NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Jeritan Satria membuat Romeo dan semua orang menoleh bersamaan. Serena sudah terkulai di lantai, kehilangan kesadaran, meski sebelumnya Satria sempat mencoba menenangkan gadis itu.

Fokus Romeo terbelah dua, di satu sisi Alya memerlukan kehadirannya, di sisi lain darah dagingnya sendiri tak kalah membutuhkan perhatiannya.

“Serena kenapa?” Romeo wajahnya tegang oleh panik.

“Keadaannya nggak baik, Rom. Rasa takut itu bikin dia pingsan mendadak. Gue khawatir ini bakal jadi luka psikologis.” ucap Satria serius.

Romeo terjebak dalam kebingungan. Alya masih berada dalam dekapannya, sementara di sisi lain Satria membutuhkan bantuannya untuk mengurus Serena.

“Mas, Serena lebih butuh kamu sekarang.” ucap Alya lirih. “Jangan khawatirkan aku.”

“Bagaimana bisa bilang tidak khawatir, sementara darahmu terus keluar?” nada suaranya rendah, penuh kekhawatiran.

“Serena lebih butuh kamu sekarang. Aku masih bisa bertahan, ada Arjuna yang bisa mengantarku nanti mas.” katanya memaksa tersenyum meski napasnya mulai tak teratur.

Melihat Serena terkulai tanpa kesadaran, kekhawatiran jelas terpancar di wajah Alya.

“Alya benar. Biar gue yang tangani dia dan nyusul nanti. Sekarang juga, bawa Serena ke rumah sakit, Rom. Jangan buang waktu.”

Mau tak mau, Romeo menuruti permintaan istri dan sahabatnya. Dengan gerakan hati-hati, ia merebahkan Alya di atas sofa, menyelipkan sebuah bantal di bawah kepala perempuan itu. Setelah memastikan Alya cukup aman, Romeo segera berbalik, menggendong Serena dan bergegas turun menuju rumah sakit. Di belakangnya, Satria melakukan hal yang sama pada Selina. Tangisan bocah itu tak kunjung reda, apalagi melihat kembarannya terbaring tak sadarkan diri. Rasa takut mencengkeram hati Selina, bayangan buruk terus menghantuinya, ia tak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk benar-benar menimpa saudara kembarnya.

Romeo melajukan mobilnya tanpa peduli batas kecepatan. Jantungnya berdegup kencang, bayangan buruk tentang putrinya terus menghantui pikiran. Semua ini terjadi karena Dinda, perempuan yang seharusnya menjadi pelindung, justru berubah menjadi sumber petaka. Amarah dan kecewa bercampur menjadi satu, membuat Romeo sadar bahwa memaafkan Dinda bukanlah sesuatu yang bisa ia lakukan, entah sekarang atau di masa depan. Luka itu terlalu dalam, bukan hanya menggores hatinya, tetapi juga meninggalkan trauma yang kejam pada kedua anak nya, trauma yang justru ditanamkan oleh nenek mereka sendiri.

“Rom, cepat! Selina sesak!” Satria panik.

Romeo sama kalutnya. Kakinya menginjak pedal gas lebih dalam, membelah jalanan tanpa peduli batas kecepatan. Di benak Satria hanya tersisa satu doa, semoga mereka tidak kembali dibuntuti polisi, seperti kejadian mencekam yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Setibanya di IGD rumah sakit, Romeo nyaris berteriak memanggil tenaga medis. Wajahnya pucat, kepanikan tak lagi bisa ia sembunyikan. Napas Selina tampak tersengal di pelukannya, dadanya naik turun tak beraturan. Untuk pertama kalinya, Romeo menyaksikan putrinya berada dalam kondisi selemah ini, dan rasa takut itu menghantamnya jauh lebih keras dari apa pun yang pernah ia rasakan.

“Rom, tenang dulu,” ujar Satria sambil menahan bahu sahabatnya. “Jangan panik. Tante Dinda sekarang ada di kantor polisi. Edgar barusan kirim pesan dan....”

"Dan apa?"

“Sejak rekaman CCTV itu gue sebarkan, wartawan langsung menyerbu kantor.” kata Satria, rahangnya mengeras.

“Sat, tolong urus yang itu dulu. Gue bener-bener minta maaf.” suara Romeo terdengar berat. “Saat ini gue nggak sanggup ninggalin anak-anak, nanti gue yang hadapi mereka, bahkan kalau harus gelar konferensi pers sekalipun.”

“Oke,gue cabut dulu ya. Urusan di rumah lo belum kelar, apalagi polisi sekarang sudah ada di sana.”

“Terima kasih, Sat.”

Tanpa menunda waktu, Satria langsung menuju rumah Romeo untuk mengurus semua kekacauan yang terjadi.

**********

Sementara itu, Alya yang telah mendapatkan penanganan darurat dari Arjuna segera menyusul Romeo ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, luka jahitan di kepala nya harus ditangani ulang dengan benar, mengingat sebelumnya Arjuna hanya berfokus menghentikan pendarahan agar kondisinya tidak semakin memburuk.

Keadaan di dalam mobil terasa sunyi. Alya memandang lurus ke depan, menelusuri jalanan dengan hati yang nyeri tak terucap. Sejak menikah, ujian datang silih berganti, membuat pundaknya serasa menanggung beban yang kian berat. Ada saatnya ia merasa hampir menyerah, namun kesadaran itu kembali menegakkannya, di luar sana, masih banyak orang yang harus menelan luka yang bahkan lebih perih dari yang ia rasakan.

Arjuna memilih berkonsentrasi penuh pada jalanan di depannya. Ia mengemudi dengan tenang, tak memacu mobilnya seperti yang dilakukan Romeo sebelumnya, karena situasi kali ini tidak menuntut kepanikan atau kecepatan berlebihan.

Setelah tiba di rumah sakit, Alya segera didorong menggunakan kursi roda. Beruntung, tempat itu adalah rumah sakit tempat Arjuna bekerja, sehingga ia tak kesulitan memanfaatkan fasilitas

dan peralatan medis yang tersedia.

“Mas… Mas Romeo…” suara Alya bergetar, pecah bersama isak yang tak lagi mampu ia tahan. Air mata mengalir begitu saja, menumpahkan segala cemas dan ketakutan yang sejak tadi dipendamnya.

Alya diliputi rasa cemas yang mencekik. Bayangan kemungkinan terburuk terus menghantui pikirannya, ia takut sesuatu yang tak diinginkan akan menimpa Serena dan Selina.

Romeo yang tenggelam dalam kekalutan, dengan mata terpejam berusaha menenangkan diri, mendadak menoleh. Pandangannya membeku saat melihat Alya duduk di kursi roda, didorong Arjuna. Tanpa ragu, Romeo melangkah cepat, merengkuh Alya dalam pelukan yang begitu erat. Tanpa ia sadari, air matanya luruh, isak tertahan pecah, dan bibirnya berulang kali menyentuh setiap inci wajah Alya, seolah memastikan perempuan itu benar-benar ada dalam dekapannya.

“Romeo benar-benar keterlaluan. Keberadaanku di sini rasanya cuma pajangan.” gerutu Arjuna dalam hati.

“Aku minta maaf… maafin aku, ya.” ujar Romeo dengan suara bergetar.

Keluarga kecilnya hancur oleh ulah ibu nya sendiri, dan kekecewaan Romeo tak lagi bisa disembunyikan.

“Sudah, Mas… jangan terus menyalahkan diri sendiri.” ucap Alya lembut. “Ini bukan salahmu. Semua sudah terlanjur terjadi, dan mungkin memang harus berjalan seperti ini. Takdir punya jalannya sendiri.”

Alya menyadari betul bahwa semua ini terasa begitu berat bagi mereka. Namun, suka atau tidak, kenyataan tetap harus dihadapi. Tak ada pilihan untuk lari, selain menjalani semuanya dengan hati yang perlahan dipaksa kuat.

“Mas… bagaimana keadaan anak-anak?” suara Alya bergetar. “Aku ingin bertemu mereka sekarang.” “Anak-anak masih ditangani tim medis. Kita tunggu sebentar, ya,” ujar Romeo menenangkan. “Sekarang ikut aku dulu, bekas jahitanmu harus diperiksa dokter.”

“Romeo benar, Alya.” ujar Arjuna menyela dengan suara tegas namun tenang. “Luka jahitanmu harus dicek ulang. Gue nggak mau nanti malah jadi infeksi.”

“Mas, tapi aku ingin tetap di sini.” isak Alya lirih.

“Aku mau lihat anak-anak… mereka tadi melindungiku, Mas.”

“Tenang, sayang.” suara Romeo merendah, berusaha menenangkan. “Anak-anak sudah dipegang dokter terbaik. Sekarang giliran kamu yang harus diperiksa. Jahitanmu bermasalah, ini nggak bisa dianggap sepele.” Romeo mengusap wajah Alya perlahan, matanya penuh rasa bersalah. “Aku nggak akan sanggup memaafkan diri sendiri kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu nanti.”

Alya hanya bisa menunduk, pasrah pada kata-kata suaminya. Rasa sakit di jahitan dan pusing di kepalanya membuatnya tak berdaya untuk menolak.

"Lo urus anak-anak aja, gue yang bakal antar Alya. Makasih ya, bro." Romeo menepuk pundak Arjuna dua kali, menunjukkan rasa terima kasihnya.

Sulit dibayangkan bagaimana hidupnya tanpa sosok-sosok seperti Arjuna, Satria, dan Edgar yang selalu ada di sisinya."

"Jangan khawatir, Lo urus istri Lo sekarang. Anak-anak serahkan ke gue, Lo tetap fokus dan kuat, Rom. Percaya deh, semua ini pasti ada hikmahnya balas Arjuna.

Sejak lama, Arjuna tahu bahwa Romeo menanggung derita sendiri, tanpa ibu yang seharusnya menjadi tempatnya bersandar.

“Terima kasih, ya.”

Romeo segera membawa Alya menuju dokter yang menangani luka istrinya kemarin. Sepanjang koridor rumah sakit, Alya tetap diam, tak menyadari air mata yang menetes di wajah Romeo. Baru saja mereka membangun bahtera rumah tangga yang utuh, kini harus diterpa badai yang datang dari orang-orang terdekatnya sendiri. Apa ibunya tak cukup puas telah menghancurkan masa depannya dulu, hingga kini kembali mencoba meruntuhkan kebahagiaan mereka.

"Mas, bagaimana kondisi Mama sekarang?" tanya Alya dengan suara lirih, bagaimanapun, Dinda tetaplah mertuanya, ibu dari suaminya.

Romeo terdiam sejenak, berusaha menahan kata-kata. Dia takut Alya menyadari air matanya.

“Jangan pusingkan hal yang belum sudah terjadi, sayang. Biarkan semuanya berjalan, sekarang yang penting adalah kesembuhanmu dan anak-anak. Untuk saat ini, fokusku cuma itu, dan aku akan lebih fokus pada kalian ke depannya.” ucap Romeo dengan nada tenang, sambil menggenggam tangan Alya.

Alya tahu, suaminya pasti sedang bersedih dan menangis. Dia ingin bertanya lagi, tapi untuk saat ini, Alya menahan diri. Luka yang ditorehkan Dinda pasti sangat dalam bagi Romeo. Alya juga bisa merasakan, sepertinya suaminya baru saja menangis, meski dia berusaha menetralkan suaranya. Tapi Alya tahu, di balik ketenangan itu, Romeo baru saja meneteskan air mata.

"Baik… terima kasih, Mas."

Mereka segera memasuki ruang dokter, dan benar saja, bekas jahitan Alya sedikit terbuka di bagian atas. Karena itu, jahitan tersebut harus diperbaiki kembali. Romeo justru meneteskan air mata, seperti anak kecil, tak sanggup melihat istrinya harus melalui proses itu lagi. Sementara Alya tampak lebih tenang, mengetahui ia akan dibius sehingga tidak merasakan sakit.

"Apakah tidak ada cara lain? Kenapa harus dijahit lagi?" protesnya, suaranya bergetar karena tak bisa menerima keputusan itu.

“Maaf, Tuan Romeo, tapi ini tidak bisa dibiarkan.” tegas Dokter Bagas, nada suaranya penuh kekhawatiran. “Jika dibiarkan, akibatnya bisa fatal. Tenang saja, Nyonya Alya hanya akan dibius sedikit. Bekas jahitan pertama masih mengeluarkan darah, dan ini sangat berbahaya.”

"Ya… sudahlah." Romeo menghela napas, pasrah menerima keadaan. Lagipula, semua ini dilakukannya demi keselamatan sang istri.

Alya segera dibawa untuk observasi, memastikan setiap luka dan bekas jahitannya ditangani dengan tepat. Romeo tetap setia di sisinya, menggenggam tangan istrinya erat. Sesekali ia menunduk, mencium jemari Alya, kemudian wajahnya, seolah tak bisa lepas dari kehangatan itu. Dokter Bagas, yang menyaksikan pemandangan itu dari jauh, hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Dalam hati, ia menilai Romeo memang bucin parah terhadap istrinya.

**********

Kembali pada si kembar, Selina merasakan dadanya sesak akibat menangis terlalu lama. Napasnya tersengal-sengal, seolah tak mampu dikendalikan. Mungkin ini akibat kepanikan dan ketakutan yang terus menghantui, membuatnya merasakan tekanan seperti itu, meski bukan sesuatu yang terlalu membahayakan secara serius.

Selina kini tertidur pulas setelah mendapatkan tambahan oksigen. Sementara itu, Serena, si kecil yang paling sensitif, tengah berjuang menghadapi trauma mendalam. Anak itu mengalami post-traumatic stress disorder, yang membuatnya terus terbayang-bayang oleh kejadian berbahaya yang dialaminya.

Serena perlahan membuka mata, namun kini ia justru lebih banyak menunduk dan diam. Saat dokter atau Arjuna memanggilnya, ia tak menjawab sedikit pun. Matanya menatap lurus ke depan, seakan kosong tanpa arah. Tangan mungilnya mengepal erat, menandakan ada gejolak emosi yang ingin dilepaskan, tapi Serena memilih tetap terdiam, menahan semua yang bergelora di dalam dirinya.

Ini bukanlah situasi yang bisa dianggap remeh. Arjuna segera menghubungi Romeo, memintanya untuk datang ke ruang Serena. Untungnya, Romeo langsung menanggapinya. Sementara itu, Alya tengah menjalani proses penjahitan ulang, jadi kepergian Romeo tidak menjadi masalah baginya. Baginya, anak-anak tetaplah prioritas utama.

"Rom, coba ajak Serena bicara baik-baik. Gue sudah coba, tapi dia nggak mau lihat gue. Bahkan, panggilan gue pun dia abaikan." ucap Arjuna segera setelah berdiri di depan Romeo.

Romeo segera melangkah ke arah Serena, putrinya yang cantik. Namun, ia terhenti melihat perubahan pada gadis kecil itu, mata Serena kini gelap dan tatapannya kosong. Hati Romeo terasa perih menyaksikan kondisi putrinya seperti ini.

"Serena… sayangku." bisik Romeo lembut, menatap mata kecilnya.

Namun, anak sulungnya tetap menahan diri, tatapannya tajam dan tak berkedip sedikit pun.

Romeo menahan sebisa mungkin air matanya. Tidak, dia tak boleh menunjukkan kelemahan itu. Bagaimana mungkin dia mengembalikan senyum Serena jika dirinya sendiri tak mampu berdiri tegak menghadapi perasaannya.

"Sayang… Serena… tatap mata papa sebentar, ya." suara Romeo serak, menahan haru.

Dengan perlahan, Romeo menggeser posisi tubuhnya, menatap Serena seolah ingin dia merespons tatapannya.

"Serena, lagi mikirin apa, sayang?" tanya Romeo lembut.

Rasa sakit itu begitu menusuk saat matanya menatap keadaan anaknya sekarang. Arjuna, bersama dokter dan perawat yang lain, tak bisa menahan diri merasakan duka yang sama.

“Serena pengin coklat, ya?” Romeo menggoda dengan senyum tipis.

Saat mendengar kata ‘coklat’, mata Serena memerah dan napasnya tersengal-sengal. Romeo terperangah. Pertanyaannya terdengar biasa saja, tapi mengapa Serena tampak begitu marah.

"Kalau mau coklat, Papa bisa belikan sekarang." ucap Romeo dengan nada penuh kasih.

"Nggak mau! Serena nggak mau coklat! Serena benci nenek… nenek jahat! Serena benci!" teriak Serena sambil menjerit histeris.

Tangan Serena menghantam kepalanya sendiri, membuat Romeo panik berusaha menahan putrinya. Kaki kecilnya menendang-nendang tanpa henti, memaksa Arjuna dan beberapa perawat segera turun tangan.

"Tenang, nak… ini Papa. Papa di sini, bukan nenek. Sayang, lihat Papa." ucap Romeo sambil menahan gemetar tangannya.

"Serena nggak mau! Pergi, nenek jahat! Jangan ganggu ibu Serena… ibu… tolong!" jeritnya, tubuhnya gemetar tak terkendali.

Keadaan di ruangan benar-benar kacau. Serena meledak amarahnya. Meski usianya masih belia, kekuatan yang dimilikinya luar biasa, sampai membuat empat orang dewasa kewalahan mencoba menenangkannya.

Tak ada pilihan lain. Dokter akhirnya memberi Serena obat penenang. Perlahan, gadis kecil itu yang sebelumnya meronta-ronta mulai lemas, matanya sayu dan hampir terpejam. Namun, dari bibir mungilnya, terdengar ia berulang kali memanggil “ibu” dengan suara yang tersisa.

Serena akhirnya terlelap. Semua orang di ruangan itu terengah, kelelahan menghadapi satu anak kecil yang menguras tenaga dan emosi. Romeo terpukul bukan main, ia nyaris tak mampu mencerna kenyataan pahit ini. Jiwa Serena benar-benar terluka oleh perbuatan neneknya sendiri.

“Tuan Romeo, ibu anak ini ada di mana? Saya menyarankan beliau berada di sisi Serena. Biasanya, anak akan merasa jauh lebih aman ketika ibunya ada di dekatnya.” Dokter Candra menatap Romeo penuh pengertian.

“Ibunya masih di ruangan sebelah. Kepalanya kembali dijahit karena pendarahan.” Bukan Romeo yang membuka suara, melainkan Arjuna.

“Nanti akan saya koordinasikan dengan Dokter Bagas agar ditempatkan di ruangan yang sama.” ujar Dokter Candra dengan suara tenang. Ia lalu menatap Romeo lebih dalam, seolah menimbang beban di pundak pria itu. “Dan Tuan Romeo… sepertinya kita juga perlu melibatkan dokter psikolog untuk menangani kondisi putri Anda. Trauma yang ia alami tidak boleh dianggap sepele. Jika dibiarkan terlalu lama tanpa penanganan yang tepat, luka itu bisa ia bawa hingga dewasa nanti.” jelasnya dengan nada penuh iba.

“Apa pun yang diperlukan, lakukanlah, Dokter.” kata Romeo nyaris berbisik. “Selama anak saya bisa selamat dan kembali baik-baik saja. Saya… saya tidak sanggup menatapnya dalam keadaan seperti ini.” Rahangnya mengeras menahan emosi. “Dia terlalu kecil untuk menanggung penderitaan sebesar itu.”

Dokter Candra memahami betul beban yang kini dipikul Romeo. Tak ada banyak hal yang bisa ia lakukan selain memberi dukungan dan menanamkan harapan agar pria itu tetap bertahan menghadapi kenyataan pahit ini.

“Baik.” ucap Dokter Candra setelah menarik napas panjang. “Saya akan segera mengatur jadwal konsultasi dengan dokter psikolog. Dokter Dirga yang akan menangani Serena, beliau cukup berpengalaman dalam kasus trauma anak.” Pandangannya tertuju pada Romeo, serius dan penuh kehati-hatian. “Untuk sementara waktu, saya mohon jangan membahas apa pun yang berkaitan dengan kejadian itu. Sekecil apa pun pemicunya, bisa membuat kondisi mental Serena kembali terguncang. Kita harus memberinya rasa aman terlebih dahulu.”

“Aku hanya bertanya apakah dia ingin cokelat.” ujar Romeo dengan raut kebingungan. “Biasanya dia sangat menyukai makanan itu. Tapi entah kenapa, baru aku sebutkan saja, dia langsung menjerit histeris seperti tadi.”

Arjuna dan dokter Candra saling bertukar pandang. Keduanya yakin, ada sesuatu yang tersembunyi di balik cokelat itu, sesuatu yang menjadi pemicu hingga Serena bereaksi sekeras ini.

“Rom, nanti kita coba tanya penjelasan dari Selina. Mudah-mudahan kondisinya stabil dan tidak sampai meledak seperti Serena tadi.” ucap Arjuna dengan nada khawatir.

“Benar.” ucapnya pelan namun tegas, “untuk saat ini, hanya Selina yang memegang harapan itu. Tak ada jalan lain selain mempercayainya sepenuhnya.”

Dua jam berselang, Selina akhirnya bangun dari tidurnya. Dugaan Arjuna terbukti, kondisinya jauh lebih tenang sekarang. Begitu kelopak matanya terbuka, pertanyaan pertama yang meluncur dari bibirnya adalah tentang Alya. Arjuna segera menenangkannya, menjelaskan bahwa Alya tengah mendapat penanganan dokter dan berada dalam kondisi yang diawasi dengan baik.

“Selina,” suara Romeo terdengar pelan, penuh kekhawatiran. “Masih terasa nyeri di dada? Katakan pada Papa kalau sakitnya belum berkurang, ya, Nak.”

Selina menggeleng pelan. Pandangannya bergeser ke samping, menatap sosok kembarannya yang terbaring tenang dalam lelap, napasnya teratur seolah tak tersentuh hiruk-pikuk yang barusan terjadi.

“Serena masih tidur, Pa?” tanyanya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh sunyi.

“Iya, Serena kelelahan,” ucap Romeo pelan sambil mengusap rambut anaknya. Pandangannya lalu beralih pada Selina, ada keraguan yang jelas di matanya. “Selina… papa boleh menanyakan sesuatu?” Romeo menarik napas dalam-dalam. Hatinya tidak sepenuhnya siap, tetapi ia tahu, menghindari pertanyaan ini bukan lagi sebuah pilihan.

“Boleh, Pa…” jawabnya nyaris tak terdengar.

“Selina mau cokelat?” tanya Romeo hati-hati. Tatapannya sekilas mengarah pada Arjuna, seolah meminta kesiapan. Ada kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan, ia takut reaksi Selina akan sama seperti Serena sebelumnya.

Selina terdiam. Bola matanya berkaca-kaca, menahan sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan. Perlahan, kepalanya menggeleng, seakan cokelat bukan lagi hal yang mampu menghiburnya.

“Kenapa begitu?” tanya Romeo pelan. Raut wajahnya dipenuhi tanda tanya, ia tak mengerti, sejak kapan anaknya yang dulu begitu menyukai cokelat kini justru menolaknya.

“Karena nenek itu jahat, Pa…” suara Selina bergetar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Nenek bilang kami bakal dikasih cokelat kalau mau ikut dia. Katanya cuma sebentar…” Isaknya pecah. Selina menarik napas tersengal sebelum melanjutkan, “Tapi di mobil… nenek bilang akan mengikat kami. Terus… terus nenek berubah jahat, Pa.” Bahunya terguncang hebat. “Nenek menyakiti ibu…”

“Apa?” suara Romeo nyaris tak keluar. Wajahnya memucat, jelas ia tak menyangka kebenaran itu akan terucap dari bibir Selina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!