Kehidupan yang semula diharapkan bisa mendatangkan kebahagiaan, rupanya merupakan neraka bagi wanita bernama Utari. Dia merasakan Nikah yang tak indah karena salah memilih pasangan. Lalu apakah Utari akan mendapatkan kebahagiaan yang dia impikan? Bagaimana kisah Utari selanjutnya? simak kisahnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersentuh
"Mama ada-ada aja." Wajah Utari langsung memerah mendengar kata mama Sukma. "Ma, Tari naik dulu ya."
Utari segera meninggalkan mama Sukma. Takutnya semakin lama berbicara semakin melantur jadinya. Meski keluarga Bian sama sekali tidak keberatan dengan status Janda yang disandangnya, tetapi Utari sedikit malu membicarakan hal seserius ini dengan mama Sukma.
Setibanya di depan kamar Nisa, Utari melihat dari celah pintu kamar, Bian sedang membantu Nisa melepas sepatunya. Utari melipat bibirnya dan tertegun menatap betapa lembutnya Bian memperlakukan Nisa.
Matanya sedikit memanas. Bagaimana pun juga selama ini dia dan Nisa selalu saja mendapat perlakuan kasar dari Akmal. Namun, setelah bertemu Bian, ia merasa Bian selalu memperlakukan dirinya dan Nisa dengan sangat baik.
"Tari."
Utari tersentak kaget ketika Bian tiba-tiba saja berdiri di depannya dan menatapnya dengan penasaran.
"Eh, Bi."
"Kamu mikir apa? Kenapa justru melamun?" Bian menyentuh bahu Utari, Utari tersenyum tiis dan menggeleng.
"Ga mikir apa-apa. Aku ke kamar dulu, ya. Mau istirahat."
Utari segera berbalik dan meninggalkan Bian seorang diri. Bian menghela napas panjang.
Bian turun, tetapi tidak mendapati ibunya. Bian pun melirik jam tangannya dan baru sadar kalau ini sudah sangat larut.
Saat Bian hendak berbalik, dia mendengar suara pintu dibuka, Bian pun urung pergi. Ia yakin kakaknya juga baru pulang dari kantor.
"Lembur, Bang?"
"Iya, Bi. Sekalian tadi aku lihat pria brengs*k itu."
"Oh, udah dibungkus ya?"
"Hmm, ya. Tadi sekalian sedikit menyapa saja," kata Dewa santai sembari melepas dua kancing atas kemejanya. Bian menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Siapa yang tidak tahu arti sapaan yang dimaksudkan Dewa. Itu berarti ia sudah memberi sapaan salam olahraga pada Akmal, alias dipukuli.
"Papa udah pulang?" tanya Dewa, sembari terus berjalan. Bian berjalan di belakang Dewa seperti pelayan yang siap menunggu perintah.
"Udah dari sore."
Dewa mengajak Bian masuk ke ruang kerja. Mereka berdua bicara tentang bisnis dan Akmal.
Hari hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa Utari sudah mulai bisa memahami pekerjaan di perusahaan papanya. Di sela kesibukannya, Ia melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan yang berhubungan dengan bisnis.
Utari begitu sibuk sampai lupa dengan masa lalunya. Dia sibuk menata masa depan untuk Nisa. Bahkan Bian juga hanya mendapat sedikit waktunya dan itu membuat Bian merasa tertekan.
"Pah, kok Utari sekarang lebih sibuk dari aku?" Bian protes saat makan. Utari yang sedang membantu Nisa memisahkan duri ikan, seketika mengangkat kepalanya. Wajahnya sedikit menunjukkan rona malu.
"Ya, ampun, Bi. Nisa aja yang sering ditinggal Tari ga pernah protes, loh," mama Wulan mendelik lucu melihat putra bungsunya mengajukan keberatan pada papa Tama.
"Ya kan beda, Ma."
Utari hanya diam sambil menunduk. Dia tidak berkomentar karena malu. Papa Tama melirik Utari sekilas.
Melihat suasana hati Utari cukup baik, dia pun bicara, "Tari, nanti kamu ikut papa ke ruang kerja. Bian juga."
Papa Tama meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, ia mengelap sudut mulutnya dan lalu berdiri. Utari mengangguk, dia berbicara sebentar dengan Nisa dan lalu menitipkan Nisa pada pengasuhnya.
"Mbak Nana, tolong jaga Nisa, ya nanti di sekolah."
"Iya, Mbak Tari."
Utari dan Bian segera menyusul papa Tama. Selama berjalan menuju ruang kerja papa Tama, Utari tidak berani bicara pada Bian.
"Kamu kok diam aja, Tari?"