Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda tangan
"Itu gugatan cerai. Besok pagi kamu harus sudah angkat kaki dari rumah ini!
Adelia tidak bergerak. Tangannya yang dingin mendekap pinggiran meja, menatap tumpukan kertas putih berperekat segel hukum yang menyembul dari dalam amplop.
"Buka dan tanda tangani sekarang," ulang Arkananta. Suaranya datar, tanpa ada sedikit pun celah keraguan atau rasa penyesalan.
"Papa?"
Suara serak dari arah lorong tangga membuat Arkananta memalingkan muka sejenak.
Kenzie dan Kayla berdiri di sana. Kayla masih menggenggam boneka kecilnya, mata sembabnya membelalak menatap dokumen di atas meja.
Kenzie melangkah cepat turun dari tangga, memasang tubuhnya tepat di samping sang ibu.
"Papa mau ngapain?" tanya Kenzie dengan nada suara yang bergetar menahan amarah. "Itu kertas apa, Pa?"
Arkananta menarik kursi di ujung meja makan, lalu duduk bersedekah dada dengan gaya seorang atasan yang sedang memecat karyawannya. "Bagus kalian berdua bangun dan ada di sini. Jadi Papa tidak perlu menjelaskan dua kali. Itu surat gugatan cerai Papa untuk ibu kalian."
"Papa gila, ya?!" jerit Kayla histeris. Air matanya langsung meleleh membasahi pipi. Ia berlari memeluk pinggang Adelia rapat-rapt. "Ibu! Ibu enggak boleh pisah sama Papa! Papa, kenapa jahat banget sama Ibu?!"
"Diam, Kayla! Kamu masih kecil,nggak usah ikut campur urusan orang tua!" bentak Arkananta tegas. Matanya beralih menatap Adelia yang masih membisu.
"Aku sudah lelah, Del. Lima belas tahun aku menahan diri hidup sama wanita yang nggak pernah punya ambisi seperti kamu. Kamu itu Ketinggalan zaman dan sudah nggak selevel lagi sama aku!"
"nggak selevel?" Adelia akhirnya bersuara. Suaranya tidak melengking, tapi sangat dingin dan bergetar. "Lima belas tahun aku mengurus rumah ini, membesarkan anak-anakmu, dan menghemat setiap rupiah supaya kamu bisa fokus mengejar karirmu sampai jadi direktur. Sekarang kamu bilang aku tidak selevel?"
Arkananta tertawa sinis, melempar pandangan meremehkan ke arah daster katun biru pudar yang dikenakan Adelia.
"Lihat diri kamu, Del. Kamu cuma ibu rumah tangga yang kerjanya bergelut sama bumbu dapur dan pakai baju rombeng ini setiap hari. Kamu tidak tahu caranya bersosialisasi di kalangan atas, kamu tidak bisa diajak bicara soal bisnis atau investasi!"
"Cukup, Pa!" potong Kenzie dengan napas memburu. Kedua tangannya mengepal di samping paha. "Papa yang nggak punya otak! Ibu kayak begini karena Ibu mau menghemat uang buat kita! Ibu rela tidak beli baju baru demi bayar uang sekolah Kenzie sama Kayla!"
"Kenzie! Jaga mulut kamu sama Papa!" bentak Arkananta berdiri dari kursinya, menunjuk wajah putra sulungnya. "Kamu bisa sekolah di sekolah bagus itu karena uang Papa! Hasil keringat Papa! Bukan Karena ibu kamu yang Lusuh itu"
"Tapi Ibu yang masak! Ibu yang nyuci baju Papa tiap hari! Ibu yang rawat Kenzie waktu sakit!" teriak Kenzie tidak mau kalah, melangkah maju menantang tatapan ayahnya. "Papa cuma tahu cari uang lalu dibuang-buang buat cewek gatal itu!"
"Kenzie, sudah, Nak," bisik Adelia lembut, merengkuh bahu Kenzie agar mundur. Adelia menatap Arkananta lurus-lurus. "Kamu mau mengganti aku dengan Clara, Mas?"
Arkananta merapikan kerah piamanya dengan angkuh.
"Clara wanita berkelas. Dia berpendidikan, penampilannya selalu anggun, wangi, dan tahu cara menempatkan diri di depan rekan bisnis. Beda jauh sama kamu yang sudah kayak pelayan di rumah ini. Dilihat saja sudah bikin malu!"
Kata 'pelayan' terucap begitu gampang dari mulut pria yang dulu bersumpah di depan almarhum ayahnya untuk membahagiakannya. Kayla makin terisak keras di samping Adelia, meremas kain daster ibunya.
"Papa jahat! Kayla benci sama Papa!" ratap Kayla di sela tangisnya.
Arkananta sama sekali tidak tersentuh oleh tangisan putrinya. Ia mencabut pulpen hitam dari saku bajunya, lalu membantingnya tepat di atas kertas gugatan cerai.
"Tidak usah banyak drama lagi. Tanda tangani sekarang," desak Arkananta dengan raut wajah tanpa perasaan. "Harta atas nama saya semuanya tetap milik saya. Kamu tidak berhak minta gono-gini karena selama ini kamu tidak menghasilkan satu sen pun di rumah ini. Besok pagi saya mau rumah ini sudah bersih dari barang-barang kamu."
Kenzie hendak menerjang ayahnya, namun tangan Adelia menahannya dengan kuat.
Adelia memejamkan mata sejenak. Seluruh kenangan manis lima belas tahun lalu janji manis di pelaminan, usaha menghemat uang, tawa sederhana saat membelikan mainan pertama anak-anak seketika lebur tak berbekas.
Saat Adelia membuka matanya kembali, tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi binar kesedihan atau rasa takut. Pandangan mata Adelia mendadak mengeras, dingin, dan sangat tajam bak sembilu.
Adelia meraih pulpen di atas meja dengan jemarinya yang sempat gemetar. Ia menarik lembar terakhir dokumen tersebut, lalu tanpa ragu sedikit pun menorehkan tanda tangannya di atas materai.
Sret! Sret!
Goresan tinta hitam itu sah mengakhiri lima belas tahun pernikahan mereka. Adelia melempar pulpen itu kembali ke dada Arkananta hingga pria itu terperanjat mundur satu langkah.
"Sudah," kata Adelia pendek. Suaranya begitu datar hingga terasa mengerikan. "Aku sudah tanda tangan."
Arkananta agak kaget melihat betapa cepatnya Adelia menyerah tanpa amukan histeris, namun dengan cepat ia menyunggingkan senyum kemenangan. Ia mengambil dokumen itu dan memeriksanya. "Bagus. Ternyata kamu sadar diri juga."
"Aku tidak butuh harta gono-gini dari uang haram yang kamu pakai buat memanjakan wanita lain,Mas," ucap Adelia pelan, melangkah satu pijakan mendekati Arkananta.
"Tapi ingat kata-kataku malam ini. Suatu hari nanti, kamu yang akan berlutut di depan kaki pelayan lusuh ini untuk memohon ampun."
Arkananta tertawa meremehkan. "Mimpi kamu terlalu tinggi, Del. Kita lihat siapa yang bakal mengemis duluan di luar sana."
Arkananta membalikkan badan dan melangkah santai menuju kamarnya. Namun baru tiga langkah berjalan, sebuah suara ketukan keras dan beruntun memukul pintu depan rumah mereka.
Dor Dor Dor!!
Suara gedoran di tengah malam membuta itu membuat seluruh ruangan seketika hening. Arkananta menghentikan langkahnya dan berbalik bingung.
Siapa yang bertamu pukul dua dini hari seperti ini?
Adelia berjalan tenang membuka pintu utama. Begitu pintu terbuka, berdiri seorang wanita paruh baya bermake-up tebal dengan perhiasan mencolok di lehernya, diapit oleh Clara yang membawa dua buah koper besar di belakangnya.
Itu adalah Ibu Mertua Adelia,ibu kandung Arkananta.
Ibu mertuanya melangkah masuk tanpa permisi, menatap Adelia dari atas ke bawah dengan pandangan jijik sebelum melayangkan tatapan tajam ke arah interior rumah.
"Ibu?" Arkananta mendekat dengan wajah terkejut. "Ibu kok ke sini malam-malam begini sama Clara?"
Mertua Adelia mengibaskan tangannya santai, lalu menunjuk ke arah Adelia dengan dagunya yang terangkat tinggi.
"Arkan, Ibu sengaja suruh Clara jemput Ibu dari kampung malam ini," ujar wanita tua itu dengan nada sangat arogan. "Ibu sudah dengar kamu mau ceraikan wanita tidak berguna ini. Bagus! Biar Ibu sendiri yang memastikan wanita parasit ini angkat kaki dari sini malam ini juga, bukan besok pagi!"
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel