Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Surat Kaleng
Fajar menyingsing di atas atap Panti Asuhan Cahaya Sauh dengan warna kelabu yang menekan. Sisa-sisa embun yang biasanya membawa kesejukan kini terasa seperti uap dingin yang menusuk pori-pori. Arkananta berdiri di halaman belakang panti, membiarkan kaki telanjangnya bersentuhan langsung dengan tanah Terra yang basah dan kasar. Ia baru saja mematikan lampu sorot mobil yang semalam digunakan untuk memecah pengaruh gelap utusan Kyai Hitam di atas pohon jati.
"Tuan Muda, segera lakukan aktivasi alas kaki. Tanah ini terdeteksi masih menyimpan residu energi dari agresi semalam," ucap Bayu sembari mendekat, membawa sepasang sandal biru yang biasa digunakan para penghuni panti.
Arkan tidak menoleh. Rahangnya tetap mengunci, otot pipinya berkedut samar saat ia mengatur napas manualnya yang masih terasa berat. "Tanah Terra ini memiliki tingkat kejujuran yang lebih tinggi daripada marmer di Gedung Dewan Partai, Bayu. Saya memerlukan durasi lebih lama untuk melakukan kontak fisik. Luka pada buku jari saya membutuhkan suhu bumi untuk proses pendinginan."
"Namun Dewan Partai telah mengeksekusi surat sanksi resmi semalam. Kita berada dalam status isolasi. Jika Erlangga mendeteksi aktivitas konsolidasi di koordinat ini, mereka akan mengonstruksi narasi pertemuan rahasia sekte terlarang," Bayu menyerahkan sebuah map kulit yang isinya sudah ia ringkas.
"Biarkan mereka melakukan pelabelan. Subjek pengecut selalu memerlukan diksi untuk menutupi defisit keberanian mereka sendiri," Arkan akhirnya menerima sandal biru itu, memakainya dengan gerakan kaku yang menunjukkan martabatnya yang masih terluka. "Bagaimana laporan status di perimeter depan?"
"Mang Asep mendeteksi objek di bawah kotak surat kayu. Bukan item logistik, melainkan amplop tanpa identitas pengirim. Kurir melakukan desersi ke dalam kabut sebelum prosedur interogasi dilakukan," Bayu merendahkan suaranya, matanya melirik ke arah dapur di mana Nayara sedang membantu Ibu Fatimah.
Arkan mengambil amplop itu. Tekstur kertasnya terasa dingin dan kusam, memberikan sensasi gatal yang aneh pada telapak tangannya—sebuah residu energi hitam yang sangat tipis. "Cegah Nayara melakukan observasi pada objek ini. Dia telah mencapai batas saturasi akibat fitnah media kemarin."
Namun, di dalam dapur yang beraroma uap nasi dan kayu bakar, Nayara sudah berdiri mematung di dekat tungku. Penglihatan batinnya, yang mampu mendeteksi aura busuk serangan metafisika, mulai berdenyut di balik kelopak matanya. Ia merasakan getaran Shared Scar yang kuat; rasa sesak di paru-paru Arkan merambat ke dadanya sendiri.
"Ibu, apakah terdeteksi kehadiran subjek lain di halaman selain Arkan dan Bayu?" tanya Nayara pelan, tangannya yang memegang centong kayu tampak gemetar.
"Hanya mereka, Ara. Mengapa terjadi penurunan suhu pada wajahmu? Apakah dampak agresi semalam masih memicu disfungsi pusing?" Ibu Fatimah mendekat, mencoba menyentuh dahi Nayara.
Nayara menggeleng perlahan. Ia meletakkan centong kayu itu, jemarinya meraba butiran tasbih yang retakannya semakin terasa tajam. "Terjadi anomali pada atmosfer. Udara di koordinat ini mendadak membawa aroma abu... residu abu yang pahit."
Nayara melangkah keluar menuju pintu dapur. Ia melihat Arkan sedang membalikkan tubuh, mencoba menyembunyikan amplop kusam itu ke dalam saku kemejanya.
"Serahkan dokumen tersebut kepada saya, Arkan," ucap Nayara tegas. Ia berdiri di ambang pintu, cahaya fajar yang pucat menyinari wajahnya yang tampak rapuh namun memiliki ketegasan yang tak tegoyahkan.
Arkan terdiam, matanya mendingin menatap istrinya. "Ini adalah urusan administratif internal partai, Nayara. Kembali ke posisi semula dan bantu Ibu Fatimah dalam persiapan logistik sarapan."
"Jangan melakukan distorsi terhadap visi saya. Saya mendeteksi residu hitam yang menempel pada jari Anda saat menyentuh material kertas itu. Itu bukan dokumen administratif. Itu adalah toksin yang sengaja diinjeksikan ke rumah ini," Nayara maju selangkah, mengulurkan tangannya.
Dilema martabat menghantam Arkan. Ia ingin melindungi Nayara dari setiap serangan emosional, namun ia tahu bahwa oklusi informasi hanya akan memperlemah resonansi mereka. Dengan rahang yang masih terkunci, Arkan menyerahkan amplop itu.
Nayara merobek ujung amplopnya. Bau kemenyan dan kertas tua langsung menyeruak. Di dalamnya terdapat sebuah dokumen medis dengan stempel rumah sakit elit di Astinapura, tempat di mana keluarga besar Arkananta biasa melakukan pemeriksaan rahasia. Nayara membaca setiap barisnya dengan napas yang tertahan.
Laporan Diagnosa: Disfungsi Reproduksi Permanen. Subjek: Nayara.
"Data ini palsu..." bisik Nayara, suaranya hampir hilang ditelan angin pagi. "Saya tidak pernah melakukan prosedur pemeriksaan ini. Saya tidak memiliki riwayat kunjungan ke fasilitas medis tersebut."
"Tentu saja itu adalah fabrikasi, Nayara. Itu adalah strategi Third Option yang dipelintir oleh Erlangga. Target mereka adalah melikuidasi posisi Anda sebagai permaisuri dengan narasi infertilitas. Di ekosistem High Tower, seorang istri yang tidak menghasilkan pewaris adalah subjek yang sah untuk dieliminasi," Arkan mendekat, tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih.
"Mereka melakukan agresi terhadap integritas saya sebagai wanita, Arkan. Kemarin mereka melakukan pelabelan kutukan, sekarang mereka mencoba mencabut hak eksistensi saya sebagai ibu," Nayara meremas surat itu, matanya mulai berpendar abu-abu, memancarkan kesedihan yang sangat mendalam namun tertahan.
"Itulah justifikasi mengapa saya tidak menginginkan Anda memproses data ini. Tujuan mereka adalah memicu respons meratap dan memohon tes ulang agar mereka dapat melakukan manipulasi hasil kembali," Arkan mengambil kembali surat itu dari tangan Nayara yang dingin.
"Lalu apa protokol tindakan kita? Pasivitas hanya akan membiarkan fitnah ini menjadi kebenaran di mata Nyonya Besar," Nayara menatap suaminya dengan tatapan yang menuntut jawaban integritas.
"Kita akan mengeksekusi langkah yang di luar prediksi mereka," Arkan berjalan menuju tungku dapur yang masih menyala. Ia menjatuhkan surat kaleng itu ke dalam api. Lidah api segera melahap kertas kusam tersebut, menciptakan aroma abu yang pahit dan kelabu di udara. "Kita tidak akan melakukan prosedur klarifikasi. Kita biarkan mereka terjebak dalam delusi kemenangan di atas tumpukan dokumen fabrikasi mereka."
Abu yang Tak Berbekas
Abu dari surat tersebut terbang tertiup angin, menyangkut di dahan pohon melati panti yang mulai layu. Nayara berdiri tegak di depan tungku, memandangi api yang perlahan padam. Meskipun surat itu sudah musnah, kata-kata di dalamnya tetap terasa seperti jarum es yang menusuk rahimnya secara batin.
"Arkan, terdeteksi rasa pahit pada indra perasa saya. Seolah-olah saya sedang memproses residu abu tersebut," ucap Nayara tanpa menoleh.
Arkan merasakan denyut jantung Nayara yang melambat melalui Shared Scar. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang istrinya namun tidak menyentuhnya, menghormati martabat sunyi yang sedang dibangun Nayara. "Residu pahit itu adalah proyeksi dari niat destruktif mereka. Jangan biarkan ia mengendap dalam sirkulasi darah Anda."
"Nyonya Besar akan mengeksploitasi data ini untuk melakukan terminasi hubungan kita secara formal pada sidang etik tahap kedua. Anda menyadari konsekuensi tersebut?"
"Ibu dapat menghadirkan seribu tenaga medis palsu, namun fakta tersebut tidak akan mengubah integritas tulang besi saya; ia tidak dapat diakuisisi dengan janji pewaris baru," Arkan mengatur napasnya, mencoba menelan sisa sesak yang ia serap dari Nayara. "Bayu, siapkan unit kendaraan. Durasi kita di koordinat ini harus diakhiri."
"Tuan Muda, waktu kunjungan baru saja dimulai. Anak anak panti bahkan belum melakukan konsumsi logistik roti manis bersama Anda," sela Bayu yang berdiri di pintu dapur.
"Parameter keamanan panti ini telah mengalami kebocoran. Jika kurir mampu melakukan penetrasi hingga gerbang, maka Kyai Hitam dapat mengirimkan material yang lebih destruktif dari sekadar kertas," Arkan menoleh pada Ibu Fatimah. "Ibu, mohon maaf atas diskontinuitas ini. Kami harus melakukan mobilisasi Nayara kembali ke kota. Panti ini harus dipertahankan sebagai zona putih, steril dari bayangan hitam yang mengejar kami."
Ibu Fatimah mengunggut pelan, matanya berkaca-kaca saat menyerahkan bungkusan nasi untuk bekal mereka. "Pertahankan instrumen tasbihmu, Ara. Jangan lakukan diskoneksi. Jika frekuensi dunia terlalu bising dengan fitnah, kembalilah pada resonansi kayu ini. Di sana terdapat doa kami."
Nayara mengambil bungkusan itu, tangannya menyentuh tangan Ibu Fatimah yang hangat dan kasar—kontras dengan dinginnya dokumen medis palsu tadi. "Saya akan melakukan re-visit, Ibu. Saya akan kembali saat nama panti ini telah dibersihkan dari lumpur politik."
Lantai Marmer yang Menghakimi
Mobil hitam itu membelah kemacetan Astinapura dengan keheningan yang lebih dingin daripada sistem pendingin kabin. Arkananta terus menatap lurus ke depan, sementara tangannya mencengkeram erat pada pegangan pintu, membuat urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol. Melalui pantulan spion tengah, ia bisa melihat Nayara yang terus memutar butiran tasbihnya dengan ritme yang cepat.
"Arkan, frekuensi detak jantung Anda terlalu intens. Resonansinya mencapai ujung jemari saya," bisik Nayara tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
"Ini bukan sekadar detak jantung, Nayara. Ini adalah sinyal genderang perang yang sedang diinisiasi Erlangga dalam sistem saya," jawab Arkan, suaranya serak akibat napas manual. "Bayu, estimasi waktu hingga mencapai High Tower?"
"Sepuluh menit, Tuan Muda. Namun, terdapat intelijen baru. Subjek Kireina terdeteksi berada di lobi utama bersama tim medis komite etik. Indikasinya adalah mereka akan melakukan prosedur 'validasi' fisik secara paksa hari ini," lapor Bayu dengan nada cemas.
Nayara tersentak. Genggamannya pada tasbih mengencang hingga terdengar bunyi krek yang halus. "Validasi fisik? Mereka bermaksud melakukan degradasi martabat saya secara publik dengan membawa tenaga medis tersebut?"
Arkan menoleh, matanya mendingin hingga menyerupai baja. "Tidak ada satu pun tenaga medis yang diizinkan melakukan kontak fisik dengan Anda tanpa otoritas saya. Mereka berasumsi sanksi politik semalam telah melumpuhkan taring saya. Mereka lupa bahwa predator paling berbahaya adalah yang sedang dalam posisi terdesak."
Begitu mobil berhenti di depan High Tower, visual yang menyambut mereka adalah lautan lampu kilat kamera. Wartawan telah membentuk barisan tekanan. Di tengah lobi, Kireina berdiri dengan gaun merah mencolok, didampingi dua subjek berseragam medis yang membawa instrumen diagnostik.
"Selamat datang kembali, Arkananta. Dan... selamat datang, Nyonya dengan diagnosa malang," suara Kireina bergema di lobi megah itu.
Arkan turun lebih dulu tanpa jas, hanya kemeja putih dengan lengan tergulung. Ia melangkah maju, memposisikan tubuhnya sebagai perisai bagi Nayara.
"Kireina, lakukan desersi dari posisi Anda sebelum saya mengategorikan kehadiran Anda sebagai tindakan sabotase keamanan Empire Group," ucap Arkan, suaranya rendah namun mengandung getaran Void Energy.
"Sabotase? Kami di sini atas instruksi Nyonya Besar untuk melakukan verifikasi integritas garis keturunan. Jika istri Anda memiliki status suci dan tidak memiliki anomali seperti dokumen semalam, mengapa harus menolak prosedur pemeriksaan sederhana?" Kireina tersenyum tipis.
Nayara maju, keluar dari zona perlindungan Arkan. Ia menatap langsung ke mata Kireina. "Martabat seorang wanita tidak ditentukan oleh instrumen medis sewaan Anda, Kireina. Saya memiliki saksi dengan kredibilitas yang melampaui dokumen fabrikasi Anda."
"Saksi? Siapa? Anak - anak yatim di panti asuhan itu? Suara mereka tidak memiliki nilai tukar di gedung ini!" ejek Kireina.
"Saksi tersebut adalah kebenaran yang mulai mengalami oklusi dalam ingatan Anda karena terlalu sering memproses kebohongan," sahut Nayara. Ia merasakan tangan Arkan menyentuh bahunya, menyalurkan energi panas.
Dilema di Balik Pintu Tertutup
Arkan memimpin Nayara melewati kerumunan itu dengan langkah komandan. Begitu berada di dalam lift pribadi, Arkan bersandar pada dinding kaca, rahangnya terkunci rapat hingga setetes keringat darah muncul di pelipisnya—tanda Iron Bone Marrow dipaksa melampaui batas.
"Arkan, frekuensi napas Anda... lakukan stabilisasi resonansi," bisik Nayara cemas sembari menyeka pelipis suaminya.
"Saya dalam status stabil... selama mereka tidak melakukan kontak fisik dengan Anda," Arkan mengatur napas pendeknya. "Nayara, di atas sana, Ibu telah menyiapkan posisi. Dia akan mengeksploitasi surat kaleng itu sebagai instrumen final. Instruksi saya: tetap dalam mode diam. Jangan melakukan pembelaan diri. Biarkan saya yang memproses seluruh residu lumpur ini."
"Namun jika saya pasif, mereka akan melakukan validasi bahwa diagnosa itu akurat! Mereka akan melabeli saya cacat di depan dewan keluarga!"
"Biarkan mereka melakukan pelabelan apa pun. Dalam strategi Third Option, kita memerlukan mereka merasa menang secara prematur. Semakin tinggi eskalasi kesombongan mereka hari ini, semakin destruktif kehancuran mereka saat kita memaparkan bukti autentik nanti," Arkan memegang kedua pundak Nayara. "Percayalah pada saya. Martabat Anda tidak terlikuidasi hanya karena fitnah infertilitas. Ia sedang saya preservasi di dalam tulang besi saya."
Pintu lift terbuka. Nyonya Besar telah menunggu di ruang kerja utama yang berdinding kaca. Di atas mejanya, selembar surat kaleng fabrikasi itu tergeletak dengan angkuh.
"Jadi, Anda membawa kembali beban malfungsi ini ke rumah saya, Arkananta?" suara Nyonya Besar terdengar seperti gesekan logam kaku.
"Rumah ini tidak pernah memiliki status kepemilikan atas martabatnya, Ibu. Namun integritas saya melekat di mana pun istri saya berpijak," jawab Arkan sembari melangkah masuk tanpa rasa takut.
"Cukup dengan retorika panti asuhan Anda! Tenaga medis telah melakukan konfirmasi atas otentisitas diagnosa tersebut. Subjek ini tidak mampu memberikan pewaris. Dia adalah terminasi bagi garis keturunan Empire Group jika Anda tetap mempertahankannya," Nyonya Besar berbalik, matanya menyipit penuh kebencian.
Nayara merasakan ulu hatinya mengalami tekanan akibat verbal tersebut. Ia menggenggam tasbih kayunya hingga telapak tangannya nyeri. Ia melihat Arkan berdiri tegak di tengah ruangan.
"Jika Empire Group harus mengalami kolaps karena saya memilih konsistensi terhadap satu wanita, maka biarkan kehancuran itu terjadi hari ini," ucap Arkananta dengan nada tenang namun mematikan. "Karena struktur gedung ini dapat direkonstruksi, namun martabat yang dikhianati akan terkubur secara permanen."
Nyonya Besar terpaku. Di sudut ruangan, jarum jam besar melambat—simbol waktu yang menahan napas. Nayara berdiri di samping suaminya, menyadari bahwa mulai detik ini, mereka tidak lagi dalam mode bertahan, melainkan sedang menginisiasi penghancuran labirin dingin ini demi kebenaran murni.