NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:44.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

"Dokter."

Arjuna menghentikan langkah sang dokter yang hendak membuka pintu keluar dari ruang rawat VIP anak tersebut.

Dokter itu menoleh sopan. "Ada lagi yang bisa saya bantu, Tuan Arjuna?"

"Tolong buatkan surat visum et repertum lengkap atas seluruh luka di tubuh putra saya."

Dokter sedikit terkejut mendengarnya. "Visum resmi?"

"Iya," jawab Arjuna tegas. "Saya ingin semuanya dicatat secara mendetail. Baik luka-luka lama maupun luka baru yang baru saja didapatkannya hari ini. Sekecil apa pun itu, buat sedetail mungkin. Berapa pun biaya yang dibutuhkan, saya akan membayarnya," lanjut Arjuna.

Dokter menggeleng pelan prihatin. "Biaya tidak usah dipikirkan. Itu sudah menjadi hak mutlak anda sebagai ayah sekaligus wali sah pasien. Kami akan segera menyiapkan tim forensik untuk memprosesnya."

"Terima kasih banyak, Dok."

Dokter mengangguk hormat, lalu berlalu meninggalkan ruangan.

Begitu daun pintu ruang rawat tertutup rapat, Arjuna melampiaskan amarahnya dengan menghantam dinding rumah sakit menggunakan kepalan tangannya sekuat tenaga.

"Brengsek!" umpatnya tertahan.

Urat-urat di lehernya menegang menahan murka. Dadanya naik turun tidak beraturan, menahan amarah yang nyaris meledak menghancurkan seisi ruangan.

Arunika yang sejak tadi berdiri setia di samping ranjang Nakula segera melangkah cepat menghampiri suaminya. Ia meraih lengan pria itu.

"Mas... tenangkan dirimu."

Arjuna menoleh cepat. Sorot mata pria itu dipenuhi oleh bara api kebencian. "Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Lihat sendiri keadaan Nakula! Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu justru jadi arena dia dipukuli. Dan rumah yang seharusnya melindunginya malah menjadi tempat dia disiksa?!"

Arjuna bernapas memburu. "Aku harus memberi pelajaran pada mereka sekarang juga!"

Arunika menghela napas panjang dengan sabar. Ia sangat memahami gelombang amarah yang membakar jiwa suaminya. Namun, ia tahu persis, jika Arjuna mendatangi rumah dalam keadaan dikuasai emosi seperti sekarang, Ratna dan Wina pasti akan dengan mudah mengelak dan menutupi jejak kejahatan mereka.

"Mas, dengarkan aku dulu. Kalau sekarang kau pulang dalam keadaan marah besar dan langsung menghukum mereka tanpa bukti kuat, mereka pasti akan menyangkal semuanya mentah-mentah. Mereka akan memutarbalikkan fakta, mengatakan Nakula berbohong atau bahkan menghilangkan semua barang bukti yang ada. Kalau itu terjadi, kita justru akan kesulitan menyeret mereka ke jalur hukum."

Arjuna menggertakkan giginya. "Lalu menurutmu aku harus diam saja melihat anakku disiksa?!"

"Bukan diam. Tapi kita melakukan penyelidikan terencana. Kumpulkan semua bukti medis yang valid. Buat mereka tidak bisa berkutik atau mengelak sedikit pun," lanjut Arunika menyunggingkan senyum penuh keyakinan. "Kalau perlu, biarkan aku yang kembali ke rumah itu dan menghadapi mereka lebih dulu."

Arjuna mengernyit heran. "Kau?"

Arunika mengangguk tenang. "Mas lupa? Aku juga adalah korban kekejaman dan hinaan mereka selama tinggal di sana. Aku tahu betul bagaimana cara menghadapi orang licik seperti Ratna dan Wina. Percayakan urusan di rumah padaku. Sedangkan kau fokuslah mencari dan mengamankan semua bukti visum serta laporan sekolah."

Arunika menyipitkan matanya tajam. "Begitu semua bukti sudah lengkap terkumpul, kita berikan mereka hukuman setimpal yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan seumur hidup."

Untuk beberapa saat lamanya, Arjuna hanya terpaku menatap wanita di hadapannya. Anehnya, amarah luar biasa yang sejak tadi membakar dadanya perlahan-lahan mulai mereda, tergantikan oleh logika yang jernih.

Selama bertahun-tahun hidupnya dalam kesendirian dan kedinasan militer, tak pernah ada satu pun orang yang berani dan mampu menasihatinya dengan begitu bijak selain Alana. Dan sekarang, wanita yang baru beberapa hari dinikahinya secara mendadak justru mampu membuatnya kembali berpikir tenang di tengah situasi paling kalut.

"Baiklah," jawab Arjuna akhirnya, mengangguk pelan. "Aku akan mengikuti saranmu. Aku akan mengurus visum dan penyelidikan ini. Aku akan pulang ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan."

Arjuna menatap istrinya lekat-lekat. "Kau tetaplah di sini menunggunya. Tolong jaga Nakula."

Arunika mengangguk mantap tanpa ragu. "Aku janji, aku akan menjaganya sebaik mungkin seperti anak kandungku sendiri."

Tatapan mata Arjuna mendadak melembut, meski hanya sesaat. Lalu ia berbalik melangkah keluar ruangan. Namun tepat sebelum tangan memegang gagang pintu, ia menoleh ke belakang sekilas.

Arunika sedang dengan telaten membetulkan posisi selimut Nakula. Ia mengusap lembut rambut bocah kecil itu dengan penuh kasih sayang.

Pemandangan tulus itu membuat langkah Arjuna terhenti seketika di ambang pintu.

Wanita yang baru dikenalnya dalam hitungan hari itu, justru dengan sukarela rela begadang semalaman penuh demi merawat dan menjaga keselamatan putra kandungnya.

Sedangkan dirinya? Selama enam tahun lamanya, ia hanya mampu menjadi seorang ayah dari kejauhan yang sibuk mengurus negara, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya dialami anaknya di rumah sendiri.

*

*

*

Keesokan paginya...

Suasana di dalam kediaman utama keluarga Wiratama terasa jauh lebih tenang dari biasanya, tanpa kehadiran Nakula yang sering dijadikan pelampiasan emosi.

Ratna sedang duduk bersantai di sofa ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh. Di sampingnya, Wina asyik memakan buah segar sambil memainkan layar ponsel mahalnya. Sementara Damar duduk selonjoran di karpet empuk sambil tertawa terbahak-bahak menonton acara televisi kartun pagi.

"Suasana rumah akhirnya terasa tenang juga," ucap Wina puas sambil tersenyum lebar.

"Iya, Ma," sahut Damar setuju. "Sejak perempuan bertubuh besar itu kemarin pergi dari rumah, udara di sini rasanya jadi jauh lebih segar."

Ratna ikut terkekeh ringan. "Ditambah lagi, si pembawa sial Nakula itu juga tidak pulang semalaman. Mama jadi bisa makan dan minum dengan sangat tenang tanpa ada yang mengganggu pandangan."

Damar mendengus bangga. "Pasti si bodoh Nakula itu masih menangis di suatu tempat karena dimarahi kemarin, Ma."

"Baguslah kalau begitu! Biar dia tahu rasa dan kapok karena berani membuatku kesal kemarin," tambah Wina tanpa secuil pun rasa berdosa.

Mereka bertiga tertawa bersama-sama di ruang keluarga, merasa seolah-olah telah memenangkan segalanya.

Tak seorang pun dari mereka menyadari, bahwa di luar halaman rumah, suara mesin mobil mewah baru saja berhenti mendadak.

Sosok pria tinggi tegap dengan postur sempurna dan sorot mata setajam elang mendadak muncul dari ambang pintu ruang keluarga. Seragam dinas militer memang tidak sedang ia kenakan pagi itu, namun aura seorang jenderal bintang dua yang penuh intimidasi tetap menguasai seluruh ruangan.

Seketika itu juga, tawa ceria mereka lenyap tertelan udara.

"A–Arjuna?!" seru Ratna kaget.

Bukankah dia seharusnya masih bertugas di perbatasan?

1
Muft Smoker
duuuh gx expect ma ekspresi ny trio gx tau diri ,,
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget
nining cahyaningrum
/Drool//Drool/
Ita rahmawati
denger GK tuh kalian
Ita rahmawati
iya iya percaya,,hanya karena kasian aja kan 🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
😫😫😅😅😅😅😅😅🤣🤣🤣🤣🤣giod
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣😅😅😅😀😀😌😌😫😫😫😫
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🇦 🇵 🇷 🇾👎
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bunda SalVa
dari kasihan lama2 jadi bucin ya Jun 🤭🤭
Sri Rahayu
hahaha. bu Ratna....senjata makan tuan.... bukan Arunika yg hrs makan didapur...tp Ratna Wina dan Damar 🤩🤩🤩🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Bunda SalVa
empuk banget kayak donat ya Nakula 😄😄
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣🤣 arunika😍
Endang Sulistiyowati
senjata makan tuan, rasain tuh. Arunika di lawan
Mundri Astuti
ampun dah si arunika jangan keluarin bar"nya klo di kamar arun😂😂😂
Maria Lina
bagus juna jgn ngalah lgi ok..lanju lgi thor ya ya
dyah EkaPratiwi
gengsinya gede amat jendral
Mundri Astuti
😂😂😂
Sri Rahayu
walah Jendral ga usah malu2 gengsi ngakuin mulai tertarik dgn Arunika... pura2 hanya merasa kasihan 🤪🤪🤪🤩🤩🤩... lanjut Thorf😘😘😘
Endang Sulistiyowati
Rasa kasian yang di tumbuhi bunga2 cinta 🤭
Maria Lina
dsr sunderu li arjuna tar jatuh cintro lo wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!