NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14:Capek

Aku mengira Bilik 7 akan selamanya menjadi benteng terakhir tempatku berlindung dari badai di luar sana, namun aku salah besar. Aku terlalu naif hingga lupa bahwa dalam hirarki di dalam dunia sekolah ini, "popularitas" adalah segalanya. Popularitas, pengaruh, dan kecantikan adalah privilege di sini. Dan aku? Aku hanyalah Hanie, seorang gadis yang duduk diam di anak tangga paling bawah, tak terlihat dan dianggap tak berharga sama sekali.

Sore itu, suasana asrama terasa sedikit lebih sibuk. Aku melihat Kak Qasrina sedang bersiap-siap di depan almari. Gerakan Kak Qasrina terlihat sangat bersemangat, jauh berbeda dari biasanya. Ia mengenakan kerudung sekolah yang diseterika berkali kali yang ia miliki, menyatukannya dengan jarum pentul dengan sangat teliti agar lipatannya sempurna. Harum parfum yang manis dan kuat mulai memenuhi ruang Bilik 7.

Biasanya, Kak Qasrina akan menoleh padaku, tersenyum, lalu mengajakku pergi bersama. "Hanie, ayo ke koperasi," atau "Hanie, temani aku ke dewan makan, yuk." Kalimat yang sederhana itu selalu membuatku merasa bahwa aku masih memiliki tempat di dunia ini. Tapi hari ini, kehadiranku seakan lenyap.Ia bahkan tidak melirik ke arah tempat tidurku sedikit pun.

"Akak mau pergi ke mana? Perlu Hanie temani?" tanyaku dengan nada yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. Ada rasa takut yang merayap di dadaku, takut jika suaraku dianggap sebagai gangguan.

Kak Qasrina menoleh sekilas, namun hanya sekejap. Pandangan matanya begitu dingin, seolah-olah dia sedang menatap dinding kosong, bukan menatap manusia. Tidak ada lagi sinar kehangatan seorang "kakak" yang selama ini menjadi satu-satunya alasanku untuk merasa aman di asrama ini.

"Tidak usah, Hanie. Akak pergi dengan Amani. Dia mengajak Akak mendiskusikan program sekolah yang akan datang," jawabnya singkat tanpa menghentikan aktivitasnya merapikan tas.

Mendengar nama itu, jantungku seolah berhenti berdetak. Namanya seperti petir di siang bolong. "Amani? Tapi Kak... kak tahu sendiri kan apa yang dia lakukan pada Hanie dulu? Dia yang mengkhianati Hanie, dia yang meninggalkan Hanie saat semua orang menjauh..."

Kak Qasrina menghela napas panjang dan sangat keras, sebuah desahan frustrasi yang membuatku merasa seperti beban yang sangat berat. Ia berputar, menghadapku sepenuhnya dengan kedua tangan mencekak pinggang. Matanya menatapku tajam, tanpa ada sedikit pun rasa simpati.

"Hanie, bisa tidak kamu berhenti bersikap seperti anak kecil? Amani itu populer, semua orang di sekolah ini menyukainya. Dia punya pengaruh besar di sini. Kalau aku berteman dengannya, banyak urusan kak yang akan menjadi mudah. Kamu itu... kerjamu hanya mengadu, hanya bersedih. Kamu pikir aku ini tidak lelah harus menjaga hatimu terus menerus?"

Aku tersentak hebat. Kata-katanya terasa seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajahku, meninggalkan rasa panas yang membakar hingga ke ulu hati. Kepalaku pening, kenyataan ini terlalu pahit untuk diterima.

"Tapi Kakak sudah janji... Kakak janji akan menjaga Hanie..." suaraku mulai pecah, tertahan oleh gumpalan kesedihan yang menyumbat tenggorokan.

"Janji? Itu saat aku belum benar-benar mengenal siapa Amani. Sekarang aku sadar, berteman dengan orang seperti Amani jauh lebih membawa keuntungan daripada berteman dengan orang yang selalu membawa masalah dan aura negatif seperti kamu. Jangan jadi terlalu dramatis bisa tidak? Risih tahu!"

Setelah melontarkan kalimat yang menghancurkan hati dan kepercayaan ku, Kak Qasrina segera menyambar tasnya dan melangkah keluar dari Bilik 7 tanpa menoleh lagi. Aku terpaku, berdiri di tengah kamar yang kini terasa sangat luas dan hampa.

Aku berjalan lunglai ke arah jendela yang terbuka. Dari celah itu, aku melihat Kak Qasrina berlari-lari kecil menuju ke arah pohon besar di depan blok asrama. Di sana, Amani sudah menunggu dengan gaya anggunnya. Aku melihat mereka berdua tertawa bersama, tampak sangat akrab seolah sudah berteman bertahun-tahun. Sebelum mereka melangkah pergi, Amani sempat menoleh ke arah jendela kamarku. Ia memberikan satu senyuman kemenangan yang sangat sinis,sebuah senyuman yang mengatakan bahwa dia baru saja menghancurkan duniaku sepenuhnya.

Dia telah merampas segalanya dariku. Dia telah memutus satu-satunya "tali penyelamat" yang membuatku tetap bertahan di sekolah ini.

Tubuhku lemas. Aku terduduk di lantai semen yang sejuk, tak peduli lagi pada debu yang mungkin menempel. Aku merogoh saku baju dan mengeluarkan cermin kecil itu. Dengan tangan yang gemetar, kutatap pantulan mataku yang mulai membengkak dan merah.

"Lihat dirimu, Hanie... dia pun akhirnya meninggalkanmu. Karena kamu tidak cantik. Karena kamu tidak populer. Karena kamu tidak punya apa pun untuk diberikan padanya sebagai imbalan," bisikku dalam isakan tanpa suara.

Pada detik itu, aku menyadari bahwa Bilik 7 bukan lagi sebuah surga atau tempat perlindungan. Ruangan ini telah berubah menjadi sebuah kotak kosong yang gelap dan mencekam. Aku belajar satu pelajaran paling kejam dalam hidup: manusia akan selalu memilih mereka yang "bersinar" dan tidak akan ragu untuk memijak mereka yang "kelam" sepertiku.

Luka dari Devian Azka di kelas memang pedih, tapi pengkhianatan dari orang yang kita anggap sebagai pelindung adalah rasa sakit yang mematikan. Azka menghancurkan harga diriku di depan orang lain, tapi Kak Qasrina menghancurkan jiwaku di tempat yang paling pribadi.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, mendekap cermin kecil itu di dada. Dinginnya kaca cermin seakan menyerap panasnya air mata yang mengalir di pipiku. Di dalam hatiku, kini muncul sebuah rasa tawar yang luar biasa—sebuah kehampaan yang begitu dalam hingga aku merasa tidak mampu lagi untuk marah ataupun memaki.

"Cukup, Tuhan... aku sudah tidak ingin percaya pada siapa pun lagi. Biarlah aku sendiri di dalam kegelapan ini," gumamku pelan.

Malam itu, asrama terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku meringkuk di lantai, menyadari bahwa mulai besok, aku benar-benar harus berjalan sendirian di koridor sekolah yang penuh dengan predator seperti Arif ,Azka dan pengkhianat seperti Amani dan Kak Qasrina. Cermin di tanganku menjadi satu-satunya benda yang masih setia, meski yang ia tunjukkan hanyalah sisa-sisa kehancuran seorang gadis bernama Hanie. Aku sadar, di dunia ini, keikhlasan adalah barang langka yang tidak akan pernah aku temukan pada manusia-manusia yang hanya mengejar cahaya dan nama.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!