Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Sebenarnya Dirgantara?
" Kekasihku! Yang aku ceritakan tadi!" Dirgantara merangkul Senja mendekatkan tubuhnya ke tubuh Senja.
" Hah? "Senja membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan Dirgantara barusan.
Senja berusaha mendorong tubuh Dirgantara namun Dirgantara masih menahannya dengan senyum aneh kepada wanita di depannya.
"Kamu serius Dirga? Wanita seperti ini?" Tanya wanita tersebut memandang remeh Senja.
"Wanita seperti apa maksud kamu Karin? Dia cantik,baik dan menarik. Yang lebih penting kami sudah punya anak dan umurnya sudah hampir enam tahun!" Jawab Dirgantara.
Senja menatap tajam Dirgantara. Dia sebenarnya paham dengan tujuan Dirgantara bicara seperti ini kepada wanita tersebut. Dirgantara sengaja menjadikan dirinya sebagai tameng agar si wanita tak suka padanya. Namun untuk saat ini Senja memilih diam dan menyaksikan semuanya.
"Kamu bohong! Kata Tante Tias, kamu gak ada pasangan makanya kita dijodohkan. Dan aku suka sama kamu. Namun siapa sangka.."
"Siapa sangka aku lelaki bajingan yang punya anak di luar pernikahan?" potong Dirgantara cepat.
" Tapi gak masalah. Asal kamu mau putus dengan dia, aku akan menerima anak kamu!" Ucap Karin lagi dengan tersenyum.
"Tapi aku mencintai Senja dan aku tak akan putus dengannya. Aku berencana akan menikahinya dalam waktu dekat ini!"
"Dirga..." Hardik Karin kesal.
"Sebaiknya kamu pulang. Karena kami mau ke kamar dulu."
"Ke kamar? Siang-siang begini?" Karin mengernyitkan dahinya menatap Dirgantara dan Senja.
" Apa salahnya? Bahkan siang-siang begini lebih asyik mainnya!"
Plakk!!
Tamparan keras pun mendarat di pipi Dirgantara. Setelah menampar Dirgantara, Karin pun memilih pergi dengan keadaan kesal.
" Sudah selesai? " Senja mendorong tubuh Dirgantara yang masih memegang pipinya bekas tamparan tadi.
"Terserah anda punya masalah apa dengan wanita itu. Apa pantas anda menggunakan saya sebagai tameng? Bahkan ucapan anda tadi seolah membuat saya sebagai wanita tak punya harga diri!" Tegas Senja tak terima.
" Tak semua wanita suka, berada dalam masalah orang lain! "lanjut Senja.
"Maaf!" Kata singkat yang keluar dari mulut Dirgantara.
" Silahkan anda tanda tangani berkas ini!" Senja melempar berkas itu ke dada Dirgantara.
"Ayo kita kembali ke kantor. Nanti di sana saja saya tanda tangani." Ucap Dirgantara berjalan duluan membawa berkas tersebut.
"Apa?" Jelas Senja semakin kesal. Dia sudah jauh-jauh datang ke sini, tapi nyatanya dia malah akan ke kantor.
" Ternyata anda sengaja menyuruh saya ke sini untuk ini semua? " Senja mengejar langkah Dirgantara..
" Betul!"
Senja hanya bisa menghela nafas panjang menghadapi atasannya ini. Kalau tidak demi Angkasa, lebih baik dia memilih berhenti bekerja dari pada bekerja dengan orang stress seperti Dirgantara.
" Naiklah! "Dirgantara membukakan pintu mobilnya.
"Saya bisa ke kantor sendiri!" Jawab Senja ketus.
" Kamu yakin? Bisa saja saya berubah pikiran dan pergi entah kemana membawa berkas ini!"
Terpaksa Senja naik ke dalam mobil Dirgantara. Tak ada pilihan lain selain harus bersabar menghadapi Dirgantara ini.
Dirgantara tersenyum tipis dan melajukan mobilnya menuju perusahaan.
Awalnya suasana hening di dalam mobil. Senja memilih menatap ke luar jalan.
"Bagaimana kabar anak kamu?" Tanya Dirgantara membuat Senja langsung menoleh.
Senja masih belum paham kenapa Dirgantara tau kalau dia sudah punya anak. Senja terus berfikir siapakah sebenarnya Dirgantara ini.
" Bagaimana anda tau tentang anak saya? " Tanya Senja balik.
" Jangankan tau tentang anak itu, bahkan saya mendengar teriakan kamu saat persalinan anak itu! "
"Apa?"
"Hmmm.. Saya berada di sana melihat semuanya. Kamu melahirkan sendiri tanpa ada yang mendampingi."
"Apa masih belum mau tanggung jawab laki-laki itu? Sungguh laki-laki bajingan!" Lanjut Dirgantara.
"Dia sudah mati, jadi jangan bahas apapun tentang dia!" ucap Senja takut kalau Dirgantara tau ayah dari anaknya adalah Sean.
"Baguslah jika kamu menganggapnya sudah mati." Jawab Dirgantara.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Senja sekali lagi .
" Nanti kamu akan tau siapa aku dan bagaimana kita bertemu dulu. Bahkan kamu juga akan tau bagaimana aku bisa tau apa yang kamu lalui dulu!" Jawab Dirgantara memarkirkan mobilnya.
Dirgantara keluar duluan lalu membukakan pintu mobil untuk Senja. Senja kemudian mau turun dari mobil,untungnya Dirgantara dengan sigap meletakkan telapak tangannya di atas kepala Senja,kalau tidak kepala Senja bisa saja kepentok bagian atas pintu mobil.
"Maaf!" Ucap Senja buru-buru meraih tangan Dirgantara setelah keluar dari mobil.
"Kamu harus hati-hati!" Ucap Dirgantara.
" Tangan anda?"Senja melihat punggung tangan Dirgantara memerah dan luka.
" Ini hanya memar sedikit."
" Biar saya obati dulu!"Ucap Senja merasa bersalah dan tanpa sadar memegang tangan Dirgantara masuk ke dalam kantor. Membawa Dirgantara ke ruangan mereka. Bahkan Senja tak sadar jika saat ini banyak yang melihatnya. Bahkan ada Sean yang juga melihatnya.
"Saya obati dulu tangan anda!" Ucap Senja menyuruh Dirgantara duduk di meja kerjanya.
Senja kemudian pergi mengambil obat luka untuk tangan Dirgantara.
Senja kemudian mengambil kursi dan duduk di depan Dirgantara. Dengan hati-hati Senja mengusap luka Dirgantara dengan cairan anti septik.Tak lupa dia meniup pelan luka tersebut.
Seperkian detik Dirgantara terdiam dan menatap lekat Senja. Senyum tipis pun terpancar di wajahnya.
"Luka anda,sudah saya obati!" Ucap Senja setelah memasang plaster di luka Dirgantara.
"Hmm.." angguk Dirgantara.
"Yaudah, anda kembali ke meja kerja anda! Saya mau kerja."
" Baiklah!" Dirgantara berdiri dan melangkah ke meja kerjanya.
"Senja!" panggil Dirgantara lagi.
"Maaf untuk yang tadi!"
"Hmmm.." Senja mengangguk.
"Kamu masih butuh ini?" Ucap Angkasa melihatkan dompet Senja.
"Itu kan dompet saya? Di mana anda mendapatkannya?"
"Kemaren di sana!" tunjuk Dirgantara ke bawah meja kerjanya Senja.
"Terimakasih anda sudah menemukannya." Ucap Senja hendak mau mengambil dompet tersebut.
Namun tiba-tiba Dirgantara malah mengangkat dompet itu setinggi mungkin.
"Kalau kamu bisa ambil sendiri!"
"Pak Dirgantara,cukup main-mainnya!" ucap Senja benar-benar kesal dengan kekanak-kanakan Dirgantara.
"Anda kira saya akan melompat-lompat mengambil itu dompet? Jangan harap!" Ucap Senja memilih kembali ke meja kerjanya.
" Cepat sekali mood kamu berubah!" Dirgantara meletakkan dompet Senja ke meja kerjanya Senja.
Dirgantara kemudian membawa laporan yang dibawa Senja tadi ke ruangan Sean.
Saat masuk ke ruangan Sean,tak ada siapapun. Dirgantara memilih duduk santai di meja kerjanya Sean. Bahkan dia dengan sengaja mengangkat kakinya ke meja kerjanya Sean.
Tak lama kemudian Sena datang dan masuk ke dalam ruangannya.Sebelum masuk,dia sempat melihat Senja yang sedang sibuk menatap layar komputer.
" Dirgantara?Kamu ngapain di meja kerja saya?"Sean menatap tajam Dirgantara.
"Saya hanya ingin mencoba bagaimana rasanya duduk di kursi hasil rampasan!!" Tegas Dirgantara dengan dingin dan penuh amarah yang di pendam.