NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batasan yang menyesakkan

Sementara itu, Arka sudah menyelesaikan seluruh rangkaian meeting. Begitu keluar dari hotel, ia langsung menuju mobilnya tanpa menoleh ke arah lain. Tidak ada basa-basi, tidak ada obrolan tambahan. Satu-satunya tujuan di kepalanya saat itu hanyalah pulang.

Mungkin Lara sudah sampai, pikirnya.

Mungkin dia ketiduran. Mungkin dia nggak sadar aku nelpon.

Pikiran itu ia pegang erat—sebagai bentuk harapan terakhir agar kegelisahannya mereda.

Mobil Arka melaju dengan kecepatan stabil, tapi rahangnya mengeras sepanjang perjalanan. Setiap lampu merah terasa lebih lama dari seharusnya. Setiap detik seperti menguji kesabarannya.

Begitu sampai di apartemen, Arka langsung masuk tanpa melepas sepatu dengan benar. Ia melirik ke ruang tamu.

Kosong.

Sofa rapi. TV mati. Tidak ada tas. Tidak ada sepatu Lara.

Jantungnya berdegup keras.

Arka melangkah cepat ke kamar Lara. Pintu tertutup rapi. Ia mengetuk sekali, lalu membukanya perlahan.

Juga kosong.

“Lara…” panggilnya, meski ia tahu tidak akan ada jawaban.

Arka mundur selangkah. Napasnya terasa berat. Ia melepas dasi dari lehernya dengan gerakan kasar, lalu melemparkannya ke atas meja.

Satu tangan mengusap wajahnya frustasi.

Perasaan yang sejak tadi ia tahan kini mulai mendesak keluar—campuran marah, cemas, dan sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap.

“Ke mana kamu, sih…” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh sunyi apartemen.

Di kepalanya, satu nama kembali muncul—nama yang sejak siang tadi mengusik pikirannya.

Axel.

Dan untuk pertama kalinya, Arka benar-benar merasa…kehilangan kendali.

Di depan rumah Axel, Lara berdiri ragu.

Tangannya mencengkeram tali tas, sementara matanya menatap bangunan dua lantai itu dengan perasaan campur aduk. Ini pertama kalinya ia bertamu ke rumah seorang cowok—sendirian pula. Jantungnya berdetak tidak karuan.

“Kayaknya… aku tunggu di luar aja,” ucap Lara pelan.

Axel yang sudah turun lebih dulu menoleh, langsung menangkap keraguan di wajah Lara. Ia tersenyum kecil, bukan menggoda, tapi menenangkan.

“Tenang aja,” katanya ringan. “Penghuni rumah ini nggak ada yang galak. Aku jamin.”

“Serius?” Lara menyipitkan mata. “Mama kamu nggak tipe yang langsung pasang muka interogasi?”

Axel terkekeh. “Justru sebaliknya. Mereka bakal lebih heboh lihat aku bawa teman. Apalagi perempuan.”

Kalimat terakhir itu membuat Lara menelan ludah. Namun sebelum ia sempat mundur, pintu rumah sudah terbuka.

“Axel?” suara seorang perempuan terdengar ceria. “Kamu pulang?”

Seorang wanita paruh baya muncul dengan senyum hangat, disusul seorang perempuan dewasa dan seorang anak kecil yang langsung berlari kecil ke arah Axel.

“Om Axel!” seru si kecil antusias.

Axel tersenyum dan mengusap kepala ponakannya, lalu menoleh ke arah Lara. “Ma, ini Lara. Temanku.”

Mata sang mama langsung berbinar. “Astaga… cantik sekali.”

Lara refleks tersenyum sopan. “E-eh… terima kasih, Tante.”

Kakak Axel ikut tersenyum ramah, sementara ponakannya sudah sibuk menatap boneka capybara besar yang dipeluk Lara.

“Itu buat aku?” tanyanya polos.

Lara tertawa kecil. “Iya. Tapi jangan dibanting-banting, ya.”

Suasana hangat itu membuat Lara sedikit lupa niat awalnya untuk hanya menurunkan boneka dan langsung pergi. Ia bahkan nyaris tidak sempat pamit ketika mama Axel sudah menariknya lembut ke ruang tamu.

“Minum dulu, ya,” ujar wanita itu ramah. “Atau mau cemilan? Kamu pasti capek.”

“Ah… nggak usah repot-repot, Tante,” kata Lara sungkan.

“Nggak repot,” sahut kakak Axel. “Jarang-jarang Axel bawa teman ke rumah.”

Lara melirik Axel, yang hanya mengangkat bahu seolah berkata aku juga nggak bisa nolak.

Akhirnya Lara duduk, ditemani segelas minuman dan beberapa cemilan ringan. Waktu berjalan tanpa terasa. Obrolan ringan, tawa kecil, dan suasana keluarga yang hangat membuat Lara merasa… nyaman.

Mirip rumahnya sendiri.

Sekitar satu jam kemudian, Axel akhirnya berdiri. “Aku antar Lara pulang, Ma.”

“Jangan lama-lama di jalan,” pesan sang mama.

Axel mengangguk. Kali ini mereka tidak naik motor, melainkan mobil sport Axel yang terparkir rapi di halaman.

Sepanjang perjalanan, kecanggungan yang sempat ada perlahan menghilang. Mereka mengobrol tentang hal-hal ringan—kampus, dosen, hal lucu yang mereka temui hari ini. Tawa Lara sesekali memenuhi kabin mobil.

“Aku suka keluarga kamu,” ujar Lara tiba-tiba. “Hangat.”

Axel melirik sekilas, tersenyum kecil. “Mereka juga langsung suka kamu.”

Lara tertawa.

Tiba tiba Axel teringgat sesuatu.

“Eh, tadi aku denger kamu nyebut kata ‘paman’, ya?” ucapnya santai.

Lara mengangguk. “Iya.

Aku penasaran aja. Kamu tinggal sama siapa sekarang?”

Lara terdiam sejenak, lalu menjawab jujur. “Orang tuaku lagi di luar negeri. Jadi sementara ini aku tinggal sama pamanku.”

“Pamannya baik?” tanya Axel.

Lara tersenyum kecil. “Baik. Cuma…orangnya agak kaku .”

Axel tertawa pelan. “Kedengerannya tipe yang protektif.”

Lara tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, pikirannya melayang pada seseorang yang mungkin saat ini sedang menunggu dengan perasaan yang tidak ia ketahui.

Mobil Axel berhenti tepat di depan gedung apartemen.

Seperti biasa, Axel membuka sabuk pengamannya dan menoleh. “Aku anter sampai atas?”

Lara langsung menggeleng. Terlalu cepat. Terlalu berani. Dan terlalu… salah, entah kenapa.

“Nggak usah,” ucapnya tegas tapi sopan. “Aku bisa sendiri.”

Axel menatapnya sejenak, seolah ingin membantah, tapi akhirnya mengalah. “Oke. Hati-hati.”

“Thanks ya, hari ini,” Lara tersenyum kecil.

Axel membalas senyum itu sebelum mobilnya melaju pergi.

Begitu sendirian, Lara berdiri beberapa detik di depan pintu gedung. Ia menghela napas panjang.

Suka atau tidak, dia harus masuk.

Menghadapi apa pun yang menunggu di balik pintu apartemen.

Sepanjang dia tidak melakukan hal di luar batas… seharusnya tidak ada yang perlu ditakuti.

Namun perasaan itu runtuh begitu pintu terbuka.

Arka sudah berdiri di ruang tamu.

Tegak. Diam. Wajahnya tidak meledak marah—justru itu yang paling menakutkan. Ketika seseorang marah tapi memilih menahannya, berarti ada sesuatu yang jauh lebih dalam.

“Kamu dari mana?” tanya Arka datar.

Lara menutup pintu perlahan. “Jalan diluar.”

“Kamu tahu aku menghubungi kamu berapa kali?”

Lara menarik napas. “HP-ku silent. Terus mati.”

“Empat jam, Lara.”

“Aku lagi sama temanku,” balas Lara cepat. “Nemenin beli hadiah.”

Arka menatapnya tajam. “Teman cewek atau cowok?”

Pertanyaan itu membuat Lara terdiam sepersekian detik.

“Cewek,” jawabnya ragu.

Hening.

Arka menghela napas pelan, tapi rahangnya mengeras. “Jawab yang jujur, Lara.”

Nada itu—bukan bentakan, bukan amarah—membuat Lara merasa seperti maling yang baru saja tertangkap basah.

“Cowok,” ucapnya akhirnya. “Namanya Axel.”

Ia mengangkat dagu, lalu menambahkan dengan berani, “Memangnya kenapa?”

Arka menatapnya lebih lama dari sebelumnya.

“Jangan membalikkan pertanyaan,” kata Arka dingin. “Aku cuma mau tahu kamu di mana dan sama siapa.”

“Kenapa?” Lara melangkah mendekat satu langkah. “Karena aku keponakan kamu? Atau karena kamu merasa berhak tahu semua hal tentang hidupku?”

Arka terdiam.

Lara tersenyum tipis, pahit. “Aku bukan anak kecil lagi, Paman. Wajar kan aku berteman sama lawan jenis?”

Kata Paman itu sengaja ditekan. Sengaja ditusukkan.

Arka menghela napas panjang, jelas menahan emosi. “Aku cuma nggak mau kamu pulang malam tanpa kabar. Kalau keluar lama, kabarin. Itu aja.”

Nada suaranya terdengar masuk akal. Aturannya sederhana. Tidak berlebihan.

Namun justru itu yang membuat dada Lara sesak.

“Baik,” jawab Lara singkat. “Aku bisa lakuin itu.” Ia berbalik menuju kamarnya.

Bukan aturannya yang membuatnya kesal. Tapi ketidakjujuran Arka.

Tidak ada satu pun kalimat yang mengakui kenapa ia marah.

Tidak ada pengakuan apa pun selain peran paman yang aman dan dingin.

Dan Lara membenci itu.

Membenci ikatan bernama paman dan keponakan yang selalu dijadikan tameng.

Lara melangkah cepat menuju kamarnya.

Begitu pintu tertutup, ia membantingnya pelan tapi penuh emosi—cukup keras untuk meluapkan kesal, cukup tertahan agar tidak terdengar seperti teriakan minta diperhatikan.

Tas di pundaknya ia lempar begitu saja ke lantai.

Tubuhnya menyusul jatuh ke atas kasur tanpa aturan. Sepatu masih terpakai. Rambut terurai berantakan. Lara menatap langit-langit kamar dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.

“Bodoh…” gumamnya lirih.

Ia meraih bantal dan meremasnya kuat-kuat, seolah bantal itu bisa menampung semua amarah yang tak berani ia suarakan. Dadanya terasa penuh. Terlalu penuh.

Tanpa disadari, air mata menetes.

Satu. Lalu menyusul yang lain.

Penantiannya. Hari-hari ketika ia menunggu Arka pulang.

Rasa aman semu yang ia bangun sendiri.

Dan harapan-harapan kecil yang ternyata tak pernah punya nama.

Sakit hati itu selama ini disimpan rapi, ditimbun dengan alasan dia pamanku, dia hanya peduli, aku jangan terlalu berharap.

Namun malam ini, semuanya runtuh.

Ia menertawakan dirinya sendiri dalam isak yang nyaris tak bersuara.

Masih menunggu. Masih berharap.

Padahal sejak awal, mungkin hanya dia yang menganggap itu penting.

Di ruang tamu, Arka terduduk di sofa.

Tubuhnya terasa lemas.

Kata-kata Lara barusan—tajam, dingin, dan jujur—masih bergaung di kepalanya.

Ia menatap kosong ke depan.

Untuk pertama kalinya, Arka tidak tahu harus bersikap sebagai apa.

Paman yang bertanggung jawab…

atau pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah melukai seseorang yang diam-diam begitu berarti.

Dan kesadaran itu jauh lebih menyakitkan.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!