Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..
Terlambat Mengerti season 2
Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...
____________________________________
Cover by pexels
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Melin masih tidak yakin anak yang dia lihat tadi adalah anak kandung Arini. Dia teringat beberapa tahun lalu saat dia dan ibunya baru pindah ke Jakarta, Bi Ijah pembantunya pernah menghubunginya. Bu Ijah mengabarkan kalau Arini datang mencari ibu dengan membawa seorang bayi.
"Bu, aku ketemu Arini tadi," ucap Melin duduk di sebelah ibunnya.
"Arini? Bagaimana kabarnya sekarang? Ibu sangat merindukannya." Bu Leni nampak antusias mendengar nama Arini.
"Aku melihatnya dengan seorang anak perempuan yang usianya sekitar 5 tahunan, dia bilang itu anaknya."
"Dia sudah menikah?" tanya Bu Leni penasaran.
"Entahlah Bu, tapi dia bersama Doni saat itu. Doni bilang mereka akan segera menikah."
"Apa Doni temannya Juna?"
"Iya Bu."
"Arini berhak bahagia, Ibu senang jika dia menemukan orang yang tepat untuknya." Bu Leni nampak pasrah dengan takdir yang tak mempersatukan Arini dengan anaknya.
"Bu, apa ibu ingat mungkin sekitar lima tahun lalu Bu Ijah mengabarkan kita kalau Arini datang ke rumah dengan membawa bayi?"
"Iya Ibu ingat, lalu kenapa? tanya Bu Leni antusias.
"Sekitar sebulan sebelum kita pergi ke Jakarta, aku ketemu Arini. Dia sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda seorang yang sedang mengandung, seharusnya saat itu dia sedang hamil tua bukan? Bahkan saat itu aku ingat betul Arini mengenakan celana jeans dengan atasan t-shirt yang pas di badan, tidak nampak sama sekali perutnya membuncit. Jadi tidak mungkin anak yang dia bawa itu anaknya, dia bilang itu anaj temannya. Tapi untuk apa dibawa ke rumah kita bahkan mencari Ibu." Melin mulai menyelidiki dari ingatannya lima tahun lalu.
"Lama waktu kejadian itu kurasa hampir sama dengan usia anak yang bersama Arini kemarin," imbuh Melin.
"Lalu anaknya siapa?" tanya Bu Leni yang belum mengerti.
"Anak itu mirip sekali dengan Juna," ucap Melin datar.
"Maksud kamu, Arini menyembunyikannya?"
"Entahlah Bu, kita tanya saja sama Juna."
"Suruh Juna ke sini, Ibu tidak akan membiarkan Arini menanggungnya sendiri." Bu Leni nampak sangat gusar setelah mendengar penjelasan Melin.
Tidak lama Juna pun datang, begitu masuk dia langsung bergabung dengan ibu dan kakaknya yang tengah terdiam.
"Ada apa Ibu menyuruhku pulang?" tanya Juna tidak suka.
"Apa yang kamu lakukan pada Arini lima tahun lalu?" tanya sang Ibu dengan nada meninggi.
"Apa kamu menghamilinya lalu meninggalkannya begitu saja?" imbuhnya lagi.
"Aku benar-benar tidak mengerti maksud Ibu, bagaimana aku menghamili Arini sementara aku menyentuhnya pun tidak pernah." Juna menjawab dengan heran.
Melin akhirnya menceritakan apa saja yang terjadi lima tahun lalu. Mendengar cerita kakaknya, Juna mulai terbuka pikirannya. Dia mulai bertanya-tanya siapa sebenarnya Cila itu.
Akhirnya Juna mengurungkan niatnya kembali ke Jakarta. Dia memilih berada di Jogja dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Sementara semua urusan perusahaan yang di Jakarta di limpahkan pada Roy.
Setelah seminggu di Jakarta, Iren memutuskan kembali lagi ke Jogja. Dia merindukan Cila anaknya. Untuk bertemu Cila selama ini Iren seperti kucing-kucingan tanpa sepengetahuan Arini. Merasa itu tidak benar, akhirnya dia menghubungi Arini untuk bertemu langsung. Arini dengan ragu mengiyakannya. Mereka bertemu di sebuah cafe.
"Ada apa kamu meminta bertemu?" tanya Arini sambil menarik kursi untuknya duduk.
"Maafkan aku selama ini Arini, aku tahu semua yang aku lakukan ke kamu tidak pantas untuk dimaafkan. Setidaknya dengan ini aku bisa mengurangi beban batinku."
"Langsung saja apa yang kamu inginkan?" tegas Arini.
"Baiklah, izinkan aku bertemu dengan Asilla. Selama ini aku memang sering menemuinya tanpa sepengetahuan kamu, tapi kali ini dan kedepannya aku hanya akan menemuinya jika kamu mengizinkan." Iren terlihat tulus mengatakan hal itu.
Arini berpikir sejenak, "kamu bisa menemuinya, tapi aku minta jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Belum saatnya dia memikirkan hal yang berat, dia masih terlalu kecil untuk mengetahui semuanya."
"Baik Rin, dengan bisa melihatnya saja aku sudah sangat bahagia. Dia anakmu Arini, aku tidak akan mengambilnya."
"Temui saja Cila di sekolah, ibu tidak akan suka dengan kedatanganmu jika menemuinya di rumah."
"Baik Arini, terima kasih untuk semuanya."
"Kalau sudah tidak ada yang pnting untuk di bicarakan lagi aku pergi dulu," Arini beranjak.
"Tunggu Rin, kembalilah dengan Mas Juna." Kalimat yang Iren ucapkan ini mengejutkan Arini.
"Aku rasa tidak mungkin, semua yang sudah terjadi tidak akan mungkin bisa kembali." Arini sedikit berkaca-kaca.
"Selama ini yang ada di hatinya hanya kamu, dia masih sangat mencintaimu. Aku merasa bersalah telah memisahkan kalian. Pertimbangkanlah Rin?" Iren benar-benar tulus mengatakannya.
"Maaf aku tidak bisa," jawab Arini singkat.
"Tapi Rin, dia sangat menderita selama ini. Aku akan mengatakan semuanya padanya. Tentang kamu juga tentang Asilla, dia ayah kandung anakmu kalian harus bersama."
"Jangan bodoh, jangan katakan apapun padanya. Aku tidak akan kembali dengannya, dan aku tidak ingin hidup kami kami semakin terusik setelah dia tahu semuanya." Arini tegas dengan pendiriannya.
Arini akhirnya beranjak pergi meninggalkan Iren. Semua ucapan Iren terus melintas di pikirannya.
"Arini, kesampingkan sisa hatimu yang sedikit masih tersimpan untuk Juna. Doni sangat mencintaimu, jangan pernah melukainya." Arini membatin, mengingatkan dirinya sendiri.
Setelah mendapat izin dari Arini, Iren dengan tenang bisa menemui Asilla anaknya. Meski sulit mengambil hati anak itu, setidaknya dengan sering melihatnya dia bisa mengobati kerinduannya.
Seperti halnya Iren yang menemui Arini, Juna pun melakukan hal yang sama. Dia tidak mau berlarut-larut menyimpan kebenciannya pada Doni. Akhirnya dia memutuskan untuk menemuinya.
"Sudah lama kita tidak duduk seperti ini," ucap Juna sambil menenggak minumannya.
"Untuk apa kamu memintaku kesini," tanya Doni.
"Maafkan aku, untuk kelakuanku tempo hari." Wajah Juna tampak menyesal saat mengucapkan kalimat itu.
"Apa yang kamu lakukan pada Arini selama ini apa layak dimaafkan, kamu memperlakukannya seperti perempuan murahan." Doni masih sangat kesal mengingat apa yang dilakukan Juna beberapa hari yang lalu.
"Aku tahu itu, dia mungkin tidak akan memaafkan perbuatanku."
"Menjauhkan dari kehidupan Arini, biarkan dia bahagia." Doni meminta dengan sungguh-sungguh.
"Aku sangat mencintainya, aku hampir gila saat memikirkannya." Juna masih belum rela melepas Arini.
" Jangan mengatakannya di hadapanku, aku muak dengan kalimat itu." Merasa tidak ada gunanya bertemu dengan Juna, Doni memilih segera pergi.
Hari ini Arini kerja lembur, dia keluar kantor sekitar jam delapan malam. Saat Arini melangkah keluar, dia terkejut dengan kedatangan Juna. Arini sangat khawatir Juna akan melakukan hal yang sama seperti beberapa hari lalu.
'Maafkan aku, aku tidak bisa mengendalikan diriku saat itu," ucap Juna dengan penuh sesal.
Tanpa menjawab, Arini melanjutkan langkahnya. Namun Juna meraih tangannya, menahan langkah Arini.
"Lepaskan aku Mas, aku mau pulang." Arini nampak sangat takut kejadian itu terulang lagi.
"Aku tidak akan menyakitimu, jangan menghindari ku lagi."
"Apa yang ingin Mas bicarakan?" tanya tegas Arini.
"Aku tersiksa dengan keadaan ini, aku tidak bisa melepaskanmu Arini."
"Bukankah Mas sudah melepaskanku sejak lama, aku bukan lagi Arini tunanganmu. Sekarang kita punya kehidupan masing-masing. Jangan saling menyiksa, hapuslah semuanya. Semua tentang kita." Arini menjelaskan panjang lebar.
"Tidak semudah itu, nyatanya semakin aku mencoba semakin aku sulit melepasmu." Mata Juna mulai memerah.
Melihat Juna yang mulai tidak terkontrol membuat Arini semakin khawatir. Melihat taksi melintas, Arini segera berlari memberhentikan taksi itu. Lalu masuk dengan cepat meninggalkan tempat itu. Sementara Juna masih mematung di tepat yang sama.
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
cila itu anak tiri tantemu loh
cila ke agam
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
penyelamat jika ada apa pun.