NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Hujan di Balik Kaca ICU

Hujan mulai turun pelan di luar jendela rumah sakit, tetesannya membentuk garis-garis tipis di kaca yang buram oleh embun dingin. Di dalam ruang tunggu UGD RS Sardjito, udara terasa semakin menusuk, campuran antara hembusan AC yang terlalu kuat dan ketegangan yang menyelimuti setiap orang di sana seperti selimut basah.

Livia berdiri di dekat pintu ICU, tangannya masih memegang lengan Rangga dengan erat, seolah takut kalau melepaskan, semuanya akan runtuh lebih cepat. Rangga menatapnya dengan mata lelah, tapi ada kilau harapan kecil di sana. “Livia... terima kasih sudah datang. Aku... aku tidak tahu harus melakukan apa kalau kamu tidak ada di sini.”

Livia tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak datang karena aku baik hati, Rangga. Aku datang karena ini juga salahku. Aku yang membuat Papa stres malam ini. Aku yang membuatmu harus memilih antara ayahmu dan istrimu.”

Rangga menggeleng cepat. “Bukan begitu. Ini bukan salahmu. Papa sudah lama punya masalah jantung. Dokter bilang ini hanya pemicu. Stres dari pekerjaan, dari politik, dari... dari segala hal yang selama ini dia pendam.”

Di sudut ruangan, Mama Ratna masih duduk dengan tangan menutup wajah. Wanita yang biasanya tegas dan penuh kendali itu kini tampak rapuh, bahunya bergetar pelan. Livia meliriknya sekilas—ada rasa kasihan yang muncul, tapi juga kewaspadaan yang semakin tajam. Wanita itu adalah dalang di balik paspor yang dibekukan, di balik tekanan yang membuat Livia merasa seperti burung dalam sangkar emas. Dan sekarang, di tengah krisis ini, Livia mulai melihat celah: Mama Ratna mungkin tidak sekuat yang ia perlihatkan.

Tiba-tiba, pintu ICU terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah serius tapi tenang. Ia melepas masker, menatap Rangga dan Livia bergantian.

“Keluarga Tuan Adiwinata?”

Rangga maju selangkah. “Iya, Dok. Bagaimana kondisi Papa?”

Dokter mengangguk pelan. “Kondisinya stabil untuk saat ini. Serangan jantung ringan, ada penyumbatan kecil di arteri koroner. Kami sudah pasang stent sementara dan memberikan obat pengencer darah. Beliau masih dalam observasi 24 jam ke depan. Kalau tidak ada komplikasi, besok bisa dipindah ke kamar rawat biasa. Tapi beliau butuh istirahat total. Hindari stres sebisa mungkin.”

Rangga menghela napas lega, tapi wajahnya masih tegang. “Boleh kami lihat beliau?”

“Sebentar lagi, setelah perawat selesai cek vital. Satu orang dulu, jangan terlalu lama.”

Dokter berbalik masuk kembali. Ruangan kembali hening, hanya suara hujan yang semakin deras di luar.

Mama Ratna bangkit dari kursinya, suaranya gemetar. “Rangga... kamu masuk dulu. Mama mau ke masjid sebentar, berdoa.”

Rangga mengangguk. “Iya, Ma. Mama hati-hati.”

Mama Ratna berjalan pelan menuju pintu keluar, melewati Livia tanpa menoleh. Ada jeda dingin di antara mereka—seperti tembok tak terlihat yang semakin tinggi setiap hari. Namun, Livia melihat sesuatu yang baru: bahu Mama Ratna yang sedikit membungkuk, langkahnya yang goyah. Untuk pertama kalinya, Livia menyadari bahwa wanita itu juga sedang rapuh—dan kerapuhan itu bisa menjadi senjata, atau kelemahan.

Livia memandang Rangga. “Kamu masuk dulu. Aku tunggu di sini.”

Rangga menggenggam tangan Livia lebih erat. “Kamu ikut aku. Papa pasti senang melihatmu.”

Livia ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. Mereka berjalan bersama menuju pintu ICU. Di depan kaca observasi, Livia bisa melihat Papa Rangga terbaring di tempat tidur, selang oksigen di hidung, monitor bip-bip di sampingnya. Wajah pria tua itu tampak damai dalam tidur, tapi ada kerutan di dahi yang menunjukkan rasa sakit yang masih tersisa.

Rangga menekan tombol interkom. Perawat membukakan pintu. Mereka masuk pelan.

Papa Rangga membuka mata perlahan saat mendengar langkah. Matanya langsung tertuju pada Livia. “Livia... kamu datang.”

Livia mendekat, suaranya lembut. “Iya, Pa. Maaf kalau tadi malam... kalau aku membuat Pa stres.”

Papa Rangga menggeleng pelan, tangannya terulur mencari tangan Livia. “Bukan salahmu, Nak. Ini... ini sudah lama. Papa terlalu banyak memikirkan hal-hal yang seharusnya dilepas. Politik, citra, masa depan Rangga... Papa lupa bahwa anak-anak Papa punya hati dan mimpi sendiri.”

Rangga menunduk, matanya berkaca-kaca. “Pa... aku minta maaf. Aku tidak seharusnya melawan Papa tadi malam.”

Papa Rangga tersenyum tipis. “Justru Papa yang minta maaf, Ngga. Papa terlalu keras. Papa pikir semua harus sempurna. Tapi lihat sekarang... Papa malah di sini, dan kamu berdua yang harus menanggung beban.”

Livia memegang tangan mertuanya dengan lembut. “Pa... istirahat dulu. Kami di sini. Tidak ada yang perlu dipikirkan sekarang.”

Papa Rangga mengangguk lemah. “Livia... Papa tahu kamu anak yang kuat. Jangan biarkan siapa pun merampas mimpi kamu. Bulutangkis itu... itu hidup kamu. Jangan pernah menyerah.”

Air mata Livia akhirnya jatuh. “Terima kasih, Pa.”

Perawat masuk, mengingatkan waktu kunjungan habis. Mereka keluar dengan hati yang sedikit lebih ringan, tapi masih berat.

Di koridor, Rangga menarik Livia ke samping. “Livia... aku tahu kamu marah denganku. Soal Nadia tadi... dia datang sendiri. Aku tidak memanggilnya. Aku bilang kepadanya untuk pulang, tapi dia bilang mau menemaniku dan Mama. Aku tidak mau ribut di depan Papa.”

Livia menatapnya tajam. “Kamu tidak menolak dia memelukmu, Rangga. Kamu tidak mengusirnya. Kamu membiarkannya ada di sana, seperti dia punya hak.”

Rangga menunduk. “Aku salah. Aku panik. Aku tidak berpikir. Tapi aku janji, Livia... aku memilihmu. Aku akan melawan semua demi kamu. Termasuk Mama, termasuk masa laluku.”

Livia diam sejenak. Hujan di luar semakin deras, seperti mencuci segala kekacauan malam itu. Ia menatap Rangga lama, mencari kejujuran di matanya.

“Aku ingin mempercayaimu, Rangga. Tapi aku tidak mau lagi jadi pilihan kedua. Kalau kamu benar-benar memilihku, buktikan. Bantu aku ambil paspor kembali. Bantu aku balik ke pelatnas. Dan kalau Nadia muncul lagi... usir dia di depanku.”

Rangga mengangguk tegas. “Aku janji. Besok pagi aku ke kantor imigrasi sama pengacara. Aku tidak akan membiarkan ini terus berlarut.”

Livia menghela napas panjang. “Baiklah. Aku memberimu kesempatan terakhir.”

Mereka kembali ke ruang tunggu. Mama Ratna sudah kembali dari masjid, duduk dengan wajah yang lebih tenang. Ia menatap Livia dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara rasa bersalah dan kekhawatiran.

“Livia... terima kasih sudah datang.”

Livia mengangguk pelan. “Papa baik-baik saja, Ma. Kita semua harus kuat untuk beliau.”

Mama Ratna diam sejenak, lalu berkata pelan, “Mungkin... Mama terlalu keras sama kamu. Mama cuma ingin yang terbaik buat Rangga. Tapi mungkin... Mama salah cara.”

Livia terkejut. Ini pertama kalinya mertuanya bicara seperti itu. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil.

Malam semakin larut. Hujan masih deras. Rangga dan Livia duduk berdampingan di kursi ruang tunggu, tangan mereka saling bertaut. Tidak ada kata-kata lagi. Hanya keheningan yang penuh harapan rapuh.

Di luar, petir menyambar sekali, menerangi wajah mereka sejenak. Dan di pikiran Livia, satu pertanyaan muncul lagi: kalau besok Papa sadar, apakah semuanya akan berubah... atau justru konflik baru akan dimulai?

Karena di balik janji Rangga, di balik kata-kata Mama Ratna yang lembut, Livia tahu—Nadia belum pergi sepenuhnya. Dan wanita itu pasti punya rencana lain.

Nadia bukan sekadar “teman lama” yang kebetulan muncul. Dan Livia merasa, di balik senyum manis Nadia, ada niat yang jauh lebih gelap daripada sekadar nostalgia masa kecil.

1
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
ngerinyee
Hafidz Nellvers
gak bahaya ta😂
Tulisan_nic
Badas kali Thor, tenang yang mematikan🫣
Tulisan_nic
wih promotenya keren nih ke Livia, tapi aku beda...🤭
Mentariz
Dari sinopsisnya aja udah menarik banget, terus pas baca bab 1 langsung masuk konflik seru abisss, dibuat penasaran terus sama bab selanjutnya, sangat rekomen 👍👍
Panda%Sya🐼
So far, semuanya menarik. Buat yang suka romance gelap dan, with a deeper meaning behind it. Di sini jawapannya.
Panda%Sya🐼
Kadang ini selalu jadi masalah, kalau enggak ceweknya pasti cowoknya. So damn proud of you, Rangga/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Takutnya nanti ada yang nangis, kan susah itu/Facepalm/
j_ryuka
wah bahaya ini
Tulisan_nic
Thats true Rangga, stand applouse buat kamu
Tulisan_nic
Body spek jam pasir apa gitar spanyol nih Livia🤭
chas_chos
rangga sedikit posesif ya
chrisytells
Malah jadi Berita Utama lagi
chrisytells
Mantap sekali Livia, sanggahan anda👍
chrisytells
Wah... wah... wah... gawat nih Livia!
Nadinta
LIVIA sumpah ya... bikin gregetan/Facepalm/
Mentariz
Panassss, kok panas ya bacanyaa 🤣
Mentariz
Aakkhh pengen teriakkk, aku mau ranggaaa 😍
Mentariz
Adududu~~~ berbahaya niihh 🤣
Mentariz
Badaasss sekaleee 😁👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!