NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FAJAR DI KEPULAUAN RIAU

Cahaya fajar menyentuh permukaan air di sekitar Kepulauan Riau dengan kelembutan yang kontras dengan kekacauan semalam. Warna oranye kemerahan menyatu dengan biru laut yang tenang, menciptakan gradasi warna yang seolah-olah menyembunyikan fakta bahwa di bawah sana, arus Selat Melaka masih menyimpan rahasia berdarah. Di sebuah pulau pribadi yang tidak tercatat dalam peta komersial—sebuah aset rahasia milik Alfarezel yang dikenal hanya sebagai The Sanctuary—sebuah vila minimalis yang dibangun dari baja dan kaca berdiri tegak di atas tebing karang.

Di dalam kamar perawatan utama yang menghadap langsung ke laut lepas, aroma antiseptik bercampur dengan wangi udara laut yang segar. Maximilian terbaring di tempat tidur medis, tubuhnya terhubung dengan monitor yang terus menampilkan grafik detak jantung yang kini jauh lebih stabil. Operasi darurat yang dilakukan tim medis Gideon di atas kapal induk semalam telah berhasil menutup luka di perutnya dan memberikan transfusi darah yang sangat dibutuhkannya.

Vivien duduk di kursi di samping tempat tidur. Ia tidak lagi mengenakan blazer hitam yang kaku; ia kini mengenakan kemeja linen putih milik Maximilian yang terlihat terlalu besar di tubuhnya yang mungil. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap wajah Maximilian yang sedang terlelap. Pria itu tampak sangat berbeda saat tidur—keangkuhannya hilang, digantikan oleh gurat-gurat kelelahan dan kerentanan yang jarang ia tunjukkan.

Vivien merenungkan rekaman video dari ayah mereka semalam. “Jangan biarkan dendam yang mereka tanamkan memisahkan kalian.” Kata-kata itu berputar seperti mantra di kepalanya. Selama sepuluh tahun, mereka hanyalah pion dalam permainan catur yang dimainkan oleh The Obsidian Circle. Setiap air mata yang ia teteskan, setiap amarah yang Maximilian ledakkan, semuanya telah diprediksi dan diinginkan oleh Julian Vane.

Tiba-tiba, kelopak mata Maximilian bergerak. Ia mengerang pelan saat mencoba menggerakkan tubuhnya.

"Jangan bergerak, Max. Jahitanmu masih sangat baru," ucap Vivien cepat, tangannya dengan lembut menahan bahu Maximilian.

Maximilian membuka matanya, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar. "Vivien... di mana kita?"

"Kita di Riau. Di Sanctuary. Kau aman sekarang," jawab Vivien, memberikan segelas air dengan sedotan ke bibir Maximilian.

Maximilian meminumnya sedikit, lalu menatap Vivien dengan tatapan yang lebih jernih. "Data itu... The Heart of Crimson... apa masih aman?"

Vivien mengambil tablet taktis dari meja nakas dan menunjukkannya pada Maximilian. "Gideon sudah memindahkannya ke server luring yang hanya bisa diakses dengan biometrik gabungan kita. Kita memegang semua kartunya sekarang, Max. Semua nama, semua bukti transfer, semua dosa mereka."

Maximilian mencoba tersenyum, meski itu membuatnya meringis kesakitan. "Kalau begitu, fajar ini bukan hanya awal hari yang baru. Ini adalah awal dari akhir bagi Julian Vane."

Dua jam kemudian, meskipun ditentang oleh tim medis, Maximilian bersikeras untuk duduk di kursi roda dan dibawa ke ruang strategi di lantai bawah. Ruangan itu dipenuhi dengan layar monitor raksasa yang menampilkan peta dunia, aliran dana saham real-time, dan profil wajah para anggota Obsidian Circle.

Gideon, Bara, dan beberapa analis intelijen terbaik Alfarezel sudah menunggu di sana. Suasana di ruangan itu sangat fungsional dan tegang.

"Tuan, Nyonya," Gideon memulai presentasi. "Kematian para pengejar di Selat Melaka semalam telah memicu kepanikan di internal Obsidian. Julian Vane telah menghilang dari radar publik. Laporan terakhir menunjukkan dia sedang mengonsolidasikan kekuatannya di sebuah resor pribadi di Phuket, Thailand."

Bara melanjutkan, "Namun, masalahnya bukan hanya Julian. Obsidian Circle memiliki sistem 'Dead Man’s Switch'. Jika Julian merasa terpojok, dia memiliki kemampuan untuk menghancurkan pasar saham Asia Tenggara melalui algoritma yang tertanam di server-server bank besar, termasuk Bank of Singapore dan Bursa Efek Jakarta."

Vivien melangkah maju ke depan layar. Ia melihat peta jaringan finansial yang rumit itu. "Jadi, jika kita hanya menyerang Julian secara fisik, dia akan menarik tuas kehancuran ekonomi yang akan membuat jutaan orang menderita. Itu sebabnya Ayah tidak langsung melapor ke polisi sepuluh tahun lalu. Dia tidak ingin menghancurkan negara ini."

"Tepat," sahut Maximilian, suaranya terdengar lebih bertenaga. "Kita tidak bisa hanya membunuhnya. Kita harus melucuti senjatanya terlebih dahulu. Kita harus memutus aksesnya ke 'The Heart of Crimson' yang asli."

"Bagaimana caranya?" tanya Vivien.

Maximilian menunjuk ke sebuah kode di layar. "Project Crimson bukan hanya sebuah basis data bukti. Itu adalah sebuah kunci utama (master key) untuk mengambil alih enkripsi yang dibuat Julian. Ayahmu dan ayahku menyisipkan 'pintu belakang' ke dalam sistem Julian. Dan pintu itu hanya bisa dibuka jika kita berada dalam jarak dekat dengan server utama Julian di Phuket."

Vivien menatap layar itu lama. Ia menyadari bahwa misi ke Phuket ini akan menjadi puncak dari segalanya. Ia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton. Ia harus menjadi bagian dari serangan ini.

"Aku yang akan masuk," ucap Vivien tiba-tiba.

Seluruh ruangan terdiam. Maximilian menatapnya dengan tajam. "Tidak, Vivien. Terlalu berbahaya. Kau tidak terlatih untuk ini."

"Max, dengar," Vivien berbalik menghadap suaminya, matanya memancarkan ketegasan yang belum pernah dilihat Maximilian sebelumnya. "Julian Vane mengenalku sejak kecil. Dia menganggapku sebagai putri yang naif dan hancur karena kematian ayahnya. Dia tidak akan curiga jika aku datang kepadanya dengan dalih mencari perlindungan darimu. Dia akan membiarkanku masuk ke kantor pribadinya."

Maximilian mencengkeram lengan kursi rodanya. "Aku tidak akan membiarkanmu menjadi umpan bagi monster itu."

"Kau sendiri yang bilang bahwa kita adalah satu kekuatan, Max!" balas Vivien. "Kau akan memimpin tim taktis dari luar, mengacaukan sistem keamanan mereka. Sementara aku, aku akan menyalin algoritma penghancur itu tepat dari komputer induknya. Hanya aku yang bisa mendekatinya tanpa memicu alarm."

Maximilian terdiam. Logikanya berperang dengan emosinya. Secara taktis, rencana Vivien adalah yang paling masuk akal dengan persentase keberhasilan tertinggi. Namun secara emosional, membayangkan Vivien berada di ruangan yang sama dengan pembunuh ayahnya membuat hatinya perih.

"Jika kau melakukannya," bisik Maximilian, "kau harus tahu bahwa jika terjadi kesalahan, aku mungkin tidak akan bisa mencapaimu tepat waktu."

"Aku tahu," jawab Vivien, ia berlutut di depan kursi roda Maximilian, menggenggam tangannya. "Tapi kita sudah kehilangan sepuluh tahun dalam kebohongan. Aku lebih baik mati mencoba memperbaiki segalanya daripada hidup dalam ketakutan selamanya. Percayalah padaku, seperti Ayah percaya padamu."

Maximilian menatap dalam ke mata Vivien, mencari keraguan, namun yang ia temukan hanyalah keberanian yang murni. Ia perlahan mengangguk. "Gideon, siapkan peralatan infiltrasi paling mutakhir untuk Nyonya Vivien. Bara, kau akan menjadi pengawal bayangannya. Jika sehelai rambutnya terluka, kau tahu apa konsekuensinya."

"Siap, Tuan," jawab Bara tegas.

Sisa hari itu dihabiskan dengan persiapan yang intens. Vivien dilatih secara kilat oleh Bara tentang cara menggunakan perangkat peretas kecil yang disamarkan sebagai lipstik, serta cara menyembunyikan mikrofon di balik perhiasannya. Ia juga belajar teknik pertahanan diri dasar untuk melumpuhkan lawan dalam hitungan detik.

Maximilian, di sisi lain, mengoordinasikan serangan siber besar-besaran dengan tim peretas internasional yang dibayarnya secara anonim. Mereka akan melakukan serangan DDoS ke perusahaan-perusahaan cangkang Julian untuk mengalihkan perhatian tim IT Julian saat Vivien beraksi.

Malam kembali turun di Kepulauan Riau. Vivien berdiri di balkon vila, menatap laut yang kini gelap gulita. Maximilian mendekatinya dengan bantuan tongkat penyangga.

"Kau memikirkan apa?" tanya Maximilian.

"Aku memikirkan Ayah," jawab Vivien. "Aku merasa dia ada di sini, di angin laut ini. Aku merasa dia bangga melihat kita tidak lagi saling membenci."

Maximilian merangkul bahu Vivien. "Mereka pasti bangga. Besok, kita akan menyelesaikan apa yang mereka mulai. Kita akan memutus benang hitam Julian Vane dan merajut kembali benang merah kita sendiri."

Maximilian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak sederhana—bukan cincin pernikahan mewah yang penuh kepalsuan seperti dulu, tapi sebuah cincin yang memiliki ukiran simbol Alfarezel dan Aksara yang menyatu.

"Pakai ini," ucap Maximilian sambil menyematkan cincin itu di jari manis Vivien. "Ini berisi pelacak GPS frekuensi rendah yang tidak bisa dideteksi pemindai standar. Dan ini adalah tanda... bahwa kau adalah satu-satunya orang yang memiliki hatiku sepenuhnya."

Vivien mencium cincin itu, lalu mencium bibir Maximilian—sebuah ciuman yang sarat dengan janji untuk kembali. "Aku akan kembali padamu, Max. Kita akan membangun masa depan yang mereka impikan."

Di ufuk Barat, awan badai mulai terlihat lagi, namun kali ini Maximilian dan Vivien tidak takut. Mereka telah melewati badai yang paling besar, dan kini, mereka siap menjadi badai itu sendiri bagi musuh-musuh mereka. Strategi telah disusun, hati telah disatukan, dan fajar berikutnya akan membawa mereka menuju pertempuran terakhir yang akan menentukan takdir seluruh imperium mereka.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!