Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelajaran Untuk Marcus
*Jangan Lupa like dulu
"Bagaimana yah, apa Marcus mengatakan sesuatu?" tanya Isabella tidak sabar, bahkan Daniel baru saja menginjakkan kakinya di rumah. Tapi wanita itu terus bertanya tentang pertemuannya dengan Marcus.
Daniel meletakkan tas kerjanya diatas meja tamu, dia duduk sambil menyenderkan tubuhnya kebelakang.
Isabella terus menerus bertanya. "Jawab yah, apa dia tahu dimana Rose?"
"Benar yang kita duga selama ini." ucap Daniel yang membuat istrinya semakin penasaran.
"Marcus tidak tahu dimana Rose, tapi dia berjanji padaku untuk berusaha mencari keberadaan anak kita, dan saat aku mengancam akan mengambil kembali anak kita, Marcus menangis seperti anak kecil." Daniel terkekeh geli saat pertama kalinya melihat menantu dinginnya menangis seperti anak kecil di depannya.
"Marcus menangis?" tanya Isabella yang diangguki oleh sang suami.
"Sepertinya Marcus baru sadar jika dia menyukai Rose." niat awalnya hanya menggertak saja, tapi dia tidak menyangka akan mendapatkan reaksi yang berlebihan dari pria itu dan juga dia sedikit lebih tenang karena Marcus sudah berjanji akan berubah jadi lebih baik lagi pada Rose.
Dia tidak main-main akan mengambil Rose dari pria itu. Setelah Rose ketemu, dia akan memantaunya dan sekali Marcus menyakiti anaknya, maka tanpa berkata apa-apa lagi dia akan langsung membawa anaknya pulang.
....
"Sabar yah." Catherine menepuk pundak suaminya pelan, didepannya ada Marcus yang terjerembab diatas lantai setelah di beri pelajaran oleh ayahnya.
"MAU DI TARUH DI MANA WAJAH AYAH MARCUS." Robert masih tidak menyangka jika selama ini anaknya selalu memperlakukan Rose dengan buruk.
"Maaf ayah." ucap pria itu tidak berdaya, rasa nyeri mulai menjalar di seluruh punggungnya. Robert tidak main-main memberikan pelajaran kepada anaknya. Catherine sampai memohon agar suaminya tidak lagi mencambuk Marcus dengan ikat pinggangnya.
"Ayah tidak pernah mengajarkan mu untuk menjadi pria yang tidak bertanggung jawab." nada bicara pria itu mulai melunak.
Catherine terdiam, semuanya bukan hanya salah Marcus, dia ikut serta dalam kehidupan anaknya. sedangkan Robert memang tidak begitu tahu bagaimana kehidupan Marcus selama ini karena yang ada didalam benaknya hanya ada pekerjaan saja.
Robert menutup wajahnya yang terlihat lelah. Malu sekali rasanya saat Daniel datang tadi. dia dan Daniel bersahabat cukup lama, dia tahu bagaimana pria itu menyayangi putrinya itu.
"Coba jujur sama ayah, apa Rose mengatakan sesuatu sebelum pergi?"
Deg....
Wajah Marcus terlihat memucat. Terakhir kali sebelum wanita itu pergi karena Rose menyuruh Mia pergi, tapi dia melarangnya. Jika ayahnya tahu ...
"Mau bicara jujur atau ayah yang mencari tahu sendiri." jika ayahnya sudah bicara seperti itu, tidak ada opsi lain selain jujur, karena jika ayahnya tahu dari orang lain, dirinya bisa mati di tangan pria itu.
"Itu karena dia cemburu pada Mia." jawabnya lirih.
Robert memiringkan kepalanya, dia tidak paham dengan ucapan anaknya, Rose cemburu pada Mia?.
"Apa kau masih mengubungi mantan mu itu?"
Marcus menggeleng. "Mia tinggal di rumah ku yah."
Mendengar ucapan sang anak, Robert jelas semakin murka. Dia kembali mengambil ikat pinggangnya. "APA KAU GILA MARCUS, MEMBAWA WANITA LAIN KE RUMAHMU!"
Catherine langsung mendorong tubuh Marcus menjauh, dia berdiri didepan suaminya.
"MINGGIR."
"TIDAK, JANGAN SAKITI ANAKKU." alis Robert terangkat. Dia memandang istrinya curiga.
"Apa ini semua rencanamu?" jika dia tidak salah, istrinya benar-benar membenci Rose dan terakhir kali yang dia tahu, istrinya sengaja menyuruh Jesper dan juga Emma tinggal di rumah Marcus, meskipun dia tidak setuju tapi istrinya tidak akan memperdulikan penolakannya.
Sekarang gantian Catherine yang kikuk. Ini memang rencananya.
Robert tidak butuh lagi jawaban wanita itu, dilihat dari raut wajahnya saja sudah terbaca. Dia segera membuang ikat pinggangnya, lalu duduk di atas sofa, kepalanya berdenyut kencang.
"Maafkan aku, aku tidak menyangka akan jadi seperti ini." Catherine menggenggam tangan suaminya, berharap pria itu mau memaafkannya, dia baru sadar jika dia sudah keterlaluan.
Robert menggelengkan kepalanya. "Apa kau sadar perbuatan mu, selama ini kita selalu memperlakukan Rose dengan kurang baik hanya karena wanita itu yang menjebak anak kita."
Catherine mengangguk. "Ibu menyesal yah."
Sekarang Marcus mendekati orangtuanya. "Yah, bantu Marcus cari Rose, aku benar-benar menyesal."
Robert menghela nafas panjang. Dia menatap istri dan anaknya bergantian. "Aku tidak tahu apa yang terjadi akhir-akhir ini pada kehidupan mu Marcus, tapi ayah tidak bisa membantu banyak, kau dengar ucapan Daniel, jika kau tidak menginginkan Rose, pulangkan dia pada keluarganya."
"Tidak, aku tidak mau yah, aku mencintai Rose."
sekarang gantian Catherine yang terkejut. Dia tidak salah dengar kan. Marcus mencintai Rose?, sejak kapan?.
Pria tua itu kembali menatap sang istri yang diam mematung. "Kau dengar sendiri kan?, Marcus mencintai Rose, sekarang kita harus bisa menerimanya, berhenti mengharapkan Mia menjadi menantumu, anak itu sudah memiliki tunangan di China."
Catherine langsung menarik bahu sang anak, menatap matanya lekat. "Kau serius menyukai Rose." tanpa ragu pria itu mengangguk.
....
"Sana pergi, aku ingin bekerja." usir Rose pada Mia yang terus mengekori nya, masalahnya dia sudah sampai di depan restoran dan dia lihat Bu Sarah sudah ada di dalam, dia tidak enak jika membawa orang.
"Aku ingin memesan makanan di sini, aku janji tidak akan mengganggumu." ucap wanita itu serius, dia memandang restoran didepannya dengan tatapan tidak biasa. Sepertinya dia pernah diajak orangtuanya makan disini.
"Terserah mu." Rose pasrah saja, dia sudah mengusir wanita itu berkali-kali tapi tetap gagal, dengan acuh dia masuk meninggalkan Mia yang masih mematung didepan.
"Pagi Bu Sarah." sapa Rose ramah, Sarah tersenyum lalu menghampiri anak itu dan mengelus kepalanya. Meskipun Rose sudah berusia kepala tiga, tapi wajahnya terlihat sangat cantik dan terlihat muda.
"Pagi Rose, bagaimana tidurmu?" tanyanya basa-basi, dia ingin tahu dimana anak itu tinggal sekarang.
"Nyenyak Bu."
"Ah iya, kamu tinggal dimana?"
"Di panti Bintang Bu."
Kening Sarah mengerut, seingatnya hanya ada satu panti disini, itupun sudah lama kosong karena anak-anak panti sudah habis di adopsi dan juga dia lupa nama pantinya.
"Izin kebelakang Bu." ujar Rose yang melihat karyawan yang lain sudah mulai bekerja, dia tidak enak karena datang terakhir. Sarah mengangguk dan mempersilahkan wanita itu pergi.
Sebelum dia berbalik ke ruangannya.
tring...
Pintu restoran terbuka. Dia berbalik arah dan terkejut saat melihat sosok wanita yang tidak asing di matanya.
"Pagi Tante Sarah." sapa seorang wanita cantik yang sudah lama tidak dia lihat.
"Mia." Sarah menoleh ke arah Rose, berharap anak itu tidak melihat kedatangan Mia.
"Mau apa kamu kesini?"