Gendis merasa jika hidupnya sudah hancur setelah mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan teman semasa sekolah suaminya, dulu.
Gendis yang tidak terima dengan pengkhianatan itu pun akhirnya menggugat cerai Arya. Namun, disaat proses perceraian itu sedang berjalan. Arya baru menyadari jika dia sangatlah mencintai Gendis dan takut kehilangan istrinya itu.
Sehingga, Arya pun berusaha berbagai cara agar Gendis mau memaafkan nya dan kembali rujuk dengan nya.
Sayang, Gendis yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena telah dikhianati pun tetap melanjutkan perceraian itu.
Hingga suatu hari, Gendis pun mendapatkan kabar yang mengejutkan. Dimana, dirinya dinyatakan hamil anak ketiga.
Lalu, apa yang akan Gendis lakukan? Akankah dia tetap melanjutkan perceraian itu? Atau memberikan Arya kesempatan kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22
“Sudah sudah, jangan berdebat lagi. Dis, ayo katanya mau ke panti. Biar pulangnya tidak kemalaman,” ujar Angga, menengahi perdebatan yang terjadi antara Gendis dan juga Nadia.
Mendengar suara bariton Angga, baik Gendis maupun Nadia akhirnya sama sama terdiam. Menghentikan perdebatan mereka tentang kisah masa lalu yang menurut Gendis hal itu tidak perlu dibahas karena terlalu memalukan untuknya.
Gendis, yang merasa topik itu terlalu sensitif dan enggan untuk membahasnya lebih jauh, menghela nafas lega dalam hati. Ia bersyukur karena Angga menghentikan perdebatan itu.
Angga kembali mengingatkan jika tujuan utama keduanya hari ini adalah mengunjungi panti asuhan, dan Angga tidak ingin terlambat datang kesana. Apalagi sampai pulang kemalaman karena perdebatan yang tidak penting antara Gendis dan Nadia.
“Kalian mau ke panti juga?” tanya Nadia.
“Iya, kenapa emangnya? Kamu mau ikut?” tanya balik Gendis.
“Mau banget. Tapi, pekerjaan aku masih menumpuk. Oh, iya. Tadi Gisya juga dari sini,?”
“Loh, Gisya kesini? Untuk apa?”
“Dia beli beberapa Abaya dan juga hijab. Anakmu bilang, dia mau ke panti. Makanya mampir untuk beli baju sekalian ikut ganti di sini,”
“Gisya juga ke panti?”
“Iya. Memangnya, dia tidak ngabarin kamu kalau dia mau kesana?”
“Tidak. Tadi, dia cuma izin mau ketemu sama Papa nya dan belum dapat kabar apa apa lagi. Aku tidak tahu kalau dia pergi ke panti. Apa, dia kesini bersama dengan Papanya?”
“Tidak. Dia kesini hanya sendiri. Mungkin bersama dengan supir, hanya saja. Supirmu tidak ikut masuk,”
“Begitu, ya. Baiklah. Aku izin pakai ruang ganti kamu, ya,”
“Pakailah. Kamu bebas menggunakannya kapanpun kamu mau,”
“Ok. Terima kasih”
“Tunggu sebentar, ya Ga. Aku ganti baju dulu,” lanjut Gendis yang kini beralih kepada Angga yang masih setia menunggu dirinya.
“Eemm. Pergilah. Aku akan menunggumu disini.”
Gendis langsung bergegas pergi salah satu bilik ganti yang tersedia di sana untuk mengganti pakaian nya dengan yang jauh lebih sopan digunakan saat akan berkunjung ke panti Al-Hasan.
Sementara Angga. Menunggu di luar dengan ditemani oleh Nadia.
“Seandainya aku tidak sibuk. Aku ingin sekali dengar ceritamu selama dua puluh tahun ini,” ujar Nadia, mengalihkan perhatian Angga, dari Gendis kini beralih kepadanya.
“Semua nya berjalan normal normal saja. Aku hidup dengan cukup baik. Melanjutkan sekolah sampai S2. Lalu, sekarang terjun ke dunia bisnis yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya,” jawab Angga.
“Lalu, kenapa menghilang? Apa, kami melakukan kesalahan padamu? Sampai kamu harus pergi dan menghilang. Bahkan, tanpa jejak sedikitpun,”
“Bukan seperti itu. Next time, aku pasti jelaskan kenapa aku pergi,”
“kenapa tidak sekarang saja?”
“Ceritanya terlalu panjang dan rumit. Bukankah, tadi kamu bilang kalau kamu sibuk. Waktunya tidak akan cukup, aku juga harus mengantar Gendis sampai ke panti,”
“Oh, iya. Aku lupa. Ya, sudah lain kali kita agendakan lagi untuk ketemu dan kamu harus ceritakan semuanya pada kami, ok?”
“Ok. Tidak masalah. Semua bisa diatur.” jawab Angga, yang masih sama seperti dulu. Pria itu akan selalu meluangkan waktu untuk ketiga sahabatnya.
*
*
Di panti.
“Assalamualaikum.”
Suara bariton dari seseorang berhasil membangunkan lamunan Gisya yang tengah duduk di halaman belakang pondok. Menatap kosong kolam ikan yang ada di hadapan nya.
Kolam yang berisi puluhan ikan hias yang menjadi penghuni kolam tersebut seolah menghipnotis Gisya hingga gadis tersebut asik melamun disana.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Maaf, siapa, ya?” tanya Gisya, setelah menjawab salam dan menatap penuh tanya ke arah seorang pemuda yang datang menghampirinya.
“Maaf, kalau saya tidak sopan. Perkenalkan, saya Imran. Saya, salah satu pengajar di sini. Apa, saudari pengajar baru yang kemarin dibahas oleh Nyai Ainun?” tanya nya ragu ragu.
“Bukan. Saya ini masih siswi SMP, Kak. Mana mungkin saya jadi pengajar, sedangkan saya sendiri masih butuh di ajari.” jawab Gisya, membuat Imran menatap penuh tanya.
Pasalnya, dari segi fisik. Rasanya sulit dipercaya jika gadis yang sedang duduk di gazebo yang ada di hadapan nya masih berstatus siswi Sekolah Menengah Pertama. Tubuh gadis itu terlalu tinggi untuk ukuran siswi SMP.
“Kenapa? Kakak tidak percaya kalau aku ini masih siswi SMP? Mau ku perlihatkan kartu pelajarku?” lanjut Gisya, saat melihat keraguan dari sorot mata Imran.
“Tidak usah. Maaf kalau saya sudah membuat saudari tidak nyaman,”
“Tidak apa apa. Saya Gisya, atau panggil saja Syasa. Jangan panggil saudari, rasanya terlalu aneh jika dipanggil seperti itu,”
“Memangnya boleh kalau saya memanggil saudari dengan sebutan nama?”
“Memangnya siapa yang melarang? Kakak mau panggil kamu, juga boleh kok. Kan, aku usianya lebih muda dari Kakak. Jadi, tidak masalah,”
“Baiklah kalau begitu. Tapi, kalau Dek Syasa buka pengajar disini. Lalu, ada kepentingan apa Dek Syasa datang kesini?”
“Kakak pasti orang baru, ya. Jadi, nggak kenal sama aku?”
“Tidak juga. Saya sudah satu tahun tinggal dan menjadi pengajar disini dan selama saya tinggal. Saya sama sekali belum pernah melihat Dek Syasa disini”
“Aku ini muridnya Nyai Ainun, Kak. Hanya saja, sudah satu tahun ini aku berhenti mengaji. Selain karena sudah khatam, aku juga lagi sibuk persiapan untuk masuk SMA. Makanya, aku jarang kesini karena benar benar belum ada waktu luang,”
“Imran, ayo. Sudah waktunya mengajar.”
Seketika, obrolan antar kedua muda mudi itu terjeda oleh panggilan seseorang yang memanggil Imran.
“Saya sudah harus pergi. Kalau begitu saya izin pamit, ya. Assalamualaikum,”
“Iya, Kak. Silahkan. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
Gisya pun kembali sendirian. Kembali sibuk dengan lamunan nya. Hari sudah semakin sore. Namun, rasanya enggan sekali meninggalkan tempat itu.
Suasana yang damai dan tenang, membuat Gisya betah berada di sana. Apalagi disaat hatinya sedang kacau seperti saat ini. Tempat itu adalah tempat yang tepat untuk melarikan diri sejenak dari kemelut kehidupan yang sedang dia hadapi.
*
*
“Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga,” ujar Gendis, saat mobil yang dibawa oleh Angga di halaman panti asuhan Al-Hasan.
“Wah, tempat ini sudah mengalami banyak perubahan, ya. Dulu, panti ini hanya sebuah rumah sederhana. Kini, sudah menjelma menjadi bangunan yang besar,” sambung Angga, menatap kagum gedung panti asuhan yang dulunya hanya sebuah rumah biasa dan kini, sudah menjelma menjadi bangunan yang besar.
“Semua berkat para donatur yang bergotong royong merenovasi bangunan ini karena semakin kesini. Semakin banyak anak anak terlantar yang di titipkan di sini. Bukan hanya dari donatur, para anak anak yang dulu diasuh disini, yang sudah sukses dengan pekerjaannya juga rutin membantu. Makanya sekarang panti ini jadi semakin besar. Bahkan, bukan hanya panti asuhan saja. Nyai Ainun juga kini sudah berhasil mendirikan sebuah pondok pesantren,” jelas Gendis.
“Jadi, gedung gedung ini bukan hanya untuk anak anak terlantar tapi untuk anak anak yang menimba ilmu juga?”
“Iya. Jadi, sekarang anak anak yang dititip di panti tidak harus sekolah keluar. Karena dulu, banyak sekali anak anak di sini jadi korban perundungan. Makanya, dari situ, Nyai Ainun pun berusaha mendirikan sebuah pondok pesantren agar anak anak panti juga bisa sekolah dengan layak tanpa rasa malu hanya karena mereka anak anak yang kurang beruntung.”
btw..emng intan ada ya waktu arya ketemu sama angga?🤔
diperhatikam baik" arya...calonnya istrimu.😏
kemarin selingkuj dibilang salah paham..jenuh dibilang khilaf pdh emng doyan sama sharon..disini lagi dibilang terhasut..terlalu banyak alasan.
dibilangbyg masuk akal.utu MARUK doang dan gak cinta lagi sama istrinya.
lalu.menurutmu arya gak bosan dengan perhatian sahron? spek bidadari istrinya aja bosan.
trus arya gak bosan kehidpan perselingkuhannya tanpa bercinta sama sharon? emngnya yg mana sebenarnya yg bisa membuat arya bosan?....
gak usah pake alasan jenuh bosan dengan kehidupan rumah tangga segala...dihasut segala. jawabannya udah ada..MARUK. ARYA GAK CUKUP SATU WANITA. ITU ALASAN MASUK AKAL DALAM CERITANYA. JANGAN TERLALU BANYAK ALASAN DAN BERDALIH. GW GAK LIAT ITU DISETIAP JALAN CERITANYA.