NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Resonansi

Permukaan teh berwarna darah di dalam cangkir porselen itu sangat tenang.

Tidak ada riak. Tidak ada uap panas. Namun, cairan pekat itu memancarkan bau besi berkarat dan ozon yang langsung menyengat saraf penciuman Hans Lorte.

Di seberang meja kaca, Duke of Clarence tersenyum menanti. Pria aristokrat bermata hitam legam itu bersandar nyaman di kursinya.

"Minum, Tuan Lorte," bisik sang Duke lembut, nadanya menyerupai bujukan iblis.

"Setetes saja cairan Atlantik ini menyentuh lidahmu, otak rasionalmu akan berevolusi," lanjut sang Duke. "Kau akan melihat alam semesta tanpa batasan fisika yang kaku."

Pip menggigit bibirnya hingga berdarah. Tangannya mencengkeram erat ujung mantel kusam Hans.

"Jangan, Tuan Lorte!" jerit Pip tertahan, matanya membelalak ngeri. "Itu racun monster! Dia ingin mengubahmu menjadi seperti Inspektur Hallowell!"

Mata kelabu Hans menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan teh berdarah tersebut.

Otak rasionalnya berputar pada kecepatan maksimal. Ia membedah setiap kata tentang "Paradoks" yang baru saja diucapkan sang Duke.

Kalkulasi: Jika aku menyerang sang Duke secara fisik, energi kinetikku akan menciptakan gesekan realitas. Paradoks itu akan menyuplai daya tak terbatas bagi bola kristal di belakangnya.

Jika perlawanan keras menghasilkan energi, maka satu-satunya cara untuk menghentikan mesin ini adalah menghancurkannya tanpa perlawanan yang berlawanan arah.

Hans perlahan meletakkan kembali cangkir porselen itu ke atas meja. Bunyi dentingan keramik memecah keheningan.

Evelyn menahan napas. Wajah wanita itu pucat pasi, tak sanggup melihat satu-satunya detektif yang bisa menyelamatkan ayahnya berada di ambang kekalahan.

"Kau menolak tawaranku?" Duke of Clarence menyempitkan matanya. Hawa membunuh seketika merembes dari pori-pori kulitnya.

"Kau bilang anomalimu membutuhkan friksi dan penolakan, Tuan Duke," suara Hans mengalun sangat datar dan sedingin es.

Detektif jangkung itu memutar tongkat jalan berkepala besinya dengan perlahan. Ia mulai mengetukkan ujung tongkat itu ke lantai marmer.

Tuk... Tuk...

"Apa yang sedang kau lakukan?" sang Duke mendengkus sinis. "Menghitung detik kematianmu?"

"Tidak," sahut Hans seraya menggeser posisinya ke arah pilar kuningan yang menopang bola kristal raksasa penyimpan miniatur London.

Tuk... Tuk...

Ketukan Hans terdengar berirama. Tidak keras, tapi sangat konstan.

"Aku sedang membuktikan bahwa fisika tidak melulu tentang benturan dan ledakan," ucap Hans dingin. "Pernahkah kau mendengar tentang Frekuensi Resonansi Alami, Clarence?"

Mata hitam sang Duke seketika melebar. Ia menyadari apa yang sedang diincar oleh detektif itu.

"Hentikan dia!" raung sang Duke panik, menekan tombol di kursinya dengan brutal.

TRANG! KRIEEET!

Dua pintu rahasia di sisi ruangan menjeblak terbuka. Empat Inquisitor Kerajaan berjas rapi dengan pembuluh darah biru menyala melompat keluar, menghunus pedang berfrekuensi tinggi.

Namun, Hans sudah menemukan nada yang tepat.

Alih-alih memukul para penjaga, Hans mengayunkan tongkatnya ke arah pilar penyangga bola kristal raksasa. Ia tidak memukul dengan tenaga penuh, melainkan dengan getaran yang sangat presisi!

TRANGGG!! TRANGGG!! TRANGGG!!

Tiga hantaman cepat dan ritmis.

Getaran suara dari tongkat besi itu merambat ke pilar kuningan, lalu naik menuju bola kristal raksasa yang mengurung miniatur London.

"Fisika akustik," bisik Hans, menyeringai dingin di bawah topi petnya. "Jika sebuah benda dipukul pada frekuensi alaminya, amplitudo getarannya akan berlipat ganda hingga merobek strukturnya sendiri dari dalam."

Bukan gesekan. Bukan penolakan. Hanya harmoni gelombang suara yang mematikan.

NGGGGG... CRACK!

Bola kristal anomali itu menjerit melengking! Retakan panjang tiba-tiba muncul membelah permukaannya.

Karena Hans tidak menggunakan benturan kinetik yang berlawanan, hukum paradoks sang Duke tidak aktif!

PRANGGG!!! BLAAAARRR!!!

Bola kristal raksasa itu meledak hancur berkeping-keping!

Pecahan kaca dan energi emas yang belum matang meledak menyapu seluruh ruangan layaknya badai kejut!

"TIDAAAKKK!!" jerit Duke of Clarence. Wajah aristokratnya terhempas ke belakang, terkena serpihan kaca tajam.

Gelombang energi yang bocor seketika mematikan perapian anomali. Keempat Inquisitor yang sedang melompat ke arah Hans langsung kehilangan keseimbangan saat medan energi penyokong mereka runtuh.

"Lady Finch! Buku itu!" perintah Hans menembus deru ledakan.

Evelyn tidak menyia-nyiakan sepersekian detik pun.

Wanita itu melompat menerjang meja kerja sang Duke, menyambar Buku Kas bersampul hitam tebal, dan memeluknya erat di dada.

"Dapat!" jerit Evelyn.

BAM!

Salah satu Inquisitor berhasil bangkit. Ia menerjang Hans dengan sabetan pedang berdengung tajam.

Hans merunduk mulus. Ia memutar tubuhnya, menyelipkan ujung tongkatnya di antara kaki agen tersebut, dan membiarkan momentum musuh menjatuhkannya sendiri ke lantai.

"Kita tidak bisa bertarung di sini! Mereka akan terus datang!" teriak Pip panik, menghindari pecahan kaca yang berjatuhan.

Hans menatap lantai di bawah perapian pualam yang apinya baru saja padam. Terdapat sebuah kisi-kisi pembuangan limbah air yang sangat lebar.

"Jalur pembuangan reaktor!" Hans menunjuk kisi-kisi besi itu.

Hans melesat maju, menyungkil penutup besi itu dengan tongkatnya menggunakan kekuatan penuh.

KRAAAK!

Kisi-kisi itu terlempar, menampakkan lubang air terjun gelap yang bergemuruh membuang sisa cairan menuju selokan raksasa Thames.

"Masuk ke sana!" perintah Hans.

Pip memejamkan mata dan melompat lurus ke dalam kegelapan lubang air tersebut. Evelyn menyusul di belakangnya tanpa ragu sedikit pun.

Duke of Clarence merangkak dengan wajah bersimbah darah. Mata hitamnya memancarkan murka murni.

"Kau tidak akan selamat, Lorte!" kutuk sang Duke, suaranya terdistorsi menahan sakit. "Divisi Nol akan memburu kalian hingga ke ujung dunia!"

Hans berdiri di bibir lubang, memutar tongkat besinya satu kali dengan sangat tenang.

"Rasionalitas tidak pernah lari, Clarence," sahut Hans dingin, menatap mata monster itu. "Kami hanya mengatur ulang posisi untuk menghancurkan kalian secara sistematis."

Hans menjatuhkan dirinya ke belakang, meluncur jatuh ke dalam terowongan air rahasia tepat sebelum puluhan peluru dari para Inquisitor menghancurkan lantai tempatnya berpijak.

Perjalanan menembus selokan vertikal itu brutal dan menyesakkan napas.

Daya hisap air limbah memompa tubuh mereka menembus jaringan pipa pembuangan Westminster. Paru-paru mereka terbakar menahan napas di air es.

BUMP! BUMP! BYAAARRR!

Ketiganya terlempar keluar dari mulut pipa pembuangan.

Mereka mendarat keras di atas tumpukan jerami basah, di tengah katakombe pembuangan air hujan raksasa yang tersembunyi di bawah lumpur London Selatan.

UHUK! UHUK!

Pip terbatuk-batuk keras. Anak itu memuntahkan air kotor dari mulutnya, menghirup udara malam berbau belerang dengan sangat rakus.

Hans menyandarkan tubuh jangkungnya pada dinding bata berlumut. Kemeja putihnya sudah hancur oleh lumpur dan darah kering.

Namun, mata kelabu sang detektif masih menyala tajam dan hidup.

"Kita lolos," bisik Evelyn dengan bibir bergetar hebat. "Kita benar-benar menghancurkan bola kristal bajingan itu."

Evelyn merangkak bangun dengan tubuh menggigil.

Wanita itu membersihkan lumpur dari Buku Kas bersampul hitam yang ia lindungi dengan nyawanya, lalu membukanya di bawah pendaran cahaya bulan redup yang menembus kisi-kisi selokan atas.

Evelyn membalik halaman-halaman awal yang hanya berisi angka-angka keuangan fiktif. Ia mengeluarkan pisau lipat kecilnya dan merobek lapisan sampul dalam buku itu.

"Tuan Lorte," suara Evelyn mendadak berubah tegang, matanya terbelalak. "Ayahku tidak bodoh. Dia tahu Kerajaan akan menggunakan paradoks ini untuk pemusnahan massal."

Hans menoleh perlahan, mengusap air lumpur dari wajahnya. "Apa yang ayahmu sembunyikan di sana?"

Evelyn menarik selembar perkamen tipis yang dilipat rapi dari balik lapisan sampul kulit tersebut.

Di atas perkamen itu, tergambar sebuah cetak biru aneh berbentuk lingkaran sempurna. Di sekelilingnya, dipenuhi oleh ratusan rumus fisika termodinamika dan mekanika kuantum teoretis yang melampaui zaman Victoria.

"Ini bukan sekadar catatan," Evelyn mendongak menatap Hans dengan napas memburu. "Ini adalah Persamaan Keseimbangan. Sebuah desain senjata Failsafe."

Pip ikut melongok dengan mata membelalak. "Senjata penawar? Untuk menghentikan retakan dimensi monster itu selamanya?"

"Ya," Evelyn menelan ludah. "Tapi cetak biru dasar ini tidak lengkap. Ayah membagi rancang bangun mesin aslinya ke dalam tiga jurnal berbeda agar tidak jatuh ke tangan Kerajaan."

Hans meraba anting perak bulan sabit di telinga kirinya. Otak rasionalnya menyusun kepingan papan catur yang baru.

Pola permainannya kini telah berubah mutlak. Ini bukan lagi sekadar menghancurkan mesin uap demi menyelamatkan satu ilmuwan. Ini perlombaan senjata.

"Di mana jurnal-jurnal itu disembunyikan?" tanya Hans dengan suara sedingin es.

Evelyn membaca bait puisi yang ditulis dengan tinta tak kasat mata di sudut perkamen tersebut, yang kini memendar kebiruan terkena cahaya bulan.

"Di bawah roda besi yang tak pernah tidur, di atas lempengan kematian yang berputar, dan di dalam relung suara yang membisu," baca Evelyn lirih.

Napas wanita itu memburu. Tiga teka-teki gila. Tiga lokasi infrastruktur berbahaya di jantung kota London.

KRAAAK!

Mendadak, suara retakan es halus terdengar dari langit-langit gorong-gorong batu di atas kepala mereka.

Suhu udara anjlok tajam. Genangan air kotor di selokan mulai membeku perlahan, membentuk lapisan es kebiruan yang merayap mendekati sepatu mereka.

"Kita tidak punya waktu untuk beristirahat," Hans berdiri tegap.

Ia memutar tongkat besinya, menatap kegelapan lorong katakombe di depan mereka dengan ketetapan hati yang absolut.

"Para Inquisitor telah melacak jejak oksigen dan suhu tubuh kita," ujar Hans dingin. "Perburuan jurnal ini dimulai malam ini juga."

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!