Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutang Rasa
Jakarta sedang diguyur hujan deras saat Bagas menerima surat elektronik resmi dari kantor pusat di Dubai. Isinya sangat prestisius: “Bagas Pratama, the Board of Directors has decided to apo int you as the Senior Vice President of Global Strategy based in our New York office.” New York. Kota yang tidak pernah tidur, pusat saraf ekonomi dunia di Wall Street. Sebuah posisi yang akan menempatkan Bagas di jajaran elit eksekutif dunia dengan gaji tujuh angka dalam Dollar.
Namun, di sore yang sama, sebuah pesan dari Tiara merusak suasana perayaannya.
“Bagas, maaf aku lancang menghubungi lagi. Aku sedang di rumah sakit. Papaku terkena serangan jantung setelah tahu semua aset rumah dan kantor kami disita oleh jaringan bisnis Darwin Adi wangsa. Kami dijebak hutang bodong. Aku tidak tahu harus lari ke mana lagi.”
Bagas terdiam di ruang kerjanya yang luas. Di satu sisi, ada tiket ke New York yang menjanjikan kemewahan tanpa batas. Di sisi lain, ada jeritan dari masa lalu yang dulu pernah membuangnya. Ada rasa puas yang sempat terlintas di benak Bagas rasain, dulu sombong, sekarang kena karmanya namun rasa itu segera terkikis oleh bayangan ibunya.
"Gas, ada apa? Kok wajahmu kayak habis melihat hantu?" tanya Ibu yang masuk membawakan wedang jahe.
Bagas menceritakan semuanya. Tentang New York dan tentang kehancuran keluarga Tiara di tangan Darwin yang ternyata sedang melakukan balas dendam terselubung setelah kekalahannya . Darwin tahu ia tidak bisa menyentuh Bagas secara langsung, maka ia menghancurkan orang-orang yang pernah memiliki kaitan dengan Bagas.
"Jadi, kamu mau pilih yang mana? Terbang ke Amerika atau membantu orang yang dulu meninggalkanmu?" tanya Ibu dengan nada yang sangat tenang, tidak menghakimi.
"Bagas bingung, Bu. Kalau Bagas bantu Tiara, artinya Bagas berurusan lagi sama Darwin. Tapi kalau Bagas pergi ke New York, Bagas merasa seperti pengecut yang lari saat ada orang butuh bantuan."
Ibu duduk di depan Bagas. "Ingat nggak dulu saat kita nggak bisa bayar kontrakan? Ada orang asing yang tiba-tiba kasih kita pinjaman tanpa bunga. Kita nggak tahu siapa dia, tapi dia menolong saat kita di titik nol. Sekarang, kamu punya kekuatan untuk jadi orang asing itu buat Tiara. Bukan karena kamu masih cinta, tapi karena kamu punya nurani."
Keesokan harinya, Bagas memutuskan untuk menunda keberangkatannya ke Dubai untuk mengurus visa Amerika. Ia pergi ke rumah sakit. Di sana, ia melihat Tiara yang tampak sangat rapuh. Tidak ada lagi sisa-sisa kesombongan gadis kampus elit yang dulu menjauhinya.
"Bagas..." Tiara menangis saat melihatnya. "Papa... Papa sudah sadar, tapi dia malu bertemu kamu. Dia ingat bagaimana dia menghina ayahmu dulu."
Bagas menghela napas panjang. Ia masuk ke ruang perawatan. Ayah Tiara, seorang pria yang dulunya gagah, kini terbaring lemah dengan kabel-kabel melilit tubuhnya. Saat melihat Bagas, pria itu mencoba memalingkan wajahnya.
"Om," ujar Bagas pelan. "Saya ke sini bukan untuk menagih kata-kata lama. Saya ke sini untuk menawarkan solusi. Saya sudah pelajari dokumen hutang Om. Darwin menggunakan skema predatory lending. Saya punya tim hukum di yayasan yang bisa membatalkan penyitaan aset Om secara legal."
"Kenapa kamu bantu saya, Bagas? Saya dulu yang melarang Tiara sama kamu karena kamu cuma anak SMK," suara ayah Tiara parau, penuh penyesalan.
"Karena ijazah SMK saya mengajarkan saya cara memperbaiki mesin yang rusak, Om. Dan sekarang, saya melihat ada hubungan antarmanusia yang sedang rusak, jadi saya coba perbaiki. Soal uang, anggap saja ini investasi dari Pratama Foundation. Om tidak perlu bayar saya, cukup bayar dengan cara menjadi pengusaha yang lebih jujur ke depannya."
Selama seminggu penuh, Bagas berjibaku dengan tim hukumnya. Ia menggunakan pengaruhnya sebagai eksekutif internasional untuk menekan bank-bank yang terafiliasi dengan Darwin agar melepaskan aset keluarga Tiara. Pertarungan ini melelahkan, menguras energi yang seharusnya ia pakai untuk persiapan ke New York.
Darwin yang mengetahui hal ini semakin berang. Ia mencoba menyebar rumor bahwa Bagas memiliki hubungan gelap dengan Tiara untuk merusak citra profesional Bagas di mata dewan direksi Dubai. Namun, Bagas sudah belajar dari serangan-serangan sebelumnya. Ia justru mendokumentasikan semua bantuan hukumnya secara transparan melalui yayasan.
Di akhir minggu, aset keluarga Tiara berhasil diselamatkan. Ayah Tiara diperbolehkan pulang, dan bisnis kecil mereka mulai bisa bernapas kembali.
Malam sebelum Bagas akhirnya harus memutuskan soal New York, ia bertemu Tiara di sebuah taman.
"Terima kasih, Gas. Kamu benar-benar sudah berubah jadi orang yang luar biasa," kata Tiara. "Apa kamu tetap akan pergi ke New York?"
Bagas menatap lampu kota Jakarta yang macet dan bising, namun entah kenapa terasa sangat hangat. "New York adalah impian banyak orang, Tiara. Tapi setelah seminggu ini, aku sadar satu hal. Di Amerika, aku hanya akan jadi satu lagi eksekutif sukses di antara ribuan orang hebat. Tapi di sini, di Indonesia, aku bisa jadi harapan buat orang-orang yang sedang diinjak-injak oleh orang seperti Darwin."
Bagas mengambil ponselnya, lalu menulis email kepada Mr. Khan: "Mr. Khan, I decline the New York position. I want to stay in Indonesia and lead the 'Emerging Markets' division from Jakarta. We need to build a system here that is stronger than any political mafia. This is my true mission."
Mr. Khan sempat terkejut, namun akhirnya ia setuju. Ia menyadari bahwa Bagas bukan lagi sekadar karyawan yang mencari gaji besar, tapi seorang pemimpin yang sedang membangun warisan (legacy).
Bagas pulang ke rumah. Ia melihat Bapak sedang duduk di teras, memandangi bintang-bintang.
"Pak, Bagas nggak jadi ke New York. Bagas tetap di sini, jagain Bapak sama Ibu, sambil urus yayasan," lapor Bagas.
Bapak tersenyum lebar, senyum yang paling lepas yang pernah Bagas lihat. "Bagus, Gas. Di New York nggak ada sate kambing yang seenak di depan gang kita. Dan lagi... Bapak butuh asisten buat benerin pagar rumah besok pagi."
Bagas tertawa. Ia merasa sangat merdeka. Ia menyadari bahwa kesuksesan bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa besar pengaruh positif yang kita tinggalkan di tempat kita berdiri.
Namun, saat Bagas merasa semuanya sudah tenang, sebuah berita muncul di televisi Darwin adi wangsa Resmi di tetapkan sebagai tersangka korupsi Pelabuhan. Namun, sebelum ditahan, Darwin sempat mengeluarkan pernyataan terakhir di media: "Saya jatuh, tapi saya pastikan anak muda yang sok suci itu juga akan terseret karena data yang dia berikan kepada saya adalah dokumen negara yang bersifat rahasia."
Bagas terhenyak. Niatnya menjatuhkan Darwin justru berbalik menjadi jeratan hukum bagi dirinya sendiri karena dianggap membocorkan rahasia negara.