Kayla dikenal sebagai Queen, seorang kupu-kupu malam yang terkenal akan kecantikan wajahnya dan bermata indah.
Suatu hari Kayla menghindar motor yang tiba-tiba muncul dari arah samping, sehingga mengalami kecelakaan dan koma. Dalam alam bawah sadarnya, Kayla melihat mendiang kedua orang tuanya sedang disiksa di dalam neraka, begitu juga dengan ketiga adik kesayangannya. Begitu sadar dari koma, Kayla berjanji akan bertaubat.
Ashabi, orang yang menyebabkan Kayla kecelakaan, mendukung perubahannya. Dia menebus pembebasan Kayla dari Mami Rose, sebanyak 100 juta.
Ketika Kayla diajak ke rumah Ashabi, dia melihat Dalfa, pria yang merudapaksa dirinya saat masih remaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Malam sudah larut ketika Dalfa masih duduk di balik meja kerjanya, ruangan kantornya hanya diterangi lampu meja dan cahaya lampu kota yang merembes dari jendela kaca besar di belakangnya. Di layar laptopnya terpampang sebuah foto yang diambil dari media sosial temannya beberapa hari lalu. Seorang wanita cantik dengan gaun malam berkilau, senyum tipis, dan yang paling mencolok, sepasang mata amber yang langka.
Queen. Nama itu terus berputar di kepalanya seperti gema yang tak kunjung hilang. Dalfa menutup laptopnya perlahan, tetapi wajah itu justru semakin jelas terbayang. Mata amber itu hangat, tetapi menyimpan kesedihan yang tak terbaca. Persis seperti mata Kayla.
“Kenapa bisa kebetulan?” gumam Dalfa pelan.
Keesokan harinya, tanpa memberi tahu siapa pun, Dalfa mengubah jadwalnya. Alih-alih ke lokasi proyek, ia mengemudikan mobilnya menuju sebuah kawasan yang ia tahu sebagai tempat “rumah bordir” milik Mami Rose, tempat di mana Queen disebut-sebut pernah bekerja.
Bangunan itu tampak mewah dari luar, namun sarat aura gelap. Lampu-lampu temaram, aroma parfum menyengat, dan musik samar yang mengalun dari dalam. Dalfa melangkah masuk dengan wajah datar.
Beberapa wanita menatapnya, berbisik satu sama lain. Seorang perempuan berusia paruh baya dengan riasan tebal mendekat, Mami Rose.
“Ada perlu apa, Tuan?” tanya Mami Rose, suaranya manis tetapi waspada.
“Aku ingin bertemu Queen,” jawab Dalfa lugas.
Senyum Mami Rose menipis. “Queen? Tidak ada nama itu di sini.”
Dalfa mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto yang ia simpan. “Wanita ini.”
Tatapan Mami Rose berubah dingin. “Sudah lama tidak ada. Menghilang. Ditelan bumi.”
Dalfa menyipitkan mata. “Aku tidak percaya.”
Pria itu meletakkan sebuah cek di atas meja kecil di sampingnya. “Dua puluh juta. Cukup untuk sekadar memberitahuku siapa dia sebenarnya.”
Beberapa wanita di sekitar mereka tersentak diam-diam. Namun, Mami Rose bahkan tidak melirik cek itu.
“Aku sudah bilang, Tuan. Queen sudah tidak ada. Dan aku tidak akan pernah sedikitpun memberi informasi kepada siapa pun.”
Dalfa mencondongkan tubuhnya sedikit. “Kenapa? Apa yang kamu sembunyikan?”
Mami Rose menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras. “Itu bukan urusan Anda, Tuan.”
Mami Rose tidak bisa memberikan informasi apa pun tentang Queen atau Kayla karena ada perjanjian di atas kertas dengan Ashabi, dahulu.
Dalfa terdiam. Dia jadi semakin penasaran dengan sosok Queen.
Mami Rose melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Dan sebaiknya Anda berhenti mencarinya. Karena ada beberapa kebenaran lebih baik tetap terkubur.”
Dalfa keluar dari tempat itu dengan rahang mengeras dan dada penuh pertanyaan. Semakin ia ditutup-tutupi, semakin besar keinginannya untuk mengungkap siapa Queen sebenarnya dan apa hubungannya dengan Kayla.
Di sisi lain kota, Kayla terbangun dengan perasaan tidak enak. Nayla—adik bungsunya—menggeliat lemah di sampingnya, wajahnya memerah, napasnya terasa panas.
“Nayla, bangun, Sayang,” bisik Kayla cemas.
“Astaghfirullah, Nayla, kamu demam tinggi.” Tubuh Nayla terasa sangat panas ketika disentuh oleh Kayla. Terlihat ada darah keluar dari hidungnya.
Kayla panik. Ia segera menggendong Nayla, membangunkan Fattan dan Fattah dengan suara bergetar.
“Kalian jaga rumah sebentar, Kakak harus bawa Nayla ke rumah sakit.”
Di depan gang sempit rumah kontrakan mereka, Kayla kesulitan mencari ojek online. Tangannya gemetar, napasnya terengah.
“Ya Allah, tolong aku,” gumam Kayla yang berderai air mata.
Saat itulah sebuah mobil berhenti di depannya. “K-Kayla?”
Kayla menoleh dan membeku. Tamara duduk di belakang kemudian, kaca jendela mobil yang terbuka. Wajahnya masih cantik, riasannya tipis, tetapi matanya menyimpan kepenatan dunia malam.
“Tamara?” suara Kayla tercekat.
“Kamu mau ke mana?” tanya Tamara.
“Ke rumah sakit,” jawab Kayla.
Tanpa banyak bicara, Tamara melihat keadaan Nayla dan segera berkata, “Cepat masuk. Aku antar ke rumah sakit.”
Sepanjang perjalanan, Nayla terbaring lemah di pangkuan Kayla, tubuhnya menggigil meski cuaca tidak dingin.
Tamara menyetir dengan cepat, sesekali menoleh.
“Masih sama, ya, kamu selalu melindungi adik-adikmu.”
Kayla menunduk, air mata hampir jatuh. “Karena mereka harta berharga milikku. Alasan aku agar selalu kuat.”
Setelah beberapa saat, Tamara menghela napas panjang. “Apa kamu tahu? Sejak kamu pergi, rumah bordir tidak sama lagi.”
Kayla menatapnya pelan. “Kenapa?"
“Banyak yang ingin berhenti. Rina, Lila, bahkan Sinta, mereka ingin keluar seperti kamu.” Tamara tertawa pahit. “Tapi tidak semudah itu, Kayla. Mereka terikat utang, ancaman, dan kehidupan itu sudah menelan mereka terlalu dalam.”
Kayla menggigit bibirnya, perasaan bersalah menggerogoti hatinya. “Aku beruntung bisa keluar,” bisiknya lirih.
Tamara menatapnya sekilas. “Bukan hanya keberuntungan. Kamu kuat. Lebih kuat dari kami.”
Mobil berhenti di depan IGD. Kayla berlari masuk dengan Nayla di gendongannya.
Sementara itu, di tempat lain, Ashabi sedang berada di salah satu minimarketnya ketika ponselnya berdering.
Di layar tertulis: Fattan.
“Halo, Fattan. Ada apa?” jawab Ashabi.
Suara Fattan terdengar panik. “Om Abi, Nayla sakit hidungnya berdarah. Sekarang Kak Kayla bawa dia ke rumah sakit.”
Dada Ashabi langsung terasa diremas. “Rumah sakit mana?” tanyanya cepat.
“Tidak tahu, Om. Kak Kayla cuma bilang mau pergi ke rumah sakit.”
Tanpa berpikir panjang, Ashabi meninggalkan toko, mengabaikan karyawan yang memanggilnya, dan melaju kencang menuju rumah sakit.
Di ruang tunggu IGD, ia melihat Kayla duduk di kursi plastik, wajahnya pucat, matanya sembab.
“Kayla!” panggilnya.
Kayla menoleh, terkejut melihatnya. “Mas Abi…?”
Ashabi langsung berlutut di depannya. “Bagaimana Nayla?”
Kayla menutup wajahnya, air mata jatuh tak terbendung. “Dia masih diperiksa.”
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Ashabi dan Kayla berdiri bersamaan.
Dokter berbicara dengan nada tenang tetapi serius. “Anak ini menunjukkan gejala awal leukemia.”
Dunia Kayla seolah runtuh. Tubuhnya limbung, hampir jatuh jika tidak ditahan Ashabi.
dan ahh masih bikin bgg
trus duit dr mna dia apa g di lertanyakan sm org tuanya ya
nnti ada wktunya itu klo sudah autornya berkehendak 🙈🙈🙈
kemasa saja ini orang knp baru muncul aja
trus se enak nya ya
ini baru permulaan ya