Tutorial membuat jera pelakor? Gampang! Nikahi saja suaminya.
Tapi, niat awal Sarah yang hanya ingin membalas dendam pada Jeni yang sudah berani bermain api dengan suaminya, malah berakhir dengan jatuh cinta sungguhan pada Axel, suami dari Jeni yang di nikahinya. Bagaimana nasib Jeni setelah mengetahui kalau Sarah merebut suaminya sebagaimana dia merebut suami Sarah? Lalu akankah pernikahan Sarah dengan suami dari Jeni itu berakhir bahagia?
Ikuti kisahnya di dalam novel ini, bersiaplah untuk menghujat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady ArgaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28.
(Mulai part ini Adam namanya ganti jadi Axel ya, mengikuti jalan cerita. Xixi)
Setelah pesta penyambutan itu usai, Peter mengajak Axel untuk bersantai di sebuah gazebo yang terdapat di halaman belakang rumah Andrew. Menikmati secangkir teh hangat karna Axel tidak terbiasa meminum wine.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau selama ini Paman dan Bibi mempunyai anak yang di sembunyikan di panti asuhan," ucap Peter membuka percakapan.
Axel tersenyum kecil dan mengangkat wajahnya menatap keindahan langit malam itu.
"Yah, terkadang skenario dari sang pencipta memang tak selalu sesuai nalar manusia. Aku pun rasanya seperti mimpi bisa berada di sini sebagai bagian dari keluarga ini."
Peter menepuk pelan pundak sepupunya itu dengan mata memandang takjub.
"Kau luar biasa, bro. Hidup dan tumbuh besar dalam semua keterbatasan di panti asuhan karna Paman dan Bibi harus bersembunyi selama bertahun-tahun guna menghindari serangan musuhnya. Tapi setelah besar kau bisa menjadi orang yang sangat mengerti agama dan tidak mendendam sama sekali. Aku salut sekali padamu."
"Haha, dendam tidak akan membawa kebaikan apapun, Pet. Tapi dengan seperti ini menerima dan mencoba mengerti semua akan jadi lebih indah dan lebih baik, aku ikhlas menjalani semuanya dan lihatlah betapa Allah sudah mengangkat derajat ku sekarang. Dan untuk agama, aku juga bukanlah orang yang begitu paham dan mengerti hanya saja mencoba untuk menjadi versi yang lebih baik dari diriku sendiri," papar Axel menerawang jauh menatap bulan sabit yang menampakkan dirinya dari balik awan.
Peter menetap Axel lekat, seakan penuh kekaguman di matanya.
"Hey Ax, bolehkah ... aku belajar agama denganmu? jujur sejak kedua orang tuaku meninggal dalam peperangan bisnis dulu. Tidak ada seorang pun yang pernah mengajari aku ilmu agama, aku hanya takut kalau sampai akhirku nanti aku masih tidak mengenal Tuhan ku," pinta Peter bersungguh sungguh.
Axel balas menatap Peter penuh tanya. "Lalu selama ini kau tinggal dengan siapa?"
"Yah kau tau, Paman dan Bibi yang selama ini merawatku sejak menjadi yatim piatu. Mereka membawaku keluar negri tempat kampung halaman Papaku, dan merawat ku di sana bersama Nenek. Di sana pula lah tempat persembunyian teraman mereka selama beberapa tahun belakangan sampai akhirnya mereka memutuskan kembali ke Indonesia untuk mencarimu," sahut Peter apa adanya.
Axel mengangguk mengerti. "Baiklah, sebisa mungkin aku akan membimbingmu. Kita sama sama belajar memperdalam agama."
Peter tampak senang, matanya berbinar menatap Axel. Hening sejenak tercipta saat mereka menikmati teh dan camilan mereka, sampai suatu hal menggelitik benak Peter untuk bertanya.
"Humm Ax, wanita yang tadi siang ... dia siapa?" tanya Peter hati-hati.
Axel tersedak, dan langsung meminum tehnya hingga tandas. Lalu mengatur nafasnya yang terasa tercekat.
"Hei, pelan pelan. Aku tidak akan memaksa bertanya jika kau keberatan menjawabnya." Peter menyodorkan sebuah kotak tisu ke hadapan Axel.
"Ah, tidak. Maaf ... aku cuma terkejut ternyata kau ingat dia."
Axel mencabut beberapa helai tisu dan mengelap lelehan teh yang tak sengaja masuk ke hidungnya.
"Dia ... istriku, ah maksudnya mantan istriku, aku baru saja menalaknya siang tadi. Tak lama setelah bertemu denganmu," imbuh Axel.
"Oh, maafkan aku karena bertanya. Aku tidak tau masalahnya seserius itu," tukas Peter tak enak hati.
Axel mengibaskan tangannya di depan wajah. "Ah, tak apa. Memang sudah lama dia hendak berpisah denganku, cuma baru bisa ku ikhlaskan tadi siang saja."
Axel mencoba berkelakar menutupi luka hatinya yang masih terasa berdarah. Sebenci dan semarah apapun melupakan cinta pertama itu tak akan semudah membalik telapak kaki bukan?
"Kalau boleh aku tau, ada masalah apa, Ax? kenapa harus sampai berpisah, bukankah Paman dan Bibi sudah lama sekali ingin seorang cucu darimu. Dari yang mereka sering ceritakan padaku dulu," tanya Peter lagi.
Axel menggeleng pelan, matanya menatap gelas teh kosong itu dengan miris.
"Bukankah kau lihat tadi dia keluar dari hotel itu dengan pakaian semrawut? harusnya kau sudah tau jawabannya, Pet."
Peter menunduk. "Ah, sekali lagi maafkan aku karna terlalu ingin tau masalahmu, Ax. Aku tidak ...."
"Sudahlah tak apa, tidak ada rahasia yang perlu aku tutupi juga. Hanya perlu menjadikan semuanya pelajaran untuk lebih berhati-hati ke depannya." Axel tersenyum lembut, sangat meneduhkan dan membuat betah yang memandang.
Peter sendiri merasa heran bagaimana bisa ada seorang wanita yang tidak betah hidup bersama orang sebaik Axel? Padahal Peter yang baru beberapa jam bersamanya saja sudah merasa betah dan sangat nyaman.
Sayup, terdengar Azan isya mulai berkumandang. Suaranya tak jauh dari posisi mereka karna posisi rumah yang berdekatan dengan masjid.
Axel berdiri dan mengajak Peter untuk menunaikan sholat isya di masjid.
"Ayo, Pet. Kita ke masjid."
Peter menatap bingung. "Mau apa?"
"Bukannya tadi minat ajarin agama? Ya ayo kita mulai dengan ikut sholat berjamaah di masjid," kekeh Axel memaklumi ketidaktahuan sepupunya itu.
Peter tertawa lirih menyadari kebodohannya. "Ah, iya baiklah. Ayo."
Kedua sepupu itu berjalan beriringan, menuju masjid untuk mulai beribadah bersama.
"Axel, Peter, kalian mau kemana?" panggil Andrew saat melihat kedua sepupu itu berjalan kaki menuju gerbang.
"Ke masjid, Pa. Sudah waktunya sholat isya," sahut Axel lembut.
"Ayo, Paman. Kita ikut sholat, terlalu lelah selalu memikirkan dunia. Hati juga perlu di isi dengan siraman rohani sepertinya," celetuk Peter pula.
Andrew tertawa dan beranjak mengikuti mereka.
"Seperti kepulanganmu membawa berkah tersendiri bagi keluarga kita, anakku." Andrew merangkul Axel dengan penuh rasa bangga, dan bersama mereka menuju masjid yang mulai ramai oleh umat Islam yang siap menghadap penciptanya.
****
Di rumah Jeni.
Brak
Brak
Brakk
Semua barang yang sebelumnya tertata rapi di tempatnya kini berhamburan kemana mana, Jeni yang tengah frustasi itu mulai melempari semua benda yang di lihatnya untuk meluapkan kekesalannya.
"Aarrghhhhhh, sial*n kalian semua! bisa-bisanya kalian buat hidup aku hancur kayak begini hah! Dasar manusia manusia nggak berguna! nggak punya otak!"
Brak
Brak
Prangggg
Kali ini kaca besar yang berada di kamar pun tak luput dari amukan Jeni, dia sengaja melempar sebuah vas bunga ke sana membuat kaca yang tidak berdosa itu menjadi hancur berkeping-keping.
"Semua pergi! Bang Adam pergi! Mas Bima sial*n itu nyatanya memang nggak bisa di andalkan! Dan sekarang aku sendirian harus menanggung semua ini! sial! sial! sial!" maki Jeni berulang kali sambil menjambak rambutnya sendiri sampai banyak dari helaian rambut yang biasa tersentuh perawatan salon itu tercabut dari akarnya.
Jeni luruh ke lantai, keadaannya sudah tak ubahnya seorang yang sakit jiwa. Banyak luka di badannya akibat cakarannya sendiri, dan rambut yang nampak pitak di sana sini.
Tanpa sadar air matanya luruh, namun bukan air mata penyesalan dan kesedihan. Melainkan dendam yang di tumpuknya dengan sengaja.
"Tunggu saja kalian semua, aku akan kembali. Aku akan kembali untuk membalas semua ini, tunggu saja waktu untuk kalian merasakan apa yang aku rasakan!"