Gendis merasa jika hidupnya sudah hancur setelah mengetahui jika suaminya berselingkuh dengan teman semasa sekolah suaminya, dulu.
Gendis yang tidak terima dengan pengkhianatan itu pun akhirnya menggugat cerai Arya. Namun, disaat proses perceraian itu sedang berjalan. Arya baru menyadari jika dia sangatlah mencintai Gendis dan takut kehilangan istrinya itu.
Sehingga, Arya pun berusaha berbagai cara agar Gendis mau memaafkan nya dan kembali rujuk dengan nya.
Sayang, Gendis yang terlanjur kecewa dan sakit hati karena telah dikhianati pun tetap melanjutkan perceraian itu.
Hingga suatu hari, Gendis pun mendapatkan kabar yang mengejutkan. Dimana, dirinya dinyatakan hamil anak ketiga.
Lalu, apa yang akan Gendis lakukan? Akankah dia tetap melanjutkan perceraian itu? Atau memberikan Arya kesempatan kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28
“Mas, tahu. Kalau saat ini, kamu masih enggan bersama dengan Mas. Mas juga tahu, kalau saat ini, kamu masih sangat membenci Mas. Tapi, untuk kali ini saja. Mas mohon, tolong ikut pulang ke rumah. Kita butuh bicara, Gendis. Apapun keputusanmu nanti, akan Mas terima. Yang penting, tolong dengarkan dulu penjelasan Mas,” lanjut Arya, penuh dengan permohonan. Saat melihat Gendis hanya terdiam. Tidak merespon ucapan nya.
Melihat permohonan Arya yang terlihat sangat tulus. Gendis, yang sejak tadi hanya membisu, menatap Arya dengan sorot mata yang sulit dibaca. Di sana tersembunyi guratan luka yang belum sembuh, bercampur dengan kelelahan yang mendalam.
Sebulan sudah ia menjauh, mencari ruang untuk sekadar bernapas dari badai yang menghantam rumah tangga mereka. Ada keraguan yang besar di hatinya, sebuah tembok tebal yang dibangun oleh rasa sakit dan kekecewaan. Namun, di balik tembok itu, terselip setitik rasa ingin tahu, alasan dibalik permasalah yang mereka hadapi.
Akhirnya dengan hela nafas yang hampir tak terdengar. Gendis pun bersuara, menjawab permintaan dari Arya.
"Baiklah." jawab Gendis akhirnya, mengalah.
Seketika, raut wajah Arya berubah. Beban berat seolah terangkat dari pundaknya. Senyum tipis merekah di bibirnya saat Gendis bersedia untuk ikut pulang bersama dengannya.
Dengan mata yang berbinar, Arya pun bergegas pergi ke bagian administrasi untuk menyelesaikan urusan nya disana. Agar bisa segera membawa Gendis pulang ke rumah.
“Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Mas akan selesaikan administrasinya dulu. Setelah itu kita pulang.”
Tanpa menunggu jawaban dari Gendis, Arya pun langsung bergegas keluar dari ruangan untuk pergi ke bagian administrasi.
Sementara Gendis, hanya bisa terdiam, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh. Lalu, menghilang di balik pintu.
Helaan nafas panjang terhembus dari bibir Gendis, sebelum akhirnya dia bangkit dari duduknya dan segera merapikan diri, bersiap untuk pulang ke rumahnya dengan suaminya, Arya.
Rumah? Iya, rumah yang dulu adalah tempat ternyaman untuk Gendis, kini sudah tidak lagi. Setelah ditempat itu, Gendis mendapati suaminya yang sedang berpelukan dengan wanita lain.
Kini, setiap mendengar kata ‘Rumah’. Ada rasa sakit yang terselip dalam hati. Meski begitu, Gendis tidak bisa terus keras kepala. Ada banyak hal yang harus keduanya bicarakan. Mungkin, dengan pulang nya Gendis ke rumah. Akan memberikan jalan keluar untuk permasalahan yang sedang mereka hadapi saat ini.
*
*
Usai menyelesaikan urusan administrasi, Arya pun langsung kembali ke ruangan rawat inap Gendis. Disana, ternyata Gendis pun sudah siap untuk pergi.
“Sudah siap?” tanyanya, saat melihat Gendis sudah duduk di sofa, menunggu dirinya.
“Iya.” jawab Gendis, singkat.
Dengan senyum tipis yang terukir di wajah tampannya. Arya mencoba memaklumi sikap Gendis yang terasa masih kaku saat berinteraksi dengan nya.
Toh semua ini terjadi karena kesalahannya. Seandainya saja dia tidak tergoda oleh Sharon. Mungkin kecanggungan dan kekikukan ini tidak akan pernah ada diantara mereka.
“Kalau begitu, ayo.”
Tanpa menimpali lagi ucapan Arya, Gendis berjalan lebih dulu. Keluar dari ruangan itu. Saat mereka berjalan berdampingan menuju ke luar area rumah sakit. Keduanya tampak terdiam, tak ada percakapan, tak ada sentuhan. Hanya suara langkah kaki mereka yang sesekali beradu dengan lantai ubin rumah sakit, yang jadi pengiring langkah keduanya.
Gendis menatap lurus ke depan, berusaha mengabaikan kehadiran Arya di sisinya. Namun, aroma maskulin yang samar tercium tetap masuk ke indra penciumannya. Mengingatkan Gendis pada masa-masa indah bersama pria itu, yang kini terasa begitu jauh.
Di luar, seorang pria berjas rapi berdiri di samping mobil hitam mengkilap. Sandi. Wajahnya tersenyum ramah dan sopan saat menyambut kedatangan Arya dan juga Gendis. Ia membukakan pintu belakang untuk Gendis dan juga Arya, tentunya.
Gendis mengucapkan terima kasih pelan dan masuk ke dalam mobil. Arya duduk di sampingnya. Keheningan kembali memerangkap mereka di dalam ruang sempit mobil. Gendis memandang keluar jendela, memperhatikan hiruk pikuk jalanan Ibu kota.
Pikirannya berkecamuk. Kabar kehamilan ketiganya menyelipkan rasa bahagia di tengah rasa yang berkecamuk dalam hati karena kemelut rumah tangga yang sedang dia hadapi.
Akan tetapi, mampukah kehadiran calon bayi ini bisa menjadi perekat hubungannya bersama dengan Arya yang sudah merenggang? Atau justru, ia akan menjadi saksi bisu kehancuran sebuah keluarga?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di benaknya, tanpa ada jawaban yang pasti. Yang ia tahu, saat ini, hatinya masih terasa sakit atas pengkhianatan yang suaminya lakukan.
plin plan bgt JD bos nga tegas sama anak buah
setelah kepergok maka dimulailah ketidak tenangan, dan ujung ujungnya mengaku khilaf, coba nga ketahuan beh serasa diri pasangan selingkuh paling bahagia 👻👻👻👻👻👻