Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 Nenek Datang
Penthouse yang biasanya sepi, pagi ini terasa gaduh, semenjak si gadis desa itu datang setiap hari selalu saja ada gebrakan baru.
"Mas Arga! Mas Arga! Setrikaannya ada di mana ya? Hijab aku kusut semua!"
Arga yang baru selesai olahraga pagi dan sedang minum kopi hitamnya menatap Safa dengan kening berkerut. Safa lari ke sana ke mari dengan daster batik, hijabnya masih setengah jadi, mukenanya masih nyangkut di leher karena habis sholat subuh buru-buru dan lupa mepelasnya.
"Apa kamu tidak bisa diam?" sentak Arga.
"Mas pagi ini kan Nenek mau datan Mas. Aku harus kelihatan cantik,nenek kan orang kaya dia juga datang jauh dari London, pasti standarnya tinggi,ka Anita aja beliau tolak apa lagi aku mas,aku malu kalau kelihatan berantakan."
Safa berdiri di depan cermin besar di ruang tamu. Dia mencoba menyetrika hijabnya sendiri, tapi setrika uap canggih itu terlalu panas, sampai hijabnya hampir bolong.
"Aduh, kok jadi mengkilap gini hijabnya!" teriak Safa panik.
Arga merasa tidak tahan melihat itu dia langsung mendekat dan merebut setrikan dari tangan Safa.
"Minggir! Tidak becus!" sungut Arga.
Dengan gerakan cepat dan rapi, Arga menyetrika hijab pink itu dalam waktu 30 detik. Rapi, licin, tanpa bekas.
Safa melongo. "Wah, Mas Arga bisa nyetrika? CEO bisa nyetrika? Kereen mas Agra kereen!" Safa melompat kegirangan seperti anak TK yang melihat sebuah atraksi didepannya.
"Saya bisa semuanya,tidak seperti kamu brisik, ceroboh,gaptek!"
Bibir safa mengerucut ,tapi dalam hatinya merasa kagum. "Makasih ya Mas."
Arga memberikan hijab itu. "Pakai yang benar, Jangan miring lagi!"
Safa memakai hijabnya di depan cermin. "Mas, udah bener belum?"
"Masih miring sedikit ke kiri." jawab Arga tanpa menoleh.
Safa membetulkan lagi. "Kalau gini?"
Arga menghela napas, lalu dengan refleks dia maju dan merapikan hijab Safa dengan tangannya sendiri. Jari-jarinya yang dingin tanpa sengaja menyentuh pipi Safa yang hangat.
Deg.
Keduanya diam. Jarak mereka hanya 20cm Safa bisa melihat bulu mata Arga yang lentik, Arga bisa melihat mata Safa yang bulat dan tampak polos.
"Udah," ujar Arga cepat sambil langsung balik badan. Telinganya merah. "Jangan kebanyakan gerak kalau lagi pakai hijab biar rapih dan ngga miring terus!"
Safa terlihat salah tingkah, wajahnya merah seperti kepiting rebus. "Iya, iya."
Jam 8 pagi, semua sudah siap. Meja makan sudah ada rendang yang semalam mereka buat bersama. Rendangnya memang tidak secantik buatan restoran Padang, agak gosong di pinggirnya karena Safa kelamaan ngaduk, tapi aromanya lumayan enak. Ada juga nasi putih pulen yang Safa masak dengan magic com.
"Safa,ingat baik-baik apa rencana kita!" ucap Arga serius sebelum Nenek datang. Dia duduk di sofa dan menatap Safa. "Nenek saya itu namanya Nyonya Ratna. Umurnya sudah 78 tahun, dia menderita sakit jantung,tepat hari ini pesawatnya baru mendarat dari London. Dia sangat detail, galak, dan dia bisa tau saat seseorang sedang berbohong hanya dengan melihatnya cara menuangkan secangkir teh.
"Wah, kayak detektif ya Mas?"
"Bukan detektif, tapi instingnya kuat. Jadi apapun yang terjadi, kita harus terlihat natural,jangan terkesan kita sedang akting.Kita juga harus terlihat mesra jangan kaku.Paham!"
Safa mengangguk namun juga tegang "Akting mesra gimana Mas? Aku nggak pernah pacaran mas. Seumur hidup aku cuma dekat kambing tetangga waktu kecil."
Arga hampir tersedak kopinya. "Jangan bawa-bawa kambing di depan Nenek."
"Terus gimana?"
"Gampang. Kalau Nenek tanya, katakan kamu cinta sama saya. Kalau Nenek menyuruh kamu pegang tangan, pegang. Jangan kaku seperti patung."
Mendengar penjelasan Arga Safa semakin tegang. Pegangan tangan? Duduk berdekatan? mesra? Selama 4 hari menikah, jarak aman mereka itu minimal satu meter.
Ting... tong... Bel berbunyi jam 9 tepat.
Pintu dibuka oleh Arga. Di depan pintu berdiri seorang wanita tua yang sangat anggun. Rambutnya putih disanggul rapi, memakai kebaya berwarna coklat keemasan, membawa tongkat kayu.Dia tampak begitu elegan dan di belakangnya ada suster pribadi yang membawakan kopernya.
"Arga, cucu nenek!" kata Nenek Ratna dengan suara lembut tapi terdengar berwibawa. Dia langsung memeluk Arga.
Arga yang biasanya dingin seperti kulkas, saat di depan Neneknya langsung meleleh. "Nenek, akhirnya sampai juga ,apa nenek merasa lelah setelah perjalanan panjang? Jantung nenek aman?"
"Nenek akan benar-benar sehat setelah melihat kamu benar-benar sudah menikah.Mana istrimu?"
Safa yang dari tadi bersembunyi di belakang sofa, berdiri dan maju satu langkah dengan kaki gemetar. Dia langsung menghampiri nenek dengan berjalan menunduk kemudian menyalami tangan nenek dengan takzim.
"Nenek, perkenalkan nama saya Safa. Selamat datang Nek, maaf kalau rumahnya masih berantakan."
Nenek Ratna menatap Safa dari atas sampai bawah. Tatapannya tajam, menelisik mengamati dan memperhatikan dengan detail perempuan kecil yang berdiri didepannya.
"Kamu Safa ya?Kamu benar-benar berasal dari kampung?" tanya nenek.
"Iya Nek, saya berasal dari kampung sukajati."
"Kampung Sukajati,Nenek belum pernah mendengar nama kampung itu,apa itu desa kecil? Desa terpencil?"
"Iya Nek, desa kecil. Kalau mau ke kota harus naik angkot dulu selama 3 jam perjalanan.
Nenek mengangguk, lalu masuk dan duduk di sofa utama. "Arga bilang kamu bisa masak rendang. Nenek sudah 10 tahun di London, kangen masakan Indonesia. Di sana tiap hari cuma fish and chips sama roti tawar. Lidah nenek sudah rindu rendang asli buatan Indonesia.
Safa langsung panik dan melirik Arga memberikan kode darurat.
Arga memberi kode dengan mata seolah mereka sedang bertelepati dan Arga mengatakan "bawa saja rendang yang semalam."
Safa masuk ke dapur dengan kaki gemetar dan tangannya sampai berkeringat dia lalu menghangatkan rendangnya di panci dengan hati-hati takut salah dan justru membuatnya semakin gosong.
Setelah dirasa cukup dia membawa rendang itu dengan nampan ke meja makan lengkap dengan nasi putih pulen yang dia masak subuh tadi.
Arga kemudian mengajak nenek ke meja makan dan mereka duduk setelah semuanya tertata rapih.
"Nenek, ini rendangnya silahkan dicicipi. Maaf ya Nek kalau rasanya belum enak, saya masih belajar."
Nenek Ratna mencium aroma rendang itu. "Hmm, wanginya pas aroma rempahnya terasa.
Nenek mengambil satu potong kecil daging dan memakannya pelan.
Safa menahan napas. Arga juga menahan napas. Bahkan robot sapu yang lewat pun seolah berhenti.
Satu detik, dua detik, tiga detik.
Nenek mengunyah pelan, lalu tersenyum. Senyuman yang pertama kali Safa lihat.
"Enak." ucap Nenek. "Dagingnya empuk, bumbunya meresap sempurna,tidak terlalu pedas, pas buat lidah nenek yang sudah tua. Siapa yang mengajari kamu masak?"
Safa merasa tersanjung dan juga gugup saat masakannya dipuji. "Saya, saya belajar dari ibu saya di kampung, Nek. Terus semalam Mas Arga juga bantuin ngulek bumbunya." ada sedikit kebohongan yang Safa ucapkan karna yang sebenarnya dia belajar membuat rendang itu dari Arga suaminya.
Nenek langsung menatap Arga dengan tatapan mata berbinar. "Arga mau bantu ngulek? Wah, cucuku yang dulu jarang masuk dapur karena takut bau bawang, sekarang mau bantu ngulek bumbu rendang? Wah wah berarti dia memang sayang sama kamu Safa.
Wajah Arga langsung merah padam. "Nek, saya cuma ngajarin ngulek karna Safa nguleknya salah terus."
"Alah, alasan. Nenek juga dulu pernah muda. Kalau suami sudah mau masuk dapur itu tandanya cinta. Nenek paham karna dulu kakekmu juga begitu."
Safa menunduk, wajahnya juga merah. Dia melirik Arga, Arga melirik dia, lalu keduanya cepat-cepat buang muka.
Siang itu, Nenek memutuskan untuk mengobrol lebih lama. Dia memegang tangan Safa dan tangan Arga, lalu menyatukannya di atas meja.
"Jangan dilepas dulu,biar nenek bisa melihat ternyata tangan kalian saat disatukan begini terlihat sangat cocok."
Tangan Safa kecil, dingin dan sedikit kasar mungkin karna dia dari kampung dan terbiasa bekerja keras sementara tangan Arga besar, hangat dan halus tapi justru itu yang membuat kalian cocok karna saling melengkapi.
Begitu bersentuhan, keduanya seperti kesetrum. Safa ingin menarik tangannya, tapi Nenek memegangnya erat.
"Kapan nenek mau dikasih cicit ? Nenek ingin sekali gendong cicit."tanya Nenek tiba-tiba.
"Uhuk!" Safa tersedak air liurnya sampai terbatuk-batuk. Arga juga kaget dan langsung melepas tangan Safa.
"Nek, kan kami baru nikah 4 hari." ucap Arga gugup.
"Justru harus cepat. Nenek sudah tua,umur nenek sudah 78, jantung nenek juga sudah lemah. Nenek ingin sebelum Tuhan panggil nenek, nenek sudah bisa lihat cicit."
Safa hanya bisa diam, wajahnya merah sampai ke telinga.
Sore harinya, sebelum pulang ke hotel, Nenek berbisik ke Safa di dapur.
"Safa, nenek titip Arga ya. Arga itu di luar dingin, tapi di dalam dia itu lembut dia sebenarnya hanya kesepian. Dari kecil dia tidak punya ibu. Jadi dia butuh istri yang hangat seperti kamu. Jangan tinggalkan dia ya nak."
Kata-kata itu membuat hati Safa bergetar. Dia mengangguk dengan tulus. "Iya Nek, saya akan menjaga mas Arga."
Setelah Nenek pulang, penthouse kembali sepi.
Safa dan Arga duduk di sofa dengan jarak satu meter, sama-sama merasa lelah setelah bertemu nenek.Bukan lelah aktifitas tapi lelah karna harus memikirkan jawaban yang tepat dari setiap pertanyaan nenek.
"Mas, tadi aku aktingnya bagus nggak?" tanya Safa.
"Lumayan. Tidak terlalu kelihatan kalau kita sedang berbohong."
"Mas juga bagus aktingnya. Tadi pas pegang tangan aku, Mas nggak gemeteran."
"Saya tidak akan pernah merasa gemetar!"elak Arga.
"Tapi telinga Mas merah."
Arga langsung berdiri. "Sudah, saya mau lanjut kerja lagi."
Safa tertawa kecil melihat Arga yang gengsi mengakui.
Dan saat malam hari mereka makan berdua di meja makan tanpa rasa canggung untuk pertama kalinya, seakan satu beban terlepas dari pundaknya .Mereka makan rendang sisa makan siangnya bersama nenek dan mereka habiskan berdua sambil berbagi banyak cerita.
Tanpa mereka sadari, benih-benih cinta mulai tumbuh perlahan diantara mereka.Benih yang berawal dari daging rendang yang hampir gosong.
Bersambung