Selama 2 tahun menjalin mahligai rumah tangga, tidak sekali pun Meilany mengucapkan kata 'tidak' dan 'tidak mau' pada suaminya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang isteri yang sholehah dan dapat membawanya masuk surga, seperti kata bundanya.
Meski jiwanya berontak, tapi Mei berusaha untuk menahan diri, sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan lagi ketika suaminya meminta izinnya untuk menikah lagi.
Permintaan itu tidak membuat Mei marah. Ia sudah tidak bisa marah lagi ketika sudah kehilangan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tinggal di tempat yang sama dengan suaminya dan memilih pergi.
Selama 7 tahun Mei memendam perasaan marah, sampai pada suatu ketika ia menemukan kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang sebenarnya ada di depan matanya selama ini, tapi tidak bisa ia lihat.
Bisakah Mei memperbaiki semuanya?
*Spin off dari "I Love You, Pak! Tapi Aku Takut..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Mengulang
Pagi ini saat baru keluar dari kamar mandi, Aslan langsung bertatapan dengan mata isterinya yang sipit, yang memandangnya dari seberang ruangan. Tampak wanita itu tertegun, dengan mulut terbuka.
Ia baru sadar, saat mata isterinya perlahan bergerak menelusuri tubuhnya dari atas ke bawah.
Merasa tidak percaya diri, Aslan sedikit menutupi tubuh atasnya yang terbuka. Tangan lainnya ia gunakan mencengkeram handuk besar yang melilit pinggangnya. Entah kenapa, tapi ia merasa malu pada isterinya sendiri. Padahal dulu, ia santai saja kalau Mei memelototi tubuhnya yang berlemak di sana-sini. Kadang, isterinya juga mencubiti lebihan daging di pinggang dan d*danya dengan gemas.
Berusaha mengenyahkan bayangan yang masih membuat hatinya sakit itu, Aslan berdehem pelan.
"Mas mau ambil baju di kamar."
Mulut Mei langsung menutup. Tampak wanita itu mengerjapkan matanya cepat.
"Sudah Mei siapin di tempat tidur. Mas tinggal make."
Pemberitahuan itu membuat nafas Aslan sedikit cepat. Kembali ia merasakan, ada sesuatu yang terasa sejuk dan terobati di dalam hatinya. Jantungnya mulai berdebar.
"Ehm. Makasih, Mei."
"Sama-sama."
Saat Aslan melirik Mei, wanita itu masih tidak menatapnya. Kedua tangannya terlihat sibuk menata makanan di meja dan kepalanya menunduk. Ia pun segera masuk ke kamar dan menutup rapat pintunya.
Ketika keluar lagi, Mei telah duduk di kursinya dan tersenyum.
"Duduk mas, kita sarapan dulu sebelum mas berangkat ngantor."
Selama beberapa saat keduanya makan dengan tenang. Aslan baru selesai menyuapkan sendok terakhirnya, ketika terdengar suara isterinya yang bertanya hati-hati.
"Mas Aslan yakin akan masuk hari ini? Bukannya Mei ngelarang, tapi pak Hagen kemarin katanya akan bilang ke pak Herman, mas Aslan cuti beberapa hari... Kalau mas ngerasa belum sehat..."
"Mas sudah sehat, Mei. Istirahat 3 hari di rumah sudah cukup buat mas. Mas akan kerja hari ini."
Keheningan terjadi di ruang makan itu.
Pria itu melanjutkan dengan lembut, "Dua bulan lagi, pak Ilyas rencananya akan mengadakan outing untuk para karyawan dan dia minta mas mengurus untuk budget-nya. Meski bukan kegiatan yang terlalu penting, tapi cukup penting bagi para direksi di TJ Corp., Mei. Mas ga mau mengecewakan mereka..."
Penjelasan itu membuat kepala Mei terangkat. Ini adalah pertama kalinya suaminya menjelaskan sesuatu dengan panjang lebar, mencoba membuatnya untuk paham dan mengerti.
Ragu-ragu, tangan Aslan terulur ke tangan isterinya di meja dan mer*masnya lembut.
"Kamu ga perlu khawatir. Mas bener-bener sudah sembuh. Kalau pun nanti mas sakit, pasti mas akan telpon kamu buat jemput mas. Oke?"
Pandangan Mei tertunduk dan ia menatap tautan tangan mereka di meja. Sorot matanya mengandung emosi campur aduk saat menyadari, pria itu sudah mau menyentuhnya duluan.
Menyadari pandangan isterinya, Aslan buru-buru menarik tangannya. Sepertinya lupa, kalau ia masih marah.
"Ehm. Kalau gitu, mas berangkat dulu."
Refleks, Mei menarik tangan suaminya kembali dan pria itu tidak menolaknya.
"Mei belum punya nomor mas Aslan."
Suasana hening kembali saat lelaki itu hanya menatap isterinya. Suara beratnya terdengar serak, "Mas sama sekali belum ganti nomor, Mei. Nomor mas masih sama seperti dulu."
Ada sesuatu yang terasa tertusuk di hati Mei, membuat kepalanya menunduk.
"Maaf mas. Mei sudah membuang nomor lama Mei. Semua data di nomor itu sama sekali ga Mei back up."
Pengakuan itu memunculkan kilasan kecewa dan juga sedih di mata cokelat terang Aslan, tapi pria itu hanya diam dan mengulurkan ponselnya.
"Masukin saja nomor barumu sendiri. Password-nya masih sama."
Segera, Mei memasukkan nomornya ke ponsel suaminya. Jantungnya berdebar, saat ia memasukkan nama yang sama sekali berbeda dari yang pernah ia ketik sebelumnya. Pipinya sedikit merona malu.
Ia baru akan mengembalikannya, saat melihat pria itu sudah berdiri dan berkutat dengan dasinya.
Senyuman Mei perlahan mengembang penuh haru. Dulu, ia sering membantu suaminya memakai dasinya. Meski Aslan cukup lihai memakainya sendiri, tapi kadang dasi itu terlihat miring dan tidak presisi di matanya.
"Biar Mei bantu mas."
Keduanya berdiri berhadapan, dan tangan Mei terulur ke arah suaminya. Dengan telaten, ia mengikat benda tipis panjang itu dan mengatur kerah Aslan agar rapih. Tampak matanya tertuju ke leher pria itu yang kini tampak lebih jenjang dan jauh lebih... memikat?
Hampir saja jari-jari Mei menyentuh jakun Aslan yang terlihat naik-turun, saat tiba-tiba teringat jarak yang sedang dibuat suaminya. Tidak mau mengambil resiko terlalu cepat, ia segera menarik tangannya.
"Sudah mas. Sudah rapih."
Belum mendengar jawaban dari arah pria yang memiliki tinggi jauh di atasnya, kepala Mei mendongak.
"Mas?"
Mata Aslan ternyata sedang menatapnya. Kedua mata itu terlihat memerah dan sedikit berkaca-kaca. Hal yang tersorot di sana adalah berbagai perasaan, yang tidak mampu diucapkan pria itu pada isterinya.
Mulai merasakan yang dirasakan suaminya, Mei menelan ludahnya sulit. Kepalanya kembali menunduk. Ia tahu. Ia sangat tahu kalau pria itu sedang mengingat kebiasaan yang sering mereka lakukan ini tahunan yang lalu. Ia juga sangat tahu, suaminya sedang teringat memori ketika ia meninggalkannya dulu.
Mata Mei mulai berair, dan ia menatap kedua tangan suaminya yang ada di sisi tubuhnya.
"Mas? Boleh Mei cium tangan mas Aslan?"
Permintaan itu baru pertama kali Mei ucapkan selama mereka menikah. Meski sejak dulu ingin dilakukannya, tapi ia tidak berani memintanya. Saat itu, ia merasa hubungannya dengan Aslan cukup kaku dan berjarak. Seperti hubungan atasan-bawahan atau rekan kerja. Barulah sekitar 2 bulan sebelum akhirnya ia pergi, ia merasa jarak itu mulai terkikis tapi semuanya terlalu terlambat. Hatinya sudah sangat sakit ketika itu.
Tadinya Mei tidak berharap Aslan akan mau mengabulkannya, tapi pria itu mengangkat tangan kanannya.
Suara berat suaminya terdengar sangat serak dan penuh muatan emosi, "Boleh..."
Memegang telapak pria itu dengan kedua tangannya, Mei sedikit mengusapnya. Perlahan, ia menunduk dan mencium punggung tangan suaminya penuh dengan perasaan.
Ia melepas tangan pria itu dan mendongak lagi. Kali ini bibirnya tersenyum dan matanya penuh haru.
"Terima kasih mas."
Tampak sorot pria itu yang sedikit ragu, sebelum akhirnya menunduk dan memberi kecupan di dahi isterinya.
"Mas ke kantor dulu."
"Hati-hati di jalan mas."
Seperti mantra, kata-kata itu membuat luka di hati Aslan kini benar-benar menutup sempurna. ia merasakan kesakitan dan kesedihan yang dirasakan selama ini menguap begitu saja. Seperti kata pepatah, cinta itu buta. Hanya dengan kata-kata manis, cinta bisa membutakan mata seseorang.
Tapi saat menatap wajah isterinya yang cantik dan sedang tersenyum, Aslan tidak tahu, apakah otaknya yang penuh dengan logika dan sangat rasional, bisa menerima perubahan wanita itu.
Ia memang memaafkan isterinya karena sangat mencintainya, tapi apakah ia akan mau menerima seseorang yang pernah meninggalkannya dulu? Aslan belum tahu jawabannya.
Pria itu masih belum tahu jawabannya. Tapi yang ia tahu, ia masih belum bisa mempercayai wanita itu lagi.
Hal itulah yang membuat rautnya kembali dingin saat memandang isterinya.
"Kunci pintunya waktu kamu pergi."
Siapa pun yang mendengar bisa menangkap, ada banyak makna yang terkandung dalam kata-kata pria itu.
meican Ama aslan gak terpisah
bibit bebet bobot penting, agama penting, kaya penting....
tapi juga gak penting penting amat
yang terpenting watak dan akhlak...
jika baik insyaallah rumah tangga juga baik.....
makasih Thor.........
payah loe Aydin