NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : PERJUANGAN HARIAN

Sinar matahari sudah mulai menyinari setiap sudut halaman belakang rumah sakit ketika Lia menyelesaikan cucian pagiannya. Tangan kirinya yang penuh dengan kapalan masih memegang sikat kayu yang digunakan untuk membersihkan noda pada pakaian pasien. Di mejanya yang kini sudah ditambahkan rak kecil untuk menyimpan barang-barang penting, sebuah buku catatan baru dengan sampul kulit hitam terpampang rapi – setiap halamannya berisi nama dan kondisi pasien yang pernah dia tangani, termasuk catatan khusus tentang ciri khas Adit yang selalu dia ingat dengan jelas.

“Lia, kamu sudah selesai kerja pagi ya? Ada pesanan baru nih dari ruangan VIP dokter spesialis anak – harus dicuci dengan deterjen khusus tanpa pewangi,” ucap Pak Joko sambil membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Jangan lupa, sore ini ada kunjungan dari dinas sosial lho. Mereka mau ngobrol sama kamu tentang program bantu anak-anak yang membutuhkan.”

Lia mengangguk sambil menyimpan buku catatannya ke dalam tas kerja yang sudah dia jahit ulang dengan kain kuat agar tidak mudah sobek. Dia merenungkan kata-kata Pak Joko sambil membersihkan mejanya dari sisa deterjen yang menempel. Di sudut mejanya, sebuah foto kecil kembaran itu masih terpampang – membuatnya teringat akan hari-hari setelah kelahiran mereka, ketika dia harus berbaring lemah di ranjang rumah sakit setelah menerima kabar buruk tentang Supriyanto.

Suaminya yang selalu gigih bekerja sebagai pekerja konstruksi untuk menyediakan kehidupan yang layak bagi keluarga tiba-tiba tidak ada lagi dalam sekejap setelah jatuh dari lantai tiga gedung yang sedang dibangun di kawasan Polonia. Lia masih ingat betul wajah teman kerja suaminya yang datang memberitahukan kecelakaan itu, tangan yang gemetar saat memberikan amplop berisi uang simpanan terakhir suaminya yang digunakan untuk biaya pemakaman. Tanpa tabungan lagi dan tanpa keluarga yang bisa membantu karena orang tuanya sudah tiada dan saudara kandungnya tinggal jauh di Jawa, dia merasa bingung menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

“Saya sudah tahu kamu sedang kesusahan, Lia,” ucap Bu Siti dari bagian makanan rumah sakit yang selalu ramah membantu mereka. “Kamu terlalu muda untuk menghadapi semua ini sendirian. Ada keluarga baik di Jakarta yang ingin mengadopsi salah satu anakmu – mereka bisa memberikan pendidikan terbaik, rumah yang nyaman, bahkan uang untuk membayar semua utangmu dan memenuhi kebutuhan anak-anak yang lain.”

Dalam kesusahan yang luar biasa dan dipaksa oleh kondisi yang tidak menguntungkan, Lia menerima usulan itu. Dia memilih untuk menyerahkan Adit karena berpikir anak laki-laki akan lebih mudah diterima dan memiliki kesempatan lebih baik. Wanita itu mengatakan proses akan sah dan Lia akan mendapatkan informasi tentang perkembangan Adit setiap tahun melalui surat atau kunjungan. Namun setelah semuanya selesai dan uang utangnya lunas, wanita itu menghilang tanpa jejak – ketika Lia mencoba mencari lembaga tersebut, tidak ada satupun catatan resmi tentang adopsi anak bernama Adit Supriyanto.

“Saya sudah mencari kemana-mana, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara sedikit getar saat mengambil gelas air putih yang diberikan Pak Joko. “Setiap hari saya selalu berdoa bisa menemukan jejaknya lagi. Sudah delapan tahun berlalu, tapi setiap malam saya selalu melihat foto mereka ketiga dan merindukan hangatnya tubuhnya yang kecil ketika saya memeluknya pertama kali.”

Pak Joko mengangguk dengan rasa iba yang mendalam. “Kamu benar-benar kuat, Lia. Tidak semua orang bisa menjalani hidup seperti kamu – bekerja keras setiap hari hanya untuk anak-anak, tanpa pernah mengeluh meskipun hidup penuh dengan kesulitan.”

Lia tersenyum lembut sambil menyimpan buku catatannya yang penuh dengan catatan tentang setiap pasien yang pernah dia rawat. Di halaman terakhir, catatan khusus tentang Adit tetap jelas tercatat: “Adit Supriyanto – laki-laki, lahir 22 November, berat badan 1,8 kg, panjang badan 45 cm, memiliki bintik merah berbentuk hati di punggung kanan dekat tulang belikat.” Setiap kata itu tertanam kuat dalam ingatannya, tidak akan pernah hilang meskipun waktu terus berlalu.

Ketika matahari mulai berpindah ke arah tengah hari, Lia mulai membersihkan alat-alat cuci yang akan digunakan sore hari. Dia melihat sekeliling halaman belakang rumah sakit yang sudah menjadi tempat dia bekerja selama lima tahun lamanya. Di sudut halaman itu, sebuah pohon jambu yang pernah ditanam oleh Supriyanto saat mereka pertama kali bekerja di sini masih berdiri kokoh, memberikan buah yang manis setiap tahun sebagai kenangannya.

“Siang sudah, Lia. Kamu belum makan ya?” tanya Bu Warsih yang datang membawa bekal makanan dari rumah kontrakan. “Mal dan Rini sudah pulang dari sekolah lho, mereka bilang mau nunggu kamu pulang untuk cerita tentang sekolah mereka hari ini.”

Lia mengangguk dengan senyum hangat. “Terima kasih Bu Warsih. Saya akan segera pulang setelah menyelesaikan beberapa cucian terakhir untuk dokter. Besok pagi kita akan pergi ke pasar Cikini ya – anak-anak pasti senang bisa memilih makanan dan mainan yang mereka suka seperti teman-teman mereka yang punya saudara kandung untuk berbagi cerita.”

Setelah menyelesaikan cucian terakhir untuk dokter, Lia membersihkan mejanya dan mengambil tas kerja yang sudah siap untuk pulang. Di dalam tas itu, selain baju kerja yang sudah dicuci bersih, terdapat buku catatan kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Di halaman pertama buku itu, sebuah foto kecil kembaran itu ditempelkan dengan hati yang dibuat sendiri dari kayu bekas, melambangkan cinta yang tak pernah padam meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.

“Sampai besok, Lia,” ucap Pak Joko sambil menutup pintu bagian cuci yang sudah bersih rapi. “Besok ada banyak cucian lagi dari ruangan rawat inap – kamu bisa mulai pagi sekali ya, jangan sampai terlambat karena banyak pasien yang akan datang besok pagi.”

Lia mengangguk sambil membawa tas kerja yang sudah kosong setelah semua cucian selesai. Dia berjalan menuju jalan raya yang sudah mulai ramai dengan kendaraan yang lewat. Di sepanjang jalan, dia menyapa setiap orang yang mengenalnya – dari pedagang sayuran yang baru saja membuka kiosnya hingga tukang becak yang sedang membersihkan kendaraannya.

Ketika tiba di kontrakan kecil yang sudah menjadi rumah mereka selama bertahun-tahun, Lia melihat Mal dan Rini sudah berada di depan pintu, tangan masih memegang buku pelajaran yang sudah mereka pelajari dengan giat. “Bu sudah datang!” teriak mereka berdua dengan senyum ceria, membawa kursi kecil untuk Lia duduk sejenak sebelum memasak makanan malam.

Lia memeluk mereka berdua dengan erat, merasakan kehangatan tubuh mereka yang selalu membuat hatinya tenang. “Kamu berdua sudah belajar ya? Nanti ibu akan cek pekerjaan rumahmu ya,” ucapnya dengan suara hangat sambil melihat foto kecil yang selalu ada di mejanya – sebuah kenangan yang tak akan pernah hilang, meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, sebuah cinta yang tak pernah padam dalam hatinya yang selalu mencari anaknya yang hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!