hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 14
Setelah selesai berganti pakaian, Emma keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama berwarna merah muda. Rambutnya yang masih sedikit basah dibiarkan tergerai di bahunya.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh kamar sebelum matanya berhenti pada Damian yang sedang duduk di sofa dekat jendela. Pria itu tampak begitu serius menatap layar laptopnya, sesekali mengetik sesuatu dengan jari-jarinya.
Emma mengusap perutnya yang mulai keroncongan.
Sejak tadi, ia belum makan apa pun setelah ritual darah yang menguras tenaga. Awalnya ia berniat tidur saja, tetapi rasa lapar yang semakin menjadi-jadi membuatnya kesulitan mengabaikannya.
Akhirnya, Emma berjalan mendekati Damian.
“Damian,” panggilnya pelan.
Pria itu tidak menjawab karena masih fokus pada pekerjaannya.
“Damian,” panggil Emma sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Damian menghentikan ketikannya, lalu mengangkat wajah. “Kenapa?” tanyanya ketika melihat Emma berdiri di samping sofa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Aku lapar,” jawab Emma terus terang.
Damian melirik jam di pergelangan tangannya sebelum kembali menatap layar laptop.
“Kalau lapar, makan.”
Emma mengembuskan napas panjang, berusaha menahan kesabarannya.
“Masalahnya, aku tidak tahu harus makan apa. Aku juga tidak tahu cara memasak.”
Kali ini Damian benar-benar menoleh. Ia menatap Emma seolah-olah perempuan itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
“Kau tidak tahu memasak?” ulangnya.
Emma mengangguk polos.
“Manusia sejenis apa kau sebenarnya sampai tidak tahu memasak?” sindir Damian.
Emma langsung memasang wajah kesal.
“Memangnya semua manusia wajib bisa memasak? Kalau kau pintar memasak, ya sudah, masakkan aku makanan!”
“Aku bukan pelayanmu.”
“Dan aku bukan kokimu!”
Damian menghela napas, lalu kembali menatap laptopnya. “Kalau begitu, tidur saja.”
Emma menatapnya tidak percaya.
“Baiklah! Kalau begitu, aku tidur saja dengan keadaan kelaparan. Kalau besok aku pingsan, jangan salahkan aku!”
Tanpa menunggu jawaban, Emma berbalik dan berjalan menuju ranjang. Ia naik ke atas kasur, menarik selimut sampai ke bahu, lalu membaringkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Damian.
“Selamat malam, Tuan Vampir Menyebalkan,” gumamnya kesal.
Damian tidak menanggapi. Ia kembali mengerjakan laporan yang harus disiapkan untuk rapat besok pagi.
Namun, baru beberapa menit berlalu, ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berbunyi.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari Mami.
Damian mengambil ponselnya dengan malas. Begitu membaca nama pengirimnya, ia sudah bisa menebak bahwa ibunya pasti akan menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan Emma.
Benar saja.
Mami:
Damian, apakah menantu Mami sudah tidur?
Belum sempat Damian membalas, pesan berikutnya kembali masuk.
Kalau dia lapar, masakkan sesuatu untuknya. Jangan biarkan dia tidur dengan perut kosong.
Kemudian, satu pesan lagi muncul.
Kau itu vampir, Damian. Kau bisa bertahan tanpa makan selama berbulan-bulan karena sudah meminum darah. Tapi Emma manusia biasa. Dia tetap membutuhkan makanan. Mengerti?
Damian mendengus pelan.
“Ya Tuhan, Mami ini selalu saja begitu,” gumamnya sambil mengusap wajah.
Sejak Emma datang ke dalam keluarga mereka, ibunya seolah-olah memiliki kesibukan baru, yaitu memastikan menantu kesayangannya itu mendapatkan semua yang diinginkannya.
Damian melirik ke arah ranjang.
Emma masih berbaring membelakanginya. Selimutnya menutupi hampir seluruh tubuh, hanya menyisakan sedikit rambut yang terlihat di atas bantal.
Padahal, Damian masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan malam itu. Ada laporan penting yang perlu diperiksa sebelum rapat besok, belum lagi beberapa dokumen yang harus dikirimkan kepada rekan bisnisnya.
Namun, entah mengapa, melihat Emma yang diam-diam kelaparan membuat konsentrasinya buyar.
“Benar-benar perempuan merepotkan,” gerutunya.
Meski mulutnya terus mengeluh, Damian akhirnya menutup laptopnya.
Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju ranjang.
“Emma.”
Tidak ada jawaban.
“Emma, bangun.”
Perempuan itu hanya menarik selimutnya lebih tinggi.
“Apa lagi?” sahut Emma dengan suara malas tanpa menoleh.
“Jangan tidur dulu. Kau mau makan apa?”
Emma yang tadinya sudah bersiap memejamkan mata langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia membalikkan tubuh dan menatap Damian dengan penuh harap.
“Serius kau mau memasakkan aku makanan?”
“Jangan membuatku berubah pikiran.”
Emma segera duduk tegak.
“Apa saja boleh! Yang penting bisa dimakan.”
Damian menatapnya datar. “Jawaban yang sangat membantu.”
“Ya sudah, nasi goreng saja! Aku suka nasi goreng.”
“Baik. Tunggu di sini.”
Emma mengangguk bersemangat. “Siap, Chef Damian!”
“Jangan panggil aku begitu.”
“Baiklah, Chef Vampir!”
Damian memejamkan mata sebentar, mencoba mengumpulkan kesabaran sebelum akhirnya meninggalkan kamar.
Sementara itu, Emma tersenyum puas sambil kembali merebahkan tubuhnya.
Hah, ternyata suamiku bisa disuruh juga.
Beberapa menit kemudian, Damian berdiri di dapur dengan lengan kemeja yang sudah digulung sampai siku.
Ia menatap berbagai peralatan masak di hadapannya dengan ekspresi datar. Sebenarnya, ia bisa memasak beberapa makanan sederhana, tetapi ia hampir tidak pernah melakukannya sendiri. Selama tinggal di mansion keluarga, semua kebutuhan biasanya sudah disiapkan oleh para pelayan.
Namun, malam ini ia terpaksa turun tangan sendiri.
Damian membuka lemari es, mengambil telur, nasi, dan beberapa bahan lain. Setelah memastikan semuanya tersedia, ia mulai memasak nasi goreng sederhana.
Sesekali ia melirik ponselnya yang terus menampilkan notifikasi pekerjaan. Ia tahu masih banyak hal yang harus diselesaikan, tetapi ia memilih mengabaikannya untuk sementara.
Tidak lama kemudian, aroma nasi goreng yang masih hangat memenuhi dapur.
Damian mencicipi sedikit masakannya sebelum mengangguk puas. Setelah memindahkannya ke piring, ia membawa makanan itu kembali ke kamar.
Ketika masuk, ia mendapati Emma sedang duduk bersila di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Begitu melihat piring di tangan Damian, mata Emma langsung berbinar.
“Wah! Nasi goreng!”
“Turunlah kalau mau makan,” ujar Damian sambil meletakkan piring di meja kecil.
Emma segera turun dari ranjang dan duduk di kursi. Tanpa menunggu lama, ia mengambil sendok dan mencicipi nasi goreng buatan Damian.
Beberapa detik kemudian, ia mengangguk mantap.
“Enak!”
Damian yang hendak kembali ke sofa sempat menghentikan langkahnya.
“Benarkah?”
Emma mendongak. “Iya! Ternyata kau bisa memasak juga.”
“Aku tidak sebodoh yang kau kira.”
“Aku tidak bilang kau bodoh. Aku cuma tidak menyangka seorang pangeran vampir bisa memasak nasi goreng.”
Damian menarik kursi di seberangnya dan duduk sebentar.
“Makanlah sebelum dingin.”
Emma kembali menyendok makanannya dengan lahap. Sesekali ia menggumamkan pujian, membuat Damian yang awalnya berniat langsung kembali bekerja justru tetap duduk di sana sampai Emma hampir menghabiskan makanannya.
“Sudah kenyang?” tanyanya.
Emma mengangguk sambil tersenyum puas. “Sudah. Terima kasih, Damian.”
Pria itu terdiam sesaat mendengar ucapan terima kasih yang disampaikan tanpa embel-embel ejekan.
“Sama-sama,” jawabnya singkat.
Emma mengangkat wajah. “Besok masak lagi, ya?”
“Jangan bermimpi.”
“Yah, pelit sekali!”
Damian berdiri sambil mengambil piring kosong dari meja.
“Tidurlah. Besok kau harus bangun pagi.”
Emma menjulurkan lidah ke arahnya ketika pria itu membalikkan badan.
“Cerewet!”
“Aku masih bisa mendengarmu, Emma.”
Emma langsung menarik selimut sampai menutupi wajahnya.
Damian hanya menggeleng sebelum membawa piring tersebut keluar untuk dibersihkan. Setelah itu, ia kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaannya di sofa.
Sementara itu, Emma tidak membutuhkan waktu lama untuk tertidur setelah perutnya terisi.
Malam semakin larut.
Lampu kamar sudah diredupkan, menyisakan cahaya dari lampu meja di dekat Damian. Pria itu masih menatap layar laptopnya, membaca dokumen dengan serius.
Sesekali ia melirik Emma yang tidur dengan tenang di ranjang.
Awalnya tidak ada yang aneh. Namun, ketika Damian hendak mengambil segelas air, ia mendengar suara lirih dari arah ranjang.
“Bunda …”
Langkah Damian terhenti.
Ia menoleh.
Emma tampak bergerak gelisah di balik selimut. Dahinya sedikit berkerut, sementara bibirnya kembali menggumamkan sesuatu.
“Bunda, jangan pergi … Emma takut.”
Damian terdiam.
Ada sesuatu dalam suara Emma yang membuatnya tidak bisa begitu saja mengabaikan perempuan itu. Emma yang biasanya cerewet, berani membantah, dan selalu punya jawaban untuk setiap perkataannya kini terdengar begitu kecil dan rapuh.
“Bunda … temani Emma …”
Damian perlahan menutup laptopnya.
Ia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepinya.
“Emma,” panggilnya pelan.
Perempuan itu tidak terbangun. Ia justru menggenggam selimut lebih erat.
“Jangan tinggalin Emma, Bunda …”
Damian menghela napas kecil. Ia tidak tahu apa yang sedang dimimpikan istrinya, tetapi ia bisa melihat bahwa Emma sedang gelisah.
Dengan ragu, ia mengulurkan tangan dan menyentuh dahi Emma.
Saat itulah, Damian menyadari sesuatu.
Dahi Emma terasa lebih panas daripada biasanya.
Ia mengernyit, lalu menempelkan punggung tangannya sekali lagi untuk memastikan.
“Panas sekali,” gumamnya.
Damian segera mengambil termometer dari kotak perlengkapan kesehatan yang tersedia di kamar. Setelah memeriksa suhu tubuh Emma, ekspresinya berubah serius.
Emma demam.
“Emma, bangun sebentar,” panggilnya sambil menggoyangkan bahu perempuan itu dengan lembut.
Emma hanya membuka mata sedikit. Tatapannya tampak sayu, tidak seperti biasanya.
“Hmm … apa?”
“Kau merasa tidak enak badan?”
Emma menggeleng pelan, lalu kembali memejamkan mata.
“Ngantuk …”
“Emma, buka matamu sebentar.”
Perempuan itu menurut dengan susah payah.
“Kepalaku pusing,” gumamnya. “Aku mau tidur saja.”
Damian mengamati wajahnya. Ia menyentuh dahinya sekali lagi, lalu menarik selimut agar tubuh Emma tetap hangat tanpa membuatnya kepanasan.
“Kau demam. Kita perlu memeriksakan keadaanmu kalau tidak membaik.”
Emma mengerutkan hidung, kemudian bergeser sedikit di atas bantal.
“Bunda …”
Suara itu kembali terdengar lirih.
Damian terdiam sebelum akhirnya mengusap rambut Emma dengan gerakan canggung.
“Istirahatlah. Aku di sini.”
Entah karena mendengar suara Damian atau karena sudah terlalu lelah, Emma perlahan menjadi lebih tenang. Namun, beberapa saat kemudian, tangannya meraba-raba sisi ranjang seolah sedang mencari sesuatu.
Damian memperhatikan gerakan itu.
“Apa yang kau cari?”
Emma tidak menjawab. Ia hanya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, kemudian tanpa sadar menggenggam tangan Damian.
Pria itu menunduk menatap jemari Emma yang melingkari tangannya.
Biasanya, Emma akan dengan senang hati berdebat dengannya bahkan hanya karena persoalan sepele. Namun, malam ini perempuan itu bahkan tidak memiliki tenaga untuk membuka mata dengan benar.
Damian membiarkan tangannya digenggam.
“Tidurlah,” bisiknya.
Untuk pertama kalinya malam itu, Damian tidak kembali membuka laptopnya. Ia tetap duduk di sisi ranjang, memastikan Emma bisa beristirahat dengan nyaman.
Keesokan paginya, sinar matahari mulai menembus celah tirai kamar.
Damian sudah bangun sejak beberapa waktu lalu. Ia bahkan sempat memeriksa suhu tubuh Emma sekali lagi sebelum pergi mandi.
Namun, ketika ia kembali dengan pakaian kerja yang sudah rapi, Emma masih terbaring di ranjang.
“Emma, bangun. Sudah pagi,” panggilnya sambil menghampiri ranjang.
Tidak ada jawaban.
Damian menyentuh bahu Emma dengan lembut.
“Emma?”
Perempuan itu bergerak sedikit, kemudian membuka matanya dengan susah payah.
“Hmm …”
“Kau masih pusing?”
Emma mengangguk kecil. “Iya. Badanku juga pegal semua.”
Damian segera menyentuh dahinya. Suhu tubuh Emma masih tinggi.
Wajahnya yang biasanya tenang kini menunjukkan kekhawatiran.
“Kau masih demam,” gumamnya.
Emma menarik selimut sampai ke dagu, lalu menatap Damian dengan mata sayu.
“Aku tidak mau bangun.”
“Kalau begitu, jangan bangun dulu. Aku akan menghubungi dokter.”
Emma mengangguk, tetapi ketika Damian hendak berdiri, tangannya tiba-tiba meraih ujung kemeja pria itu.
“Jangan pergi …”
Damian berhenti.
“Aku hanya mau mengambil ponsel.”
Emma menggeleng pelan. “Jangan pergi jauh-jauh.”
Damian menatapnya selama beberapa detik. Perempuan yang biasanya selalu berani menyuruhnya ke sana kemari kini justru memandangnya dengan mata berkaca-kaca karena demam.
Akhirnya, Damian duduk kembali di sisi ranjang.
“Baik. Aku tidak akan pergi jauh. Tapi aku tetap harus menghubungi dokter, mengerti?”
Emma mengangguk kecil.
Setelah menghubungi dokter untuk meminta arahan, Damian mengambil air minum dan membantu Emma meneguknya sedikit demi sedikit. Ia juga memastikan Emma beristirahat dan tidak memaksakan diri untuk melakukan apa pun.
Ketika Emma kembali merebahkan tubuhnya, Damian merapikan selimutnya.
“Tidurlah. Aku ada di sini.”
Emma memejamkan mata, tetapi beberapa saat kemudian ia kembali membuka matanya.
“Damian …”
“Apa lagi?”
“Kau mau pergi ke kantor?”
Damian melirik jam tangannya. Hari itu sebenarnya ia memiliki beberapa rapat penting yang tidak bisa ditunda begitu saja. Namun, melihat keadaan Emma, ia tidak ingin meninggalkannya sendirian di rumah yang masih terasa asing bagi perempuan itu.
“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Aku akan bekerja dari rumah.”
Emma menatapnya dengan mata sayu.
“Benarkah?”
“Ya. Aku bisa mengikuti rapat lewat Zoom.”
“Karena aku sakit?”
Damian terdiam sebentar sebelum menjawab, “Karena kau sedang sakit dan tidak seharusnya dibiarkan sendirian.”
Senyum kecil muncul di wajah Emma.
“Berarti kau khawatir sama aku?”
“Jangan mulai mencari masalah ketika sedang demam.”
Emma cemberut. “Aku cuma bertanya.”
“Dan aku sudah menjawabnya.”
Damian mengambil laptopnya, lalu meletakkannya di meja dekat ranjang agar ia tetap bisa mengawasi Emma sambil bekerja.
Namun, baru saja ia hendak membuka laptop, Emma kembali memanggilnya.
“Damian …”
Pria itu menoleh dengan sedikit pasrah. “Apa lagi, Emma?”
Emma mengulurkan kedua tangannya dari balik selimut.
“Temani aku sebentar.”
Damian memandangnya, kemudian memandang laptop yang berisi sederet pekerjaan penting.
Ia menghela napas panjang.
“Lima menit.”
Emma menggeleng lemah. “Sepuluh menit.”
“Emma.”
“Lima belas menit,” tawar Emma, masih dengan suara serak.
Damian memejamkan mata, seolah sedang meminta kesabaran kepada seluruh leluhur vampirnya.
“Kau sedang demam, tetapi masih sempat menawar?”
Emma tersenyum tipis. “Namanya juga usaha.”
Damian akhirnya duduk di sampingnya dan membantu Emma membetulkan posisi bantal.
“Lima menit. Setelah itu, kau harus beristirahat dan membiarkanku bekerja.”
Emma mengangguk puas, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di lengan Damian.
“Baik, Tuan Vampir.”
Damian tidak membalas ejekannya. Ia hanya membiarkan Emma beristirahat di dekatnya selama beberapa saat.
Ketika napas Emma mulai teratur dan matanya kembali terpejam, Damian menunduk untuk memastikan perempuan itu sudah tertidur.
Setelah itu, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Vandes.
Damian: Pindahkan rapat pagi ke Zoom. Aku bekerja dari rumah hari ini.
Balasan Vandes masuk tidak lama kemudian.
Vandes: Baik, Yang Mulia. Apakah ada masalah?
Damian melirik Emma yang masih terbaring di sampingnya.
Damian: Emma demam. Pastikan semua dokumen rapat dikirim ke sini.
Ia meletakkan ponselnya kembali, kemudian membuka laptop.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Damian memutuskan mengubah jadwal kerjanya demi menemani seseorang di rumah.
Dan orang itu adalah perempuan yang baru beberapa waktu lalu ia anggap sangat merepotkan.
Namun, ketika Emma kembali menggumamkan kata Bunda dalam tidurnya, Damian tanpa sadar menoleh.
Ia belum mengetahui alasan di balik kesedihan yang tersembunyi dalam gumaman itu. Akan tetapi, satu hal mulai ia sadar ia tidak ingin Emma merasa sendirian, bahkan ketika perempuan itu sendiri belum menyadari betapa besar tempat yang mulai ia miliki dalam hidupnya.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭