Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obor Para Dewa
Kerumunan semakin banyak, ternyata ada banyak orang yang ingin bertanya pada Mia.
“Nona! Nona! Aku ingin bertanya!”
Seorang pemuda menyela diantara kerumunan.
“Duduklah.”
Mia mempersilahkannya untuk duduk.
“Nona, setiap malam aku penasaran dengan benda-benda yang ada di langit.”
“Benda? Maksudmu bintang?”
“Ya, bintang.”
“Apa yang ingin kau ketahui?”
“Apakah bintang itu obornya para dewa?”
“Bukan, bintang itu adalah benda langit.”
“Apa itu luar angkasa?”
Pemuda itu dan para warga belum mengetahui apa itu luar angkasa. Mereka tampak antusias mendengar penjelasan dari Mia.
“Waduh, kalian tidak tau apa itu luar angkasa?”
Mereka semua menggelengkan kepala.
“Jadi begini, kalian tau bola arbiter?”
“Tau, bola bulat yang ada di depan biro Astronomi ‘kan?”
“Ya, itulah bola arbiter. Jadi, bumi kita itu bentuknya bulat. Nah, angkasa itu berada diluar bumi.”
“Oh begitu…”
“Jadi…bintang itu adalah bola gas raksasa yang sangat panas dan bercahaya, terdiri terutama dari hidrogen dan helium, yang memancarkan cahaya dan panasnya sendiri melalui reaksi fusi nuklir di intinya, seperti Matahari dan bintang itu berada di angkasa yang jaraknya sangat jauh dari permukaan bumi.”
“Mengapa aku jadi bingung ya?”
“Ilmu pengetahuan disini belum begitu maju, jadi wajar saja kalau kalian tidak paham.”
“Lantas, mengapa bintang bisa jatuh?”
“Kau ingin tau?”
“Ya, tentu saja.”
“Jika ingin tau, maka tambah lah uangmu hehe.”
“Baiklah, baiklah.”
Pemuda itu menambahkan 2 tael.
Mia lanjut menjelaskan. Tanpa dia sadari dari kejauhan Zhang Wei yang baru saja pulang dari istana memperhatikan mereka.
“Tuan, siapa mereka?”
Ajudan pribadi Zhang Wei bertanya.
“Mereka?Aku tidak tau siapa mereka.”
“Tidak tau?... Lalu, mengapa tuan memperhatikan mereka sejak tadi.”
“Ayo kita pulang.”
Zhang Wei membalikkan badan.
“Zhang Wei!”
Mia yang melihatnya langsung memanggilnya. Ajudan pribadi Zhang Wei langsung melihat ke arah Zhang Wei.
“Tunggu dulu, tuan. Bukankah kau bilang kau tau siapa mereka?Tapi mengapa mereka seperti mengenalimu?”
“Kau diamlah.”
“Baik, tuan.”
Belum sempat naik ke kereta kuda dia membalikkan badannya lagi. Mia dan Dania menghampirinya.
“Sudah pulang?”
Mia bertanya.
“Sudah.”
“Ini siapa?”
Mia bertanya pada Zhang Wei.
“Ini ajudan pribadiku.”
“Ajudan?”
“Salam kenal nona, aku Xi Feng.”
“Oh, kau Xi Feng.Aku tak melihatmu kemarin di rumah,apa kau ajudan baru Zhang Wei?”
“Bukan, aku sudah lama menjadi ajudan tuan muda. Kemarin aku mengambil cuti karena harus menjenguk ibuku yang sedang sakit.”
“Oh, ternyata begitu. Oh iya, perkenalkan ini temanku Lan Qiu dan aku Xiao Ning. Aku tunangannya Zhang Wei.”
Mendengar itu Xi Feng langsung menganga seperti tak percaya.
“Dia bukan tunangan ku, kau tak perlu begitu kaget.”
Zhang menjelaskan.
“Tuan, ku kira kau benar-benar telah bertunangan.”
“Aku tidak akan menikah, untuk apa aku bertunangan.”
“Haha, kau benar juga.Baiklah nona-nona ayo masuk!”
Xi Feng mempersilahkan Mia dan Dania untuk masuk ke dalam kereta.
“Zhang Wei, coba lihat kami punya banyak uang.”
Mia memamerkan hasil kerjanya pada Zhang Wei. Zhang Wei tampak tak peduli.
“Xi Feng, berapa tael untuk menyewa rumah di daerah sini?”
“Tidak mahal, sekitar 1000 tael perbulan.”
“Hah??!!”
Mendengar itu Mia dan Dania kaget.
“Mengapa mahal sekali?”
“Itu sudah termasuk yang terendah. Ini di ibukota, jarang ada sewa yang murah.”
Mia dan Dania seperti kehabisan energi.
“Bagaimana ini?”
“Sepertinya kita memang harus tinggal di rumah angker itu.”
“Mengapa kalian ingin mencari rumah?”
Zhang Wei bertanya dengan wajah dinginnya.
“Kau kan tau kami ini orang luar, kami tak mungkin terus menerus harus tinggal di kediaman kalian.”
“Tidak masalah jika kalian ingin tinggal. Jika kalian kekurangan uang, aku bisa memberikan kalian uang.”
“Kau tak mengerti, ini masalah harga diri.”
“Kalian bisa melupakan tentang harga diri.”
“Kami tidak bisa. Kami wanita terhormat.”
“Kalian tak tampak seperti wanita terhormat.”
“Ka-ka-kau!”
Mia mencubit lengan Zhang Wei. Xi Feng yang melihat adegan itu kaget, tak biasanya tuan mudanya mau disentuh oleh seorang wanita.
“Zhang Wei, ku dengar kalian para sarjana dapat menggambar dengan baik, apakah benar?”
“Ya, kami para sarjana kebanyakan berbakat dalam melukis dan kaligrafi.”
“Apa kau bisa melukiskan kami berdua?”
“Bisa, tapi aku tak ingin.”
“Ish, Zhang Wei…”
Mereka berdua mengeluh.
“Kau bagaimana?”
Dania bertanya pada Xi Feng.
“Maaf,nona… aku hanya bisa bertarung hehe.”
Sesampainya di depan gerbang kediaman mereka semua turun.
“Zhang Lin, kau mau kemana?”
Dania bertanya.
“Ke kantor pemerintahan, ada hal yang harus ku tangani.”
“Kau pergi sendiri? Tidak dengan ajudanmu?”
“Ajudan? Aku tak punya ajudan dan aku juga tak perlu ajudan.”
Zhang Lin pergi.
“Mengapa dia tak memiliki ajudan? Padahal jika ada ajudan maka dia akan terlihat seperti orang penting.”
Mia heran.
“Dia seorang jenderal, dia tak membutuhkan ajudan.”
Zhang Wei berjalan memasuki kediaman.
Mia mengejarnya dari belakang.
“Kau sendiri mengapa membutuhkan jenderal? Bukankah keluarga kalian adalah keluarga militer?”
“Aku berbeda dengan mereka, aku tak memiliki bakat dalam bertarung.”
“Kau bohong.”
Zhang Wei menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Dari mana kau tau aku berbohong?”
“Aku tadi pagi melihatmu saat mengenakan baju, perutmu kotak-kotak.”
“Bodoh.”
Zhang Wei menyentil pelan jidat Mia lalu berjalan meninggalkan nya.
“Nona, perilakumu buruk sekali. Jika orang lain tau kau akan dinikahkan dengan tuan muda Zhang.”
“Aa? Apanya yang buruk? Aku kan tidak sengaja lihat. Aku tidak bermaksud mengintip.”
“Nona, benar kata tuan muda… kau memang bodoh.”
“Aaa?”
Kini Xi Feng meninggalkannya.
“Dania, coba kau jelaskan dimana letak salahku?”
“Kau ini lupa ya kita berada di era apa?”
“Era dinasti Yong?”
“Aku pun tau itu, maksud aku kan kita berada di era dinasti ini, artinya peraturan batasan bagi pria dan wanita sangat ketat.”
“Oh iya, aku lupa tentang itu. Aku masih ingat ada kisah laki-laki nyelamatin cewek yang tenggelam dan itu dianggap sebagai perbuatan yang gak pantes cuma karena si cowok megang tubuh si cewek.”
“Nah, apalagi kau yang ngeliat perut kotak-kotak nya Zhang Wei. Bila-bila langsung di panggilin mak coblang untuk di nikahkan,haha.”
“Aku belum mau nikah,untung ajah aku cuma cerita ama kalian.”
“Lain kali jangan teledor. Oh iya, hobi kau ngekritik pemerintah tuh di kurangin kalau kau gak mau kepala kita ilang terpenggal.”
“Oke, oke, aku ngerti. Aku juga paham kalau di era ini kita gak boleh nyinggung orang-orang yang berkuasa.”
“Era ini memang sadis sih, karena HAM juga belum ada disini. Mereka masih menggunakan aturan-aturan yang kolot.”
“Tunggu aku jadi kaisar bakalan ku ubah semua peraturan itu hahaha.”
“Mulai menghayal kau ya.”
“Hehe.”