Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam 12. Gadis Tengil Kesayangan
"Aku sih mau bersyukur, Mas. Dia bekerja juga, ending-nya hasil kerjanya dinikmati bersama." Rani tersenyum tulus, Adimas terdiam sejenak.
"Kalau dia pergi jauh, bagaimana?" Rani sejenak menatap Adimas.
"Jodoh sudah ada yang ngatur. Rani bakal minta sama Allah langsung. Kalau jodoh minta didekatin, kalau emang cinta banget meski bukan jodoh juga pengin dipaksain jadi jodoh." Cengir Rani, Adimas menghela napas kasar.
"Begitu ya?" tanya balik Adimas, Rani mengangguk.
"Kalau kamu merasa sudah tidak nyaman?" tanya lagi Adimas, Rani bingung. Sebenarnya apa yang kini ada dalam pikiran wali kelasnya itu sih?
"Berarti aku ini enggak tahu diri, Mas. Gimana ya, perasaan enggak akan mudah berubah saat perasaan itu tumbuh tanpa alasan." Jawab Rani, Adimas mengangkat alisnya.
"Gini, Mas. Seandainya nih Rani cinta sama Mas Adimas dengan alasan karena Mas Adimas perhatian. Terus gimana kalau di masa depan Mas jadi enggak perhatian? Apa masih sayang? Pasti kalau sudah enggak perhatian enggak akan sayang, jadi yang disayanginya itu hanya sifat perhatiannya itu, bukan sosok Mas Adimas-nya. Tapi kalau seandainya Rani cinta sama Mas Adimas tanpa alasan yang jelas, cinta itu kata pepatah dari mata turun ke hati, Mas. Jadi saat melihat mata orang yang dicinta, maka saat itu kita bisa tahu bila itu cinta, tanpa embel-embel alasan lainnya. Kayak ada atap di balik mata itu, di mana rumah dan tujuan kita berada. Rasa aman, nyaman, dan damai terasa, Mas." Tutur Rani panjang lebar.
"Kalau salah satu dari mereka ada yang buta?" tanya lagi Adimas, Rani menatap tajam pada Adimas.
"Kan itu istilah, Mas. Ih kesel lama-lama. Kalau cinta itu bisa datang dan dirasa tanpa melihat, tanpa rupa, tanpa suara, dan tanpa bicara. Mas Adimas enggak pernah jatuh cinta ya?" tanya balik Rani yang makin jengkel. Kok oon kali pikir Rani.
"Coba deh ikuti Rani, Mas." Rani duduk bersila di atas aspal.
"Mau pesugihan kamu, Ran?" tanya Adimas agak was-was.
"Enggak, saya mau melet Mas Adimas!" kesal Rani. Adimas terkekeh dan duduk di hadapan Rani.
"Coba Mas Adimas tutup matanya, terus dengerin suara jangkrik. Suara dari kota yang jauh, suara kendaraan. Terus suara siapa yang terdengar setelahnya?" ucap Rani. Adimas menutup matanya. Dia merasakan segalanya hingga suara Rani yang sering bawel di kelas sayup-sayup terdengar.
"Sudah, Mas. Suara siapa setelahnya yang terdengar?" tanya Rani penasaran, Adimas tersenyum.
"Suara kamu," jawab Adimas. Rani menganga.
"Haa?"
"Kan barusan kamu yang ngomong, jadi suara kamu. Suara siapa lagi?" Rani menepuk jidatnya.
"Terus sekarang bayangin sosok siapa yang ada dalam pikiran Mas Adimas. Dan Mas seolah bisa melihat dia di depan Mas setiap waktu, siapa itu, Mas?" tanya lagi Rani. Adimas membuka matanya.
"Kamu. Tuh gede gini, masa harus pura-pura enggak kelihatan," ucap Adimas sambil tertawa.
"Aaaa... Aku lagi khusyuk bantuin malah dicandain." Kesal Rani kembali berdiri dan menepuk celananya yang kotor.
"Hahaha, besok hari Jumat giliran les matematika jam dua siang," peringat Adimas. Rani memutar bola matanya.
"Iya, tahu. Ran mau pulang dulu lah, Mas. Mas juga cepat pulang, sudah malam nanti kesambet kecantikan Ran, muheheh..." canda Ran sebelum akhirnya menyalakan mesin motornya dan melambaikan tangan sembari pergi.
Adimas diam dalam keheningan. Dia baru saja belajar sesuatu dari gadis tengil itu. Gadis tengil kesayangannya, dan gadis tengil yang membuatnya tersadar akan beberapa hal yang dulu tak dia mengerti.
.
.
.
Pagi kembali tiba. Rani tampak sudah berada di parkiran dan memutar-mutar kunci motornya. Mobil Adimas tampak masuk ke area parkir khusus guru dan staf.
"Eh Pak Adimas, ini hari apa ya? Kok pakai baju itu?" tanya Rani karena Adimas menggunakan baju koko putih dan celana panjang hitam.
"Hari Jumat," jawab Adimas bingung. Dia merasa tidak salah pilih baju pagi ini.
"Ah salah nih Pak Adimas. Yang bener itu hari ini Pak Adimas ganteng banget, muhehe... Selamat pagi, Pak Adimas." Senyum Rani sembari pergi. Adimas terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja pikir Adimas, tingkah Rani ini.
Jam pelajaran usai, dan Rani dan Adimas tak bersinggungan. Selama istirahat Rani menutupi telinganya dengan earphone dan hanya menonton donghua atau drachin saja.
Dia ke musala saat waktunya salat Zuhur dan mulai les biologi jam setengah satu siang. Jam dua siangnya giliran les matematika.
"Selamat siang semuanya?" sapa Adimas yang baru masuk ke kelas.
"Siang, Pak," ucap semuanya. Rani juga tampak duduk diam dengan tenang.
"Tumben Rani tenang?" ucap Adimas. Semua murid juga merasakan hal yang sama, Rani jauh lebih tenang dari hari-hari biasanya.
"Iya, Pak. Cukup dadaku aja yang deg-degan enggak karuan saat lihat Bapak," jawab Rani, dan sontak satu ruangan bergemuruh.
Ya, mereka juga rindu Rani yang seperti itu. Setelah dua hari tidak masuk sekolah, dan hari itu juga tampak berbeda, jelas mereka merasa kehilangan dengan sosok Rani.
"Oke, Raninya sudah kembali. Ayo kita mulai belajar," Adimas mulai mengeluarkan buku dan referensi soal matematika yang pernah keluar di ujian nasional beberapa tahun ke belakang.
"Pak, kayaknya Bapak salah nempatin kurang di board deh?" ucap Rani saat pelajaran sudah akan selesai.
Adimas sejenak berpikir dan menatap lagi rumusnya dari atas sampai bawah. Tak ada yang salah, dia rasa.
"Coba jelaskan di mana kesalahannya, Ran?" tanya Adimas. Rani tersenyum.
"Harusnya ada di Bapak kan, soalnya Bapak enggak ada kurang-kurangnya." Satu kelas dibuat rusuh kembali oleh Rani.
"Oh, jadi saya cuma hanya ada tambahnya saja?" tanya Adimas meladeni. Toh sudah akhir pelajaran dan mumet juga bila terus mendengarkan rumus dan angka. Rani seolah tahu di mana dia menempatkan candaannya.
"Iya, minta satu dong tambahnya, Pak. Tambahin saya di kartu keluarga Bapak, Pak." Cengir Rani. Adimas menundukkan pandangan sejenak, menutupi senyum yang tersurat di bibirnya.
"Wah, Rani suhu!" ucap yang lain. Rani menatap ke belakang pada temannya yang berteriak.
"Suhu dingin apa panas nih? Soalnya yang hangat cuma ada di senyum Pak Adimas, heheh..." Rani kembali nyengir, tanpa rasa bersalah dirinya menggoda Adimas, tanpa tahu Adimas kini mulai merasa nyaman dengan ceplas-ceplos Rani.
"Wah parah, Rani. Gombalannya enggak bagi-bagi," tambah seorang murid laki-laki di jajaran ketiga.
"Iyakah? Mungkin karena gantengnya Pak Adimas juga enggak bagi-bagi." Rani membentuk gambar pistol dengan jari telunjuk dan jempolnya pada temannya yang tadi berkomentar.
"Kurang, tambah, bagi, apa nih kalinya, Ran?" tanya Adimas yang kini sudah berdiri di depan Rani.
"Kali aja Bapak mau jalan sama aku nanti malam, biu..." Rani kembali membentuk pistol dengan jarinya dan meniru adegan menembak. Adimas tersenyum simpul dan berjalan menuju ke arah ponselnya berada. Dia menulis pesan pada Rani.
"Boleh."
Itu jawaban dari Adimas. Rani belum melihat ponselnya saat itu. Dia tengah sibuk merapikan buku-bukunya dan mengecek beberapa barangnya lagi.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang