Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 33
Pagi tadi, sebelum matahari benar-benar meninggi, dan pria itu pergi, Max berdiri di ambang pintu rumah itu.
Setelah mandi Zayna mengenakan pakaian kerjanya—kemeja kusut yang sama, tas usang di bahu, wajah yang belum sempat disentuh apa pun selain air dingin dari keran dapur.
Max menahannya dengan satu kalimat sederhana.
“Kau tidak harus bekerja hari ini.”
Zayna mengerutkan kening. “Aku harus. Kalau tidak—”
Max memotong pelan, tapi tegas.
“Sesekali kau boleh bersenang-senang. Jangan khawatirkan apa pun.”
Ia melangkah mendekat, suaranya rendah namun penuh keyakinan.
“Sesekali bersenang-senang tidak akan membuat kita mati.”
Zayna terdiam.
Max melanjutkan, nada suaranya lebih dingin ketika menyebut hal itu.
“Lagi pula, para rentenir itu tidak akan kembali dalam waktu cepat. Kabarnya mereka mengalami kecelakaan lalu lintas.”
Kecelakaan lalu lintas hanya sebagai alasan untuk Zayna. Yang sebenarnya para rentenir itu sudah di bereskan. Seolah-olah mereka mengalami kecelakaan. Dan semuanya mati di tempat.
“Mereka masuk laman berita. Mereka buronan juga.” Lanjut Max lagi.
Zayna menatapnya terkejut. “Kecelakaan? Seperti kebetulan sekali…” kata Zayna.
“Ya.” Jawaban Max singkat. Terlalu singkat. “Jadi untuk hari ini… berhentilah menjadi wanita yang terus berlari.”
Ia menatap Zayna dari ujung rambut hingga ke ujung kaki—bukan dengan hinaan, bukan dengan kasihan. Tapi dengan sesuatu yang lebih dalam.
“Belilah sesuatu yang kau mau. Yang kau inginkan.”
Jeda sejenak.
“Hargai dirimu sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Zayna, terasa asing.
Tak banyak orang yang pernah menyuruhnya menghargai diri sendiri. Ia terlalu lama hidup untuk bertahan. Untuk membayar hutang. Untuk menutup malu. Untuk memenuhi tuntutan orang lain.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, ia tidak berangkat kerja.
Ia pergi ke salon kecil di ujung jalan. Rambutnya dirawat. Wajahnya dipoles ringan. Ia membeli dua gaun sederhana yang sebenarnya sudah lama ia pandangi dari balik etalase.
Bukan untuk siapa pun.
Bukan untuk Drake.
Bukan untuk membuktikan apa-apa.
Melainkan untuk dirinya sendiri.
Dan kini—sore itu—ketika Drake berdiri di hadapannya dengan map salinan pernikahan di tangan, sebagai syarat perceraian yang akan ia ajukan ke catatan sipil. Zayna tidak lagi tampak seperti wanita yang kelelahan oleh hidup.
Ia tampak seperti seseorang yang baru saja diingatkan bahwa dirinya berharga.
Drake tidak tahu tentang percakapan pagi itu.
Ia tidak tahu bahwa di balik perubahan Zayna… ada satu pria lain yang berkata padanya untuk berhenti mengorbankan diri.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama—
Zayna berdiri bukan sebagai wanita yang ditinggalkan.
Melainkan sebagai wanita yang mulai memilih dirinya sendiri.
Drake menatap Zayna dengan intensitas yang berbeda. Map biru yang sedari tadi ia genggam seolah kehilangan beratnya, terabaikan begitu saja di atas meja rias.
Rasa bersalah yang sempat muncul kini berubah menjadi sesuatu yang lebih primitif. Melihat Zayna yang bersinar kembali bukan hanya menyadarkannya akan kehilangan, tapi juga memicu ego maskulinnya yang selama ini mati rasa. Ia menginginkan wanita di depannya ini—bukan sebagai bentuk rekonsiliasi, melainkan sebagai bentuk pembuktian kepemilikan yang egois.
Drake melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aroma parfum Zayna yang elegan menyerang indranya, jauh lebih memabukkan daripada alkohol mana pun yang ia minum bersama Ezme.
“Kau terlihat jauh berbeda, bahkan lebih cantik ketimbang saat muda.” bisik Drake, suaranya kini serak, kehilangan nada datarnya yang tadi.
Zayna tidak mundur, namun matanya memancarkan kewaspadaan.
“Aku hanya mengembalikan apa yang hilang, Drake. Harga diriku.”
Drake tertawa kecil, tawa yang tidak mencapai matanya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh helai rambut Zayna yang halus.
”Harga diri? Atau kau sedang mencoba menarik perhatianku lagi? Kau ingin aku kembali lagi padamu Zayna?”
“Kau masih saja merasa sepenting itu.”
“Aaah… Atau… Kau mencoba merayu dan menarik perhatian pria lain. Kau pasti kesepian… Tidak ada yang menyentuhmu. Kau ingin mendapatkan sentuhan dari pria lain bukan? Kau sudah lama tidak melakukan hubungan badan. Tentu saja, batu pun akan terkikis lama kelamaan. Bagaimana kau tidak? Kau pasti juga membutuhkan itu. Seks.” Kata Drake dengan percaya diri.
“Itu bukan urusanmu lagi, kan? Map itu sudah di tanganmu.” sahut Zayna dingin, mencoba melangkah melewati Drake.
Namun, sebelum Zayna sempat menjauh, tangan Drake mencengkeram lengannya dengan kuat dan menariknya kembali. Tubuh Zayna menabrak dada bidang Drake. Napas pria itu terasa panas di telinga Zayna.
“Kau masih istriku,” desis Drake. Gairahnya kini bercampur dengan dominasi yang kasar.
“Status di map itu belum berubah. Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah menunjukkan diri seperti ini padaku.”
“Lepaskan, Drake. Kau menyakitiku,” Zayna mulai meronta, namun tenaga Drake jauh lebih besar.
Drake menyudutkan Zayna ke dinding kamar, mengunci pergerakannya dengan kedua tangan.
Matanya menyapu wajah Zayna yang kini tampak terkejut sekaligus marah. Hasrat yang selama ini Drake berikan untuk Ezme mendadak berpindah arah sepenuhnya pada wanita yang selama ini ia abaikan.
“Aku merindukanmu yang seperti ini,” gumam Drake, wajahnya mendekat, mencoba mencium leher Zayna dengan paksa.
”Dan sebagai suamimu, aku punya hak untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku hari ini.”
“Drake, hentikan! Jangan gila!” seru Zayna, suaranya mulai bergetar karena emosi, bukan lagi karena kesedihan, melainkan kemarahan atas perlakuan Drake yang menganggapnya sebagai objek yang bisa digunakan kapan saja ia mau.
Drake tidak peduli. Ia merasa jika ia bisa menguasai tubuh Zayna saat ini, ia bisa menghentikan perubahan yang sedang terjadi pada istrinya. Ia mencoba memaksa, mengabaikan penolakan Zayna yang semakin keras.
Drake tidak lagi mendengar penolakan Zayna yang berteriak seolah Drake menjadi tuli krema kecantikan Zayna. Baginya, perubahan Zayna yang tiba-tiba ini adalah sebuah gairah yang di bangkitkan kembali—dan sebuah upaya untuk merebut kendali yang selama ini ia pegang dimana Zayna harus tunduk padanya.
Gairah yang muncul bukan datang dari rasa cinta yang tulus, melainkan dari ego yang terluka dan keinginan untuk menundukkan kembali wanita yang mulai lepas dari genggamannya.
Drake mencengkram bahu dan lengan Zayna. Mencium bibir Zayna secara paksa hingga merobek gaun Zayna. Kemudian membanting tubuh Zayna hingga terdampar di atas ranjang.
Suara kain yang terkoyak memenuhi kamar yang hening itu saat Drake merenggut gaun baru Zayna dengan kasar. Napasnya memburu, didorong oleh campuran gairah yang liar dan rasa kepemilikan yang toksik.
Namun, saat kulit Zayna terekspos di bawah lampu kamar yang terang, gerakan Drake mendadak terhenti. Matanya membelalak. Di leher jenjang itu, di balik tulang selangka, dan di beberapa bagian tubuh Zayna yang biasanya tertutup, terlihat banyak sekali bercak-bercak merah yang kontras dengan kulit putihnya.
Darah Drake seolah mendidih seketika.
“Apa ini?”geram Drake, suaranya rendah dan berbahaya. Ia mencengkeram bahu Zayna hingga wanita itu memekik.
“Bekas apa ini, Zayna?!”
Zayna mencoba menutupi tubuhnya dengan sisa kain yang ada, wajahnya memucat.
“Drake, lepaskan... Apa pedulimu! Sedangkan kau juga bersama wanita lain!” Teriak Zayna dengan air mata mengalir.
“Salon? Baju baru? Parfum mahal?” Drake tertawa sinis, tawa yang terdengar mengerikan. Ia menyentak dagu Zayna agar menatapnya.
“Sekarang aku tahu dari mana kau mendapatkan uang untuk semua kemewahan ini. Kau menjual dirimu, hah? Kau melayani pria lain sementara kau masih menyandang sebagai istriku!”
“Tidak! Kau keterlaluan, Drake!” teriak Zayna, air mata terus menggenang.
“Ternyata ini alasanmu terlihat begitu 'segar'. Kau sudah terbiasa disentuh pria lain, jadi kenapa kau berlagak suci di depanku?”
Drake benar-benar kalap. Rasa cemburu yang buta dan harga diri yang terluka membuatnya kehilangan akal sehat.
“Sekarang kau harus melayaniku sampai aku memenuhi rahimmu dengan spermku!”
Baginya, jika Zayna bisa "memberikannya" pada orang asing demi materi, maka ia sebagai suami sah berhak mengambil jauh lebih banyak secara paksa.
Bersambung
tuan nelson hrs pnjng umur dlu biar dia bsa jelsin ke max yg sbnar.a
aku mencintaimu zayna, mari kita mulai semua dari awal. lupakan masalalu dan sambutlah masa depan denganku. gimana tanggapan Zayna nanti🤣
astaga zayna 🤐
diboongin lgii perihal hp 🙊 moga kdpan.a pasangan ni bsa sling jjur dlm kmunikasi 😁
Dari awal baca, bletz itu ku pikir perempuan 😂. ternyata lelaki. karna tmnku juga namanya bleitz tapi cewek✋