Desa Langgur gempar. Tanah yang sudah basah, sumur berubah air merah, dan galian di bawah pohon mangga menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ditemukan.
Ara tidak tahu, di bawah rumahnya ada tambang, di bawah pohon keramat Revan ada peti emas berdarah yang dijaga arwah leluhur.
Sejak peti itu dibuka, teror datang. Rumah Ara dibakar, sidang adat di kota, dan Langgur harus merdeka dari kutukan.
Pohon Revan yang tidak mau mati itu menuntut tumbal.
Apa isi peti emas di bawah akar itu? Dan kenapa bayi Revani bisa melihat Revan?
Kisah horor thriller tanah Maluku yang bikin merinding dari Bab 1 sampai Bab 35 Tamat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Lam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Dion Minta Maaf
Perahu besar yang membawa peti kutukan itu sudah kembali ke pantai Langgur jam sebelas siang. Warga yang menunggu di pantai langsung bersorak dan memeluk keluarga mereka yang ada di perahu. Mereka kira semuanya sudah selesai, peti sudah tenggelam, kutukan sudah hilang.
Tapi tidak ada yang bersorak untuk Dion. Dion turun dari perahu paling terakhir dengan kepala tertunduk, baju putih lusuh yang basah karena air laut, wajahnya yang pucat dan kurus kering. Tidak ada yang mau dekat dengannya, semua warga masih ingat dia yang bakar rumah mereka, dia yang bawa Pak Hendra untuk jual tanah Langgur.
Dion berjalan sendirian di pasir pantai menuju balai desa yang darurat, tidak ada yang menyapa, bahkan anak-anak yang biasanya lempar-lemparan pasir, melihat Dion langsung lari ke pelukan ibunya.
Ara yang masih duduk di pasir pantai memeluk jaket robek Revan, melihat Dion yang sendirian itu, merasa kasihan juga. Dia tahu Dion juga korban, korban serakah ayahnya, korban kutukan lima hantu peti.
Sore jam empat, di balai desa darurat, Pak RT Unus mengumpulkan warga lagi untuk rapat terakhir. Di tengah balai, Dion duduk bersila sendirian, di depannya ada piring kosong, seperti orang yang mau dihukum.
"Jadi, peti sudah tenggelam di laut dalam 80 meter. Pohon Revan sudah tumbang. Kutukan sudah selesai. Sekarang yang jadi masalah, apa yang kita lakukan sama Dion?" tanya Pak RT Unus dengan suara tegas.
Warga langsung ribut.
"USIR DIA DARI LANGGUR! DIA PEMBAKAR RUMAH!"
"PENJARAKAN LAGI DIA!"
"DIA HARUS GANTI RUGI RUMAH KAMI YANG DIBAKAR!"
Dion yang duduk di tengah itu hanya diam, kepalanya tertunduk lebih dalam, air matanya jatuh ke pasir balai desa. Dia tidak membela diri sama sekali.
Ara yang duduk di samping Pak RT, berdiri pelan dan mengangkat tangannya agar warga diam.
"Boleh aku bicara?" kata Ara.
Warga diam.
"Dion memang salah. Dia bakar rumah kita, dia bantu ayahnya jual tanah kita. Tapi tiga hari ini, dia juga hampir mati jadi tumbal peti itu. Lima hantu di dalam peti itu pakai tubuhnya, cekik lehernya, tarik dia ke dalam tanah. Dia juga menderita."
Ara berjalan mendekati Dion dan duduk di depannya.
"Dion, kamu kenapa bakar rumah kami dulu? Kenapa kamu mau jual Langgur?"
Dion mengangkat wajahnya yang penuh air mata, untuk pertama kalinya menatap Ara dengan mata normal, mata yang tidak hitam, mata yang menyesal.
"Ara... aku... aku tidak punya pilihan... Ayahku, Pak Hendra, bilang kalau aku tidak bantu dia jual Langgur, dia akan putuskan hubungan ayah anak. Dia bilang Langgur itu tanah miskin, tidak ada masa depan, lebih baik dijual dan kita pindah ke Jakarta jadi orang kaya. Aku takut sama ayahku, Ara... Aku nurut aja..."
Dion menangis lebih keras lagi, seperti anak kecil.
"Tapi pas aku bakar rumah pertama, rumah Pak RT, aku lihat anak Pak RT nangis di dalam... Aku langsung menyesal... Tapi ayahku bilang, jangan berhenti, kalau berhenti kita tidak dapat uang... Jadi aku terusin bakar... sampai akhirnya Revan... Revan datang di mimpi aku..."
Semua warga kaget mendengar nama Revan disebut Dion.
"Revan datang di mimpi aku malam sebelum kita kalah di Ambon. Dia bilang, 'Dion, berhenti, Langgur itu bukan tanahmu, itu tanah kami semua, tanah leluhur.' Tapi aku takut sama ayahku, jadi aku tidak berhenti..."
Dion bersujud di depan semua warga Langgur, dahinya menempel ke pasir balai desa.
"MAAFKAN AKU, WARGA LANGGUR! AKU SALAH! AKU PENJAHAT! AKU BAKAR RUMAH KALIAN! AKU HAMPIR JUAL TANAH KALIAN! MAAFKAN AKU!"
Suaranya pecah, tangisnya keras, bukan tangisan buaya, tapi tangisan orang yang benar-benar menyesal dan hampir mati jadi tumbal.
Mama Ino yang rumahnya paling parah dibakar Dion, yang melihat Dion bersujud itu, tidak tahan lagi, dia maju dan memeluk Dion dari belakang sambil menangis juga.
"Sudah, Dion... Sudah... Mama maafkan... Mama tahu kamu anak baik, cuma salah didik sama ayahmu yang serakah..."
Pak RT Unus yang tangannya lecet karena didorong Dion dulu, juga maju dan mengangkat Dion berdiri.
"Kalau kamu benar-benar tobat, Dion, kamu harus buktikan. Bukan cuma minta maaf."
Dion mengusap air matanya dan mengangguk keras. "Aku mau buktikan, Pak RT! Apa saja! Suruh aku apa saja! Aku mau tebus dosa aku!"
Ara menatap Pohon Revan yang tumbang dari jauh, yang batangnya masih tergeletak di tanah.
"Ada satu cara tebus dosa, Dion. Kamu bantu kami bangun kembali Pohon Revan. Bukan pohonnya yang asli, karena yang asli sudah mati. Tapi kita tanam bibit mangga baru di tempat Pohon Revan tumbang. Kita rawat sama-sama. Kita kasih nama Pohon Revan Baru. Biar Revan yang di alam sana tahu, Langgur masih ingat dia."
Dion langsung mengangguk tanpa pikir panjang. "Aku mau! Aku mau tanam! Aku yang rawat tiap hari! Aku yang siram!"
Sore itu juga, tanpa menunggu besok, seluruh warga Langgur, termasuk Dion, pergi ke tempat Pohon Revan tumbang. Mereka gotong-royong geser batang besar yang tumbang itu ke samping, tidak dibuang, tapi ditaruh di pinggir sebagai kenangan, seperti makam.
Di tengah lubang tempat akar Pohon Revan dulu, tempat peti emas dulu terkubur yang sekarang sudah kosong karena peti sudah tenggelam di laut, Dion yang menggali lubang baru dengan cangkul, tangannya berdarah karena cangkul, tapi dia tidak berhenti.
Ara mengambil satu biji mangga dari buah mangga terakhir yang jatuh dari Pohon Revan sebelum tumbang, buah mangga yang ada sebelum hujan bunga itu. Biji mangga itu masih basah dan ada tunas kecil sudah keluar.
Biji itu diberikan ke Dion.
"Tanam, Dion. Ini bibit terakhir dari Pohon Revan. Ini harapan terakhir Langgur."
Dion menerima biji mangga itu dengan kedua tangan gemetar, seperti menerima bayi, dan menanamnya pelan-pelan di lubang yang dia gali, menutupnya dengan tanah, menyiramnya dengan air dari ember.
Semua warga berdoa bersama di sekitar bibit mangga kecil itu.
"Semoga tumbuh besar, semoga jadi penjaga baru Langgur, semoga Revan tenang di sana."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, Dion tidur di balai desa bersama warga Langgur, tidak diusir, tidak dikunci. Dia tidur di samping bibit mangga kecil itu, menjaganya, seperti dulu Revan jaga Pohon Revan yang besar.
Ara yang melihat Dion menjaga bibit itu dari jauh, berbisik pelan sambil memegang jaket robek Revan, "Van, lihat, Dion sudah jadi orang baik. Kamu bisa tenang sekarang ya?"
Angin malam Langgur bertiup pelan, membawa bau tanah basah dan bau tunas mangga baru, tidak ada lagi bau anyir peti emas.
Langgur benar-benar merdeka malam itu.