NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan ke Yorknew dan Bayang Pertama

Matahari pagi menyinari lapangan di kaki Trick Tower dengan cahaya keemasan yang lembut, tapi bagi Raito, semuanya terasa masih dingin dan asing. Para peserta yang lolos Hunter Exam resmi sudah mulai berpencar—ada yang langsung pergi dengan kapal udara, ada yang berjalan kaki menuju kota terdekat, ada pula yang berkelompok untuk berbagi cerita dan rencana masa depan. Gon dan Killua sudah berpamitan lebih dulu; Gon melambai riang sambil berteriak “Sampai jumpa lagi ya, Raito! Kalau ketemu di mana-mana, traktir aku ikan bakar!” sementara Killua hanya mengangkat tangan malas tanpa kata.

Raito berdiri sendirian di pinggir lapangan, memandang punggung mereka yang semakin menjauh. Tubuhnya masih nyeri dari pertarungan kemarin, tapi pikirannya lebih berat daripada badannya.

Mira muncul dari belakang, membawa dua tas ransel kecil. Satu dilempar ke arah Raito. “Ini punyamu. Aku ambil dari penyimpanan peserta. Isinya makanan kering, air, dan pakaian ganti. Kamu nggak punya apa-apa kan?”

Raito menangkap tas itu. “Terima kasih. Kamu… beneran mau ajak aku ke Yorknew?”

Mira mengangguk. “Kamu nggak punya tempat tujuan lain. Dan aku butuh teman seperjalanan. Sendirian di dunia ini terlalu berisiko, apalagi buat orang yang baru ‘terbangun’ seperti kamu.”

Raito tersenyum tipis. “Aku nggak janji bisa bantu banyak. Aku bahkan nggak punya uang.”

“Uang bisa dicari. Yang penting kamu punya insting bertahan hidup. Dan ‘cahaya’ itu di tubuhmu… aku yakin itu bakal berguna nanti.”

Mereka mulai berjalan menuju jalan tanah yang mengarah ke stasiun kereta terdekat. Jalanan berliku melalui hutan tipis yang mulai menipis, digantikan padang rumput luas. Udara segar, tapi Raito merasa ada sesuatu yang mengawasi—mungkin hanya paranoia, mungkin bukan.

Setelah dua jam berjalan, mereka sampai di sebuah desa kecil bernama Zaban City—kota transit bagi peserta Hunter Exam yang gagal. Di sini banyak pedagang kaki lima, penginapan murah, dan calo tiket kereta. Mira langsung menuju sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan.

“Kita makan dulu. Kamu belum makan apa-apa sejak kemarin.”

Mereka duduk di bangku kayu panjang. Mira memesan dua porsi sup ikan panas dan roti keras. Saat makanan datang, Raito baru sadar betapa laparnya dia. Dia makan dengan lahap, hampir lupa sopan santun.

Mira memperhatikannya sambil tersenyum kecil. “Kamu kelihatan seperti orang yang baru lahir lagi.”

“Mungkin iya,” jawab Raito di sela suapan. “Aku ingat dunia lamaku… Jakarta, motor, shift malam di kafe. Semuanya terasa seperti mimpi sekarang.”

Mira diam sejenak. “Dunia lama? Kamu dari tempat lain?”

Raito mengangguk pelan. “Aku nggak tahu caranya jelasin. Ada kilatan putih, lalu aku bangun di hutan ini. Nggak ada penjelasan, nggak ada suara dewa, nggak ada apa-apa. Cuma… aku di sini.”

Mira memandangnya lama. “Aku pernah dengar rumor tentang orang seperti itu. Disebut ‘Pengembara Dunia’ atau ‘Yang Terpanggil’. Jarang, tapi ada cerita dari Hunter senior. Katanya mereka dibawa oleh kekuatan aneh—mungkin Nen liar, mungkin sesuatu yang lebih besar.”

“Lebih besar?”

“Dark Continent,” bisik Mira. “Tempat di luar peta dunia yang diketahui. Banyak yang bilang ada kekuatan di sana yang bisa membuka portal antar dunia. Tapi itu cuma rumor. Hunter Association bahkan melarang bicara terlalu banyak tentang itu.”

Raito menatap supnya yang sudah dingin. “Jadi… mungkin aku bisa pulang lewat sana?”

“Mungkin. Tapi Dark Continent bukan tempat buat orang biasa. Bahkan Hunter top pun mati di sana.”

Mereka selesai makan dalam diam. Setelah itu, Mira membawa Raito ke sebuah kios tiket. Dengan uang sisa dari hadiah kecil yang dia dapat setelah ujian, Mira membeli dua tiket kereta ke Yorknew City—perjalanan tiga hari dengan kereta ekspres.

“Yorknew besar,” kata Mira saat mereka naik kereta. “Kota perdagangan, mafia, lelang barang langka, dan Heavens Arena. Di sana kamu bisa latih Nen-mu. Banyak petarung yang bereksperimen sendiri tanpa guru resmi.”

Raito duduk di dekat jendela, memandang pemandangan yang berlalu: sawah, bukit, kota kecil. “Nen… itu nama kekuatannya ya? Aliran hangat yang aku rasain?”

“Iya. Nen adalah energi hidup. Semua orang punya, tapi cuma sedikit yang bisa mengendalikannya. Kamu sudah bangun secara alami—jarang sekali. Biasanya butuh latihan bertahun-tahun atau hampir mati.”

Raito mengepal tangan. Dia mencoba fokus pada dada—aliran itu muncul lagi, hangat dan ringan. Kali ini dia bisa merasakannya lebih jelas: seperti sinar matahari yang mengalir di pembuluh darah, bukan panas biasa, tapi sesuatu yang… bercahaya.

“Kalau aku latihan, apa yang bisa kulakukan?” tanya Raito.

Mira mengangkat bahu. “Tergantung tipe Nen-mu. Ada Enhancer yang kuat secara fisik, Transmuter yang ubah sifat aura, Conjurer yang ciptakan benda, dan lain-lain. Kamu kelihatan Enhancer dengan sedikit Transmuter—karena auramu bisa ‘bersinar’.”

Raito tersenyum kecil. “Cocok sama namaku.”

Mira tertawa pelan—suara yang jarang dia keluarkan. “Raito berarti ‘cahaya’ ya? Ironis. Dunia ini gelap banget, tapi kamu datang dengan nama seperti itu.”

Malam pertama di kereta, Raito tidak bisa tidur. Dia duduk di kursi sambil memandang kegelapan di luar jendela. Tiba-tiba, kereta bergetar keras. Lampu redup berkedip-kedip.

Mira langsung bangun. “Serangan.”

Raito melihat ke koridor—beberapa pria bertopeng hitam masuk dari gerbong depan, membawa senjata tajam dan tongkat besi. Mereka berteriak, “Serahkan barang berharga kalian! Ini perampokan!”

Penumpang berteriak panik. Beberapa mencoba melawan, tapi langsung dipukul jatuh.

Mira berdiri. “Tetap di sini. Aku tangani.”

“Tunggu!” Raito menahan lengannya. “Aku ikut.”

Mira memandangnya sejenak, lalu mengangguk. “Jangan mati.”

Mereka bergerak ke koridor. Salah satu perampok melihat mereka dan menyerang dengan pisau besar. Mira menghindar, lalu menendang lutut pria itu hingga jatuh. Raito maju ke depan—tanpa pikir panjang, dia meninju perut pria lain yang mendekat.

Pukulannya biasa saja, tapi saat tinju menyentuh, ada hembusan hangat yang keluar dari tangannya. Pria itu terpental ke belakang, menghantam dinding kereta dengan suara keras.

Mira melirik kaget. “Itu… Nen tanpa sadar.”

Perampok lain mendekat—tiga orang sekaligus. Raito merasakan aliran itu lebih kuat sekarang. Dia mengangkat tangan kanan, fokus pada ‘cahaya’ di dadanya. Tiba-tiba, telapak tangannya berpendar samar—putih keemasan, seperti cahaya lampu kecil.

Saat salah satu perampok menusuk, Raito mengayunkan tangan. Cahaya itu meledak kecil—bukan api, tapi sinar menyilaukan yang membuat perampok itu menjerit dan menutup mata. Raito memanfaatkan momen itu untuk menendang perutnya.

Mira menangani dua lainnya dengan cepat—gerakannya seperti tentara terlatih: pukulan presisi, tendangan rendah, dan akhirnya membuat mereka pingsan.

Dalam hitungan menit, perampokan berakhir. Penumpang lain bertepuk tangan pelan, beberapa berterima kasih. Mira dan Raito kembali ke tempat duduk, napas tersengal.

“Kamu… mulai bisa mengendalikan,” kata Mira. “Itu Hatsu pertama-mu, meski masih mentah. Cahaya menyilaukan.”

Raito memandang tangannya. Cahaya sudah hilang, tapi telapaknya masih hangat. “Aku nggak tahu caranya. Cuma… rasanya harus.”

“Itu insting. Bagus. Di Heavens Arena, kamu bisa kembangkan lebih jauh.”

Kereta melanjutkan perjalanan. Raito duduk kembali, memandang kegelapan luar jendela. Di sana, bintang-bintang berkedip seperti lampu kecil di langit hitam.

Dia tidak tahu apa yang menanti di Yorknew. Tapi untuk pertama kalinya, dia merasa bukan hanya korban nasib.

Dia mulai merasa seperti… seseorang yang membawa cahaya.

Dan cahaya itu, meski kecil, mulai menerangi jalan di depan.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!