NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Drrtt… drrtt… drrtt…

Ponsel Mas Bram masih bergetar di atas meja, seolah tak sabar ingin diangkat. Aku meliriknya sekilas, lalu berpura-pura sibuk melipat baju. Biasanya aku tak pernah peduli. Tak pernah merasa perlu tahu.

Tapi entah kenapa kali ini dadaku terasa sesak.

Sudut mataku menangkap satu nama yang sempat menyala di layar sebelum meredup kembali.

Bukan namaku.

Aku menelan ludah, jari-jariku gemetar tanpa kusadari. Getaran itu berhenti sesaat, lalu kembali berbunyi, lebih agresif, seakan menuntut perhatian Mas Bram.

“Mas…” panggilku pelan, nyaris seperti bisikan.

Mas Bram tak menjawab. Ia masih di kamar mandi.

Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di samping meja. Ponsel itu kembali bergetar. Kali ini notifikasi pesan masuk.

Perempuan itu lagi.

Jantungku berdegup kencang, kepalaku dipenuhi berbagai prasangka yang tak sanggup kuhentikan. Tanganku terangkat, ragu—antara ingin tahu atau tetap percaya.

Namun rasa penasaran itu terlalu kuat untuk kuabaikan.

Aku melihat layar ponsel itu lebih jelas.

Tak ada nama.

Tak ada foto.

Hanya satu ikon—

emosi berbentuk love berwarna merah muda yang berdenyut pelan di layar.

Seketika keningku mengerut.

“Apa ini…?” gumamku nyaris tak bersuara.

Jantungku berdetak semakin cepat, seperti tahu kalau aku sedang bersiap membuka sesuatu yang seharusnya tak kulihat.

Tanganku dingin, tapi rasa penasaran mendorongku lebih jauh.

Tanpa sempat berpikir panjang,

akupun memencet tombol berwarna hijau.

[“Mas…

Suara perempuan itu terdengar lembut, terlalu lembut untuk sekadar teman biasa.

Aku membeku.

Napas terasa tertahan di tenggorokan, dadaku naik turun tak beraturan. Ponsel itu terasa begitu berat di genggamanku, seakan baru saja menjatuhkan kebenaran yang tak siap kuterima.

[“Mas Bram?” lanjutnya lagi, manja.

[“Mas Bram, akhirnya kamu angkat juga. Kenapa kamu diam saja, Mas?”] serunya lagi.

Aku terpaku.

Bingung harus menjawab apa. Siapa perempuan ini? Dan kenapa nada suaranya begitu manja saat memanggil suamiku?

Jari-jariku mencengkeram ponsel itu semakin erat.

[“Sayang, maaf kalau aku telepon tanpa WA dulu,”] lanjutnya, suaranya terdengar sedikit bergetar. [“Karena… Mamah kritis, Mas.”]

Seketika aku menutup mulutku sendiri.

Dadaku sesak, napasku tercekat. Segala prasangka buruk yang tadi berputar di kepalaku mendadak runtuh, berganti rasa kaget… sekaligus takut. Tanganku gemetar, mataku memanas.

Di saat yang sama, suara air dari kamar mandi berhenti.

Langkah kaki Mas Bram terdengar semakin dekat.

Aku menelan ludah, bingung—

haruskah aku menjawab?

Atau berpura-pura tidak pernah mengangkat telepon ini?

Ponsel itu masih menempel di telingaku,

sementara di kepalaku hanya ada satu pikiran yang berputar tanpa henti:

Siapa “mamah” yang ia maksud… dan perempuan ini, sebenarnya siapa dalam hidup Mas Bram?

Mas Bram keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di bahunya. Rambutnya masih basah, wajahnya tampak santai—sampai pandangannya jatuh pada ponselnya di tanganku.

Seketika langkahnya terhenti.

Matanya membelalak tipis.

“Rania…?” suaranya terdengar berat, jelas terkejut.

Seketika aku mematikan telepon itu, lalu tersenyum kikuk ke arah Mas Bram.

“Iya, Mas,” seruku, berusaha menormal-kan suaraku yang nyaris bergetar.

“Kamu pegang ponselku?” tanyanya sambil membuka pintu lemari, punggungnya membelakangiku.

"Oh iya, Mas. Tadi jatuh,” jawabku cepat.

Mas Bram hanya mengangguk, sama sekali tanpa curiga.

Dan di situlah dadaku terasa semakin sesak.

Aku menatap punggungnya lekat-lekat. Jika saja dia menoleh satu detik lebih lama, mungkin dia akan tahu—bahwa senyumku barusan hanyalah topeng tipis untuk menutupi rasa hancur yang mulai menggerogoti hatiku.

"Mas mau keluar sebentar,” ucapnya santai sambil mengganti bajunya.

Aku mengangguk kecil.

“Iya, Mas.”

Padahal di dalam hatiku, ribuan pertanyaan berteriak minta dijawab.

Siapa perempuan itu?

Kenapa ikon love tersimpan tanpa nama?

Dan kenapa, saat ia menyebut kata mamah, suaranya terdengar seperti seseorang yang punya tempat sangat penting dalam hidup Mas Bram?

Aku mengepalkan jemariku.

Mas Bram selesai berpakaian dan mengambil kunci mobil.

“Aku keluar sebentar ya,” ucapnya singkat, nadanya terdengar terburu-buru.

Aku mengangguk pelan.

“Iya, Mas. Hati-hati.”

Pintu tertutup.

Bunyi klik kunci itu terdengar begitu keras di telingaku.

Beberapa detik aku masih berdiri di tempat, mematung. Menunggu. Mendengarkan suara langkahnya menjauh, lalu deru mesin mobil yang akhirnya menghilang dari halaman rumah.

Baru setelah itu aku bergerak.

Aku mengambil jaket, tanganku masih gemetar saat menyambar tas. Dadaku berdebar tidak karuan. Aku tahu ini salah.

Aku tahu aku seharusnya percaya. Tapi kakiku melangkah lebih dulu sebelum logikaku sempat melarang.

“Maafin aku, Mas…” gumamku lirih.

Aku keluar rumah dan menyusulnya diam-diam.

Di jalan, lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca, namun pikiranku jauh lebih gelap. Setiap kali lampu rem mobil Mas Bram menyala, jantungku ikut berhenti berdetak sesaat.

Aku menjaga jarak.

Tak terlalu dekat.

Tak terlalu jauh.

Kepalaku dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang:

Apakah kali ini aku akan menemukan kebenaran… atau justru menghancurkan hatiku sendiri?

Mobil Mas Bram berbelok.

Dan aku ikut membelok.

Mobil Mas Bram berhenti di depan sebuah rumah mewah.

Bukan rumah sederhana seperti yang sempat kupikirkan. Bangunannya tinggi, halaman luas, lampu taman menyala temaram—terawat, tenang, dan jelas bukan rumah orang biasa.

Dadaku seketika terasa jatuh.

Aku memarkir kendaraanku agak jauh, bersembunyi di balik gelap. Dari sana, aku melihat Mas Bram turun dengan langkah yang begitu yakin, seolah rumah itu adalah tempat yang sudah sangat dikenalnya.

Pintu besar itu terbuka.

Mas Bram masuk tanpa ragu.

Beberapa menit berlalu, terasa seperti berjam-jam.

Lalu mereka keluar bersama.

Mas Bram…

dan perempuan itu.

Mereka tampak sangat mesra.

Mas Bram merangkul bahunya, menariknya lebih dekat saat perempuan itu tersandung kecil.

Gerakannya refleks—terlatih—sebuah kebiasaan, bukan sekadar basa-basi.

Namun wajah perempuan itu berbeda.

Cantik. Terawat. Elegan.

Tapi penuh kesedihan.

Matanya merah, air mata masih menggantung di pelupuknya.

Senyum yang dipaksakan, seolah baru saja menyimpan luka besar di balik dinding rumah megah itu.

Mas Bram menunduk, berbisik pelan. Perempuan itu mengangguk lemah, lalu menempelkan keningnya sesaat ke dada Mas Bram.

Aku menutup mulutku sendiri.

Napas terasa tak bisa masuk dengan sempurna.

Di depan rumah semewah itu, dengan segala kemapanannya, aku akhirnya mengerti satu hal yang menamparku tanpa ampun:

Ini bukan sekadar perempuan lain.

Ini adalah dunia lain yang Mas Bram sembunyikan dariku.

Aku meraih ponselku dengan tangan gemetar, jari-jariku nyaris salah menekan layar.

Kutelpon Mas Bram.

Satu kali.

Tak diangkat.

Aku mencoba lagi.

Nada sambung itu hanya terdengar sebentar, lalu terputus.

Ponsel yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Aku membeku.

Kutatap layar itu lama, seolah berharap kalimat tadi berubah. Kutekan lagi, untuk ketiga kalinya. Hasilnya tetap sama—sunyi, dingin, menutup semua aksesku padanya.

Dadaku terasa semakin berat.

Baru saja aku melihatnya mesra dengan perempuan lain di depan rumah mewah ini… dan sekarang, bahkan untuk sekadar mendengar suaranya pun aku tak bisa.

Aku menoleh ke arah mereka.

Mobil Mas Bram mulai bergerak. Lampu sein menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman rumah itu.

Dan aku masih di sini.

Sendiri.

Di depan kenyataan yang tak sanggup lagi kuelak.

Tanganku mengepal, kuketuk kemudi dengan pelan, menahan isak yang ingin pecah.

Jika memang tak ada apa-apa yang disembunyikan…

kenapa ponselnya harus dimatikan?

***

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!