NovelToon NovelToon
Madu Yang Pahit

Madu Yang Pahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Baru

Arga membaca pesan itu sekilas, kemudian mengunci layar ponselnya.

Ia tidak ingin menghubungi Nadira saat itu. Bukan karena sudah melupakan perempuan tersebut, melainkan karena ia belum tahu bagaimana menjelaskan keadaan yang sedang dihadapinya.

Alya tidak memperhatikan apa yang dilakukan Arga. Ia sedang sibuk menghabiskan rotinya dan memikirkan barang-barang yang perlu disiapkan setelah mereka tiba di apartemen.

“Setelah sampai, kita perlu membeli beberapa kebutuhan dapur,” kata Alya ketika mereka kembali membicarakan apartemen. “Setidaknya beras, minyak, telur, dan bahan makanan untuk beberapa hari.”

Arga mengangguk. “Kita bisa mampir ke supermarket setelah melihat apartemen.”

“Kalau masih sempat, boleh. Kalau tidak, besok saja.”

“Baik.”

Alya melanjutkan makan tanpa banyak bicara. Ia tidak merasa harus membuat percakapan terus berjalan. Baginya, diam sesekali bukan masalah selama mereka tetap saling menghormati.

Setelah beristirahat sekitar dua puluh menit, mereka kembali menuju mobil. Arga memastikan dirinya sudah cukup segar sebelum melanjutkan perjalanan.

Kali ini, ponselnya tidak lagi berdering.

Perjalanan menuju Jakarta berlanjut dengan suasana yang tenang. Alya beberapa kali memejamkan mata untuk beristirahat, sedangkan Arga tetap berkonsentrasi pada jalan.

Sesekali, ia melirik istrinya yang duduk dengan nyaman di kursi penumpang.

Alya tidak berusaha menarik perhatiannya. Ia juga tidak menunjukkan sikap dingin yang disengaja. Perempuan itu hanya menjalani perjalanannya sebagaimana mestinya.

Arga belum memahami mengapa hal sederhana itu mulai menarik perhatiannya. Ia hanya menyadari bahwa Alya tidak seperti yang pernah dibayangkannya. Perempuan itu memiliki kehidupan dan pikirannya sendiri, serta tidak merasa perlu menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu.

Namun, Arga belum menganggap perasaan itu sebagai cinta. Ia masih terlalu sibuk menghadapi kebohongan yang telah dibuatnya sendiri.

Menjelang siang, mobil mereka akhirnya memasuki kawasan apartemen yang dipilih Arga. Bangunannya cukup tinggi, dengan halaman depan yang tertata rapi dan petugas keamanan di pintu masuk.

Setelah memarkir mobil, Arga membantu menurunkan koper. Mereka kemudian menemui petugas pengelola yang sudah dihubunginya sebelumnya.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di unit yang berada di lantai dua belas.

Begitu pintu dibuka, Alya melangkah masuk dan mengamati ruang tamu yang cukup luas. Jendela besar menghadap ke kawasan kota, sementara perabotan berwarna netral membuat ruangan itu terlihat sederhana dan nyaman.

Di sebelah kiri terdapat dapur dengan meja makan kecil. Dua kamar tidur berada di bagian dalam.

Alya berjalan menuju dapur lebih dahulu. Ia memeriksa meja dapur, lemari penyimpanan, dan ruang yang tersedia untuk menyiapkan makanan.

“Dapurnya cukup nyaman,” komentarnya.

Arga tersenyum tipis. “Bagus kalau kamu suka.”

Mereka kemudian memeriksa kamar utama dan kamar kedua. Alya menyukai pencahayaan alami dari jendela kamar, sedangkan Arga memastikan lemari dan fasilitas lainnya masih dalam kondisi baik.

Setelah melihat seluruh ruangan, mereka kembali ke ruang tamu.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Arga.

Alya memandang sekeliling sekali lagi. “Aku suka tempatnya. Tidak terlalu ramai, dan ruangannya juga cukup terang.”

“Kalau begitu, kita bisa memilih tempat ini?”

“Kalau Mas juga cocok, menurutku tidak masalah. Kita bisa mulai mengatur barang-barang yang perlu dibawa.”

Arga mengangguk puas. Setelah menyelesaikan urusan administrasi dengan pengelola, ia mengajak Alya duduk sebentar sebelum mereka memutuskan langkah selanjutnya.

“Barang-barang kita belum banyak,” katanya. “Sebagian bisa dibawa dari rumahku di Jakarta. Nanti kita tinggal menambahkan apa yang masih kurang.”

Alya mengangguk. “Kita bisa mencatatnya dulu supaya tidak membeli barang yang sebenarnya sudah ada.”

Arga tertawa kecil. “Kamu ternyata cukup teliti juga.”

“Kalau tidak dicatat, nanti malah lupa dan membeli dua kali.”

Jawaban Alya membuat Arga tersenyum. Percakapan sederhana itu terasa lebih ringan daripada pembicaraan mereka sejak malam pertama.

Alya tidak berusaha membuat suasana menjadi istimewa. Ia hanya membicarakan kebutuhan rumah tangga dengan wajar, seperti seseorang yang sedang mempersiapkan tempat tinggal baru.

Arga memperhatikan sikapnya sesaat. Ia mulai menyadari bahwa Alya memiliki caranya sendiri dalam menjalani kehidupan. Perempuan itu tidak banyak menuntut, tetapi tahu apa yang dibutuhkannya.

Setelah urusan apartemen selesai, mereka membawa beberapa barang masuk terlebih dahulu. Alya menyusun perlengkapan pribadinya di kamar, sedangkan Arga memeriksa dokumen dan mengatur jadwal pengiriman barang lainnya.

Mereka bekerja berdampingan tanpa banyak percakapan. Tidak ada pertengkaran, tetapi juga belum ada keakraban seperti yang biasanya diharapkan dari pasangan pengantin baru.

Bagi Alya, keadaan itu tidak menjadi masalah. Ia tidak ingin memaksakan kedekatan dengan laki-laki yang belum benar-benar dikenalnya dan telah merusak kepercayaannya sejak awal. Ia akan tetap menghormati Arga sebagai suami, tetapi untuk urusan pribadi, ia masih membutuhkan batas yang jelas.

Sementara itu, Arga mulai menyadari bahwa istrinya tidak akan serta-merta bersikap mesra hanya karena mereka sudah menikah. Alya tetap baik kepadanya, tetapi tidak berusaha mendapatkan perhatiannya.

Untuk pertama kalinya, Arga merasa perlu belajar mengenal perempuan yang kini tinggal bersamanya.

Bukan karena Alya memintanya melakukan sesuatu, melainkan karena ia sendiri mulai ingin memahami bagaimana istrinya berpikir dan menjalani kehidupan.

Namun, keinginan itu masih sebatas rasa ingin tahu. Arga belum menyadari bahwa dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka bangun di rumah baru ini, perasaannya kepada Alya kelak akan tumbuh tanpa ia rencanakan.

Hari itu, mereka baru saja memulai kehidupan bersama di tempat yang asing bagi Alya.

Belum ada cinta di antara mereka. Belum ada kepercayaan yang benar-benar pulih.

Tetapi setidaknya, untuk saat ini, Alya memilih menjalani pernikahan itu dengan tenang, sementara Arga mulai belajar bahwa kehidupan rumah tangga tidak cukup hanya dengan memenuhi kewajiban. Mereka juga harus belajar menghormati satu sama lain, bahkan ketika perasaan belum tumbuh sebagaimana mestinya.

1
Setyowati Setyowati
lanjut 🙏🙏
Setyowati Setyowati
kemungkinan Nadira hamil ..dan tidak ada alasan untuk minta pisah ...Alya dan Nadira sama" terjebak pada laki" yg egois ..tidak ada pemenang maupun yg kalah ..karena kedua" nya posisinya sama ..di tipu di sembunyikan dari istri lainnya
Setyowati Setyowati
maaf .. sampai lupa kasih bintang 5 ..keasikan baca
Setyowati Setyowati
masih merasa enak ya si Arga Tengo sana sini masih oke ..tp kalau semua sudah ketahuan sama orangtua dan Nadira ...apa alasan yg keluar dari mulutmu
Setyowati Setyowati
angga lagi mampir ya thor
Anita Giu: Ah typo 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!