💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Tanpa menunggu lama, Aksa langsung berbalik arah. Ia meninggalkan keriuhan kantin dengan langkah cepat dan tegas. Tujuannya hanya satu: Koperasi Sekolah. Ia tidak peduli dengan tatapan orang lain, yang ada di pikirannya hanyalah bayangan Cia yang basah kuyup dan pasti butuh baju ganti.
Sesampainya di koperasi, Aksa langsung menuju rak seragam wanita. Dengan sigap, ia mengambil dua stel seragam lengkap. Satu untuk Cia, dan satu lagi untuk Senja yang juga menjadi korban. Ia membayarnya dengan terburu-buru, lalu segera berjalan menuju area kamar mandi wanita.
Ini pertama kalinya Aksa melangkah mendekati area yang biasanya dilarang bagi kaum pria. Ia berdiri di depan pintu, memegang dua kantong plastik di tangannya, wajahnya tetap datar namun matanya memancarkan ketegasan. Beberapa siswi yang lewat sempat terkejut dan menatapnya heran, namun Aksa mengabaikan semuanya.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka sedikit. Cia muncul dari balik daun pintu, hanya menampakkan sebagian wajahnya sambil mengintip. Begitu melihat Aksa, ia terkejut.
Tanpa banyak bicara, Aksa langsung menyodorkan kedua kantong plastik itu ke arah Cia. "Ini. Ganti baju. Jangan sampai sakit," ucapnya singkat, namun nada suaranya penuh perhatian yang tulus.
Cia menerima kantong itu dengan jantung berdebar melihat kepedulian Aksa yang begitu cepat. "Ma ... makasih, Aksa," gumamnya pelan sebelum kembali masuk ke dalam.
Baru saja Cia kembali menutup pintu, suara langkah kaki yang tenang namun berwibawa terdengar mendekat. Vano dan Varo muncul di hadapan Aksa. Mereka juga membawa dua kantong plastik seragam yang sama persis.
Aksa menatap mereka dengan alis terangkat, sementara Vano hanya mengangguk singkat sebagai sapaan. Varo berdiri diam di samping kakaknya, tatapannya tetap dingin namun waspada, seolah siap menghadapi siapa saja yang berani mengganggu.
Di dalam kamar mandi, Cia melihat seragam yang dibawa Aksa, lalu mendengar suara Vano dan Varo di luar. Ia menjadi bingung. Ternyata kakak-kakaknya juga memikirkan hal yang sama. Perasaannya campur aduk antara terharu dan merasa tidak enak hati.
Akhirnya, ia memutuskan. Dengan hati-hati, ia mengambil seragam yang dibeli Aksa untuk dirinya, dan memberikan salah satu stel dari kantong Vano kepada Senja.
"Lo pake yang ini ya," kata Cia pada Senja. Senja hanya mengangguk patuh, matanya berbinar melihat seragam baru itu.
Cia mengenakan seragam yang dibeli Aksa. Saat ia menatap pantulannya di cermin, ia tak sengaja tersenyum. Seragam itu terlihat sangat pas di tubuhnya, seolah-olah Aksa benar-benar memperhatikan ukurannya dengan teliti.
"Ternyata bagus juga pilihannya ..." gumamnya pelan, pipinya sedikit merona. Ia merapikan kerah baju dengan rapi, merasa lebih nyaman.
Setelah keduanya siap, Cia dan Senja membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar.
Pemandangan di luar membuat Senja tertegun, dan juga membuat para siswi di sekitarnya salah tingkah. Tiga pria paling populer dan tampan di sekolah itu, Aksa, Vano dan Varo, sedang berdiri tegak di depan pintu, menunggu dengan sabar. Itu adalah pemandangan yang sangat langka dan hampir mustahil terjadi, membuat beberapa siswi berbisik-bisik dan memotret diam-diam.
Namun, suasana hangat itu tiba-tiba terganggu. Dari arah koridor yang berlawanan, munculah Viona dan gengnya. Mereka juga tampak hendak menuju kamar mandi, untuk membersihkan sisa jus alpukat yang masih menempel dan ingin memperbaiki penampilan yang berantakan.
Langkah Viona terhenti mendadak saat melihat pemandangan di depannya. Matanya membelalak, lalu menyipit penuh kebencian. Di sana, Cia, gadis yang baru saja ia remehkan kini berdiri dengan penampilan yang segar, rapi, dan terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Dan yang paling membuat darah Viona mendidih, Cia dikelilingi oleh tiga cowok paling idaman di sekolah: Aksa yang menatap Cia dengan senyum tipis, serta Vano dan Varo yang berdiri gagah bak pengawal setia.
Rasa iri dan dendam bercampur menjadi satu di dada Viona, membakar hatinya hingga ke ubun-ubun. Bagaimana bisa Cia, yang baru saja dipermalukannya, justru terlihat seperti seorang putri yang dijaga oleh ksatria-ksatria tampan? Sementara dirinya, masih terlihat berantakan dan menjadi bahan tertawaan.
"Cih ..." desis Viona pelan, tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Wajahnya memerah padam, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang tak tertahan. Salah satu temannya mencoba menarik lengan Viona, namun ia menepisnya kasar.
Cia menyadari kehadiran Viona. Ia tidak menunduk atau takut, melainkan menatap Viona dengan tatapan dingin dan tenang, seolah mengatakan bahwa permainan belum berakhir. Aksa, Vano, dan Varo seketika mengubah tatapan mereka menjadi tajam dan mengintimidasi, menatap Viona seolah memberi peringatan keras. Jangan berani-berani mengganggunya lagi.
Viona merasa terhimpit oleh aura dingin ketiga pemuda itu. Ia ingin membalas, ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa tercekat. Dengan langkah berat dan penuh kebencian, ia mendorong pintu kamar mandi kasar dan masuk diikuti gengnya, membanting pintu dengan keras sebagai tanda kekesalan.
Cia dan Senja berjalan mendekati ketiga pemuda itu, mengabaikan ledakan emosi Viona. "Makasih banyak ya, kalian semua," ucap Cia tulus, disusul oleh Senja yang juga mengucapkan terima kasih dengan nada malu-malu namun bersyukur.
Aksa hanya mengangguk pelan, seulas senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Cia tampak segar kembali. Vano dan Varo juga mengangguk singkat.
Cia menyerahkan dua set seragam yang tidak terpakai, termasuk, kepada Senja. "Ini, lo ambil aja semua. Lumayan buat ganti-ganti," katanya santai.
Mata Senja langsung berbinar-binar. Selama ini, ia hanya memiliki satu stel seragam yang harus ia cuci dan pakai bergantian. Dengan senang hati dan penuh rasa syukur, ia menerima tumpukan seragam itu. "Makasih banyak, Cia! Lo emang yang terbaik!" serunya pelan, wajahnya berseri-seri.
Cia hanya mengangguk, lalu mengandeng tangan Senja. Di belakang mereka ada Aksa, Vano dan Varo mengikuti mereka bak bodyguard pribadi yang siap siaga.
Bersambung ....
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,