Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pelarian di bawah sinar rembulan
Suasana di kamar pribadi Kaisar masih diselimuti oleh aroma sisa gairah semalam—campuran antara wangi dupa cendana yang berat dan keharuman jasmine yang berasal dari kulit Mei Lin. Di atas ranjang sutra yang berantakan, Kaisar Jian Feng masih terlelap dalam posisi miring. Otot-otot punggungnya yang lebar tampak relaks, namun lengannya yang kekar masih melingkar kuat di pinggang Mei Lin, seolah-olah dalam tidurnya pun ia secara naluriah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Mei Lin terbangun dengan jantung yang berdegup kencang, hampir menyakitkan di balik rongga dadanya. Tubuhnya terasa remuk, sebuah pengingat fisik akan kekuatan dan intensitas penaklukan Jian Feng semalam. Setiap kali ia mencoba bergerak, rasa nyeri menjalar di pangkal pahanya, namun ketakutan akan kehilangan kebebasannya jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik tersebut. Ia menatap wajah Jian Feng yang sedang tertidur; tanpa sorot mata yang tajam dan kejam, pria itu tampak seperti patung dewa yang sangat tampan, namun Mei Lin tahu bahwa di balik ketenangan itu ada monster yang siap menghancurkan hidupnya.
Dengan napas tertahan, Mei Lin memulai gerakan yang paling berbahaya dalam hidupnya. Inci demi inci, ia menggeser lengan berat Jian Feng dari pinggangnya. Peluh dingin membasahi pelipisnya saat tangan sang kaisar sempat bergerak pelan, namun untungnya pria itu hanya bergumam rendah sebelum kembali terlelap. Begitu terbebas, Mei Lin segera turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Kakinya yang telanjang menyentuh marmer lantai yang sedingin es, membuatnya sedikit menggigil.
Ia tidak berani mengenakan pakaian sutra yang indah namun mencolok itu. Sebaliknya, ia memungut jubah pelayan lamanya yang kasar yang tergeletak di pojok ruangan. Dengan jemari gemetar, ia mengikat rambut hitamnya yang berantakan dan menutupi wajahnya dengan sisa kain yang ada. Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh ke arah ranjang untuk terakhir kalinya. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya—sebuah campuran antara kebencian, ketakutan, dan sesuatu yang ia sendiri tidak berani beri nama.
Mei Lin menyelinap melalui pintu rahasia para pelayan yang menuju ke arah dapur istana. Lorong-lorong istana yang luas tampak seperti mulut raksasa yang siap menelannya. Ia menghindari setiap obor yang menyala dan bersembunyi di balik pilar besar setiap kali mendengar langkah kaki pengawal yang berpatroli. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat: sebuah celah kecil di tembok luar dekat saluran air yang pernah ia lihat saat pertama kali tiba di istana.
Celah itu sempit, kotor, dan penuh dengan lumpur berbau busuk. Namun bagi Mei Lin, itu adalah pintu menuju kehidupan. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia merangkak masuk. Pakaian pelayannya robek tersangkut batu tajam, dan kulit bahunya tergores hingga berdarah, namun ia terus maju. Begitu berhasil keluar ke sisi lain tembok, ia tidak berhenti untuk bernapas. Ia langsung berlari menuju hutan bambu yang berada di lereng bukit di belakang istana.
"Aku tidak boleh tertangkap," bisiknya dengan napas yang terengah-engah. "Jika dia menemukanku, dia tidak akan pernah melepaskanku lagi."
Sementara itu, saat sinar matahari pertama mulai mengintip dari ufuk timur, ketenangan di kamar Kaisar berakhir dengan ledakan amarah. Jian Feng terbangun dan meraba sisi tempat tidurnya yang sudah dingin. Matanya terbuka lebar, dan saat menyadari bahwa Mei Lin tidak ada di sana, seluruh ruangan itu seolah bergetar oleh aura membunuhnya.
"PRAJURIT!!!" raungnya, sebuah suara yang membuat burung-burung di sekitar istana terbang ketakutan.
Jian Feng berdiri, membiarkan jubah tidurnya tersampir sembarangan. Ia melihat sekeliling ruangan yang kini terasa hampa. Kemarahan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya membakar dadanya—bukan hanya karena Mei Lin melarikan diri, tetapi karena gadis itu berani menolak kehadirannya setelah apa yang mereka lalui.
"Berani sekali dia menipu sang Kaisar," desis Jian Feng sambil meremas kain masker putih milik Mei Lin yang tertinggal. Matanya merah karena murka. "Kerahkah seluruh pasukan bayangan! Tutup semua gerbang kota! Aku ingin dia ditemukan dalam keadaan hidup. Dan siapa pun yang menyembunyikannya, akan aku ratakan rumah mereka dengan tanah!"
Di tengah hutan bambu yang rimbun, Mei Lin jatuh tersungkur. Kakinya berdarah, dan ia bisa mendengar suara terompet istana yang menggema di kejauhan—suara kematian yang sedang memanggil namanya. Sang Naga telah terbangun, dan perburuan paling mematikan di kekaisaran itu baru saja dimulai
bersambung