NovelToon NovelToon
Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Dinikahi Paksa Sang Bos Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Balas Dendam / CEO / Penikahan Kontrak / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Lorena Carapia

Sepuluh tahun diasingkan ke sekolah asrama di negeri seberang, Elisa akhirnya pulang ke New York—bukan untuk disambut, melainkan untuk menghadiri misa arwah mendiang ibunya. Di rumah megah yang dulu miliknya, ia justru diperlakukan bagai orang asing: kamarnya dirampas, foto ibunya disingkirkan, dan ibu tiri beserta saudari tirinya sudah menyiapkan satu rencana keji—menjual Elisa lewat pernikahan pada seorang pria bengis dua kali lipat usianya.

Namun malam itu, sepasang mata dingin sudah lebih dulu mengunci punggungnya.

Mario Adikara—taipan sekaligus pemimpin mafia yang tak pernah kalah dan tak pernah ditolak. Kecuali oleh satu gadis, di sebuah restoran di Italia, yang berani menampar harga dirinya. Kini ia datang untuk menagih. Dengan akta nikah palsu dan satu ancaman yang membuat sang ayah bertekuk lutut, Mario menyeret Elisa ke dalam pernikahan yang tak pernah ia minta.

Yang tak Elisa duga: di balik dinginnya pria itu tersembunyi obsesi yang membara. Dan di balik masa lalunya sendiri tersembunyi rahasia yang bisa meruntuhkan dua keluarga sekaligus—tentang siapa ibunya sesungguhnya, siapa ayahnya yang sebenarnya, dan mengapa ada begitu banyak orang yang menginginkannya lenyap.

Balas dendam, tipu daya keluarga, cinta yang posesif, dan kebenaran yang berdarah. Ketika si gadis yang dibuang kembali untuk merebut haknya, tak ada satu pun yang berani lagi memandangnya sebelah mata.

Dinikahi paksa oleh sang bos mafia... atau justru inilah pertemuan yang telah lama ditakdirkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorena Carapia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali

Mario mencengkeram lengan Elisa dan memutar tubuh gadis itu dengan sekali sentak. Melihat wajah suaminya, Elisa merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya.

Belum pernah ia merasa setakut itu seumur hidupnya. Tanpa berkata apa-apa, Mario memanggul gadis itu di bahunya.

Sekeras apa pun Elisa memukuli punggungnya atau menjerit, tak ada yang bisa menghentikan Mario. Pria itu terus melangkah lebar-lebar menuju mansion. Edwin harus memeriksa luka di kepala gadis itu.

"Turunkan aku!"

"Kau tak boleh menahanku di sini di luar kehendakku!"

"Berhenti!"

"Berhenti!"

"Sialan, kau tuli, ya!"

Sepanjang perjalanan ke mansion Maharani, Elisa tak henti-hentinya menjerit dan memukuli Mario.

Melihat Mario mendekati mansion sambil menggendong istrinya, para pria itu menundukkan kepala, menghindari pandangan ke arah kaki jenjang nan indah milik Elisa. Siapa pun yang berani mengangkat pandangan menatap wanita Mario Adikara, ia akan mati.

Anak buah yang tadi ikut Mario dan sempat melihat Elisa mandi, takut akan mati malam itu juga.

Mario tak berhenti sampai naik ke kamar sambil memanggul gadis itu di bahunya. Begitu pintu tertutup di belakang mereka, Mario melemparkan Elisa ke ranjang.

"Kau ini binatang! Beraninya kau memperlakukanku seperti ini!"

Mario sudah teramat murka. Ia meletakkan tangannya di dagu Elisa, menekannya dengan kekuatan yang cukup untuk mematahkannya bila ia mau.

"Ini terakhir kalinya aku mengatakannya. Kau tak akan bisa lolos dariku... Kalau kau melakukannya lagi, kau akan menyesal seumur hidupmu."

"Aku muak dengan tingkah manjamu yang bodoh. Kukira kau wanita yang lebih cerdas, ternyata aku salah. Kau wanita tolol. Kau hanya bertindak gegabah, ceroboh, dan naif kalau mengira bisa lolos dariku."

Elisa terpaku mendengar kata-kata Mario. Mario melepaskan dagu gadis itu dan keluar dari kamar. Setelah sendirian, Elisa memeluk tubuhnya sendiri, air matanya jatuh tak henti-henti.

Semua yang ia lakukan salah, Mario benar. Ia terlalu larut mengikuti dorongan hatinya dan tak berpikir sebelum bertindak.

Setelah waktu yang lama, Maharani masuk ke kamar. Ia duduk di sisi ranjang dan mulai mengoleskan krim pada kaki Elisa yang sedang tertidur.

Ia juga memeriksa luka di kepalanya, menempelkan beberapa ramuan herbal, lalu keluar...

Keesokan paginya Elisa terbangun. Ia membuka mata, menyadari bahwa itu semua bukan mimpi buruk. Kamarnya masih sama seperti kemarin.

Ia membawa tangannya ke kepala saat merasakan ada sesuatu yang aneh. Ia mengambil beberapa helai daun yang beraroma sangat asing.

Apa ini?

Gadis itu menyingkap selimut dari tubuhnya, melihat kakinya sudah sembuh total. Krim herbal yang dioleskan Maharani manjur dan kakinya telah pulih.

Terkejut, Elisa bangkit dari ranjang. Seketika ia merasa pusing, sebab sudah beberapa hari tak menyentuh makanan.

"Sebaiknya kau berbaring saja. Sebentar lagi Irma akan mengantar sarapan."

Elisa menoleh ke arah Maharani. Wanita tua itu sudah lama duduk di sofa dekat jendela.

Karena kamar itu gelap, Elisa tak menyadari kehadiran Maharani.

"Di mana Mario?"

Senyum tipis terbit di bibir Maharani mendengar Elisa menanyakan cucunya.

Setelah pertengkarannya dengan Elisa, Mario pergi meninggalkan mansion sang nenek. Ia baru kembali larut dini hari. Ia tidur di salah satu kamar tamu, dan pagi-pagi buta sudah pergi lagi.

"Mario sangat marah. Aku tak pernah melihatnya seperti itu," jawab Maharani.

Elisa menghela napas dalam-dalam. Ia menjatuhkan diri ke ranjang dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Maharani menyibak tirai, dan cahaya matahari menerangi seluruh kamar.

"Waktu Mario membawamu ke mansion, aku tak percaya kau benar-benar istrinya. Kukira kau salah satu dari daftar kekasihnya."

"Mmm... Aku salah begitu melihat akta nikah kalian... Tak pernah seumur hidupku kukira cucuku akan mengambil langkah itu dengan seorang wanita."

"Mario sudah menolak wanita-wanita yang seribu kali lebih cantik darimu. Sepanjang hidupnya ia dikelilingi segala macam wanita..."

"Untuk apa Nenek menceritakan semua ini pada saya. Saya tak peduli," seru Elisa sambil menatap Maharani.

"Kau seharusnya peduli, sebelum Mario bosan padamu dan menukarmu dengan wanita lain. Mungkin sekarang ia terpikat padamu, tapi aku mengenalnya, dan cepat atau lambat ia akan lelah dengan segala kekonyolanmu."

"Bersikaplah lebih cerdas, Nak. Buatlah Mario jatuh cinta padamu. Menguntungkan bagimu punya suami seperti cucuku."

"Nenek, ada begitu banyak hal di kepala saya, sampai saya tak bisa berpikir jernih..."

"Sejauh ini saya sudah mengambil banyak keputusan buruk. Saya tak pernah berniat mengenal Mario. Saya hanya ingin bekerja dengan jujur dan membiayai kuliah saya. Saya juga tak pernah ingin ia menaruh mata pada saya."

"Hari ini adalah hari peringatan wafat ibu saya. Kemarin saya hanya ingin kabur dan pergi ke misa. Tapi semuanya lepas kendali."

Elisa mulai menangis. Itu membuat Maharani sangat iba padanya. Wanita tua itu mendekat, mengusap air mata gadis itu dengan tangannya, lalu berkata.

"Kita akan pergi ke misa... Aku yang akan menemanimu. Oke."

"Oke."

"Terima kasih, Nenek. Anda seperti malaikat," jawab Elisa sambil memeluk Maharani erat-erat.

Pelukan Elisa begitu berbeda dari semua pelukan yang pernah diterima Maharani sebelumnya. Itu pelukan yang tulus dan penuh kasih.

Itulah yang selama ini kurang dalam hidup Elisa: cinta, kasih sayang yang tulus dari seseorang. Maharani bisa menjadi sosok keibuan yang selama ini tak pernah ia miliki. Ia bisa menasihatinya, dan memberinya dukungan tanpa syarat.

"Ayo, Nak. Kau harus lebih menjaga dirimu, dan lebih cerdas. Manfaatkan selagi Mario menaruh mata padamu... Aku sudah pernah melewati ini semua, dan aku jamin, akulah yang menjadi pemenangnya."

"Lihat saja aku. Aku dicintai sekaligus dibenci oleh banyak orang. Tapi pada akhirnya, semua menghormatiku karena aku pernah menjadi istri Baskara Adikara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!