang sudah tersarung di balik jasnya, sementara Clarissa menatap mereka dengan tatapan murni kebencian.
"Jadi itu alasan ayah Lestari dibunuh?" suara Clarissa bergetar karena emosi. "Karena dia memegang bukti pengkhianatan kalian terhadap keluarga Wijaya?"
"Itu fitnah! Video itu editan!" teriak Kenzo sambil mencoba menerjang Clarissa.
Namun, Devan lebih cepat. Dengan satu tendangan keras, ia menghantam perut Kenzo hingga pria itu tersungkur menabrak lemari kaca porselen. PRANG! Pecahan kaca berserakan di mana-mana.
"Jangan berani menyentuhnya dengan tangan kotormu," ancam Devan dengan suara yang rendah dan mematikan.
Hendrawan gemetar, namun ia masih mencoba bersikap tenang. "Tuan Devan, kau disesatkan oleh gadis ini. Dia adalah penyusup! Dia hanya ingin mengadu domba kita agar bisa mendapatkan harta Wijaya!"
"Harta Wijaya bukan milikmu untuk diberikan, Hendrawan," jawab Devan dingin. Ia menarik tangan Clarissa. "Kita pergi dari sini. Tempat ini baunya terlalu amis karena dipenuhi bangkai pengkhianat."
Saat mereka hendak keluar, Angelica berteriak gila, "LESTARI! KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBUKTIKAN APA PUN! KUNCI PERAK ITU HILANG BERSAMA MAYAT KAKAKKU!"
Clarissa berhenti di ambang pintu. Tanpa menoleh, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Di antara jemarinya, berkilau sebuah kunci kecil berwarna perak dengan ukiran kuno yang sangat rumit.
"Kau salah, Angelica," ucap Clarissa dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Kunci ini selalu bersamaku. Dan malam ini, aku baru saja membuka pintu neraka untuk kalian semua."
Mereka meninggalkan rumah itu diiringi teriakan histeris Angelica dan makian Kenzo. Di dalam mobil, Clarissa terduduk lemas. Adrenalinnya habis, menyisakan rasa lelah yang luar biasa.
Tiba-tiba, Devan menariknya ke dalam pelukan. Ia mendekap kepala Clarissa di dadanya, membiarkan gadis itu mendengarkan detak jantungnya yang stabil.
"Kau sangat berani malam ini," bisik Devan. "Tapi jangan pernah melakukan itu lagi tanpa instruksiku. Kau hampir membuat jantungku copot saat Kenzo menyerangmu."
Clarissa tidak membalas, ia hanya memejamkan mata. Ia tahu, perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Kunci perak itu adalah harapan sekaligus kutukan. Dan ia juga tahu, ada satu hal yang belum ia katakan pada Devan.
Bahwa di dalam video tadi, pria bermuka terbakar yang menerima uang dari Kenzo... mengenakan pin kecil berlogo Mahendra Group.
Apakah Devan benar-benar pelindungku, atau dia adalah bagian dari rencana besar yang membunuhku? batin Clarissa dengan pedih.