Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Cukup lama Lily memandangi dokumen perceraian yang berada di atas meja. Jemarinya menyentuh permukaan kertas itu perlahan, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa keputusan yang diambilnya bukan sekadar angan-angan yang muncul karena kelelahan.
Selama tiga tahun, ia bertahan dalam pernikahan yang tidak pernah memberinya kebahagiaan. Ia telah berusaha menjadi istri yang baik, menyiapkan makanan, merapikan rumah, dan menunggu Satoshi pulang meskipun pria itu sering membawa perempuan lain bersamanya. Ia bahkan pernah berharap bahwa suatu hari nanti suaminya akan memandangnya sebagai seorang istri, bukan sebagai perempuan yang terpaksa dinikahinya.
Namun, harapan itu telah lama mati.
Peristiwa pagi tadi semakin meyakinkannya bahwa ia tidak boleh terus tinggal di rumah tersebut. Ia tidak ingin menunggu sampai sesuatu yang lebih buruk terjadi. Ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri sebelum terlambat.
Lily akhirnya berdiri.
Ia mengambil map hitam berisi dokumen penting, surat perceraian, identitas diri, serta beberapa berkas yang berkaitan dengan rumah kecil yang telah dibelinya di sebuah desa terpencil di Jepang. Setelah itu, ia membuka laci meja dan mengeluarkan tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
Uang itu bukan pemberian Satoshi.
Sebagian besar berasal dari hasil pekerjaannya sebagai penulis, sedangkan sisanya merupakan uang saku yang dahulu diberikan oleh ibu mertuanya. Sedikit demi sedikit, Lily menyimpannya tanpa sepengetahuan siapa pun hingga akhirnya cukup untuk membeli sebuah rumah sederhana.
Rumah itu memang tidak mewah. Tidak ada halaman luas, perabot mahal, atau pelayan yang siap memenuhi kebutuhannya. Namun, bagi Lily, tempat itu jauh lebih berharga daripada kediaman besar Katagiri yang dipenuhi kesepian dan ketakutan.
Di sana, ia berharap dapat memulai kehidupan baru.
Tanpa Satoshi.
Tanpa penghinaan.
Tanpa harus menangis diam-diam setiap malam.
Lily memasukkan seluruh dokumen dan tabungannya ke dalam tas hitam berukuran sedang. Ia sengaja tidak mengambil pakaian, perhiasan, ataupun barang-barang lain yang pernah diberikan keluarga Katagiri kepadanya.
Ia tidak ingin membawa kenangan apa pun dari rumah itu.
Bahkan, gaun-gaun mahal yang sebelumnya dihadiahkan keluarga katagiri kepadanya yang tersimpan di dalam lemari tidak lagi memiliki arti baginya.
Setelah semuanya siap, Lily berdiri di depan cermin.
Ia membasuh wajah, kemudian mengoleskan riasan tipis agar penampilannya terlihat segar. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai lurus hingga mencapai pinggang. Ia mengenakan gaun panjang berwarna ungu berlengan panjang yang membalut tubuhnya dengan anggun. Sebuah tas hitam menggantung di bahunya, sementara sepatu hak tinggi yang tidak terlalu tinggi menyempurnakan penampilannya.
Di hadapan cermin, Lily tampak seperti seorang wanita bangsawan.
Wajahnya yang cantik terlihat tenang, meskipun matanya masih menyimpan sisa kelelahan akibat malam yang panjang. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat dagunya.
Hari ini, ia tidak akan menangis di hadapan Satoshi.
Hari ini, ia akan menyelesaikan urusannya sendiri.
Lily mematikan lampu kamar, kemudian membuka pintu.
Lorong rumah itu tampak lengang. Tidak ada suara pelayan, tidak ada langkah kaki, bahkan pelayan pun tidak datang kerumah ini. Suasana tersebut mengingatkannya bahwa selama ini ia memang menjalani kehidupannya sendirian, meskipun memiliki seorang suami.
Ia menggeser pakaian yang diberikan Satoshi dengan kaki melangkah melewati tangga dan ruang tengah. Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang tidak ingin diingatnya kembali. Sofa tempat Satoshi pernah duduk bersama perempuan lain, meja makan tempat ia sering menunggu sendirian, serta pintu kamar yang berkali-kali menjadi batas antara dirinya dan kehidupan suaminya.
Lily tidak berhenti.
Ia terus berjalan hingga mencapai pintu utama.
Tangannya menyentuh gagang pintu, lalu berhenti sejenak.
Selama tiga tahun, ia pernah berharap dapat meninggalkan rumah itu bersama Satoshi, bukan untuk berpisah darinya, melainkan untuk memulai kehidupan pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Kini, ia akan pergi seorang diri.
“Selamat tinggal,” bisiknya pelan.
Lily membuka pintu dan melangkah keluar.
Udara pagi menyentuh wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dapat menarik napas tanpa harus khawatir seseorang akan memarahinya.
Ia menutup pintu perlahan, kemudian berjalan menuju gerbang.
Tidak ada yang menghentikannya.
Tidak ada yang memanggil namanya.
Dan tanpa menoleh sekali pun, Lily meninggalkan kediaman Katagiri.
---
Perjalanan menuju pengadilan berlangsung cukup lama. Sepanjang perjalanan, Lily memegang erat tas hitamnya. Di dalamnya terdapat seluruh hal yang dibutuhkannya untuk memulai kehidupan baru.
Ia telah memeriksa jadwal keberangkatan menuju Jepang sebelumnya. Jika urusan perceraian dapat diselesaikan sesuai rencana, ia akan langsung menuju bandara. Ia tidak berniat kembali ke rumah Katagiri, bahkan untuk mengambil pakaian.
Ia lebih memilih membeli pakaian sederhana setelah tiba di Jepang daripada kembali ke tempat yang membuatnya kehilangan rasa aman.
Ketika akhirnya tiba di pengadilan, Lily turun dari kendaraan dan berdiri di depan gedung itu.
Ia mendongak, menatap bangunan di hadapannya selama beberapa saat.
Jantungnya berdebar kencang.
Meskipun telah mempersiapkan semuanya, mengakhiri pernikahan yang berlangsung selama tiga tahun bukanlah keputusan yang mudah. Ada bagian dari dirinya yang masih mengingat masa-masa ketika ia pertama kali menjadi istri Satoshi. Saat itu, ia sempat membayangkan kehidupan yang indah bersama pria tersebut.
Namun, kenangan itu tidak cukup untuk membuatnya kembali.
Lily merapatkan genggaman pada tasnya, lalu melangkah masuk.
Ia mendatangi bagian pelayanan untuk menanyakan proses pengajuan perceraian. Dengan suara yang tenang, ia menjelaskan keperluannya dan menyerahkan dokumen yang telah disiapkannya.
Petugas memeriksa berkas tersebut sebelum menjelaskan prosedur yang harus ditempuh.
Lily mendengarkan dengan saksama. Ia memahami bahwa proses perceraian tidak selalu dapat diselesaikan dalam satu hari dan mungkin masih memerlukan tahapan berikutnya, termasuk pemberitahuan kepada pihak suami serta pemeriksaan dokumen.
Namun, ia tidak gentar.
Yang terpenting, ia telah memulai langkah pertamanya.
Setelah mengisi formulir dan menyerahkan berkas yang diperlukan, Lily menerima penjelasan mengenai tahapan selanjutnya. Ia menyimpan salinan dokumen dengan hati-hati ke dalam tasnya.
Status pernikahannya mungkin belum resmi berakhir hari itu, tetapi keputusannya telah bulat.
Ia tidak akan kembali menjalani kehidupan yang sama.
Saat keluar dari gedung pengadilan, Lily berhenti di anak tangga. Angin bertiup lembut, menggerakkan ujung gaun ungunya.
Ia menatap langit sejenak.
Air mata akhirnya jatuh, tetapi kali ini bukan karena dirinya diperlakukan buruk oleh Satoshi. Ia menangis karena setelah sekian lama, ia akhirnya berani melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
“Aku sudah memulainya,” bisiknya.
Ia mengusap pipi, lalu mengeluarkan telepon genggam untuk memeriksa waktu keberangkatannya.
Perjalanan menuju Jepang masih menunggunya.
Rumah kecil di desa itu masih menunggunya.
Dan untuk pertama kalinya, masa depannya tidak lagi bergantung pada keputusan Satoshi Katagiri.
Lily memasukkan telepon ke dalam tas, kemudian melangkah menuju kendaraan yang akan membawanya ke bandara.
Ia tidak membawa pakaian dari rumah Katagiri.
Ia tidak membawa perhiasan pemberian suaminya.
Ia hanya membawa dokumen, tabungan, dan keberanian yang berhasil dikumpulkannya setelah bertahun-tahun menahan luka.
Itu sudah cukup.
Sebab, bagi Lily, kebebasan tidak diukur dari banyaknya barang yang dapat dibawa seseorang ketika pergi.
Kebebasan adalah ketika ia akhirnya mampu meninggalkan tempat yang menyakitinya tanpa merasa harus meminta izin kepada orang yang telah menyakitinya.
Dan pagi itu, Lily Valley memilih kebebasan.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁