Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI SEKALIGUS SANTRI
Suara bende pondok yang dipukul tiga kali sebelum fajar menyingsing adalah alarm bagi ribuan santriwati di Ar-Rahma. Namun bagi Asiyah, suara itu kini memiliki makna ganda. Ia bukan lagi sekadar gadis yang bergegas ke kamar mandi umum untuk mengantri wudhu. Kini, ia bangun di kamar yang wangi kayu cendana, di samping lelaki yang statusnya adalah imam sekaligus gurunya.
Asiyah segera bangkit dari ranjang. Ia merapikan jilbab instannya dan melangkah menuju dapur kecil di rumah dinas mereka. Tangannya dengan lincah menyalakan kompor untuk menjerang air, sementara tangan kirinya memegang mushaf kecil. Bibirnya bergerak tanpa henti, mengulang hafalan surah-surah panjang untuk setoran nanti siang di kelas madrasah.
"Kau tidak perlu terburu-buru menyiapkan sarapan, Asiyah. Kau masih punya waktu untuk mengulang hafalanmu," suara Zafran terdengar lembut dari arah pintu dapur.
Asiyah menoleh sejenak tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong sayuran. "Saya ingin menjalankan keduanya dengan sempurna, Mas. Menjadi istri adalah ibadah, dan menjadi santri adalah kewajiban ilmu. Saya tidak ingin salah satunya menjadi alasan untuk kegagalan yang lain."
Zafran mendekat, lalu mengambil alih pisau dari tangan Asiyah. "Kalau begitu, biarkan aku yang memotong sayur ini. Kau bacakan saja hafalanmu padaku. Kita lakukan muroja'ah sambil menyiapkan sarapan. Bukankah itu lebih efisien?"
Asiyah tertegun sejenak, lalu tersenyum tipis. "Mas benar-benar tidak keberatan membantu urusan dapur? Apa kata para santri jika melihat ustadz idola mereka sedang memotong sayur?"
"Mereka akan belajar bahwa membantu istri adalah sunnah Rasulullah SAW yang paling mulia. Sekarang, mulailah dari ayat ke sepuluh Surah Al-Ma'idah," pinta Zafran sembari mulai bekerja dengan lincah.
Suasana dapur itu berubah menjadi ruang kelas privat yang hangat. Di tengah desis minyak goreng dan aroma bumbu, ayat-ayat suci mengalir dengan syahdu. Zafran sesekali membenarkan makhraj atau tajwid Asiyah tanpa melepaskan fokusnya dari masakan.
Setelah sarapan usai, Asiyah segera berganti pakaian menggunakan seragam santriwati putih-putih yang bersih. Ia mengenakan kartu tanda santri yang menggantung di lehernya. Pemandangan ini selalu membuat Zafran tersenyum; seorang istri yang kembali menjadi murid begitu melangkahkan kaki keluar pintu rumah.
"Hati-hati di jalan. Ingat, di madrasah nanti kau adalah santriwati, jangan minta hak istimewa hanya karena suamimu yang mengajar di sana," goda Zafran sembari mengusap kepala Asiyah.
"Mas tenang saja. Saya justru akan menjadi santriwati paling kritis agar Mas tidak berani macam-macam di depan kelas," balas Asiyah dengan nada bercanda yang mulai berani.
Namun, begitu memasuki gerbang madrasah, suasana berubah dingin. Asiyah merasakan mata-mata yang mengikutinya. Di kelas tafsir, ia duduk di barisan depan. Ustadzah Salamah masuk dengan wajah yang kaku, membawa setumpuk kitab tebal.
"Hari ini kita akan menguji pemahaman tentang hak waris. Saya ingin Asiyah yang menjawab terlebih dahulu. Maju ke depan," perintah Ustadzah Salamah dengan suara yang tajam.
Asiyah berdiri dan maju dengan tenang. Ia tahu ini adalah ujian mental. Ustadzah Salamah memberikan pertanyaan yang sangat rumit, sebuah kasus yang biasanya hanya dibahas oleh santri tingkat akhir atau dewan fatwa.
"Asiyah, bagaimana pendapatmu jika seorang istri meninggal dunia tanpa anak, namun ia memiliki harta waris dari jalur pendidikan yang ia biayai sendiri? Bagaimana pembagiannya menurut Imam Syafi'i?" tanya Ustadzah Salamah sembari menatap tajam.
Asiyah menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak, memanggil kembali memori kitab-kitab yang ia baca semalam. "Bismillah. Menurut kaidah dalam kitab Fathul Mu'in, pembagiannya tetap merujuk pada porsi suami sebesar setengah jika tidak ada anak. Namun, mengenai harta dari jalur profesi atau pendidikan, kita harus melihat status hibah atau usahanya secara detail."
Asiyah menjelaskan dengan sangat fasih. Ia mengutip bab demi bab tanpa ada keraguan. Santriwati lain saling berbisik, kagum dengan kecerdasan Asiyah yang tidak tumpul meski kini sudah berstatus istri.
"Jawaban yang bagus secara teks. Tapi secara praktik, apakah Ning Asiyah siap jika nanti harta Ning sepenuhnya diatur oleh suami? Bukankah itu yang terjadi sekarang?" sindir Ustadzah Salamah di depan kelas.
Kelas mendadak sunyi. Pertanyaan itu bukan lagi soal ilmu, melainkan serangan pribadi. Asiyah menatap Ustadzah Salamah dengan pandangan yang tetap santun namun tak tergoyahkan.
"Ustadzah yang saya hormati, dalam Islam, suami adalah pemimpin, bukan pemilik. Ustadz Zafran mengajari saya bahwa kepemimpinan adalah tentang perlindungan, bukan perampasan hak. Jika saya taat, itu karena ilmu saya menuntun saya untuk menghargai imam, bukan karena saya kehilangan hak atas diri saya sendiri," jawab Asiyah tenang.
Ustadzah Salamah tidak mampu membalas. Ia hanya berdehem dan menyuruh Asiyah kembali ke bangkunya. Selesai kelas, Asiyah tidak bisa langsung pulang untuk beristirahat. Ia harus segera menuju dapur umum untuk membantu koordinasi konsumsi untuk acara pengajian akbar besok.
Di dapur umum, Zulfa sedang membagi tugas. Begitu melihat Asiyah datang, ia segera memberikan tumpukan bawang yang sangat banyak.
"Ning Asiyah, maaf ya. Karena Ning sekarang bagian dari pengurus, Ning harus memberikan contoh. Tolong kupas semua bawang ini sebelum jam dua siang," perintah Zulfa dengan nada yang merendahkan.
Asiyah tidak membantah. Ia duduk di kursi kecil, mulai mengupas bawang satu per satu. Matanya perih, air mata menetes bukan karena sedih, tapi karena uap bawang yang tajam. Ia tetap merapalkan hafalan muroja'ah-nya agar waktu tidak terbuang sia-sia.
Pukul satu siang, Zafran lewat di depan dapur umum. Ia terhenti saat melihat istrinya sedang duduk di pojok dengan mata yang merah dan tangan yang belepotan kulit bawang. Hatinya teriris, namun ia tahu ia tidak boleh campur tangan terlalu jauh di depan umum agar harga diri Asiyah tetap terjaga.
Zafran berjalan mendekat, seolah-olah sedang melakukan inspeksi rutin. "Bagaimana persiapannya, Zulfa?"
"Lancar, Ustadz. Ning Asiyah sangat rajin membantu kami," jawab Zulfa dengan senyum palsu.
Zafran menatap Asiyah yang tetap menunduk. "Bagus. Asiyah, setelah selesai, segera temui saya di perpustakaan. Ada kitab yang harus kau terjemahkan untuk materi besok."
Asiyah mendongak dan mengangguk. "Baik, Ustadz."
Begitu sampai di perpustakaan yang sepi, Zafran segera menarik kursi untuk Asiyah. Ia mengambil kain bersih dan mengusap sisa air mata di pipi istrinya.
"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membiarkanmu melakukan pekerjaan kasar itu di saat kau harus belajar," ujar Zafran dengan suara penuh penyesalan.
"Jangan minta maaf, Mas. Saya justru belajar banyak hari ini. Menjadi santriwati itu tentang kerendahan hati. Kalau saya hanya duduk di kursi empuk kantor, saya akan lupa bagaimana rasanya berjuang dari bawah," balas Asiyah sembari tersenyum meski matanya masih perih.
Zafran mengambil tangan Asiyah, mengelus jemari yang berbau bawang itu dengan lembut. "Tangan ini adalah tangan seorang calon ulama besar. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merendahkanmu lagi."
"Mas, saya kuat. Selama di rumah nanti saya tetap bisa menjadi Asiyah mu, saya tidak peduli di luar sana saya dianggap apa oleh mereka," ucap Asiyah tulus.
Zafran menarik Asiyah ke dalam pelukannya di antara rak-rak kitab yang tinggi. "Kau adalah mutiara Ar-Rahma. Dan aku adalah cangkang yang akan melindungimu sampai kau benar-benar siap untuk bersinar sendiri."
Malam itu, setelah seluruh tugas pondok selesai, Asiyah kembali ke rumah dengan tubuh yang sangat lelah. Namun, saat melihat meja makan sudah tertata rapi dan ada sebuah kitab baru pemberian Zafran sebagai hadiah, lelahnya seolah menguap. Ia menyadari bahwa menjadi istri sekaligus santri adalah sebuah seni manajemen hati. Ia belajar untuk patuh di satu waktu, dan belajar untuk memimpin di waktu yang lain.
"Mas, besok ada ujian lisan terakhir. Mas yang akan menguji saya di depan dewan kiai," kata Asiyah sembari menyiapkan air hangat untuk suaminya.
"Aku akan memberikan pertanyaan paling sulit. Karena aku ingin dunia tahu bahwa istriku tidak mendapatkan nilainya karena belas kasihan, tapi karena kecemerlangan otaknya sendiri," jawab Zafran sembari menatap Asiyah dengan penuh cinta.
Asiyah mengangguk mantap. Ia siap. Ia akan menunjukkan bahwa mahkota yang ia pakai tidak pernah terpasung, melainkan justru semakin berkilau karena ia tahu cara menempatkan diri sebagai istri yang berbakti dan santri yang berprestasi.