NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Ketika Kebaikan diJadikan Alasan

Suara langkah kaki pelan di koridor membuatku menoleh dari foto-foto kenangan yang terpajang di dinding ruang kerjaku. Pelayan rumah, Bu Yati, muncul dengan wajah yang sedikit cemas, mengusap tangannya secara tidak sengaja sebelum berbicara.

“Bu Rania, ibu mertua Anda menelepon lagi, Bu,” ucapnya dengan suara pelan. “Dia bilang membutuhkan uang tunai sebesar lima juta rupiah untuk biaya perawatan kesehatan Pak Slamet. Tapi kemarin saja saya melihat Pak Slamet sedang pergi bermain catur dengan teman-temannya di pasar dekat sini, Bu.”

Aku menghela napas perlahan, menutup buku catatan yang ada di mejaku. Kabar seperti ini sudah bukan kali pertama aku dengar. Sejak keluarga Arga mulai tinggal di rumah yang aku belikan—rumah berlantai dua dengan taman luas di daerah elit Bandung—semua kebiasaan mereka yang dulu tidak terlihat mulai muncul dengan jelas. Awalnya, aku berpikir bahwa kebaikan mereka sungguh tulus, namun lama kelamaan, semua itu terbukti hanya menjadi alasannya untuk memanfaatkan kebaikan yang kubagikan.

 

Enam Bulan Setelah Pernikahan

Rumah baru yang aku belikan untuk keluarga Arga berdiri megah di jalan raya yang rindang. Saat itu, ibu ratna dan Pak Slamet masih menunjukkan rasa terima kasih yang tulus setiap kali aku datang mengunjungi mereka. Mereka selalu menyambutku dengan senyum hangat dan hidangan lezat yang mereka masak sendiri.

“Kamu sudah terlalu banyak membantu kita, Rania,” ucap ibu ratna saat itu, sambil menaruh hidangan rendang pada piring ku. “Kita tidak tahu harus bagaimana untuk membalas semua kebaikanmu ini.”

“Apa yang kamu katakan, Bu? Keluarga Arga adalah keluarga ku juga sekarang,” jawabku dengan senyum hangat. “Saya hanya ingin semua orang bisa hidup bahagia dan tidak perlu khawatir tentang apa-apa.”

Namun, sekitar tiga bulan kemudian, perubahan mulai terlihat. ibu ratna mulai sering mengeluhkan sakit badan dan tidak bisa lagi memasak atau membersihkan rumah. Akhirnya, aku menyewa dua orang pembantu rumah untuk membantu mereka mengurus segala keperluan harian. Namun, bahkan dengan adanya pembantu, keluarga Arga tidak pernah mau melakukan pekerjaan apapun. Pak Slamet yang dulu bekerja sebagai petani kini hanya menghabiskan waktu bermain catur atau bertamu dengan teman-temannya, sementara ibu ratna menghabiskan hari-harinya menonton televisi atau pergi berbelanja ke pusat perbelanjaan dengan mobil yang aku sediakan.

Kondisi ini semakin memburuk ketika adik laki-laki Arga, Dika, diterima kuliah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Aku dengan senang hati menyetujui untuk membayar semua biaya kuliahnya, termasuk biaya hidup dan sewa kos di Jakarta. Namun, bukan hanya itu yang mereka minta.

“Rania, Dika bilang dia perlu membeli laptop baru yang sangat mahal untuk keperluan kuliahnya,” ucap ibu ratna melalui telepon pada suatu pagi hari. “Dia juga bilang teman-temannya semua punya mobil sendiri, jadi mungkin kamu bisa belikan dia mobil juga ya? Supaya dia bisa pergi kuliah dengan nyaman.”

Aku terdiam sejenak mendengar permintaannya. Laptop mahal mungkin masih masuk akal untuk keperluan kuliah, namun membeli mobil untuk seorang mahasiswa baru saja masuk semester pertama rasanya terlalu berlebihan. Namun, karena aku tidak ingin menyakiti perasaan mereka, aku akhirnya menyetujuinya dengan catatan bahwa mobil tersebut akan tetap atas nama ku dan hanya boleh digunakan untuk keperluan kuliah.

Namun, perjalanan pulang dari Jakarta beberapa bulan kemudian membuatku menyadari bahwa kata-kataku tidak pernah diperhatikan. Ketika aku datang mengunjungi Dika tanpa pemberitahuan, aku melihat dia sedang mengemudi mobil tersebut bersama sekelompok teman-temannya, tertawa riang sambil berjalan-jalan keliling kota. Mereka bahkan berhenti di sebuah klub malam yang jelas bukan tempat yang cocok untuk seorang mahasiswa.

“Saya pikir mobil ini hanya boleh digunakan untuk keperluan kuliah, Dika,” ucapku dengan nada yang sedikit tegas ketika melihatnya keluar dari mobil.

Dika hanya menggelengkan kepala dengan tidak peduli. “Kak Rania terlalu kaku lah. Saya juga perlu bersenang-senang kan? Selain itu, mobil ini kan milikmu, jadi kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau dengan nya. Tapi sekarang saya yang menggunakannya, jadi saya punya hak untuk menggunakannya sesuai keinginan saya.”

Kata-katanya membuat hatiku terasa sakit. Aku tidak menyangka bahwa bantuan yang kubagikan dengan tulus justru membuat mereka merasa berhak atas segala sesuatu yang kumiliki. Namun, aku masih mencoba untuk memaklumi mereka dengan berpikir bahwa mereka mungkin hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang lebih baik.

Masalah lain yang semakin menggangguku adalah kondisi keuangan rumah tangga ku sendiri dengan Arga. Sejak dia mendirikan perusahaan konsultan manajemen bisnis, aku tidak pernah menerima sepeser pun nafkah darinya. Bahkan ketika aku menanyakannya tentang hal ini, dia hanya memberikan alasan bahwa perusahaan nya masih dalam tahap pengembangan dan belum bisa menghasilkan keuntungan yang cukup besar untuk memberikan nafkah.

“Sayang, kamu tahu kan bahwa perusahaan saya baru saja mulai berkembang,” ucap Arga ketika aku membicarakan hal ini pada suatu malam. “Saya perlu menggunakan semua keuntungan yang ada untuk mengembangkan perusahaan agar bisa lebih besar lagi. Kamu sendiri sudah punya uang yang cukup banyak kan? Jadi tidak perlu khawatir tentang keuangan rumah tangga kita.”

Aku mengangguk dengan terpaksa, meskipun hatiku merasa tidak nyaman dengan alasan yang dia berikan. Aku tidak pernah mengharapkan uang darinya, namun sebagai suami, dia seharusnya memiliki rasa tanggung jawab untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Selain itu, aku juga merasa khawatir karena Arga sering pergi keluar bersama teman-temannya hingga larut malam tanpa memberitahuku terlebih dahulu. Kadang-kadang dia bahkan tidak pulang ke rumah selama beberapa hari, dengan alasan bahwa dia sedang berada di luar kota untuk mengikuti proyek bisnis.

Namun, yang paling membuatku kecewa adalah sikap keluarga Arga yang selalu meminta uang tapi tidak pernah mau bekerja atau berkontribusi sedikit pun untuk kehidupan mereka sendiri. Bahkan ketika aku menyarankan agar mereka membuka usaha kecil yang bisa mereka kelola sendiri, mereka langsung menolaknya dengan berbagai alasan.

“Kita sudah tua untuk bekerja lagi, Rania,” ucap Pak Slamet ketika aku membicarakan ide tersebut. “Kamu sudah cukup kaya untuk bisa memberi makan kita sampai akhir hayat kita kan? Selain itu, kamu sudah menikah dengan anak kita, jadi sudah menjadi kewajibanmu untuk merawat kita.”

Kata-katanya membuatku terkejut dan sedikit marah. Aku tidak pernah berpikir bahwa mereka melihat bantuan yang kubagikan sebagai kewajiban yang harus kuk lakukan. Aku mencoba untuk menjelaskan bahwa penting bagi setiap orang untuk memiliki rasa mandiri dan kemampuan untuk berdiri sendiri, namun mereka tidak mau mendengarkan dan hanya menganggap bahwa aku sedang tidak suka membantu mereka lagi.

Keadaan ini semakin memburuk ketika kakak perempuan Arga, Sinta, yang sudah menikah dan memiliki dua anak, datang mengunjungi kita dengan membawa seluruh keluarganya. Dia mengatakan bahwa dia dan suaminya mengalami kesulitan ekonomi dan tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Tanpa meminta izinku terlebih dahulu, ibu ratna langsung mengundangnya untuk tinggal bersama kita di rumah yang aku belikan.

“Rania pasti tidak keberatan kan?” ucap ibu ratna dengan senyum yang membuatku merasa tidak nyaman. “Sinta adalah kakak perempuan Arga, jadi kita harus membantu dia dan keluarganya. Rumah ini cukup besar untuk semua orang.”

Aku tidak punya pilihan lain selain menyetujui permintaannya. Namun, tinggal bersama dengan keluarga besar yang tidak mau bekerja dan hanya mengandalkan bantuan orang lain membuat hidup ku semakin sulit. Mereka selalu meminta uang untuk berbagai keperluan, mulai dari biaya sekolah anak-anak hingga biaya perawatan kesehatan yang tidak jelas kebenarannya. Bahkan untuk membersihkan rumah atau membantu pembantu melakukan pekerjaan rumah tangga sekalipun mereka tidak mau melakukannya.

“Saya bukan pembantu yang harus melakukan semua pekerjaan ini,” ucap Sinta ketika aku menyuruhnya membantu membersihkan kamar anak-anaknya yang sangat berantakan. “Kamu sudah menyewa pembantu untuk mengurus semua hal ini kan? Jadi saya tidak perlu repot-repot melakukan pekerjaan yang sudah seharusnya dilakukan oleh orang lain.”

Aku merasa sangat kecewa dengan sikap mereka semua. Aku tidak pernah menyangka bahwa kebaikan yang kubagikan dengan tulus justru membuat mereka menjadi keluarga yang hanya bisa bergantung pada orang lain dan tidak mau bekerja keras untuk meraih kesuksesan mereka sendiri. Bahkan Arga sendiri tidak pernah mau mengatakan apa-apa atau membantu mengatasi masalah ini. Dia hanya mengatakan bahwa aku harus lebih sabar dan memahami kondisi keluarga nya yang dulu hidup dalam kesusahan.

“Mereka sudah terbiasa hidup dalam kesusahan selama ini, sayang,” ucap Arga ketika aku membicarakan hal ini dengannya. “Jadi mereka perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang lebih baik. Kamu hanya perlu lebih sabar dan terus membantu mereka seperti yang kamu lakukan selama ini.”

Namun, kesabaran ku akhirnya habis ketika aku menemukan bahwa uang yang aku berikan untuk biaya perawatan kesehatan Pak Slamet justru digunakan untuk membeli perhiasan mahal bagi ibu ratna dan uang untuk biaya kuliah Dika digunakan untuk pergi liburan ke luar negeri bersama teman-temannya. Aku merasa sangat sakit hati dan merasa bahwa kepercayaan ku telah dikhianati oleh orang-orang yang paling aku cintai.

“Saya tidak bisa melakukan ini lagi,” ucapku dengan suara yang tegas ketika berkumpul bersama keluarga Arga di ruang tamu rumah itu. “Saya sudah membantu kalian dengan sepenuh hati dan memberikan semua yang kalian butuhkan, namun kalian hanya menggunakan kebaikan saya untuk kepentingan diri sendiri. Saya tidak akan lagi memberikan uang atau bantuan apapun kecuali kalian bersedia untuk bekerja dan berkontribusi pada kehidupan kalian sendiri.”

Kata-kataku membuat mereka terkejut dan marah. ibu Ratna bahkan menangis dan mengatakan bahwa aku telah berubah menjadi orang yang tidak peduli dengan keluarga nya. Namun, aku sudah tidak bisa lagi menerima alasan-alasan mereka yang selalu sama setiap kali mereka ingin meminta bantuan. Aku tahu bahwa keputusan yang aku buat adalah keputusan yang benar, meskipun itu akan membuatku harus menghadapi banyak tantangan dan kesusahan di masa depan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!