NovelToon NovelToon
Melarikan Diri dari Sang Mafia

Melarikan Diri dari Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Meche

Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.

Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.

Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Membuatmu Tergila-gila

Anak itu masih mengantuk dan perlahan mulai membuka matanya lebih lebar. Ia harus menjalani pemulihan selama 15 hari dengan sangat hati-hati, dan ibunya yang akan mengurus itu.

"Sayang, apa kau merasa baik-baik saja?" tanya Salsabila.

"Mama, aku haus sekali, mau minum."

"Sebentar, Mama beri sedikit air. Jangan terlalu banyak bergerak."

Salsabila merawat anaknya sampai Adnan masuk ke kamar.

"Halo, Alika. Bagaimana perasaanmu?" sapa dr. Adnan.

"Om Adnan, minta restunya," ucap Alika sambil mencium tangan sang dokter. "Aku baik-baik saja dan merasa sehat, tapi Mama tidak membolehkanku bergerak."

"Semoga Tuhan memberkatimu, sayang. Dan iya, kau boleh bergerak dengan tenang. Kau hanya harus berhati-hati."

"Lihat kan, Mama, aku boleh main sama boneka beruang Permen?"

"Kau yakin, Adnan?"

"Dia dioperasi supaya bisa hidup normal. Biarkan dia menjelajahi dunia. Dia hanya butuh perawatan terbaikmu. Lusa dia sudah boleh pulang."

"Terima kasih, Adnan. Kau selalu perhatian."

Salsabila memeluk Adnan erat-erat seperti biasa. Mereka memang selalu bermanja-manja saat mengucapkan terima kasih.

Arkana, seperti biasa, diam mendengarkan seluruh percakapan kedua sahabat itu. Ia benar-benar diabaikan, tapi itu bukan masalah baginya, sebab ia sudah punya rencana di kepala.

Adnan keluar dari kamar, meninggalkan sepasang orang itu agar bisa mengobrol.

"Mama, boleh minta boneka buat tidur?" pinta Alika.

"Iya, sayang. Mama ambilkan bonekamu."

Arkana berada di luar jangkauan pandang anak itu, karena itu Alika belum melihatnya. Namun ia tahu, begitu melihatnya, anak itu pasti bereaksi.

"Halo, cantik. Bagaimana perasaanmu?" sapa Arkana.

"Halo, Om. Aku baik-baik saja. Om sendiri?"

"Sekarang setelah kau bangun, aku merasa lebih bahagia dari sebelumnya."

"Aku juga bahagia karena Om menepati janji dan menemaniku seperti yang Om janjikan. Aku bisa mendengar suara Om yang lembut di ruang operasi."

"Kau mau tidur?"

"Iya, aku mengantuk sekali."

"Ambil bonekamu dan atur posisi tidurmu, biar Om usap-usap sampai tidur."

Alika membetulkan posisinya sementara Arkana membelai rambutnya hingga anak itu terlelap dalam.

"Terima kasih sudah menidurkan anakku," ucap Salsabila.

"Anak kita."

"Iya, tentu saja."

"Aku harus pergi bekerja, tapi aku janji besok pagi-pagi sekali akan datang lagi untuk menemani. Setelah itu, aku ingin dia memulihkan diri di tempat yang sudah kusiapkan."

"Baiklah. Kami akan menunggumu."

Arkana memberi kecupan di kepala anaknya lalu pergi meninggalkan kedua wanita itu. Ia tak punya keberanian untuk berpamitan pada Salsabila, sebab ia tak terbiasa dengan basa-basi semacam itu. Ia harus mengurus beberapa hal di klub sebelum akhirnya bisa beristirahat.

Ia berencana membeli rumah besar, karena apartemennya tak nyaman untuk kedua wanita itu. Rumahnya harus punya taman yang bagus untuk tempat Alika bermain. Ia tak sempat bertanya, tapi menurut hitungannya, ulang tahun anak itu sudah dekat. Ia ingin mengadakan pesta besar dengan segala permainan yang disukai anaknya. Ia tak tahu seberapa besar keluarganya nanti. Ia berniat memanjakannya dalam segala hal.

Ia tiba di klub sesuai rencananya.

"Bos, maaf kalau saya lancang, tapi kita banyak pekerjaan," ujar Galih.

"Lebih baik kau ceritakan dulu ke mana saja kau menghilang beberapa hari ini. Banyak bicara kau kalau aku sedang asyik dengan Nadine, sekarang lihat dirimu sendiri," sela Rendra.

Arkana tak menghiraukan keduanya dan langsung menuju kantornya. Ia memang punya pekerjaan dan tak berniat membuang waktu mengobrol dengan kedua orang lancang itu.

Ia harus memeriksa beberapa pembukuan dan mengatur kiriman barang yang harus mereka terima. Setelah itu barang harus didistribusikan ke seluruh kota. Setelah semua urusan itu beres, ia baru bisa fokus mencari lingkungan paling cocok dan rumah yang sempurna untuk anaknya.

Rendra masuk ke kantor sahabatnya. Ia benar-benar ingin tahu siapa wanita yang membuat Arkana tergila-gila. Selama bertahun-tahun mengenalnya, ia tak pernah melihatnya meninggalkan pekerjaan. Sudah lebih dari dua hari Arkana tak muncul di kantor, begitu pula di klub.

"Kau tidak mau cerita siapa wanita yang membuatmu tergila-gila?" tanya Rendra.

"Siapa yang bilang itu wanita?"

"Apa lagi yang bisa mengubah rutinitasmu? Aku tak yakin itu cuma soal kerja. Lagi pula, kau cuma bertingkah semisterius ini dulu waktu bersama Maura."

"Nama itu terlalu besar untuk mulutmu. Sebaiknya jangan ikut campur hidupku, aku juga tak ikut campur hidupmu," tukas Arkana.

"Wah, betapa buruknya suasana hatimu! Tidak, aku tak yakin itu wanita. Kalau memang wanita, kupastikan belaiannya sudah memadamkan kepahitanmu itu."

Arkana tak tahu apakah membunuh sahabatnya sendiri itu legal. Rendra satu-satunya temannya, tapi kadang ia ingin menenggelamkannya dalam bensin lalu membakarnya.

"Dan kau sendiri ngapain di sini? Apa kekasihmu lagi datang bulan? Karena cuma itu satu-satunya alasan, menurutku," balas Arkana.

"Hei, jangan bawa-bawa Nadine ke obrolan ini."

"Sama, kau juga jangan ikut campur hidupku. Jaga lidahmu."

"Kau memang iblis. Aku cuma mau memberitahumu, susah payah aku memasukkan Shafa ke klinik rehabilitasi. Kau menghancurkan hidupnya."

"Itu yang terjadi pada orang yang berniat menyakitiku dengan cara apa pun. Dia sendiri yang menentukan nasibnya."

"Semoga aku tak pernah jadi musuhmu, hahaha."

"Semoga dia tahu sampai mana batas menggunakan lidahnya, atau lain kali dia takkan hidup untuk menceritakannya."

"Serem! Kita minum-minum yuk? Ada beberapa gadis baru yang datang, dan aku ingin jadi yang pertama mencicipinya. Mungkin akan kusisakan satu buat aku sendiri."

"Terserah kau. Aku tak mau minum. Besok aku ada rapat penting dan tak mau datang dengan bau alkohol."

"Ya sudah, sesukamu. Aku akan buat pestaku sendiri."

Rendra berpamitan pada sahabatnya lalu pergi mencari hiburan malam, sementara Arkana ingin menyelesaikan segalanya secepat mungkin agar bisa menyerahkan urusan kiriman baru pada Galih. Ia ingin mencurahkan seluruh waktunya untuk Alika.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!