Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.
Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.
Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.
Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.
Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.
Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. AKU BUKAN ISTRIMU
Saras tersenyum lebar melihat dan mendengar bagaimana putra kecilnya membelanya. Meski anaknya masih sangat kecil, ia merasa senang dilindungi seseorang, dijaga oleh putra kecilnya. Namun meski terasa menyenangkan, ia tahu itu tidak benar—Nael adalah ayah anak itu, dan mereka semestinya tak bertengkar, melainkan saling menyayangi. Anak-anaknya berhak memiliki keluarga yang utuh, sebagaimana ia sendiri pernah memilikinya dulu.
Saras berjongkok, membuat putra kecilnya menatapnya, membelai rambutnya hingga ke pipinya yang kemerahan, lalu berkata dengan suara lembut.
"Lian, jagoan kecilku, kau begitu berani berusaha menjagaku. Tapi kau tak perlu menjagaku dari Nael. Mama berjanji ia tak akan berbuat apa pun yang buruk kepadaku, dan terutama, ia tak akan berbuat apa pun kepada kalian. Kalian harus memercayainya dan menyayanginya. Sayang, Mama dan dia perlu bicara denganmu dan adikmu, kami akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting."
Lian memegang wajah ibunya dengan kedua tangan mungilnya, menatapnya sejenak, lalu setelah beberapa saat berseru.
"Mata Mama merah, sepertinya Mama habis menangis. Aku tidak suka Mama sedih. Tapi aku akan menuruti yang Mama minta. Hanya saja aku tidak mau Tuan itu ada di dekat Mama, dia tidak boleh memeluk Mama, aku tidak suka, dan dia tidak punya hak."
Saras tersenyum kepadanya, lalu berkata dengan bangga.
"Soal itu Mama setuju sekali denganmu, jagoan kecilku. Mama janji, dia tak akan lagi memelukku."
Nael sama sekali tak menyukai apa yang ia dengar. Ia akan terus memeluk Saras—Saras istrinya, dan itu adalah hal yang harus dipahami putra kecilnya, begitu pula Saras. Namun di tengah kekesalan itu, ia mendengar putri kecilnya berkata.
"Kakak, kok bisa bilang begitu? Tidak ada salahnya papa pinjaman memeluk Mama, ini tidak buruk, dia tidak menyakitinya. Waktu dia memelukku, aku juga tidak disakiti. Dan aku mau pergi makan. Mama, bilang ke dia kalau kita jadi pergi makan, ya. Tolong jangan dengarkan kakak. Kalau kakak tidak mau ikut, biar dia di rumah saja."
Saras sangat memahami putri kecilnya. Dari kedua anaknya, Lia-lah yang selalu ingin tahu tentang ayahnya, yang paling mendambakan keluarga yang utuh. Dan kini Nael ada di sini, memberinya apa yang begitu ia dambakan, meski saat itu Lia belum tahu kebenarannya. Saras memandang putri kecilnya yang menempel erat pada kaki Nael, tak mau lepas, sementara kedua anaknya mulai bertengkar. Saat itu, dengan panik, ia berkata.
"Anak-anak, kenapa kalian harus bertengkar, apalagi hanya karena ini? Lia, jangan menangis, kita jadi pergi sarapan, jadi tenanglah. Lian kecilku, kau sangat berani menjagaku dan menjaga adikmu, tapi Mama-lah yang dewasa, ibumu, kau harus menurut dan memercayai Mama."
Lian mengangkat kepala, menatap Nael dengan kesal, lalu berkata dengan suara serius.
"Maafkan aku, Mama. Aku akan selalu menyayangi Mama dan menuruti apa pun yang Mama katakan."
Nael berjongkok, menghapus air mata putri kecilnya, dan mulai bertanya ke mana ia ingin pergi makan, pakaian apa yang ingin ia kenakan—ia mengalihkan perhatiannya agar melupakan pertengkaran yang baru saja terjadi dengan kakaknya. Dua puluh menit berlalu ketika pintu diketuk. Nael hendak membukanya, tetapi Saras bergegas mendahuluinya.
Saat membuka pintu, Saras melihat Noval, Peni, dan Karlo. Ketiganya masuk. Ia bisa melihat wajah Noval terlihat masam, tampak marah. Dengan malu-malu Saras berkata.
"Noval, saya ingin berterima kasih karena telah menolong saya."
Noval mendekatinya, meletakkan tangan di lengan Saras, lalu berkata dengan suara tenang.
"Nyonya Saras, saya tak mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada Anda atau anak-anak Anda. Maaf mengganggu Anda, tapi orang-orang ini datang, dan saya ingin memastikan Anda baik-baik saja."
Saras tersenyum malu, lalu berkata dengan suara lembut.
"Terima kasih banyak, Noval. Kami baik-baik saja. Saya mengenal Tuan Karlo dan Nyonya ini, saya bisa memastikan mereka tak akan menyakiti kami."
Noval terlihat tenang, tetapi begitu ia menatap Nael, air mukanya berubah, mengeras. Saat itu ia berkata.
"Nyonya Saras, saya lega Anda baik-baik saja dan bahwa orang-orang ini kenalan Anda. Tapi saya juga harus mengatakan, tempat ini sudah tak lagi aman bagi Anda. Yang terjadi bukan kejadian yang berdiri sendiri, seluruh warga kawasan ini menyadarinya. Saya dan orang-orang saya sudah membereskan semua orang itu, tapi kejadian tadi tak bisa dibiarkan berhenti di sini saja."
Nael tadinya duduk dengan putri kecilnya. Saat itu ia berdiri, lalu memerintahkan Karlo membawa anak-anak ke mobil. Sesaat kedua anak itu menolak, tetapi Saras menyuruh mereka pergi, dan Lian kecilnya menuruti perkataan ibunya. Setelah anak-anak keluar, Nael mendekati Saras, melingkarkan tangan di pinggangnya, dan sambil menatap Noval ia berkata.
"Kau tak perlu khawatir lagi. Saras akan ikut denganku. Aku harus bertanggung jawab atas anak-anakku dan atas dirinya. Jadi kau tak perlu lagi mengurusnya—segalanya akan berubah untuknya dan untuk anak-anakku."
Noval menatap Nael dengan wajah mengeras. Ada sesuatu pada pria itu yang tak ia sukai, dan meski ia ingin berbuat lebih untuk Saras, ia tahu ia tak bisa. Saras harus pergi dari sini, nyawanya dalam bahaya. Ia menoleh ke arah Saras, meraih kedua tangannya tanpa memedulikan apa pun, lalu berkata dengan suara tenang dan lembut.
"Nyonya Saras, kalau yang dikatakan Tuan ini benar, saya sungguh turut senang untuk Anda. Tapi kalau itu bohong, saya menawarkan bantuan untuk memindahkan Anda ke tempat lain, karena di sini sudah tak aman lagi."
Saras tersenyum kepadanya, lalu berkata dengan suara tenang, meski agak lesu.
"Terima kasih banyak, Noval. Kami akan pergi sekarang juga. Dan supaya Anda tak khawatir, pria di sisi saya ini adalah ayah dari anak-anak saya. Sudah sepantasnya anak-anak saya juga bersama ayah mereka, meski saya sendiri tak menyukainya. Saya tak ingin menyusahkan Anda, dan Anda sudah cukup banyak membantu kami tadi malam. Saya berjanji, suatu hari saya akan berusaha membalas bantuan besar ini."
Noval, mengabaikan lengan Nael yang memeluk pinggang Saras, merangkul Saras, mencium pipinya, dan sambil menatap matanya ia berkata.
"Nyonya Saras, Anda perempuan yang luar biasa. Ingatlah, di sini Anda akan selalu punya seorang sahabat. Kalau kelak Anda butuh bantuan, datanglah mencari saya, saya akan selalu ada untuk Anda. Saya ingat Anda telah menyelamatkan nyawa saya, dan itu akan selalu saya simpan di hati."
Saras mencium keningnya dan berterima kasih sekali lagi. Tetapi yang sama sekali tak menyukai tanda kasih sayang itu adalah Nael. Ia pria yang posesif, dan ia tak suka wanita yang ia anggap miliknya berdekatan dengan pria lain. Namun saat itu ia harus menelan kekesalannya—pemuda itu telah menyelamatkan nyawa mereka. Nael menatapnya dengan jijik, dengan hasrat untuk mendorongnya, memukulinya, dan amarahnya kian membesar ketika ia melihat Saras mencium kening Noval, memeluknya—sesuatu yang tak pernah ia lakukan pada Nael. Sejak Nael terbangun, Saras hanya menjauhinya, sementara kepada pemuda itu ia bersikap penuh kasih sayang, dan itu mengusiknya.
Peni nyaris mati menahan tawa melihat wajah kesal Nael. Terlihat jelas kecemburuannya, amarahnya melihat Saras memeluk Noval. Tak kuasa menahan diri lagi, Peni menarik Saras sedikit, mendekatkannya ke Nael, menjauhkannya dari Noval, lalu berkata.
"Sudah cukup. Anak-anakku lapar, dan aku perlu ke rumah sakit supaya kau bisa menuntaskan perawatanku. Sebaiknya kau berpamitan dengan pemuda ini supaya kita bisa segera pergi."
Noval menatap Nael dengan pandangan tak senang, lalu berkata dengan suara serius.
"Sebaiknya saya pergi, Nyonya Saras. Saya turut berbahagia untuk Anda. Dan Tuan, jaga baik-baik wanita ini, karena saya berniat membelanya—saya tak akan membiarkanmu menyakitinya."
Nael memeluk Saras dengan mesra, menaruh ciuman di keningnya, lalu berkata dengan suara tegas.
"Kau tak perlu khawatir. Aku akan menjaga anak-anakku dengan baik, dan terutama menjaga istriku."
Noval melihat wajah tak nyaman Saras, tetapi ia tak mau ikut campur. Ia mulai melangkah ke pintu, dan sebelum keluar ia berkata.
"Tuan, sebagai nasihat, cobalah bersabar, kalau tidak Anda hanya akan membuat Nona Saras ketakutan."
Setelah berkata begitu, ia pun pergi. Saat itu Saras dengan kesal melepaskan diri dari pelukan Nael, berbalik menghadapnya, lalu berteriak dengan suara murka.
"Seumur hidupmu jangan pernah lagi bilang aku ini istrimu. Camkan itu, aku bukan istrimu, jadi hormati aku. Aku ingin ini sangat jelas bagimu: kewajibanmu hanya kepada anak-anakmu, bukan kepadaku. Dan aku sangat senang kau ingin hadir dalam hidup mereka, karena kedua anak itu selalu ingin tahu tentangmu, ingin mengenal ayah mereka, terutama Lia. Nael, mari kita lakukan ini dengan baik demi anak-anak, dan terutama hormati aku supaya semua ini bisa berjalan. Aku tak ingin kau terus memelukku atau menciumku, apalagi ikut campur dalam kehidupan pribadiku."
Nael tersenyum penuh niat jahat, kembali mendekatinya, memegang pinggangnya, lalu berkata dengan suara mengancam.
"Saras, sejak saat kau memutuskan untuk tak menjaga diri dan mengandung anak-anakku, sejak itulah kau menjadi istriku. Cantik, pahami baik-baik, kau istriku. Kehidupan pribadimu adalah milikku juga, dan begitulah nantinya. Kau harus mulai mengambil kedudukan yang menjadi hakmu, sebagai nyonya rumahku. Kau cantik, dan kau memberiku dua anak yang luar biasa. Aku ingin kita membangun keluarga yang baik, agar anak-anakku memiliki ayah dan ibu yang bersama. Tapi kalau kau terus bersikap seperti ini, aku akan terpaksa mencari wanita lain, yang bisa menjadi istri sejati, ibu sejati, dan terutama yang tak secerewet dirimu."
Saras merinding mendengar ucapan itu. Mimpi terburuknya sedang menjadi kenyataan. Ia ingin menangis, memohon agar Nael tak merenggut anak-anaknya. Tetapi ia tahu itu tak akan ada gunanya. Ia memaksa diri untuk kuat, untuk tak menangis di hadapan Nael, dan yang ia pikirkan hanyalah bahwa untuk saat ini ia harus menuruti keinginan pria itu—ia tak boleh membiarkannya merenggut anak-anaknya. Ia menundukkan pandangan, lalu berkata dengan suara bergetar.
"Tuan, tak pernah kukira aku bisa sebenci ini kepada seseorang. Tapi saat ini aku begitu membencimu, sampai aku menyesal tak menyerahkanmu kepada orang-orang yang memburumu. Coba pahami: kalau saja kuserahkan kau, saat ini aku tak akan menanggung derita mengetahui bahwa aku bisa kehilangan anak-anakku, apalagi memikirkan wanita mana yang mungkin kaucari nanti."
"Baiklah, aku akan melakukan apa pun yang kauperintahkan. Aku akan menjadi budakmu, tapi hanya di kehidupan di depan umum. Aku akan menjadi ibu rumah tangga yang sempurna. Tapi hanya itu, karena aku tak akan sudi menjadi wanita yang menghangatkan ranjangmu di malam hari. Untuk itu, carilah wanita lain. Dan ingat baik-baik: aku membencimu, kau menjijikkan. Makin jauh kau dariku, makin baik."
Saras melepaskan diri dari pegangan Nael dan berlari keluar dari sana. Saat itu Nael hendak mengejarnya, hendak menunjukkan bahwa ia tak sudi menerima semua itu. Tetapi Peni menghadangnya, lalu berkata dengan kesal.
"Nael, di mana sih otakmu? Berani sekali kau mengancamnya dengan merenggut anak-anaknya. Itu salah, itu kejam. Kalau kau ingin ia menjadi istrimu, mulailah menghormatinya. Jangan perlakukan dia seperti kau memperlakukan wanita-wanita yang biasa kaupermainkan, karena dia berbeda. Nael, belajarlah membedakan wanita sejati dari wanita yang hanya menginginkanmu demi uangmu. Dengan dia kau harus perlahan, memenangkan hatinya dengan perhatian. Tapi yang terutama, berhenti memaksanya bersamamu, berhenti mengancamnya dengan anak-anaknya, karena pada akhirnya kau hanya akan punya wanita hampa di sisimu, yang satu-satunya bisa ia rasakan hanyalah jijik, benci, dan hina."
Nael menatap pintu tempat Saras berlari keluar. Mendengar ucapan Peni, ia tersadar. Ucapan itu membuatnya kesal, dan dengan suara serius ia berkata.
"Sudah, diam, Peni. Kau benar, aku memang tak seharusnya berkata seperti itu, aku sedikit keterlaluan dengan kata-kataku. Tapi cobalah mengerti aku. Aku terbiasa semua orang menuruti perintahku, sementara Saras-ku yang cantik hanya menolak segala yang kukatakan. Peni, bukan salahku apa yang terjadi. Toh dia bisa saja menolak untuk bersamaku, dia tak harus mau, dan tidak…"
Peni, dengan kesal, memotong ucapannya sebelum selesai.
"Nael, diam sekarang juga, jangan bicara omong kosong lagi, kau hanya makin menjatuhkan diri sendiri dan dengan begitu tak akan bisa menaklukkannya. Saras sudah cukup menderita, jadi jangan sekarang kau datang dan menyalahkannya atas apa yang terjadi, padahal kalian berdua sama-sama bertanggung jawab. Kalian berdua bisa saja melindungi diri dan mencegah kehamilan, tapi tidak kalian lakukan. Sekarang, itulah akibat dari perbuatan kalian berdua, bukan hanya dirinya."
"Kawan, dengarkan aku baik-baik. Aku akan selalu membantumu selama kau mau insaf, mulai hidup lurus, dan setia hanya untuk wanita cantik itu. Tapi kalau kau hanya menginginkannya untuk membangun keluarga khayalan, untuk menghangatkan ranjangmu setiap kali kau butuh, kuberi tahu, lupakan saja. Lebih baik biarkan dia sendiri, biarkan dia menjalani hidup dengan pria lain, supaya wanita malang itu akhirnya bisa memiliki sedikit kebahagiaan, sedikit cinta—yang memang ia butuhkan—bukan seorang manusia gua sepertimu, yang hanya ingin memaksakan kehendaknya tanpa peduli pada keinginannya, tanpa peduli pada impiannya. Jadi katakan padaku, apa kau serius dengannya?"
Nael menatapnya. Saat itu ia berpikir dalam hati, Aku tak tahu apakah aku bisa mengubah hidupku dan setia hanya untuk satu wanita, aku harus memikirkannya matang-matang. Tapi satu hal yang jelas mengusikku adalah kalau dia menjalani hidup dengan pria lain, itu tak kusukai. Yah, dia ibu dari anak-anakku, dia tak boleh bersama pria mana pun selain aku. Ia melihat Peni menunggu jawaban, dan itu membuatnya ragu—ia tak tahu harus menjawab apa.