"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es Teh
"Saya permisi dulu," ucap Bibi Tari yang tak ingin ikut campur masalah rumah tangga majikannya.
"Bi Sita... Antar Bibi Tari ke kamar tamu," suruh Bian pada salah satu ART di rumahnya.
"Baik, Pak." Bi Sita pun segera membawa Bibi Tari pergi ke kamar tamu. Walaupun tadi Bibi Tari sempat menolak untuk dibawa ke kamar tamu. Dia ingin tinggal seperti pekerja lainnya saja. Diajak oleh Aluna saja, dia sudah sangat bersyukur. Namun Bian tak mau karena tujuannya membawa Bibi Tari adalah untuk menemani Aluna.
"Sepertinya kita perlu bicara banyak tentang ini agar tidak ada kesalahpahaman," ucap Bian setelah Bibi Tari pergi.
Aluna menganggukkan kepalanya. Dia tidak mungkin tutup mata mengenai apa yang terjadi di rumah ini. Sebagai istri dan Ibu, dia berhak mengetahui semuanya. Bian pun mulai mengenalkan Aluna pada tempat-tempat di rumahnya. Walaupun nanti ada Bibi Tari yang membantu, tapi Aluna harus menghafal rumah ini. Aluna mendengarkan penjelasan dari Bian. Terutama untuk ruang keluarga dan dapur jika ingin makan. Untuk kamar, nanti Bian akan memindahkannya di dekat ruang keluarga. Agar Aluna juga tidak jauh jika harus ke dapur. Pasalnya kamar Bian sendiri ada di dekat halaman belakang rumah.
"Kamar anak-anak dimana, Mas?" tanya Aluna setelah mencoba merekam dimana letak dari beberapa tempat di rumah ini.
"Kamar anak-anak ada di depan ruang makan. Mereka berdampingan," ucap Bian sambil memegang tangan Aluna dan mengarahkannya pada pintu kamar kedua anaknya.
"Besok aku akan tempelkan sesuatu di pintu untuk membedakan mana kamar Reyhan dan Lova," lanjutnya.
"Terimakasih, Mas." ucap Aluna sambil tersenyum. Aluna baru tahu kalau Bian ternyata sangat perhatian padanya walaupun belum mencintainya.
"Rumah ini cuma satu lantai dan tidak terlalu luas. Maklum... Aku hanya petani sayuran dan buah dengan toko kecil-kecilan. Tapi aku akan usahakan untuk dapur rumah ini tetap ngebul," ucap Bian membuat Aluna tersenyum.
"Tidak masalah, yang penting cukup untuk makan dan tempat berteduh. Aku juga bisa bekerja," ucap Aluna dengan santainya.
"Bekerja?" tanya Bian dengan tatapan bingungnya.
Bukannya dia mau meremehkan atau merendahkan Aluna. Namun dengan keadaan Aluna yang seperti ini, rasanya sangat sulit dipercaya kalau Aluna bisa bekerja. Aluna yang paham dengan kebingungan Bian pun tidak tersinggung. Siapapun juga pasti akan menilai seperti itu. Aluna berjalan menuju ruang makan sendiri, tanpa dibantu oleh Bian. Laki-laki itu hanya berjalan di belakangnya kemudian mereka duduk di ruang makan.
"Aku bisa melukis, Mas. Walaupun tidak bisa melihat, tapi aku dapat merasakan apa yang aku gambar di kertas. Kata Bi Tari, lukisanku bagus." ucap Aluna sambil terkekeh pelan.
"Sepertinya aku nanti harus melihat lukisanmu. Siapa tahu lukisanmu bisa ikut pameran," ucap Bian dengan antusiasnya. Pantas saja tadi dia melihat beberapa peralatan lukis dibawa oleh Bibi Tari. Ternyata itu adalah milik Aluna.
"Mas harus melihat dan menilai lukisanku. Aku curiga Bibi Tari itu cuma melebih-lebihkan hasil lukisanku," ucap Aluna sambil tertawa lebar.
"Cantik," gumam Bian saat melihat Aluna tertawa lepas. Bahkan kecantikannya melebihi Salsa yang tertutup make up berlebihan.
"Jadi tentang Elova dan selingkuh tadi gimana, Mas? Aku penasaran lho," ucap Aluna yang sudah merasa nyaman berinteraksi dengan Bian.
Walaupun saat awal bertemu, Bian sedikit dingin dan pendiam tapi ternyata berbeda ketika berdua seperti ini. Bahkan keduanya malah seperti teman lama yang baru saja bertemu kembali. Yah... Untuk sekarang memang masih teman karena Bian dan Aluna belum saling mencintai. Mereka masih berusaha untuk saling mengenal satu sama lain.
"Lova itu anak dari Kakakku. Dia meninggal saat melahirkan Lova. Suaminya sudah tiada saat Lova masih dalam kandungan 2 bulan kalau tidak salah. Meninggal saat bertugas di perbatasan," ucap Bian sambil tersenyum miris.
"Orangtuaku sudah tua dan harus mengurus kebun, jadi aku putuskan ambil alih hak asuh Lova." lanjutnya membuat Aluna menampilkan senyum sendu.
"Nasibnya mirip denganku. Bedanya Lova bisa dapat kasih sayang dari keluarganya. Kalau aku masih ada keluarga, tapi seperti nggak punya." gumam Aluna dengan pelan.
"Jadi aku nggak selingkuh, Aluna. Saat Kakakku meninggal dan Lova hadir, aku sudah pacaran dengan Salsa waktu itu." ucap Bian sambil menggelengkan kepalanya.
"Udah lah ya, nggak usah bahas perempuan itu lagi. Aku sudah jadi suamimu, masa lalu buang jauh-jauh. Jalani saja sekarang yang ada," lanjutnya.
Emm...
"Ayo kita ke kamar. Kamu perlu istirahat setelah kejadian tak terduga hari ini," ajaknya pada Aluna.
"Kita sat..."
"Iya, satu kamar. Tidak ada pisah-pisah kamar walaupun kamu masih istri siri. Aku akan berusaha bersikap baik dan menjalani pernikahan ini dengan layaknya pasangan suami istri. Walaupun untuk mencintaimu, masih butuh waktu." sela Bian yang paham dengan kebingungan Aluna.
Baginya, tidak ada pernikahan main-main. Dia dan Aluna sudah memutuskan untuk menikah walaupun dengan pertemuan yang berbeda. Anggap saja ini memang cara Tuhan menyatukan dua sejoli untuk bersama. Bian merasa dia banyak kekurangan, apalagi nanti bisa merepotkan Aluna dengan dua anaknya. Jadi memperlakukan Aluna dengan baik adalah salah satu cara bahwa dia menganggap ada pernikahan ini. Aluna begitu terharu dengan ucapan Bian. Aluna mengutuk tingkah Salsa yang sepertinya akan menyesal telah meninggalkan Bian. Walaupun hanya petani dan pemilik toko kecil, pada faktanya Bian mempunyai sifat yang baik.
"Ayo aku gan..."
"Tidak perlu. Aku tadi sudah berusaha buat hafal dimana kamar dan tempat di rumah ini. Aku ingin mandiri dan tidak mau merepotkan oranglain, Mas." sela Aluna yang tak ingin kekurangannya ini merepotkan orang di sekitarnya.
"Aku bukan oranglain. Aku ini suamimu. Aku bisa jadi mata buat kamu yang akan mengarahkan kemana saja jika kamu ingin melangkah," ucap Bian tiba-tiba.
Ucapan Bian yang manis ini membuat mata Aluna berkaca-kaca. Walaupun matanya terlihat kosong tapi Aluna begitu terharu. Dia tak menyangka kalau akan ada laki-laki yang menerimanya dengan kondisinya seperti ini. Walaupun memang laki-laki itu bukan orang kaya. Bian sendiri bingung mengapa bisa mengucapkan kalimat manis itu pada Aluna. Padahal saat bersama Salsa dulu, dia jarang berucap manis.
"Kita jadi teman atau saudara dulu ya, Mas." ucap Aluna memberikan tawarannya.
"Iya, anggap lah seperti itu. Siapa tahu dengan ter..."
"Papa, Lopa mau minum es teh jumbo dua gelas." seru Elova yang baru saja masuk ke dalam ruang makan. Hal itu membuat perbincangan Aluna dan Bian langsung terpotong.
"Minum susu aja, jangan es teh. Kamu masih kecil, jangan banyak minum es." ucap Bian yang langsung membawa Elova dalam gendongannya.
Disuluh sama Abang Leyhan, Papa. Nanti Lopa satu tetes aja,
Astaga... Punya adik nggak bisa jaga rahasia. Mulutnya ember,
Reyhan, kalau minta es teh langsung ke sini. Ngapain ngumpet di balik guci?
Eh...
coba klau anaknya Pak Dayat digituin, emang mau nerima? yang ada Pak Dayat juga bakalan emosi sama seperti Bian.
klau ngomong tuh disaring dulu Pak, jangan asal ceplos aja, emang semua orang bisa nerima apa yang bapak ucapkan?! /Panic//Drowsy/
..
🙏😍💪