Mungkin ini jalan takdir atau rencana terselubung ku, ternyata tak perlu jauh aku mencari mu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Untungnya ada mereka
Barang-barang masuk, bahkan aku tidak sanggup mengantarkan Josua untuk terakhir kalinya. Ia dan Ijonk yang ikut komunikasi. Disini aku benar-benar hancur, hancur yang enggak ngerti gimana mau berekpresi selain melampiaskan ke air mata.
Ijonk dan Lista juga gak bisa lama menemani aku," kalian tinggalin aku aja ya kalau kalian mau pergi." Kata ku kembali tidur, aku capek. mereka pergi, karena memang hari Sabtu mereka masih bekerja.
Ijonk, Lista benar-benar pergi ketika aku tertidur. Dalam tidur ku pun bahkan tidak ada ketenangan, kemana harus aku mengadu, wajah sebab. Rambut acak-acakan, bibir pucat mata bengkak.Sehancur itu tampilan cermin menunjukkan diriku.
"Maafkan aku diriku, terlalu membuat mu hancur." detik itu juga putus asa menarik aku untuk ke dapur, benar-benar muak rasanya kalau harus hidup dalam plot twist enggak berujung seperti ini. Tidak ada yang dapat mengakhiri penderitaan ini, benar-benar harus di akhiri.
Aku terus dalam lamunan cara penyampaian sayang ku ke Josua dan kata-kata Abang ku, entah kenapa rasa rendah diri dalam bersikap juga menjatuhkan semangat ku untuk hidup, aku merasa terlalu butuh cinta sampai-sampai bang Dean ilfeel
makanya karena sifat begitu Josua meninggalkan ku, aku juga bingung apa alasan aku hidup saat ini.
Nada dering telepon mengganggu lamunan ku, bersama dengan pisau ditangan kiriku, ternyata Lista menelepon dengan panggilan video. "Mi. Jak... Enggak usah bodoh Mi," kata Lista mungkin ia terkejut melihat aku memegang pisau.
"Apaan sih, aku mau masak juga," bentak ku mengurangi rasa curiga Lista padaku. "Enggak usah menghibur diri, aku mau tanya. Jaket Ijonk tinggal disana?" Aku menganggukkan kepala. "Nitip ya. Mi jangan lakuin sesuatu yang buat aku kehilanganmu ya, aku masih pengen punya teman seperti dirimu."
Aku senang setidaknya masih ada yang menginginkan aku hidup sampai detik ini. "Hancur banget Lis, tega banget Tuhan buat aku seperti ini. Dipikirnya aku kuat apa?" curahan hati ku sedikit memberi ruang untuk aku melepaskan beban." Eh jangan putus semangat, S2 masih menanti Lo, ada yang lebih baik dari itu Mi. Aku menganggukkan kepala setidaknya untuk itulah aku hidup sekarang.
Kalau dipikir-pikir kesedihan ini aku yang ciptakan sendiri, buktinya kemarin aku belanja aja bisa lupa kesedihan ku walaupun sebentar doank.
"Ya ya semangat bekerja ya," kata ku mengakhiri obrolan, benar-benar saat lemah kita hanya butuh di dengar bukan di nasehati dengan berbagai macam, lihat lah pisau yang tadinya niat untuk motong pergelangan berubah fungsi mengiris bawang, ketenangan mulai ku temukan saat harum tumisan bawang menjadi SOP ayam.
"Dreet," handphone ku bergetar tanda ada yang nelepon tapi siapa ya? Ha rekan kerja ku, tumben ada apa gerangan. Oh mungkin membahas tentang jaminan atau entahlah. Padahal ini hari libur loh. "Halo Miwa,pagi. enggak menganggu kan?" Ada apa ya tumben dia telepon. "Enggak Bu, ada apa ya" kata ku masih formal walaupun awalnya dia menggunakan sapaan di luar internal pekerjaan."Mau ikut enggak bareng kita, happy-happy. Kamu kan semenjak masuk kerja enggak pernah itu saling sapa," katanya padaku.
"Kapan ya kalau boleh tau." Aku tau happy-happy disini pasti ke alam atau ke pantai lah setidaknya, enggak mungkin happy-happy nambah pekerjaan. "Nanti bella aja yang jemput Miwa ya," katanya.
"intinya jam 21:00 Malam ya Mi, kamu tunggu ya." Belum aku melanjutkan keputusan ku lah malah panggilan berakhir begitu saja, serapan mandi lanjut bodycare sampai aku pengen belanja bulanan di supermarket terdekat.
Ku pilih alternatif tercepat yaitu dengan membawa si hitam bersama ku, sebenarnya masih ngantuk banget karena mata sembab. Ku raih kacamata hitam untuk menutupi nya.
Bayangin aja outfit ke swalayan kali ini aku pakai celana bahan jeans berbentuk rok celana, kaos navy press body.Rambut sepanjang ketiak tergerai hanya dengan jedai merapikan tampilannya. Sendal sengaja ku pake yang lepes menjaga mana tau di sini becek. Belanja seperti ini aja buat tenang, apalagi lihat lah warna-warni begitu meriah.
Perlengkapan mandi,mencuci, dapur. Harus cukup diperhitungkan untuk satu bulan lamanya, berhubung sesuai dengan gaji.
Lumayan banyak, untuk lainnya nanti bisa dibeli online. Puas berbelanja aku mulai aktif di dapur, memasak dengan modal resep by aplikasi. Menenangkan cuman capek, aku tidak sangka bisa membuat bolu kukus dengan sesempurna ini.
Sore hari aku sudah selesai dengan urusan dapur, teman ku jemput lebih awal menggunakan mobil pribadi nya ia membawa ku pada teman-teman lainnya, waduhhh hiburan sesungguhnya makan di restoran terbilang mahal bagiku, lumayan menguras kantong kalau terus mengikuti life style mereka, aku menikmati mencoba untuk royal pada diriku sendiri.
"Party dong," kata mereka tertawa lepas, senyum ku manis namun sedikit ada penolakan di logika, namun hatiku berkata apa salahnya mencoba.
Ya tanpa aku sadari dari kata-kata sepele itu aku semakin mengikuti mereka, mereka party sampai mabuk.Benar-benar gak sadarkan diri, sebenarnya posisiku saat ini juga begitu cuman kadar alkohol ku amat tinggi untuk kehilangan kesadaran sepenuhnya. Duduk diam, waktu musik barat berjudul I sail over seven seas dengan DJ breakbeat dimainkan. Musik memutar-mutar di kepala ku.
Kalau kalian fokus pada musiknya pasti kalian akan melihat betapa banyak hati yang hancur cuman sembuh dengan alkoholic, tapi kalau fokusnya ke sekitar ya beragam macam duka ditutupi dengan cinta satu malam.
Hemm mungkin dulu hidup Bou begini ya, enggak ada yang paham dukanya maka dunia malam, laki-laki Cinta satu malam cepat mendekati nya. Ku pikir kan itu amat dalam, masak aku mau membenarkan latar belakang ku, "Aku izin pulang ya," aku dan temanku jadinya pulang bersama, sialnya kami menabrak pohon tidak jauh dari club hanya saja karena ini menjelang subuh tak satupun ada yang menolong kami.
Awalnya aku terkejut, ketakutan ku mengundang panik lah dia malah santai aja. "Kamu keluar dulu, biar aku bisa lewat." Katanya di setengah sadar.
Kami keluar dengan pintu yang sama, eh dia cuman lihatin mobilnya, terus ya udah cari solusi telepon pacar nya untuk membantu.
"Gue tunggu ya," katanya.
Cara dia jongkok dengan heels yang anggun aku tau masalah dia lebih berat dari ku. "Capek Wa kalau di pikirin," katanya menegaskan suatu makna.
Hemm aku hanya bergumam tak mampu berkata, ia terus ngobrol ngarul ngidul sampai ia cerita sedikit tentang hidupnya. Intinya jangan bercerai kalau nantinya aku menikah, kasihan anak-anak selagi kasusnya enggak KDRT atau selingkuh biarin aja. Dia anak broken home, Mama Papa nya sudah berpisah dan menikah lagi, dengan kehidupan ekonomi yang melimpah ruah di pernikahan nya masing-masing, dia anak pertama dari pasangan itu namun berasa dicampakkan karena yaitu Mama Papa nya sudah punya kehidupan baru.
Sedih melihat kondisi dia seperti itu, bahkan ketika pelukan ku mendekati nya. Ia berlaku canggung "Lesbi Lo ya," ucap nya menunjuk-nunjuk padaku, "Aneh Lo." katanya kasar, lah Lo yang aneh gak sih, pelukan doank, bukan hal yang lumrah?
Memang dasarnya dia anka yang tumbuh dalam kehinaan sehingga pelukan pun di anggap tabu olehnya.
semangat, yah..
jan lupa mampir juga..
kita saling dukung, yah..
💪💪💪
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰