Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 memasak sang raja hutan
Gema raungan Harimau Bertaring Kristal merobek keheningan hutan belakang sekte, menciptakan getaran yang menjatuhkan butiran debu dari langit-langit gua. Binatang ini bukan sekadar pemangsa; ia adalah penguasa wilayah yang energinya setara dengan kultivator Tahap Penyulangan Qi. Kristal-kristal yang tumbuh di sepanjang tulang belakangnya memancarkan cahaya biru dingin yang mampu membekukan udara di sekitarnya.
Li Mei berdiri dengan posisi siaga, pedang pendeknya bergetar pelan. Wajahnya yang biasanya tenang kini menegang. Sebagai seorang Alkemis, ia tahu betul bahwa Harimau Bertaring Kristal memiliki kulit yang hampir tidak bisa ditembus oleh senjata biasa.
"Han Shuo, jangan bodoh! Energi dari sup itu akan meledakkan dantians-mu jika kau tidak segera bermeditasi!" teriak Li Mei tanpa menoleh. "Biarkan aku yang menahannya, kau lari dan cari bantuan!"
Han Shuo tidak bergerak satu inci pun. Di dalam tubuhnya, sebuah peperangan sedang berlangsung. Sup Sembilan Putaran Es dan Api yang baru saja ia tenggak terasa seperti menelan aliran lava yang dibungkus es abadi. Panas dan dingin silih berganti menghantam dinding lambungnya, lalu merambat cepat ke setiap pembuluh darah.
Pandangan Han Shuo mulai berubah. Dunia tidak lagi tampak sebagai kumpulan benda padat. Di matanya, Harimau Bertaring Kristal yang sedang mendekat itu terlihat seperti susunan serat otot yang padat, aliran darah yang berdenyut, dan titik-titik tumpu energi yang bercahaya.
"Nona Li, dalam memasak, kita tidak pernah lari dari bahan yang sulit diolah," suara Han Shuo terdengar berat, seolah setiap kata yang ia ucapkan membawa beban energi yang besar. "Kita hanya perlu tahu di mana harus meletakkan pisau."
Harimau itu melompat. Tubuhnya yang besar meluncur di udara layaknya meteor perak. Cakar-cakarnya yang setajam silet siap membelah apa pun yang menghalanginya. Li Mei mengayunkan pedangnya, melepaskan gelombang energi hijau, hanya untuk melihat serangannya terpental begitu saja saat mengenai sisik kristal sang harimau.
Brak!
Li Mei terhempas ke dinding gua, napasnya tersengal. Harimau itu mendarat dengan anggun, matanya yang berwarna kuning tajam kini tertuju sepenuhnya pada Han Shuo. Baginya, pemuda ini hanyalah camilan kecil yang entah mengapa memiliki aroma energi yang sangat menggoda.
Han Shuo menarik napas panjang. Ia memvisualisasikan dantians-nya sebagai sebuah kuali besar. Energi liar dari sup tadi ia paksa berputar, searah jarum jam untuk panas, dan berlawanan arah untuk dingin. Di bawah pengaruh Kitab Rasa Semesta, kekacauan itu mulai teratur.
Teknik Api Sembilan Lapisan: Putaran Pertama.
Kulit Han Shuo mendadak memerah, uap putih mengepul dari pori-porinya. Ia menggenggam pisau dapurnya. Pisau yang tadinya kusam itu kini mulai berpijar dengan warna jingga kebiruan.
Harimau itu menggeram, merasa terancam oleh perubahan mendadak pada mangsanya. Ia menerjang lagi, kali ini dengan kecepatan yang lebih tinggi.
Han Shuo tidak menghindar dengan melompat jauh. Ia hanya menggeser kakinya sedikit ke kiri, membiarkan tubuh besar harimau itu melewatinya hanya berjarak beberapa sentimeter. Saat harimau itu melintas, Han Shuo mengayunkan pisaunya ke arah perut sang binatang.
Cring!
Pisau itu beradu dengan sisik kristal. Alih-alih patah, pisau Han Shuo justru bergetar hebat. Getaran itu bukan tanda kelemahan, melainkan teknik "Resonansi Rasa". Han Shuo menyalurkan energi panas dari supnya tepat ke titik di mana kristal tersebut memiliki celah mikroskopis.
Harimau itu melolong kesakitan. Meskipun luka yang dihasilkan tidak dalam, energi panas yang disuntikkan Han Shuo mulai membakar saraf di bagian perutnya. Sang raja hutan menjadi murka. Ia memutar tubuhnya, menggunakan ekornya yang panjang dan keras seperti cambuk besi untuk menghantam Han Shuo.
Han Shuo mengangkat tangan kirinya, menangkap ekor itu.
Duar!
Tanah di bawah kaki Han Shuo retak. Lengan bajunya hancur berkeping-keping, memperlihatkan otot-ototnya yang menegang kuat. Ia menggunakan energi dingin dari sup untuk membekukan area lengannya, menciptakan pelindung es sementara yang menahan hantaman ekor harimau.
"Terlalu alot," gumam Han Shuo. "Dagingmu butuh sedikit pelunakan."
Ia menarik ekor harimau itu dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi seorang pelayan dapur. Harimau itu terseret, kehilangan keseimbangan. Han Shuo segera melompat ke punggung binatang itu. Ia mengincar tengkuknya, tempat di mana sumsum tulang belakang bertemu dengan otak—titik paling murni dan paling vital dari setiap mahluk hidup.
Pisau dapurnya menyala lebih terang. Han Shuo memusatkan seluruh energi "Sembilan Putaran" ke ujung pisaunya.
"Potongan Pamungkas: Pemisahan Langit dan Bumi!"
Ia menusukkan pisaunya. Bukan dengan kekuatan kasar, melainkan dengan kelembutan seorang koki yang sedang membelah tahu sutra. Pisau itu meluncur melewati lapisan kristal, menembus kulit tebal, dan memutus aliran energi utama sang harimau.
Harimau Bertaring Kristal itu menegang seketika. Matanya yang kuning meredup, lalu tubuh besarnya ambruk ke lantai gua dengan suara dentuman yang menggetarkan bukit. Cairan biru yang merupakan darah spiritualnya mulai mengalir pelan, membasahi tanah.
Han Shuo turun dari punggung harimau tersebut. Ia terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Energi dari sup itu hampir habis, meninggalkan rasa sakit yang luar biasa di setiap inci ototnya. Ia jatuh terduduk di samping bangkai harimau, pisaunya terlepas dari tangannya.
Li Mei menghampirinya dengan langkah gontai. Ia menatap bangkai harimau, lalu menatap Han Shuo dengan pandangan yang benar-benar baru. Ketidakpercayaan, kekaguman, dan sedikit rasa takut bercampur di wajahnya.
"Kau... kau baru saja membunuh Harimau Bertaring Kristal dengan sebilah pisau dapur?" Li Mei bertanya, suaranya nyaris berbisik.
Han Shuo mencoba tersenyum, meski itu lebih terlihat seperti seringai kesakitan. "Dagingnya akan sangat lezat jika direbus dengan jahe liar dan akar langit yang tersisa tadi, Nona."
Li Mei menggelengkan kepalanya. "Kau gila. Benar-benar gila. Teknikmu tadi... itu bukan teknik bela diri mana pun yang kukenal. Kau tidak menghancurkan pertahanannya, kau hanya... meniadakannya."
"Itu hanya teknik memotong yang baik, Nona Li," jawab Han Shuo sambil mencoba mengatur napasnya. "Jika kau tahu di mana sendi-sendinya berada, kau tidak perlu menggunakan banyak tenaga."
Li Mei duduk di sampingnya. Ia mengeluarkan botol berisi obat luka dan mulai mengoleskannya ke lengan Han Shuo yang memar kebiruan. "Siapa pun kau sebenarnya, Han Shuo, kau telah menjungkirbalikkan semua yang kupelajari tentang kultivasi. Jika kakekku tahu tentang ini, dia pasti akan menyeretmu ke Aula Pengobatan untuk dipelajari."
"Tolong jangan lakukan itu," kata Han Shuo cepat. "Aku lebih suka berada di dapur. Di sana lebih tenang, dan setidaknya aku bisa makan enak setiap hari."
Li Mei tertawa kecil, tawa pertama yang tulus sejak mereka bertemu. "Dapur? Setelah apa yang kau lakukan hari ini, aku ragu dapur sekte ini cukup besar untuk menampung bakatmu."
Ia kemudian menatap bangkai harimau itu lagi. "Apa yang akan kau lakukan dengan ini? Bagian-bagian tubuhnya sangat berharga. Taringnya bisa dijadikan senjata, kristalnya bisa diolah menjadi pil tingkat tinggi."
Han Shuo menatap bangkai itu dengan mata berbinar, tapi bukan karena harganya. "Taring dan kristalnya bisa Nona ambil. Aku hanya ingin bagian jantung dan hati. Serta sedikit lemak dari bagian punggungnya. Ada resep dalam... catatanku, yang menyebutkan bahwa lemak harimau ini adalah bumbu terbaik untuk memperkuat sumsum tulang."
Li Mei tertegun. "Kau memburu binatang tingkat tiga hanya untuk menjadikannya bumbu masak?"
"Bahan yang bagus adalah kunci dari masakan yang hebat," sahut Han Shuo enteng.
Sore itu, mereka berdua bekerja sama membersihkan bangkai harimau tersebut. Li Mei, yang biasanya hanya berurusan dengan tanaman dan botol kaca, kini mendapati dirinya belajar cara menguliti binatang menggunakan pisau dapur di bawah arahan seorang pelayan.
Tanpa mereka sadari, ikatan aneh mulai terbentuk di antara mereka. Li Mei yang merupakan bangsawan sekte dan Han Shuo si pelayan rendahan, kini terhubung oleh rahasia besar di dalam gua tersembunyi.
Namun, kedamaian mereka terganggu saat Han Shuo merasakan getaran energi lain yang mendekat dari arah luar gua. Bukan hanya satu, tapi beberapa orang dengan basis kultivasi yang tidak lemah.
"Seseorang mencium aroma darah harimau ini," bisik Han Shuo.
Li Mei berdiri, wajahnya kembali dingin. "Itu pasti tim patroli sekte atau mungkin murid-murid senior yang sedang berburu. Jika mereka melihat kita di sini dengan harimau ini, akan ada banyak pertanyaan yang tidak bisa kita jawab."
Han Shuo segera mengemasi bagian-bagian daging yang ia inginkan ke dalam kain bersih. "Kita harus pergi lewat jalur belakang tebing. Aku tahu jalan setapak yang hanya digunakan oleh para pengumpul kayu."
Saat mereka hendak beranjak, sebuah suara teriakan terdengar dari kejauhan.
"Cepat! Arahnya dari sana! Aku yakin itu raungan Harimau Bertaring Kristal. Jika kita berhasil mendapatkannya, Penatua Lu pasti akan memberikan kita akses ke perpustakaan tingkat dua!"
Mata Han Shuo menyipit. Itu bukan suara murid biasa. Itu adalah suara orang-orang dari Aula Penegak Disiplin, kelompok yang sama yang berafiliasi dengan keluarga Wang.
"Sepertinya konflik dengan keluarga Wang belum benar-benar berakhir," gumam Han Shuo.
Li Mei menggenggam tangan Han Shuo. "Ikuti aku. Aku punya cara untuk membungkam mereka jika mereka berani macam-macam, tapi untuk sekarang, menyembunyikan kekuatanmu adalah pilihan yang paling bijaksana."
Han Shuo mengangguk. Ia melirik kuali tanah liatnya yang masih berasap pelan. Langkah pertamanya menuju puncak telah dimulai dengan perjamuan darah dan es. Dan ia tahu, hidangan-hidangan berikutnya akan membutuhkan bahan yang jauh lebih menantang.