NovelToon NovelToon
PRESDIR GILA Itu AYAH ANAK-KU

PRESDIR GILA Itu AYAH ANAK-KU

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Genius / Anak Kembar / Anak Yatim Piatu / CEO / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mom Ilaa

Alexandra Quina tak punya pilihan selain menerima tawaran gila Nenek Evelyn, majikannya yang lumpuh. Sebagai perawat yatim piatu, hidupnya berubah total saat diminta menikahi Nicholas—cucu Evelyn yang koma selama dua tahun hanya demi memberikan keturunan bagi keluarga Rich melalui prosedur medis.

Harta dan kehidupan layak sudah di depan mata. Namun, saat janin mulai tumbuh, Evelyn meninggal. Di tengah ancaman pembunuhan dari keluarga Nicholas, Alexa memilih lari dan menghilang tanpa jejak.

Lima tahun kemudian, Nicholas terbangun sebagai—Presiden Gila—yang arogan dan tak tersentuh. Hingga di sebuah kompetisi renang, seorang gadis kecil menarik jas mahalnya dengan berani.

“Om Plesdil, mau ndak jadi Daddy kita?”

“Aku sudah punya istri,” jawab Nicholas dingin.

“Buang aja istlinya, Om itu Daddy kita.”

Nicholas mengira itu lelucon, sampai empat anak lainnya muncul dengan wajah yang merupakan jiplakan dirinya. Saat ia berhasil menemukan Alexa, Nicholas mengira ia bisa mengatur wanita itu dengan mudah. Tapi ia salah.

“Kalau mereka anakmu, apa yang kau mau? Hak asuh?” tantang Alexa.

“Ayo menikah!” titah Nicholas.

“Jadi istri kedua? No way! Lebih baik aku menjanda selamanya daripada jadi madumu. Jangan kira aku lemah seperti dulu!”

Alexa yang dulu penurut telah berubah menjadi wanita cerdas dan tangguh. Itu membuat Nicholas justru makin tergila-gila.

Akankah Nicholas berhasil menaklukkan hati Alexa yang sedingin es dan sekeras batu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Jual Mahal

Waktu merambat pelan, namun bagi Alexa, setiap detiknya terasa seperti beban yang kian menghimpit. Meski kini ia mendapatkan perlindungan ekstra, kecemasan tetap berakar di hatinya. Bayangan tentang bagaimana reaksi orang tua Nicholas terus menghantuinya.

“Alexa, melamun terus? Awas, kesambet lho!” seru Mona sambil menepuk bahu Alexa.

Pagi itu, mereka baru saja kembali dari pasar. Keranjang belanjaan mereka penuh dengan bahan makanan segar. Hari ini bukan hari biasa karena Tuan Robertho dan Nyonya Anggina baru saja mendarat di tanah air setelah perjalanan panjang mencari dokter terbaik untuk kesembuhan Nicholas.

“Aku takut, Mon,” bisik Alexa lirih. Ia meremas tali keranjang belanjaannya hingga jemarinya memucat.

"Gimana kalau mereka tahu aku hamil? Mereka pasti murka.”

Mona menghela napas, mencoba memberikan senyum penyemangat. “Nyonya Evelyn ada di pihakmu, Al. Percaya sama beliau. Nyonya nggak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu atau bayi itu.”

“Tapi mereka itu orang tuanya Nicholas, Mon. Kalau mereka nggak terima, aku bisa saja dibuang… atau lebih buruk lagi,” suara Alexa bergetar.

Ia menghentikan langkah tepat di depan sebuah kedai es krim, tangan kiri Alexa mengusap perutnya yang kini mulai terlihat membuncit.

“Kalau suasananya sudah nggak aman, lebih baik kamu kabur saja sebelum terlambat,” saran Mona tiba-tiba.

Alexa terlonjak kaget. “Kabur? Ke mana?”

“Ya, ke luar negeri mungkin? Cari suasana baru,” jawab Mona santai.

Alexa menghela napas kasar, nyaris putus asa. “Pakai uang apa, Mon? Ke luar negeri itu butuh biaya besar. Aku nggak punya tabungan sebanyak itu.”

Mona mengerutkan kening. “Lho, gaji kamu kan lebih besar dariku. Selama ini kamu simpan di mana?”

“Semuanya sudah kukirim ke panti asuhan, tempat aku dibesarkan dulu,” jawab Alexa pelan.

Mona terdiam. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, antara gemas dan salut.

Gadis ini benar-benar keterlaluan baiknya..., batin Mona. Alexa selalu mendahulukan orang lain daripada keselamatannya sendiri.

“Ya sudah, daripada stres, mampir makan es krim dulu yuk? Aku yang traktir!” ajak Mona sambil menarik tangan Alexa. Seketika, binar bahagia muncul di mata Alexa. Di mata Mona, sahabatnya ini terkadang masih terlihat seperti anak kecil yang butuh dilindungi.

Sementara itu, di dalam kemegahan mansion Robertho, suasana terasa jauh lebih dingin. Kattie sedang asyik memainkan ponsel keluaran terbarunya saat Jessy menghampirinya dengan wajah penuh selidik.

“Gimana? Rencana sogokanmu berhasil nggak?” tanya Jessy sinis.

“Gagal total!” gerutu Kattie ketus.

“Padahal aku sudah tawarkan lima ratus juta. Dasar pelayan sombong, dia malah jual mahal seolah uang segitu nggak ada artinya.”

Jessy melipat tangan di dada, matanya menyipit licik.

“Kalau cara halus nggak mempan, gimana kalau kita racuni saja? Biar bayi itu hilang selamanya.”

Mata Kattie membelalak. “Gila kamu, Jessy! Itu namanya pembunuhan. Kita bisa membusuk di penjara!”

“Ssttt! Jangan teriak-teriak!” bisik Jessy panik sambil melirik ke arah kamar Evelyn. “Nanti nenek peyot itu dengar.”

Kattie mendengus. “Pokoknya aku nggak mau ikut-ikutan kalau soal itu. Itu urusanmu.”

Belum sempat mereka melanjutkan perdebatan, pintu utama mansion terbuka lebar. Sosok pria berwibawa berusia 55 tahun dan wanita anggun berusia 48 tahun melangkah masuk. Mereka adalah sang pemilik kekuasaan: Robertho Rich dan Anggina.

“Mama! Papa!” seru Kattie dan Jessy bersamaan, langsung berlari menyambut dan memeluk mereka.

“Bagaimana kabar nenek kalian? Semuanya baik-baik saja, kan?” tanya Anggina sambil mengedarkan pandangan mencari ibu mertuanya.

“Semua aman, Pa, Ma. Tapi ada sesuatu yang harus Papa tahu soal—”

Kalimat Kattie terputus saat Evelyn muncul dari arah kamarnya. Suasana mendadak hening dan kaku.

“Kalian sudah pulang?” tanya Evelyn dingin.

“Sudah, Bu. Kami sudah membawa tim dokter terbaik untuk Nicholas. Mereka sudah di rumah sakit sekarang,” ujar Robertho dengan takzim mencium tangan ibunya, diikuti oleh Anggina.

Anggina mengerutkan kening. “Di mana perawat Ibu? Kok tidak kelihatan?”

“Lagi keluar belanja sama Mona. Sini, duduk dulu. Ada hal penting yang harus Ibu sampaikan,” perintah Evelyn dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Kattie dan Jessy saling lirik. Jantung mereka berdegup kencang. Jangan sampai Papa setuju, doa mereka dalam hati.

“Apa?! Alexa hamil anak Nicholas? Itu tidak mungkin, Bu! Nicholas sudah koma dua tahun!” Robertho berseru kaget, wajahnya memerah karena syok.

Evelyn tanpa kata menyodorkan secarik surat wasiat Nicholas yang selama ini ia simpan. Robertho dan Anggina membacanya dengan tangan gemetar.

“Kalau ini keinginan Nicholas, kenapa harus pelayan itu? Ibu bisa mencari gadis lain dari keluarga terpandang!” protes Robertho.

“Benar, Bu. Alexa itu gadis panti asuhan, asal-usulnya tidak jelas,” tambah Anggina penuh keberatan.

Evelyn memukul pinggir kursi rodanya.

Tok!

“Ibu sudah memutuskan. Alexa akan tetap di sini dan bayi itu adalah pewaris Nicholas. Tidak ada protes lagi! Sekarang, bubar ke kamar masing-masing!”

Keluarga itu terdiam. Robertho hanya bisa memijat pelipisnya, merasa tak berdaya melawan titah sang ibu. Kattie dan Jessy pun hanya bisa melongo kesal, mereka tak menyangka perlawanan orang tua mereka akan sependek itu.

Pukul 20.32 malam.

Meja makan panjang itu dipenuhi hidangan mewah, namun suasananya sedingin es. Semua anggota keluarga sudah duduk di tempatnya. Tak lama kemudian, Mona muncul mengantarkan Alexa.

Malam ini, Alexa tampak berbeda. Ia mengenakan gaun hamil yang anggun, rambutnya tertata rapi, membuatnya terlihat cantik sekaligus rapuh.

“Alexa, duduk di sini, di sebelah saya,” panggil Evelyn lembut.

Langkah Alexa terasa berat. Ia bisa merasakan aura kebencian yang menyengat dari arah Kattie, Jessy, bahkan orang tua Nicholas. Ia merasa seperti terdakwa di tengah ruang sidang.

Tenang, Alexa. Demi bayi ini, kamu harus kuat. Ada Nenek Evelyn di sampingmu, batinnya menguatkan diri.

Di tengah keheningan yang mencekam itu, suara Evelyn kembali memecah suasana. “Alexa, besok temani saya ke rumah sakit. Saya ingin melihat perkembangan Nicholas, dan kamu harus Ikut.”

Alexa menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk kecil. “Baik… Nek.”

Malam itu, makanan semewah apa pun terasa hambar di lidah Alexa.

___

___

Jangan lupa like, komen, vote dan subscribe, terima kasi~

1
Titien Prawiro
Nicho punya firasat kalau dikantor ada ulat bulu, ngajak istri kekantor good job Nicho.
Titien Prawiro
Ayahnya Daniell bilang maminya mau nikah lagi itu hanya untuk mengelabuhi istrinya karena penyakitnya, tdk benar2 menikah. kalau papinya Daniell penyakitnya gk bisa disembuhkan biar gk sedih kalau meninggal.
Titien Prawiro
Cepet sembuh Alexa
Titien Prawiro
Alexa orang tuamu masih hidup, dan Daniell adikmu kandung
Titien Prawiro
Kok gampang pingsan aja ya apa itu penyakit.?
Titien Prawiro
Anaknya ganteng2 dan sikecil cewek sendiri cantik
Maria Ulfah
kak,kisah Mona gmn dengan papa meimei
Mom Ilaa: baik-baik aja kak🤭
total 1 replies
Maria Ulfah
Kaka bener bener deh ceritanya ..ada aja gebrakannya🤣😂😂🤣🤣
Mom Ilaa: 😁 hallo Kak, mampir jg di novel "Benih Tertukar Duren Sawit" di jamin suka 🥰 trima ksih
total 1 replies
Tira Aneri
suukaaa
Maria Ulfah
pernah baca dengan persi yg berbeda di toko sebelah 😁,buat sy ini persi lebih tenang simple tp greget ..sukses ya kak d cerita selanjutnya
Maria Ulfah
😍😍😍😍
rose pareira
Astagah 🤣🤣🤣
Yanrina Savitri
Mafia kingsley terhebat didunia. Tapi nyari anak perempuannya aja ga bisa. Malahan yg dapatin Nicholas sama Naira. Wkwkwk
Yanrina Savitri
Hahaha... kelonco lontonga 😆😁😆😁
Yanrina Savitri
Hahaha.... kelont loncongan 😁😆😁😆
Siti Sopiah
aduh Cecil kecil2 dah jadi mak jomblang👍
Nur Hayati
jangan jangan yg hd penculik itu ibunya jesi
guntur 1609
aku yakin Daniel di buat sprti tu sm king. hanya tk melindungi Daniel. karna dia tdk mau kejadian kynara. terjadi tk daniel
guntur 1609
brti Alexa kakanya daniel
guntur 1609
gak tahunya si Bobby tu hanya se ekor anjung.... yg di cemburuan niko
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!