Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibuang bagai Anjing
Kota Qinghe diguyur hujan lebat tanpa henti.
Dinginnya lantai batu di halaman utama Kediaman Lu seolah menusuk hingga ke sumsum tulang. Lu Mingseng berlutut di sana, gemetar. Pakaian tipisnya sudah basah kuyup berlumpur, sementara helai-helai rambut hitamnya menempel acak-acakan melingkupi wajah yang pucat pasi.
Usianya baru tujuh belas tahun. Namun di mata puluhan anggota keluarga Lu yang berdiri mengelilinginya, Mingseng hanyalah sesosok noda.
"Akar spiritual kosong! Tidak ada setetes pun Qi yang bisa ditampung tubuhnya!"
Suara lantang itu membelah gemuruh petir. Lu Tianhao—sang Kepala Keluarga, sekaligus ayah kandung Mingseng—berdiri di atas anak tangga batu. Jubah biru tuanya berkibar megah, berbanding terbalik dengan tatapannya yang penuh jijik.
"Tujuh belas tahun keluarga Lu memberi makan dan membiayai obat-obatanmu," sambung Lu Tianhao cold. "Dan hari ini, kau membayar kami dengan rasa malu di hadapan seluruh tetua!"
Mingseng mencengkeram lantai batu yang licin. Jemarinya memutih, menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Ayah..." Suara Mingseng serak, nyaris tenggelam oleh deru hujan. "Beri aku waktu... aku pasti akan menemukan cara untuk—"
"Cukup!"
Sesosok pemuda berjubah putih melangkah keluar dari barisan. Wajahnya tampan, namun sunggingan bibirnya sarat akan penghinaan. Di sekeliling tubuhnya, desir angin tipis berputar—penanda jelas bahwa ia telah menembus Tingkat Pengumpulan Qi tahap kelima.
Dia adalah Lu Wenjie, saudara tiri Mingseng yang diagungkan sebagai jenius keluarga.
"Masih berani menyebut diri sebagai putra keluarga Lu?" Lu Wenjie meludah tepat di dekat lutut Mingseng. "Cacing tetaplah cacing, Mingseng. Mau kau berlutut sampai mati pun, langit tidak akan bersusah payah memberimu bakat."
Gelak tawa kompak meledak di antara para junior keluarga Lu. Tidak ada satu pun mata yang memandangnya dengan rasa iba.
Mingseng menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga rasa amis darah merebak di mulutnya. Ia ingin meloncat dan menghantam wajah-wajah yang sedang tertawa itu. Namun, kedua tangannya yang bergetar mengingatkannya pada satu kenyataan pahit: ia bahkan tak punya cukup tenaga untuk menepis dorongan seorang pelayan.
Lu Tianhao mengangkat tangan. Seketika, halaman kembali senyap.
"Mulai detik ini, nama Lu Mingseng dihapus dari silsilah keluarga Lu."
Mingseng mendongak mendadak. Matanya membelalak lebar, memandang pria yang dipanggilnya ayah itu dengan tak percaya. "Ayah... apa maksudmu?"
"Keluarga Lu tidak memelihara benalu."
Lu Tianhao melempar sebuah kantong kain kecil dari balik jubahnya. Kantong itu jatuh terhempas tepat di genangan air di hadapan Mingseng.
"Tiga keping perak. Ambillah, lalu angkat kaki dari kediaman ini sebelum malam makin larut."
Tiga keping perak. Nilainya bahkan tak cukup untuk membeli peti mati yang layak jika seseorang mati di tepi jalan.
"Tidak... Ayah, tolong!" Mingseng nekat merangkak maju, mengabaikan rasa sakit di badannya. tangannya gemetar berusaha menggapai ujung jubah Lu Tianhao. "Aku tidak butuh pil atau obat lagi! Aku bisa bekerja di kandang kuda, aku bisa menyapu jalanan... Tolong, jangan usir aku!"
Mata Mingseng memerah basah. Bukan hanya karena guyuran hujan, tapi juga oleh rasa lelah yang teramat sangat. Tiga tahun lalu, saat ibunya terbaring sekarat di atas ranjang lapuk, ia pernah berlutut enam jam di tempat yang sama untuk memohon satu pil penyembuh. Saat itu mereka menolaknya, hingga ibunya menghembuskan napas terakhir dalam kedinginan.
Dan kini, tempat terakhir yang mengikat kenangan ibunya pun hendak direbut darinya.
"Singkirkan tangan kotormu!"
Brak!
Dada Mingseng dihantam tendangan keras. Tubuhnya terpental beberapa meter, terhempas keras di atas ubin basah. Rasa mual melilit perutnya seketika, membuatnya terbatuk-batuk hingga menumpahkan darah segar yang menyatu dengan air hujan.
"Pengawal, buang sampah ini keluar!" perintah Lu Tianhao tanpa melirik sedikit pun.
Dua pengawal berbadan tegap maju, mencengkeram kerah baju Mingseng, lalu menyeret tubuhnya yang tak berdaya menyusuri halaman.
Brak!
Tubuh Mingseng dilempar kasar ke jalanan berlumpur di luar gerbang utama. Sebuah buntalan baju lusuh menyusul mendarat di sampingnya.
"Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di Kota Qinghe!" gertak pengawal itu sebelum menghempaskan pintu gerbang kayu tebal hingga terkunci rapat.
Klek.
Suara kait pintu bergema pelan, memutus seluruh masa lalunya.
Mingseng terbaring kaku di atas lumpur dingin. Matanya menatap pekatnya langit malam tanpa kedipan. Rasa sakit di dadanya tidak ada apa-apanya dibanding rongga kehampaan yang menganga di dalam hatinya.
Dunia ini tidak pernah adil. Kebaikan dan ketulusan hanyalah makanan empuk bagi mereka yang berkuasa.
Dengan sisa tenaga yang ada, Mingseng memaksakan dirinya untuk bangkit. Ia mengusap bercak darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu meraih kantong perak basah di tanah.
Mingseng memutar tubuhnya, membelakangi gerbang megah keluarga Lu. Matanya yang semula redup kini memancarkan pijar kejam yang tak pernah ada sebelumnya.
"Lu Tianhao... Lu Wenjie..." gumam Mingseng pelan, namun berbobot seperti sumpah mati. "Ingatlah hari ini. Kelak, saat aku kembali... kalian bahkan tidak akan pantas berlutut di hadapanku."
Tanpa menoleh lagi, ia melangkah menyeret kakinya menyusuri jalanan kota yang dingin dan sepi.
Sementara itu, puluhan mil di utara Kota Qinghe.
Di kedalaman Pegunungan Hantu, ribuan meter di bawah reruntuhan kuno yang telah terkubur debu jutaan tahun—
Wush!
Satu blok batu hitam raksasa mendadak bergetar hebat. Ukiran-ukiran rumit yang memudar di permukaannya menyala terang, memancarkan aura keemasan murni yang membelah kegelapan abadi bawah tanah.
Hummm...
Gelombang energi purba bergetar, membangkitkan sebuah kesadaran tua yang telah lama tertidur.
"Keheningan jutaan tahun... akhirnya pecah?"
Suara serak bergema di dalam reruntuhan hampa, membawa kehangatan ganjil sekaligus tekanan yang sanggup meremukkan pegunungan.
"Darah Akar Keabadian... telah terbangun di tempat yang begitu dekat."
Cahaya keemasan berdenyut makin kencang, seolah menyambut kebangkitan penguasa baru yang lahir dari rasa sakit dan kemarahan.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳