Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Hanya ada dua pilihan
Serah melihat kedatangan rombongan itu kembali dari arah luar jendela ruangan kamarnya. Saat itu Serah tau, kalau Louis pasti akan segera menemuinya.
"Dia pasti akan memintaku untuk hadir di pertemuan besok," ujarnya sudah bisa menebak duluan niat dari pria itu.
Dugaan Serah itu benar, tak butuh menunggu waktu lama, pria itu benar-benar datang ke ruangan kamarnya.
"Yang mulia," ucap Cristine bersamaan dengan Serah.
"Putri Serah, berdirilah," ucapnya yang terlihat sedang gembira. Suasana hatinya tampak sedang baik.
"Apa yang membuat anda gembira, Yang mulia?" Ucap Serah seolah-olah ia sedang tidak tahu apa-apa.
"Ah, tidak ada, aku hanya merasa hari ini berjalan dengan begitu baik," balasnya dengan senyum sambil menghela napas lega. "Ngomong-ngomong, tadi pagi kenapa anda tidak ada di kamar?" Tanyanya sambil menggenggam kedua-tangan sang putri, namun tatapannya mengandung kecurigaan, apakah wanita ini memang sedang sengaja untuk menghindarinya?
Setelah ajakan sarapan paginya ditolak, lalu pagi ini pun ia tak ada di tempatnya. Hal ini sungguh sangat berbeda dari sikap Serah dua bulan lalu yang selalu antusias untuk makan bersama, bahkan ketika Louis tidak mood, Serah akan tetap agak memaksa agar kebersamaan mereka bisa semakin terasa.
"Yang mulia mencari saya? Tak biasanya anda melakukan itu?" Balas Serah sedikit memiringkan kepala yang membuat Louis merasa canggung. Meski sikapnya tampak tenang dan polos, tapi jelas, kata-kata itu seperti sindiran halus baginya. Karena Louis selama ini tidak pernah mencari Serah. Wanita itu lah yang selalu lebih dulu mendatanginya, dan berusaha agar hubungan pertunangan mereka berjalan baik meski dibalut politik.
"Ehem...." Louis berdeham, lalu melepaskan genggaman tangan dari Serah. Tatapannya sedikit teralih, melirik ke arah sisi jendela sekilas. "Putri Serah, jangan bicara seperti itu..., aku hanya terlalu sibuk belakangan ini, wajar 'kan kalau seorang Raja mencari Ratunya?" Louis beralasan agar ia tak terkesan seperti pria dingin. Cristine yang menangkap sikap kikuk sang Raja langsung menunduk.
"Calon Ratu, Tuanku," balas Serah dengan cepat meralat ucapan Louis barusan.
"Ya, calon Ratu dan segera akan menjadi Ratu," ujar Louis tersenyum lebar. Sambil meremas kedua lengan Serah dengan lembut.
Serah tersenyum tipis. Dia tahu Louis bersandiwara. Hah, dan setelah itu kau akan merencanakan kejatuhan ku, entah disingkirkan, atau terbunuh dalam skenario..., ujarnya dalam hati.
"Lalu, Yang mulia ada keperluan apa mencari saya pagi-pagi?"
"Ah, sebenarnya aku ingin memperkenalkan mu sebagai calon Ratu Mathilda kepada tamu delegasi yang datang hari ini." Pria itu kemudian berjalan memutari Serah. "Aku ingin membawamu besok untuk menemui mereka, kau mau 'kan?" Ucapnya dengan nada membujuk sambil merangkul kedua bahu Serah dan menarik pelan tubuh sang putri ke dalam dekapannya.
"Tentu saja yang mulai," balas Serah dengan cepat dan langsung memisahkan diri dari dekapan Louis karena merasa tak nyaman, "tapi saya ada satu permintaan," imbuhnya kemudian.
"Oh? Kira-kira apa yang diingkan oleh Putri Serah, hm?" Balas Louis dengan nada yang sedikit menggoda. Ia kembali meraih sebelah tangan Serah dan menggenggamnya erat.
"Apa anda bisa mengijinkan Tuan Comwell mengajari ku berlatih pedang?" Ya, tampaknya Serah benar-benar berminat untuk menguasai cara menggunakan senjata tajam itu.
Louis terdiam sejenak setelah mendengar permintaan dari Serah. Dia tak menduga permintaannya adalah ingin belajar berpedang? Pria itu sedikit menyeringai. Ada rasa remeh yang muncul dalam benaknya. Perempuan? Ingin menguasai caranya menggunakan senjata itu? Dia yakin serah tak akan pernah bisa menggunakannya sekalipun ia belajar selama bertahun-tahun. Diam-diam ia tertawa dalam hati.
"Tentu saja," ujarnya dengan penuh keyakinan, "aku akan segera menurunkan ijin kepada Tuan Comwell setelah acara pertemuan besok," sambungnya yang kemudian Louis mengangkat tangan kanan serah tinggi-tinggi dan memberikan punggung tangan itu ciuman hangat.
"Terimakasih, Yang mulia." Serah membungkuk hormat dengan Louis yang masih lekat menatapnya.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Putri," ujar Louis dengan hati yang puas. Pria itu pun berjalan meninggalkan ruangan kamar sambil menyeringai lebar di belakang Serah. Dasar wanita bodoh, memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan pedang? Ucapnya dengan angkuh di dalam hati.
"Lady Cristine, aku minta kamarku untuk segera dibersihkan karena aku mau istirahat lebih cepat hari ini," ujar Serah yang membalikkan badan ke belakang menatap Cristine yang masih berdiri dengan kepala menunduk seperti patung.
"Baik Yang mulia, segera akan dirapikan." Cristine membungkuk lalu undur diri untuk memanggil gadis-gadis itu merapikan kamar Serah.
"Louis, aku akan membuatmu menyesal karena telah membiarkanku memegang pedang," ucap Serah dengan kilatan tekad dalam hatinya.
Saat ini Serah tengah berdiri di atas papan catur permainan sambil memegang pedang dengan baju zirah besi, bersiap untuk menghadapi Louis yang masih belum menyadari seberapa besar kekuatan tekad Serah dan sumpahnya.
.
.
Bulan kembali bersinar indah pada malam itu diterangi dengan gemerlap cahaya bintang yang memanjakan mata.
Serah berjalan keluar kamar, berkeliling seperti pada malam sebelumnya dengan mantel bulu panjang menjuntai hingga ke lantai.
Akhir-akhir ini ia memang lebih menyukai suasana malam untuk merenung. Langkahnya kembali menuju ke arah taman. Sambil berjalan, ia berpikir, apa mungkin Raja Duncan itu berada di sana?
Serah menggelengkan kepalanya dengan pelan, menepis pikirannya sendiri. Kenapa dia tiba-tiba jadi berpikir kalau Raja muda itu bakal ada di taman malam ini? Pria itu tak akan mungkin muncul untuk yang kedua kalinya 'kan....
Swooosh... Swooosh....
Tapi sepertinya takdir kembali mempertemukan mereka di bawah naungan sang dewi malam.
Grenseal, Raja Duncan itu benar-benar kembali berada di taman malam ini. Ia terlihat mengayunkan pedangnya beberapa kali dengan gerakan menyerang yang cepat. Serah terpukau, dan tanpa sadar ia berkomentar.
"Anda luar biasa, Yang mulia," ucapnya dengan rasa kagum.
Grenseal menghentikan gerakannya. Terkejut karena tiba-tiba ada suara seorang wanita di belakang.
Ia menoleh, membalikkan tubuhnya ke belakang dan mendapati wanita yang sama seperti waktu itu berdiri di antara lorong mawar yang bermekaran.
"Kau...," ucapnya nyaris tak bisa berkata-kata. Kekagumannya semakin bertambah.
"Maaf kalau saya membuat anda terkejut, Yang mulia," ujarnya membungkuk kepada Grenseal.
"Jangan seperti itu, tolong." Pria itu bergerak satu langkah meminta Serah untuk segera berdiri. "Di sini tak ada siapapun, jangan bersikap terlalu formal," lanjutnya sambil menghela napas.
"Baiklah, Tuan Grenseal," balas Serah mengangguk kecil dan tersenyum. "Sepertinya anda kembali tak bisa tidur?" Serah mengamati wajah Grenseal yang terlihat agak..., lelah....
"Hah..., yah..., dan anda sendiri?" Grenseal menarik panjang napasnya lalu menghembuskannya ke udara malam yang dingin.
"Hanya mencari udara sejuk sebelum tidur, kebiasaan rutin di malam hari," jawab Serah dengan begitu sempurna."Bukankah besok masih ada pertemuan di istana?" Tanya Serah mulai menyelidiki.
"Ya, pertemuan yang akan menjadi penentu semuanya...," jawab Grenseal sambil menatap ke arah langit malam dengan pedang di tangan yang bagian tajamnya ia hunuskan ke bawah.
"Penentuan?" Serah tak bisa menahan rasa penasarannya dan berharap Grenseal tidak menganggapnya terlalu ingin tahu.
Grenseal tak langsung menjawab. Ia menatap ke arah Serah dalam diam. Pandangannya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sepertinya anda begitu tertarik dengan politik," ucapnya kemudian. Ia mengamati Serah dengan seksama.
"Saya hanya seorang perempuan, kurang pengetahuan tentang politik, maka dari itu saya bertanya," jawab Serah dengan luwes. Ia terlihat rendah diri namun tak menutupi kecerdasan yang ia miliki. Grenseal tersenyum tipis menyadari wanita cantik di hadapannya ini sangat pintar tidak menunjukkan sikap dan tujuan yang sebenarnya. "Kalau anda berkenan, mungkin saya bisa belajar sesuatu," lanjutnya dengan binar mata yang indah. Menunjukkan rasa keingintahuan yang besar.
"Besok adalah hari terakhir kami di Mathilda sekaligus penantian menunggu Ratu Regina," ungkap Grenseal menjelaskan.
"Anda, menunggu Ratu Regina? Untuk apa?" Serah mengernyit heran. Apa tujuan Grenseal menunggu kedatangannya?
"Saat ini pasokan pangan kami dari Kerajaan aliansi terkena blokade oleh Louis, dan kalau ini berlangsung lama, Duncan akan jatuh...," ujarnya dengan wajah murung. Pandangannya menunduk.
"Jadi itu alasannya? Anda berniat untuk melakukan perjanjian dengan Raja Louis?" Tebak Serah tepat sasaran.
Grenseal kembali mengangkat kepalanya dengan kekaguman. Dugaannya tak salah, wanita ini memang cerdas. Dia bisa cepat menangkap situasi.
"Ya, tapi jelas perjanjian itu sangat tidak menguntungkan, sama saja seperti membelenggu kedaulatan kami sebagai kerajaan bebas," jawab Grenseal sambil mendengus ketika ia teringat kembali semua poin perjanjian yang ditawarkan oleh Louis.
"Lalu Ratu Regina adalah opsi lain?" Sekali lagi ia menebak dengan benar.
"Anda benar, dia opsi terakhir kami, kalau saja dia datang dan kami punya kesempatan bicara dengannya, maka rakyat Duncan dapat terselamatkan dari bencana krisis pangan...." Grenseal memasukkan pedang yang sedang ia genggam ke dalam sarungnya.
"Bagaimana kalau ternyata Ratu Regina tidak mau bekerjasama?" Serah menatap serius. Ia ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Grenseal.
"Pilihanku hanya dua...." Nada bicara pria itu berubah menjadi serius. " Tunduk pada perjanjian dengan Mathilda atau terpaksa merebut Regina...."
Serah terdiam. Kalimat terakhir Grenseal itu sangat menusuk seperti hembusan angin malam itu. Dia sudah menunjukkan sikap dan ketegasan akan merebut Regina bila itu diperlukan, dan dia berbicara sebagai manusia yang sedang berusaha mempertahankan nasib penduduknya meski itu artinya dia harus memerangi kerajaan lain pada akhirnya.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib