"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 21
Di sisi lain, Indira masih membeku di depan pintu itu. Kakinya seperti tertanam di lantai, semua suara di sekitar nya mendadak menjauh-- langkah kaki, instruksi dokter, bunyi alat medis-- semuanya terasa seperti gema yang datang dari tempat lain.
Baru sekarang, saat semuanya berhenti bergerak, pikirannya mengejarnya. Tangan Indira perlahan mengepal.
Tanpa dimintanya, gambar- gambar tadi malam kembali berputar ulang : halte bus, hujan, Mentari yang menawarkan tumpangan padanya namun ia menolak karena tahu sahabatnya itu sedang sibuk mengantar orang tuanya berobat, ponselnya yang mati ketika ia sangat membutuhkan nya untuk memesan taksi online karena bus yang tak pernah datang, lalu preman- preman itu.
Tangan- tangan kasar yang menariknya hingga ke lorong gelap, bau asap rokok dari mulut mereka ketika melontarkan candaan menjijikan masih segar diingatan nya, tangan mereka yang berusaha untuk meruda* paksa nya, napasnya yang tercekat,lalu Seno-- pria itu datang seperti badai, wajahnya dingin, dan mata penuh amarah yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Lalu preman- preman itu satu persatu tumbang.
Ia bergidik. Bukan hanya karena takut, tapi karena kenyataan bahwa pria yang hampir ia benci sepenuh hati, justru telah mempertaruhkan nyawa untuk nya.
Indira tak habis pikir dengan permainan takdir, dan isi otak pria itu. Bukankah dia ingin melihat nya menderita? tapi kenapa dia ada di sana, dengan wajah penuh amarah membabi buta menghajar orang- orang yang mencoba untuk menyentuh nya.
Apakah ini hanya karena sisi kemanusiaan biasa? tapi hampir mustahil pria tiran seperti Seno mempunyai sisi kemanusiaan untuk nya, lalu apa alasannya?
"Kau bisa duduk disini, bu. "
Indira tersentak ketika seorang perawat datang dan menunjuk kursi di ruang tunggu VVIP yang luas dan sunyi. Ruangan itu terlalu mewah untuk disebut ruang tunggu--ada sofa kulit gelap, meja marmer dan lampu temaram yang berpendar hangat.
Indira duduk perlahan.
Tangannya masih gemetar.
Ia menatap jarinya sendiri, lalu tanpa sadar menggosok punggung tangannya, tempat tadi ia menyentuh Seno. Hangatnya masih terasa. Atau mungkin hanya imajinasinya.
“Aku seharusnya tidak peduli,” bisiknya lirih, nyaris seperti mengakui dosa pada dirinya sendiri.
Bukankah pria itu yang menghancurkan hidupnya? Bukankah pernikahan ini adalah penjara? Bukankah ia hanya pion dalam permainan kekuasaan Seno?
Lalu kenapa dadanya sesak sekarang?
Kenapa rasa takut kehilangan ini terasa begitu nyata?
Pintu ruang operasi terbuka sedikit. Seorang dokter pria paruh baya keluar, masker masih menggantung di lehernya.
Indira bangkit terlalu cepat. “Dokter!”
Dokter itu menatapnya singkat, lalu ke arah Raka yang baru saja mendekat. “Keluarga?”
Indira ragu sepersekian detik. Kata itu terasa asing di lidahnya.
“Istri,” jawabnya akhirnya.
Dokter mengangguk. “Baiklah saya harus memberitahukan nya, luka tuan cukup serius. Pendarahan di kepala, beberapa tulang rusuk retak, dan luka tusuk lama yang terbuka kembali. Tapi kami sudah menangani yang paling berbahaya.”
“Lalu dia…?” Suara Indira bergetar.
“Masih belum sadar. Tapi kondisinya stabil untuk sekarang.”
Untuk sekarang.
Dua kata itu menancap di benaknya seperti duri.
Dokter kembali masuk dan pintu tertutup lagi.
Indira duduk kembali, tubuhnya melemas seketika. Jas Raka ia peluk erat, seperti pegangan terakhir agar ia tidak runtuh.
Raka berdiri beberapa langkah darinya, setia seperti bayangan. “Nyonya tidak perlu menyalahkan diri sendiri,” ucapnya tiba-tiba.
Indira menoleh. “Aku tidak bilang apa-apa.”
“Tapi wajah Anda berbicara banyak.”
Indira tersenyum pahit. “Aku bahkan tidak tahu apa yang kurasakan sekarang.”
Itu jujur. Terlalu jujur.
Raka diam sejenak. “Tuan Seno bukan pria baik,” katanya pelan, tanpa emosi berlebihan. “Bahkan di mata orang-orangnya sendiri. Tapi satu hal yang pasti--beliau tidak pernah melindungi sesuatu tanpa alasan.”
Dan kata sesuatu itu membuat Indira tercekat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain kota, hujan masih turun dengan ritme yang malas, membasahi halaman luas kediaman Barata. Lampu- lampu taman menyala kekuningan, memantulkan bayangan basah di lantai marmer teras.
Sosok Rania berdiri di balkon kamarnya. Ia tampak memeluk tubuhnya sendiri, jemarinya mencengkeram lengan seperti mencoba menahan sesuatu agar tidak runtuh dari dalam dada. Rambutnya tergerai, sebagian basah oleh gerimis yang tertiup angin. Gaun tidurnya tipis, tapi rasa dingin yang ia rasakan bukan datang dari cuaca.
Matanya menatap langit dengan gelap.
"Seno…” gumamnya lirih, hampir hilang ditelan suara hujan. “Kamu di mana sekarang?”
Ada rasa sesak yang tak bisa ia jelaskan. Sejak sore tadi hatinya gelisah. Perasaan yang sama seperti saat kecil dulu, setiap kali adiknya pulang larut tanpa kabar. Bedanya, kini Seno bukan lagi bocah bandel yang bisa ia bentak lalu dipeluk.
Ia pria dewasa. Berbahaya dan penuh musuh. Dan entah kenapa, malam ini Rania merasa takut-- takut yang tidak masuk akal, tapi terasa nyata.
Ia menoleh, melihat suaminya baru masuk ke dalam kamar. Rania kembali menatap lurus, gamang.
Bibirnya terbuka. "Kira- kira kemana Seno mencari Indira? " sebenarnya itu hanya gumaman, namun terdengar di telinga Ryan.
“Khawatir amat sama rumah tangga orang.” Pria itu tiba-tiba berceletuk, dengan suara ketus.
Rania tersentak, menoleh cepat.Sejurus kemudian, Ryan sudah berdiri di ambang pintu balkon, bersandar santai dengan tangan terlipat di dada. Wajahnya datar, tapi sorot matanya tajam, dingin.
“Mas Ryan…” Rania menghela napas. “Aku cuma--”
“Ngapain ngurusin Seno?” potong Ryan ketus. “Dia bukan anak kecil lagi dan rumah tangga mereka bukan urusan kamu.”
Rania mengernyit. “Dia adikku, mas. "
Ryan tertawa kecil, remeh. “Kalian berdua itu sama saja. Suka mencampuri urusan orang lain.”
Ucapan itu terdengar menusuk yang sontak membuat Rania berbalik sepenuhnya menghadap Ryan. “Aku cuma khawatir. Dia keluar malam-malam sendirian, hujan, dan sekarang tanpa kabar. Apa salahnya?”
Ryan melangkah mendekat. “Yang salah itu kamu.” Suaranya merendah, tapi sarat emosi. “Kamu selalu lebih peduli sama orang lain daripada rumah tangga sendiri.”
Rania terdiam.
Ryan menatapnya lama, lalu senyum sinis muncul di sudut bibirnya. “Atau jangan-jangan kamu lupa, Ran… masalah kita sendiri belum selesai.”
Napas Rania tercekat. “Mas Ryan--”
“Harusnya kamu mikirin gimana caranya punya anak,” lanjut Ryan tajam. “Bukan berdiri di sini, drama khawatirin adik kamu yang sehat-sehat saja.”
Wajah Rania memucat. Kenapa Ryan tiba-tiba mengungkit hal ini?
“Aku…” suaranya bergetar. “Aku sudah mencoba.”
“Kamu mencoba apa?” Ryan mendengus. “Setiap bulan sama saja. Nihil.”
Rania menunduk, tangannya mengepal di sisi tubuh. “Bukannya aku juga udah sering nawarin… surgery mother? tapi kamu? "
Rahang Ryan langsung mengeras. “Jangan ulangi itu.”
“Kita sudah bahas dulu,” Rania memberanikan diri menatap suaminya. “Aku bilang, kalau Mas Ryan mau, kita bisa--”
“Aku mau kamu yang hamil,” bentak Ryan. “Bukan perempuan lain!”
“Itu bukan perempuan lain, itu--”
“Cukup!” Ryan mendekat tiba-tiba. “Jangan sok pintar!”
Rania terisak.”Kamu yang mulai duluan mas! kamu kira aku juga gak capek sama keadaan ini? aku juga pengen kita punya keluarga kecil yang bahagia! "
Ryan tertawa pendek, pahit. “Bahagia?” Ia mencondongkan tubuh, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Rania. “Kau pikir aku bahagia melanjutkan pernikahan ini dengan mu? aku bakal jauh lebih bahagia kalau bisa menikah dengan nya! ”
Rania mengerjap. “menikah dengan nya? … siapa?”
Ryan terdiam sepersekian detik, tampak terkejut dengan ucapannya sendiri.
Dan dari diam itulah, Rania tahu jawabannya.
“Indira?” bisiknya.
Emosi Ryan langsung meledak. “Iya!”
Rania mundur setapak, dadanya terasa dihantam sesuatu yang keras. “Jadi… sikap kamu selama ini karena dia?”
Ryan tertawa kasar. “Ya kau pikir saja? kau pikir mudah untuk melupakan semuanya?!"
Suara pria itu rendah namun terasa lebih menyakitkan di telinga Rania. "andai Seno tidak datang malam itu,” lanjut Ryan, tajam, “Indira sudah jadi istriku sekarang.”
Dunia Rania seakan berhenti.
Tanpa berpikir panjang, tangannya sontak terayun.
Plak!
Tamparan itu menggema di balkon yang sunyi.
Rania sendiri terkejut dengan apa yang ia lakukan. Matanya membesar, napasnya memburu. “Aku… aku--"
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Ryan membalas.
Tangannya mencengkeram rambut Rania, menarik keras hingga kepalanya terangkat paksa.
“Kurang ajar kamu!” bentaknya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Rania, jauh lebih keras dari yang ia berikan. Kepalanya terhuyung, tubuhnya menghantam pagar balkon.
“Mas Ryan, sakit…” Rania terisak.
Plak!
Tamparan kedua menyusul.
Inilah yang tak pernah Seno ketahui.
Bahwa di balik senyum Rania, di balik sikap lembutnya, ada luka yang ia simpan sendiri. Bahwa Ryan bukan hanya menyakitinya dengan perselingkuhan dan kata-kata kejam--tapi juga dengan tangan.
Dan Rania tidak pernah menceritakan bagian itu. Karena ia mencintai Ryan. Terlalu mencintai, sampai menutup mata pada kekerasan yang dilakukannya. Sampai ia percaya bahwa semua ini akan berubah jika ia cukup sabar.
Ryan melepaskan rambutnya dengan kasar. “Kalau kamu masih mau sama aku,” ancamnya, “jangan pernah lagi sebut nama Indira di depanku.”
Rania terisak, pipinya panas, bibirnya bergetar, ia hanya mengangguk pelan.
Ryan mengambil jaket dan kunci mobil dari meja. “Aku pergi.”
“Mas… mau ke mana?” suara Rania nyaris tak terdengar. “Hujan masih deras…”
Ryan berhenti di depan pintu. “Ke club.”
Rania menatapnya, hancur. “Sekarang?”
“Percuma di rumah,” jawab Ryan dingin. “yang ingin kudengar itu ocehan anak kecil,bukan ocehan kamu yang gak jelas!”
Pintu dibanting keras.
Getarannya terasa sampai ke dada Rania.
Ia jatuh terduduk di lantai balkon, memeluk lututnya sendiri. Hujan membasahi wajahnya, bercampur dengan air mata yang tak bisa lagi ia tahan.
*******
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah