Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 27
Khadafy meletakkan pisaunya pelan di atas papan pemotong. Pria itu memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga ujung sepatu rumah mereka hampir berbenturan.
Aroma harum bayam segar dan potongan daun bawang bercampur dengan aroma parfum maskulin Khadafy yang khas. Pria itu menundukkan kepala, menatap lurus ke dalam manik mata Zheana yang bergetar menahan gejolak emosi.
"Jangan pernah berpikir kamu adalah beban, atau sekadar pilihan darurat," bisik Khadafy.
Suaranya terdengar begitu dalam dan rendah hingga menggetarkan dada Zheana. Tangan Khadafy yang masih sedikit basah setelah mencuci kentang terangkat, jemarinya yang hangat dan kokoh membingkai pipi kanan Zheana.
Tubuh Zheana mendadak kaku, napasnya tertahan. Sentuhan Khadafy begitu lembut, berbanding terbalik dengan gestur tegasnya di gedung Mumtaz Group.
"Mas... tapi Zhea nggak terbiasa dilayani begini," cicit Zheana lirih, matanya bergerak gelisah, mencoba mengalihkan fokus dari ketampanan suaminya yang terlampau dekat.
"Dari dulu Zhea terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Waktu di rumah Papa pun... Zhea selalu mengerkajannya sediri. Sekarang di sini, melihat Mas Khadafy potong sayur di dapur... Zhea merasa serba salah. Ada rasa tak nyaman bagi Zhea. Bagaimana kalau Abi dan Umi melihat, Mas seperti ini? Mas mendingan mandi dan istirahat saja, Mas pasti capek. Biar ini Zhea yang kerjakan sendiri!"
Khadafy tersenyum tipis, sebuah garis senyum yang amat langka yang sanggup membuat pertahanan diri Zheana runtuh seketika. Ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi Zheana.
"Mulai hari ini, buang jauh-jauh kebiasaan mengalahmu itu," tegas Khadafy tanpa nada membentak, namun begitu sarat akan dominasi yang melindungi. "
"Ah kamu sepertinya harus sering main ke rumah Abi dan Umi. Kamu juga harus melihat bagaimana Abi yang membantu Umi... Kamu istriku, Zhea... Bukan pembantu di rumah kita ini.."
Khadafy membiarkan jemarinya mengusap lembut pipi Zheana sekali lagi sebelum akhirnya melepaskan usapannya dengan amat enggan. Pria itu kembali meraih pisau dapur, memotong kentang menjadi ukuran yang jauh lebih rapi dan presisi di bawah pengawasan ketat Zheana yang kini sibuk menahan gejolak di dadanya.
"Bisa kan, Mas?" celetuk Zheana pelan, mencoba memecah keheningan yang terlalu intens di antara mereka seraya memasukkan bumbu halus ke dalam air yang mulai mendidih di atas kompor induksi.
"Aku selalu bisa belajar dengan cepat, Zhea," sahut Khadafy santai seraya menyerahkan piring berisi potongan wortel dan kentang yang sudah rapi.
"Apalagi kalau gurunya galak seperti kamu."
"Mas Khadafy! Siapa yang galak?" sergah Zheana membelalakkan matanya, merengut geli.
Khadafy hanya terkekeh pelan tanpa membalas, menikmati rona merah yang makin kentara di pipi istrinya.
Setengah jam kemudian, aroma gurih sup daging sapi yang masih beruap memenuhi area dapur dan meja makan pantry. Mereka duduk berhadapan. Zheana yang masih memegang teguh naluri melayaninya, cekatan memindahkan nasi hangat dan menyiramkan kuah sup tebal berisi daging empuk ke dalam mangkuk Khadafy.
"Terima kasih, Zhea," ujar Khadafy tulus. Pria itu menyuap sendok pertamanya, mengunyah perlahan, lalu memejamkan mata sejenak menikmati rasa gurih yang pas di lidahnya.
"Rasanya enak sekali. Jauh lebih enak dari katering mana pun yang biasa aku pesan."
Zheana yang sejak tadi menahan napas menunggu reaksi suaminya mendadak menghembuskan napas lega.
"Beneran enak, Mas? Nggak keasinan atau kurang rempah?"
"Sempurna," sahut Khadafy singkat namun penuh penekanan, menatap lurus ke mata Zheana.
"Kamu memang berbakat."
Pujian sederhana itu terasa begitu menyejukkan dada Zheana, meluruhkan sisa-sisa rasa rendah diri yang kerap menghantuinya. Makan malam mengalir tenang, dipenuhi denting sendok dan percakapan ringan yang makin mengikis dinding kaku di antara mereka.
Usai membereskan meja makan dan mencuci piring, yang tentu saja diwarnai perdebatan kecil karena Khadafy ingin membantu mengeringkan mangkuk, mereka berpindah ke area ruang keluarga. Pendar lampu ruangan sengaja diredupkan, menyisakan nuansa hangat dari sorot televisi berlayar lebar yang menampilkan film dokumenter alam.
Zheana berjalan dari dapur membawa nampan kecil berisi dua cangkir cokelat hangat berbuih halus. Ia meletakkannya di atas meja kaca, lalu duduk di ujung sofa panjang dengan agak canggung, menyisakan jarak yang lumayan lebar dari Khadafy.
Khadafy yang sudah mengenakan kaus polos abu-abu santai dan celana kain longgar melirik celah kosong di antaranya dan Zheana. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu merentangkan tangan kirinya di sandaran sofa dan menepuk busa di samping tubuhnya.
"Sini," titah Khadafy halus namun tak terbantahkan.
"Duduknya jangan jauh-jauh. Televisinya di depan, bukan di samping."
Zheana menggigit bibir bawahnya, bergeser pelan hingga jarak mereka tersisa sejengkal. Sebelum ia sempat memprotes, Khadafy sudah meraih cangkir cokelat hangatnya, menyerahkannya pada Zheana, lalu bersandar santai.
"Zhea," panggil Khadafy seraya menyesap cokelatnya perlahan.
"Iya, Mas?"
"Sejak kapan kamu suka memasak?" tanya Khadafy, matanya kini menatap profil samping wajah Zheana yang diterpa cahaya remang televisi.
Zheana terkekeh tipis, mengusap cangkir hangat di genggamannya.
"Sejak SMP, Mas. Sebelum Papa menikah lagi dengan Mama Irma, aku sudah terbiasa memasak karena kasihan kepada Papa yang pulang capek dan harus mengurus rumah juga aku. Terus setelah Papa menikah lagi, Mama Irma yang juga jarang masak dan mbak Niken kan dari dulu paling nggak suka bau asap dapur atau tangannya kotor kena bumbu karena Mbak Niken juga kan sudah menjadi model dari saat sekola, Mama juga melarang Mbak melakukan pekerjaan rumah apapun itu. Makanya karena nggak ada yang masak, aku belajar masak otodidak," jelas Zhea sambil terkekeh.
Khadafy menyimak dengan cermat. Manik matanya memancarkan rasa bersalah yang tersembunyi, menyadari betapa banyaknya pengorbanan yang dilakukan gadis di sampingnya ini selama bertahun-tahun di rumahnya sendiri.
"Lalu, kenapa kamu selalu menolak posisi Manajer Marketing?" tanya Khadafy lagi, mengganti topik agar atmosfer tidak terlalu berat.
"Pak Bambang bilang kamu selalu lempar berkas promosi itu kembali ke mejanya."
Zheana menunduk, memainkan uap manis dari cangkirnya.
"Zhea... Zhea merasa belum cukup ilmu, Mas. Zhea takut nggak bisa memimpin tim yang isinya senior-senior seperti Mbak Arin atau Pak Bambang sendiri. Zhea lebih nyaman bekerja di balik layar, bantu susun konsep tanpa harus pegang tanggung jawab sebesar itu."
"Itu karena kamu tidak pernah diberi ruang untuk percaya pada potensimu sendiri," potong Khadafy tegas namun lembut.
"Di mata profesionalitasku sebagai CEO, konsep-konsep kampanye yang kamu buat selama enam bulan terakhir adalah yang terbaik di divisi itu. Kamu punya intuisi pasar yang tajam, Zhea. Jangan biarkan rasa ragumu mematikan bakatmu."
Zheana mendongak, terpana menatap wajah Khadafy yang begitu dekat. Pandangan pria itu tidak memancarkan kebohongan sedikit pun.
"Mas Khadafy beneran mikir begitu?" bisik Zheana tak percaya.
"Aku tidak pernah berbohong soal penilaian kerja," jawab Khadafy lempeng. Pria itu meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu tanpa ragu meraih cangkir di tangan Zheana dan menyimpannya di tempat yang sama.
Sebelum Zheana sempat bertanya, Khadafy meraih kedua jemari tangan Zheana, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari secara teratur.
"Waktu aku ke rumah bersama Niken dulu," lanjut Khadafy dengan suara makin merendah, "kamu selalu duduk paling belakang, jarang bicara, dan selalu menunduk. Aku dulu berpikir kamu memang tipe orang yang sangat pendiam."
Zheana tersenyum canggung.
"Kita bukan mahram, dan Mas juga adalah calon suami dari kakak aku sendiri... Dan lagipula..." Zheana melirik canggung pada jemari Khadafy yang masih mengusap punggung tangannya dengan amat teratur.
"Mas Khadafy yang dulu selalu menjaga pandangan dan batasan. Zhea seedikit paham syariat antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Mana berani Zhea dekat-dekat atau bicara banyak? Zhea cuma berusaha menjaga diri dan rasa hormat sama calon suami Mbak Niken waktu itu."
Khadafy tertawa halus, sebuah tawa bergelombang yang menyalurkan getaran hangat hingga ke sela-sela jemari mereka yang bertaut. Pria itu sedikit memiringkan posisinya, menumpu satu sikunya di sandaran sofa seraya terus memandangi wajah istrinya.
Umi dan Abinya benar, Zhea memang wanita yang tahu menjaga batasan dan juga dirinya. Bahkan dia baru pertama kali menatap wajah cantik Zhea dengan jelas saat berada di dapur rumah orang tua Zhea. Bahkan di kantor saja, Zhea selalu menunduk dalam. Zhea juga belajar dan tahu menjaga pandangannya. Sifat niken dan Zhea sangat berbanding terbalik.