Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesaksian Aneh
#20
Dua hari kemudian pergerakan masif benar-benar membuat kubu Ayu dan Giana tak percaya.
Gunawan benar-benar melayangkan gugatan pencemaran nama baik, bukan pada Ayu atau Ls Collection, atau pada Giana dan Madame Gi. Melainkan pada Huda Tex yang dipimpin oleh Giana.
Pagi itu ketika Giana dan Ayu baru saja tiba, mereka dikejutkan dengan datangnya sebuah surat panggilan untuk interogasi.
“Kak—”
“Tidak apa-apa, kita di pihak yang benar,” hibur Giana tenang. “Kau sudah siap, kan?”
“Sejujurnya, berhadapan kembali dengan para penyidik, cukup membuatku cemas. Tapi bila tidak dihadapi, maka masalah ini tak akan pernah selesai.”
Giana tersenyum lega, bahagia mendengar perkataan Ayu, “Tapi, apakah bukti-bukti yang kita pegang cukup kuat, Bu?”
“Semoga saja cukup, kita harus yakin. Karena kita juga memegang semua ucapan saksi.”
Beberapa saat kemudian Mahar sudah siap mengantar mereka ke kantor polisi, untuk memberikan kesaksian. Tapi—
Seseorang yang biasanya bertugas menjaga Suzan tiba-tiba menelepon. “Iya, San?” jawab Mahar.
“Pak, Bu Suzan menghilang. Tadi saya hanya pergi membeli sarapan, dan ketika kembali, pintu rumah sudah di jebol paksa, sepertinya mereka membawa secara paksa Bu Suzan.”
Kali ini Mahar ikut memijat pelipisnya, “Suzan hilang, Bu.”
Ayu dan Giana tercengang, “Cari sampai ketemu.”
Mahar mengerti, kemudian menyampaikan pesan Giana pada pria yang menghubunginya. “Kerahkan anak buahmu untuk menemukan Suzan dengan selamat.”
•••
Beberapa jam kemudian, dua wanita tangguh itu, sudah duduk berhadapan dengan para penyidik di ruang interogasi, tentu saja dengan didampingi Tuan Dandi.
Sepanjang tanya jawab, baik Ayu maupun Giana cukup kooperatif memberikan jawaban, mereka juga menyerahkan bukti-bukti rekaman video para mantan pegawai MiJa agar keterangan mereka semakin kuat.
Syukurlah para penyidik mempercayai semua perkataan Ayu. “Terima kasih, Bu Ayu dan Bu Giana. Kami akan melakukan penyelidikan ulang secara lengkap,” ujar Pak Polisi.
“Sama-sama, Pak. Kapanpun Anda membutuhkan keterangan kami, kami siap memenuhi panggilan.”
Ayu dan Giana pun meninggalkan kantor polisi, setibanya di mobil. “Bagaimana? Sudah menemukan Suzan?”
“Belum, Bu. Bahkan neneknya juga menghilang dari rumah lama mereka.”
Semua orang menghembuskan nafas gelisah karena memikirkan keberadaan Suzan dan neneknya yang tiba-tiba hilang.
•••
Esok hari ketika Ayu membuka ponselnya hal pertama yang Ayu lihat adalah sebuah video yang baru saja diterbitkan oleh salah satu surat kabar online, yang sama sekali tak ia duga adalah pernyataan seseorang yang wajahnya sengaja di buat buram.
•••Saya terpaksa melakukannya, jika tidak Ls dan Madame Gi akan mencelakai nenek saya yang tua dan sakit-sakitan•••
Bukan hanya satu, tapi hampir semua saksi yang semula berpihak pada Giana dan Ayu, kini berbalik menyerang mereka.
•••Mereka membayar kami agar bicara omong kosong•••
•••Mereka takut brand mereka tersaingi•••
•••Aku pindah ke MiJa Fashion, karena mereka menawarkan gaji yang sangat manusiawi, sementara di Ls Collection, kami benar-benar hanya mendapat gaji pokok serta uang makan yang tak seberapa•••
Apa ini? kenapa semuanya berbalik? kesaksian orang-orang itu semuanya merugikan Ls dan Madame Gi.
Prak!
Tiba-tiba ponsel Ayu terjatuh di lantai, amarahnya bergejolak, hingga ia pun melangkah keluar rumah tanpa sepengetahuan Giana.
Di depan rumah ia berpapasan dengan Mahar, “Apa kau tahu di mana tempat tinggal wanita jalang itu?” tanya Ayu yang tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya yang bergejolak.
Kemarin-kemarin ia diam karena menghargai semua usaha yang sudah Giana lakukan dan rencanakan untuknya, dan untuk balas dendam mereka. Tapi kini, Ayu merasa perlu berhadapan secara langsung dengan Anjani.
“Iya, kenapa?”
“Antarkan aku ke sana.” Ayu langsung duduk di kursi depan tanpa menghiraukan ucapan Mahar.
Mahar pun menyusulnya duduk, namun, tak segera menyalakan mesin mobilnya. “Apa kau gila?”
“Tidak, justru aku dalam keadaan sangat sadar.”
“Apa tujuanmu mendatangi rumah wanita itu?!” Mahar terus mencoba bertanya tentang keinginan Ayu. “Bila terjadi masalah, maka semua rencana kita akan sia-sia—”
Ayu tak bergeming. “Tidak akan ada masalah, aku janji.”
Mahar pun pasrah, ia mengemudikan mobil menuju rumah tempat Anjani dan suaminya.
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan